Redaksi

Istana Raja Amanuban Dan Feodalisme Yang Memudar

Author : Dra Esthi Susanti Hudiono MSi | Wednesday, 09 Desember 2015 | View : 409

SBN.

Pagi-pagi sekali saya ke Niki-Niki untuk melihat Istana Raja Amanuban. Istana Amanuban dibangun tahun 1926. Sekarang yang menghuni adalah generasi ke 18 bernama Kusa Nupe. Kakek Pak Kusa bernama Yohanes Paulus Nope, memiliki 20 istri. Ibunya (Usi Luis Nope) anak bungsu dari istri pertama. Bapaknya anak raja Kefa dari Insani. Berdasarkan rapat tua-tua, ibu dan keluarganya tidak boleh keluar dari istana. Keluarganya diminta menjaga istana yang ada.

Di TTS ada 3 kerajaan yakni 1) Amanuban di Niki Niki, 2) Molo di Kapan dan 3) Amanatun di Ueninasi. Istana ini punya banyak kenangan luar biasa. Ketika jaman Jepang dihuni oleh pimpinan Jepang. Ada bekas tembakan tentara lawan. Pernah dihuni oleh Menteri Sosial Bapak Tambunan tahun 70an ketika dalam kunjungan melihat peternakan sapi milik keluarga Pak Kusa Nupe.

Dulu keluarganya peternak sapi. Sapinya begitu banyak sampai ada ungkapan:”Sapinya lebih banyak dari manusia yang ada”. Sapi dari NTT dulu begitu terkenal. Ke mana sapi itu? Nampaknya ada usaha hendak mengembalikan kejayaan tersebut agar kita tidak tergantung pada sapi luar negeri. Namun nampaknya tidak semudah yang dibicarakan. Infrastruktur yang telah hancur. Sekalipun peternak sapi masih banyak.

Lalu saya teringat kerajaan di Bali. Nampaknya mereka lebih mampu bertransformasi dari struktur feodalisme ke struktur bisnis terutama ke pariwisata. Sebenarnya kerajaan Amanuban juga melakukan pola yang sama hanya situasi eksternal tidak terlalu mendukung seperti Bali.

Bapak Kusa Nupe lulusan Fakultas Ekonomi Unika Kupang. Sekarang dia punya bisnis di Timor Timor. Memiliki 3 bus. Beristrikan orang Rote dengan 2 anak laki-laki. Beberapa kali menghadiri pertemuan raja-raja di Indonesia. Tahun 2013 bersama paman yang jadi raja (YM Raja Louis Nope) menghadiri perayaan 800 tahun lebih kerajaan Majapahit di Surabaya. Mereka tergabung dalam Royal Society Group Indonesia. Group ini sering mengadakan pertemuan. Pernah ada pertemuan di Bandung.

Diri, keluarga, komunitas dan masyarakat tidak terlepas dari krisis. Krisis besar karena gelombang jaman seharusnya bisa dibaca sehingga pemimpin yang ada bisa memiliki keberanian menyesuaikan diri dengan perubahan dan gelombang jaman. Kerajaan Inggris dan Jepang yang berhasil mentransformasikan dirinya menghadapi perubahan jaman.

Inner power yang saya tawarkan termasuk membantu individu, keluarga dan komunitas untuk melihat dan membaca perubahan yang ada dan melakukan penyesuaian diri yang tidak merusak diri sendiri. (esh)

See Also

Mas Arswendo: Menulis Itu Gampang
Pidato Pertanggungjawaban Atas Penerimaan Soetandyo Wignjosoebroto Award
Merenungi Kepergian KH Hasyim Muzadi
Koalisi Cikeas Usung Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni
Saya Mengurus Kewarganegaraan Indonesia Sendiri Dan Tidak Mudah
Lian Gouw Untuk Penyebaran Novel Sejarah Indonesia
Seminar Membangun Ke-Indonesia-an
Rencana Bekerja Untuk Otonomi Perempuan
Ketemu Anak Presiden Di Markobar Surabaya
Mengenang Mas Slamet Riyadi Sabrawi
Batik Cermin Budaya Bangsa Indonesia
Keberlangsungan Batik Dalam Pergulatan
Handoko Wibowo Penerima Yap Thiam Hien Award 2015
Cengkeh Dan Petani Berdaya
Senyum Solidaritas Wong Cilik Yang Aku Suka
Ketika Myra Diarsi Di Tlogo Wening
SBO TV Tentang Masa Orientasi Sekolah
Membimbing Karier Anak
Menulis Karya Besar Yang Berdampak Untuk Yang Lain
Festival Kartini Bersama Wakil Gubernur Dan Konsulat Jenderal Amerika Serikat
Surat Cinta Untuk Kartini
Wisata Suku Bajo Terbesar Di Dunia
Wisata Darat Di Tomia Wakatobi
Jiwa Entrepreneur Di Belakang Perkembangan Wakatobi
Taman Laut Wakatobi Terbaik Di Dunia
jQuery Slider

Comments

Arsip :201920172016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 7.611.345 Since: 05.03.13 | 0.1328 sec