Redaksi

Bagaimana Cara Hidup Saya Sekarang?

Author : Dra Esthi Susanti Hudiono MSi | Wednesday, 02 Desember 2015 | View : 471

SBN.

Moment kemarin secara spontan membuat hati saya tersentuh sekali. Buat saya kemarin adalah moment luar biasa yang akan punya bekas yang dalam. Saya tersentuh dan menghormatinya. Aneh sekali dengan melihat adegan rapat terbuka senat UKSW itu, saya merasa ada yang berubah dalam diri saya. Rumah sosial saya di masa lalu diperbaiki setelah mengalami kerusakan dan kebocoran. Lalu saya menuliskannya dengan menggunakan perasaan.

Pak John Titaley yang lebih saya lihat sebagai kakak (ketika saya masuk pertama kali, dia masih berstatus mahasiswa) telah memberi teladan sebagai seorang Kristen. Saya tidak melihat apa yang diperbuat dan sungguh saya sama sekali tidak tahu persis yang dilakukan ketika saya tidak ada di UKSW. Kemarin hati saya melihat, dia telah mengalahkan egonya dengan memberanikan diri membayar hutang atas kesalahan yang dilakukan dan berusaha memulihkan hak-hak orang yang terampas. Apakah kesalahan yang dilakukan bagi yang melihatnya sebagai kesalahan akan terhapus sama sekali? Saya kira, tidak. Itu tetap ada di sana pada moment dilakukan. Namun dia mengakui, bahwa itu salah. Bagi saya itu cukup membuat saya memberinya pujian setinggi langit. Hormat saya lagi adalah dia melakukannya ketika dia berkuasa. Ini adalah teladan penting.

Lalu saya menerima perspektif lain dari orang-orang yang berbeda titik berangkat dan pandang. Memori dan pengetahuan yang saya miliki tentang UKSW dari tahun 1979 sampai dengan 1983 sebagai mahasiswa. Saat itu UKSW adalah rumah sosial saya yang sangat penting. Dia memberi perlindungan dan keteduhan dari “panas dan hujan” dari gempuran kebingungan identitas sebagai orang Indonesia. Juga memberi kata yang lebih positif pada identitas keperempuan, ketionghoan dan kekristenan saya. Karena itu saya punya hutang terima kasih. Setelah itu saya berjarak dan hanya jadi tamu. Ketika konflik terjadi saya memilih menjauh sama sekali dan tidak mau membicarakannya sama sekali serta tidak pernah mau bertamu. Sebelumnya saya aktif di Ikasatya. Setelah itu saya mundur. Saya kembali bertamu setelah saya memilih memaafkan dan melihatnya sebagai keluarga jauh.

Pengalaman dan pengetahuan saya sama sekali tidak bisa disamakan dengan Pak Ariel Heryanto. Saya bukan pemain dan tokoh di isu tersebut. Saya adalah penonton aktif. Pak Ariel Heryanto adalah tokoh yang memberikan dirinya untuk ruang berelasi di UKSW dalam hidup sebagai intelektual di suatu saat tertentu. Begitu juga pengalaman dan pengetahuan saya tentu berbeda dengan komentator yang lain.

Saya telah memberikan kata sanjungan berdasarkan pengalaman kemarin. Lalu apakah SAYA TERJEBAK PADA KATA SAYA? Tidak. Saya tidak terikat oleh kata saya kemarin. Saya tetap bebas menyatakan penilaian dan pandangan saya berdasarkan moment yang saya lihat dan hidup di dalamnya secara penuh. Saat ini saya pengabdi Tuhan yang saya kenal dalam bentuk cinta, perdamaian, toleransi, kebenaran dan keadilan yang saya pahami. Di situ saya berdiri dalam keseluruhan kelemahan saya sebagai manusia. Setiap hari saya berdoa untuk kemenangan kecil maupun besar yang akan bisa saya raih dalam permohonan pertolongan Tuhan. Saya ingin bisa memenangkan hidup saya. Hidup berkemenangan sampai ajal menjelang. Kemenangan dalam mengendalikan dan mengalah nafsu dan aspek negatif dalam diri.

