Politik

Sejumlah Calon Petahana Menangkan Pilkada

Sunday, 13 Desember 2015 | View : 604

JAKARTA-SBN.

Sejumlah calon petahana memenangkan pilkada dengan telak, di atas 75 persen. Hanya, kemenangan tersebut kebanyakan terjadi pada daerah yang paslonnya hanya dua.

Pantauan awak media melalui aplikasi SITUNG KPU, hingga Sabtu (12/12/2015) malam, tercatat ada delapan daerah yang petahananya mencatatkan kemenangan mutlak.

Rekor tertinggi dipegang oleh Kota Blitar. Mantan Wali Kota Blitar Samanhudi Anwar yang baru bebas tugas Agustus lalu memenangkan pilkada bersama calon wakilnya, Santoso dengan prosentase 92,04 persen.

Posisi kedua dipegang oleh Kabupaten Kutai Kartanegara, Calon bupati petahana Rita Widyasari mencatat kemenangan 89,4 persen atas ketiga lawannya. Dia berduet dengan Edi Damansyah.

Kota Surabaya berada di urutan lima tertinggi. Paslon Tri Rismaharini-Whisnu Sakti Buana mencatat kemenangan 86,22 persen.

Direktur Eksekutif perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem) Titi Anggraini menilai, dalam pilkada kali ini petahana memang punya keuntungan besar. “Suka tidak suka, petahana memang selalu satu langkah lebih maju ketimbang calon lainnya,” terangnya Sabtu (12/12/2015) kemarin.

Hal itu tidak bisa langsung dipandang negatif. Bagaimanapun, petahana punya kesempatan besar selama satu periode untuk menunjukkan prestasinya dalam melayani warga. Karena itulah, petahana berkepentingan maju lagi untuk kedua kalinya.

Dari sampel 63 daerah seluruh Indonesia dengan calon petahana yang diteliti Perludem, hanya ada 13 daerah yang dimenangkan oleh rival petahana. Selebihnya, 50 daerah dikuasai petahana. Pantauan awak media, dari sekitar 130 daerah yang memiliki calon petahana, mayoritas memang memenangkan kompetisi.

Titi Anggraini menuturkan, ada dua faktor yang membuat petahana begitu dominan.

Pertama, sang petahana memang masih diinginkan oleh rakyat. Hal itu dipengaruhi oleh prestasi kinerja sang petahana selama menjabat, sehingga masyarakat masih mempercayai dia untuk menjabat.

Faktor kedua menurut Titi Anggraini masih perlu pembuktian. Yakni, apakah kemenangan itu dipengaruhi akses petahana terhadap birokrasi, APBD, dan fasilitas daerah. “Ketiga hal itu diduga digunakan oleh calon petahana untuk kepentingan pemenangannya,” imbuh Titi Anggraini.

Sementara itu, Koordinator Nasional Jaringan Pendidikan Pemilih Untuk Rakyat (JPPR) Masykurudin Hafidz menilai wajar apabila petahana memenangkan pilkada. Selama kinerjanya baik, tentu dia akan terpilih lagi. “Tapi menjadi tidak wajar apabila kemenangannya itu di atas 75 persen,” ujarnya.

Faktor kedua, lanjutnya adalah jumlah paslon yang berlaga. Apabila paslonnya hanya dua, maka bisa saja petahana meraih kemenangan di atas 75 persen. Hal itu salah satunya bisa merupakan akibat calon non petahana terlalu jauh kualitasnya dibandingkan petahana, dan pemilih tidak memiliki alternatif lain.

Faktor ketiga adalah kecurigaan kongkalikong. “Bisa diduga ada pembicaraan tertentu antara petahana dengan lawannya,” lanjutnya. Sehingga, lawan dari petahana pun tidak banyak bekerja untuk memenangkan pilkada. Bukan tidak mungkin, di belakang akan muncul tudingan lawan dari petahana sejak awal tidak serius memburu kemenangan.