Kemarin saya masuk ke dalam pusaran emosi menyakitkan yang dialami terutama Pak Ariel (karena beliau yang memberi respon) dan beberapa orang lain yang tentu punya pengalaman yang berbeda dengan saya. SAYA SANGAT MENGERTI dan sedih adanya perasaan itu. Kalau saya bisa memberikan penghiburan maka saya akan melakukannya. Saya mohon maaf kalau saya melukai hati dengan kata sanjungan yang begitu melambung tinggi.

Pak Ariel adalah guru dan intelektual yang sangat istimewa. Di manapun dia berada selalu diperlukan. Kita perlu orang yang memiliki keteguhan dan keketusan seperti itu. Dia yang mengingatkan saya ketika saya memberikan kata like pada Jaya Suprana yang bereaksi konyol atas apa yang dilakukan Ahok. Saya terima koreksinya. Memang benar apa yang dia tulis. Kita tidak boleh tunduk pada ketakutan kita sehingga kita memberi korting pada kebenaran. Namun dalam hal peristiwa dua hari yang lalu, perasaan saya tidak terkoreksi.

Ada kesempatan kedua untuk berbuat lebih baik dengan menggunakan pengetahuan dan ketrampilan yang kita dapatkan dari kehidupan nyata. Mari kita gunakan. Kita sebagai generasi senior punya hutang untuk turut membangun perdamaian dan toleran. Memang nilai kebebasan yang memberi ruang tak terbatas pada perbedaan adalah nilai yang terutama dalam hidup intelektual. Juga bebas memaafkan dan mengampuni sebagai salah satu nilai Kristen yang penting.

Langkah pertama telah diayunkan. Mari kita dorong langkah berikutnya untuk merealisir nilai-nilai penting intelektual Kristen. Sekarang saya bukanlah seorang kristen yang inferior, tertutup, penuh ketakutan dan bisa digertak oleh kebencian dan permusuhan. Hak hidup secara benar di bumi yang bukan milik siapa-siapa itulah sikap yang saya perjuangkan untuk saya dan yang lain. Selamat pagi. God bless you all. (esh)

See Also

Mas Arswendo: Menulis Itu Gampang
Pidato Pertanggungjawaban Atas Penerimaan Soetandyo Wignjosoebroto Award
Merenungi Kepergian KH Hasyim Muzadi
Koalisi Cikeas Usung Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni
Saya Mengurus Kewarganegaraan Indonesia Sendiri Dan Tidak Mudah
Lian Gouw Untuk Penyebaran Novel Sejarah Indonesia
Seminar Membangun Ke-Indonesia-an
Rencana Bekerja Untuk Otonomi Perempuan
Ketemu Anak Presiden Di Markobar Surabaya
Mengenang Mas Slamet Riyadi Sabrawi
Batik Cermin Budaya Bangsa Indonesia
Keberlangsungan Batik Dalam Pergulatan
Handoko Wibowo Penerima Yap Thiam Hien Award 2015
Cengkeh Dan Petani Berdaya
Senyum Solidaritas Wong Cilik Yang Aku Suka
Ketika Myra Diarsi Di Tlogo Wening
SBO TV Tentang Masa Orientasi Sekolah
Membimbing Karier Anak
Menulis Karya Besar Yang Berdampak Untuk Yang Lain
Festival Kartini Bersama Wakil Gubernur Dan Konsulat Jenderal Amerika Serikat
Surat Cinta Untuk Kartini
Wisata Suku Bajo Terbesar Di Dunia
Wisata Darat Di Tomia Wakatobi
Jiwa Entrepreneur Di Belakang Perkembangan Wakatobi
Taman Laut Wakatobi Terbaik Di Dunia
jQuery Slider

Comments

Arsip :201920172016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 7.607.589 Since: 05.03.13 | 0.131 sec