Di luar itu semua, tambahnya, bagaimanapun masyarakat sudah menjatuhkan pilihan. Tinggal bagaimana petahana membuktikan kinerjanya pada periode kedua untuk menjawab kepercayaan para pemilih.

JPPR juga mencatat rekor kemenangan di satu daerah, yakni Mamuju Tengah, Provinsi Sulawesi Barat. Di kabupaten tersebut tidak ada petahana yang berlaga. Namun, kemenangan yang dicatat satu dari dua paslon mencapai angka 97,69 persen.

“Itu kemenangannya fantastis sekali,” tutupnya.

Real count pilkada di kepulauan Maluku dan Papua belum masuk. Tidak termasuk pilkada calon tunggal di Kabupaten Blitar, Tasikmalaya, dan Timor Tengah Utara.

Calon Incumbent Dengan Kemenangan Mutlak:

Kota Blitar, Samanhudi Anwar-Santoso 92,04.

Kutai Kartanegara, Rita Widyasari-Edi Damansyah  89,40.

Banyuwangi, A Azwar Anas-Yusuf W 88,96.

Bandar Lampung, Herman H.N-Muhammad Yusuf Kohar 86,66.

Surabaya, Tri Rismaharini-Whisnu Sakti Buana 86,22.

Denpasar, I.B.R. Dharmawijaya-I.G.N. Jaya Negara 82,19.

Tanah Bumbu, Mardani H Maming-Sudian Noor 81,50.

Mojokerto, Mustafa Kamal Pasa-Pungkasiadi  78,65.

Bolmong Selatan, Herson Mayulu-Iskandar Kamaru 77,35.

Medan, Dzulmi Edin-Akhyar Nasution 71,68. (jpnn/situngkpu)

See Also

Mukernas II PPP Hasilkan Sejumlah Ketetapan
PAN Walk Out Dari Paripurna RUU Pemilu
Pengamat LIPI Sebut Fenomena Ahok Bikin Parpol Panik
Gubernur DKI Jakarta Tunggu Menteri Sebelum Konsep Baru Raperda Reklamasi
Fadli Zon Akan Sidak Lokasi RS Sumber Waras
Mekanisme Pemilihan CaGub Dan CaWaGub DKI Jakarta Dari PDIP
Presiden Joko Widodo Melantik Agus Widjojo Sebagai Gubernur Lemhannas
Ahok Kecam Cuitan Yusron Ihza Mahendra Yang Rasis
Bicara Kalimat Rasis, Kemlu Minta Yusron Ihza Mahendra Fokus Jalankan Tugas
Ahok Hadiri Pelantikan Pengurus Partai NasDem DKI Jakarta
Muhammadiyah Ingatkan Sistem Politik Tidak Boleh Memiskinkan Rakyat
Tujuh Rekomendasi Mukernas PKB
Agung Laksono Tegaskan Munaslub Partai Golkar Harus Oleh Tim Transisi
Setya Novanto Mundur
Mayoritas Anggota MKD DPR RI Putuskan Setya Novanto Langgar Kode Etik
Ibu Yang Dimarahi Ahok Soal KJP Mengadu Ke DPRD DKI Jakarta
MenkoPolhukam Bersaksi
Maroef Sjamsoeddin Ibaratkan Setya Novanto Seperti Henry Kissinger
Prabowo Subianto Juru Kampanye Maya Rumantir/Glenny Kairupan
Tiga Paslon Bupati Dan Wakil Bupati Blora Sampaikan Program Dan Visi Misi
Haedar Nashir Terpilih Menjadi Ketua Umum PP Muhammadiyah
Rapat Paripurna DPR RI Setujui Program Dana Aspirasi
Pimpinan DPR RI Minta MKD Usut Tuntas Dugaan Gelar Doktor Palsu
4 Butir Hasil Islah Partai Golkar
Kongres Partai Demokrat Akan Habiskan Rp 9,4 Miliar
jQuery Slider
Arsip :20172016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 6.161.872 Since: 05.03.13 | 0.1644 sec