Hukum

Oknum PNS Pontianak Tersangka Penganiaya Veronica Sudah Ditahan

Monday, 23 Nopember 2015 | View : 2958

PONTIANAK-SBN.

Pada hari Senin (9/11/2015) malam, Veronica (22 tahun), mahasiswi STIE Widya Dharma Pontianak, Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar) menjadi korban penghinaan dan tindak kekerasan dari seorang laki-laki pengemudi mobil KB 777 HX.

Ketika keluar dari area kampus STIE Widya Dharma, lalu lintas umumnya padat. Dalam kondisi jalan yang macet, Veronica tak bisa dengan segera memberi jalan kepada pengemudi yang telah berkali-kali membunyikan klakson. Seorang laki-laki, oknum PNS Pemkot Pontianak ini tak bisa sabar. Veronica dibuntuti, dicaci-maki, diludahi, dan dipukuli hingga hidungnya berlumuran darah.

Akibat dari perlakuan ini, Veronica harus mendapat perawatan intensif di Rumah Sakit Umum (RSU) Kharitas Bakti Pontianak, Jl. Siam, Pontianak Selatan, Kota Pontianak, Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar).

Kepolisian Resor Kota (Polresta) Pontianak menetapkan oknum PNS Pemkot Pontianak berinisial RS sebagai tersangka penganiayaan terhadap mahasiswi Widya Dharma Pontianak, Veronica (22).

Kapolresta Pontianak, Kombes Pol. Tubagus Ade Hidayat, S.I.K. menuturkan, bukti-bukti yang didapatkannya sudah cukup kuat untuk menetapkan RS sebagai tersangka. "Bukti-bukti petunjuk saya pikir sudah cukup kuat untuk ditindaklanjuti sesuai proses hukum," ungkapnya, Jumat (13/11/2015).

Meski demikian, pihaknya tak melakukan penahanan terhadap RS. Menurutnya, dalam Undang-undang disebutkan, dapat dilakukan penahanan dan tidak harus dilakukan penahanan karena ada alasan objektif dan subjektif.

"Tapi bilamana perlu, untuk memberikan rasa keadilan bagi masyarakat, tidak menutup kemungkinan bagi tersangka bisa saja dilakukan penahanan. Kami menjamin kasus ini tetap berlanjut," tegas Kombes Pol. Tubagus Ade Hidayat, S.I.K.

Menurut Kapolresta Kombes Pol. Tubagus Ade Hidayat, S.I.K., RS sudah diperiksa sebagai tersangka. Pemeriksaan perkara, sudah sampai pada tahapan pemeriksaan korban, saksi serta bukti visum.

Atas perbuatannya ini, tersangka R.S. dijerat dengan Pasal 351 KUHP dengan ancaman tiga tahun penjara.

"Penganiayaan berat atau ringan dapat dilihat dari beberapa aspek. Apakah akibat kejadian itu membuat korban cacat lama atau tidak bisa melakukan aktivitas dalam waktu yang lama," jelasnya.

Sampai saat ini, Veronica masih menjalani perawatan intensif di RSU Kharitas Bakti Pontianak. Wajah mahasiswi asal Kota Singkawang ini terlihat memar.

"Sudah dirontgen kemarin. Tidak ada yang patah pada tulang hidung, tapi masih sakit sampai sekarang. Terkadang kepalanya masih pusing," elaborasi Veronica (22 tahun).

Veron, sapaan akrabnya mengakui istri tersangka sempat datang besuk dan mintanya mencabut laporan di Polisi. "Tapi saya tetap tidak mau, meskipun sudah memaafkan. Terus dia bilang kalau adiknya ada Jaksa Pontianak. Malamnya dia datang lagi, malah dia bawa orang yang ngaku abangnya yang berdinas di Polda Kalbar. Orang itu sempat lihatkan Kartu Tanda Anggota Polda Kalbar. Dia memaksa mau ketemu mama saya untuk cabut laporan," ungkap Veronica.

Saat ini kasusnya sudah ditangani Polresta Pontianak. Namun pelaku belum ditahan karena alasan tertentu.

Tersangka kasus penganiayaan, RS, oknum PNS Pemkot Pontianak yang diduga memukul Veronica, mahasiswi STIE Widya Dharma Pontianak, akhirnya sudah ditahan Polsek Pontianak Selatan pada Sabtu (21/11/2015) siang.

Ipda Pol. Sihar B. Siagian Kanit Reskrim Polsek Pontianak Selatan, RS diamankan saat dia dipanggil untuk menjalankan pemeriksaan tambahan.

"Dia sudah kita tahan hari Sabtu kemarin, pertimbangan karena sudah kita gelar dan cukup alat bukti, saksi korban, saksi pacar dan hasil visum dari RSU Bhayangkara Polda Kalbar," bebernya, Senin (23/11/2015).

Kanit Reskrim Polsek Pontianak Selatan tersebut mengatakan, tahap satu menunggu hasil visum dari RSU Kharitas Bakti Pontianak, Jl. Siam, Pontianak Selatan, Kota Pontianak, Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar) dan saksi tambahan dari pihak korban.

Namun ketika awak media mencoba meminta keterangan terhadap tersangka, Ipda Pol. Sihar B. Siagian menuturkan kalau yang bersangkutan enggan dikonfirmasi.

Veronica (22), mahasiswi Widya Dharma yang menjadi korban penganiayaan telah memaafkan pelakunya. Namun gadis asal Kota Singkawang ini tetap menolak mencabut laporan polisi yang dibuatnya di Polsek Pontianak Selatan.

Aktivis Kemanusiaan dari Forum Relawan Kemanusiaan Pontianak (FRKP) Kalbar, Br Stephanus Paiman, mengetahui kalau korban telah memaafkan pelaku penganiayaan, namun proses hukum tetap berjalan.

"Tadi sore saya besuk Veronica, keadaan sudah mulai membaik di perkirakan besok korban baru diperkenankan pulang. Namun tetap harus rawat jalan," kata Br. Stephanus Paiman pada Kamis (12/11/2015).

Ia juga menuturkan, Veronica mengakui kalau ia dibesuk oleh istri pelaku penganiayaan pada Rabu (11/11/20150 siang dan sore. Pelaku penganiaya dirinya juga telah beberapa kali membesuk korban.

"Kata Veron, istri pelaku membujuk agar korban cabut laporan, karena Tuhan saja memaafkan. Veron menjawab kalau dia sudah memaafkan, tapi dia minta agar proses hukumnya tetap lanjut," katanya.

Terkait keinginan Veronica itu, Br. Stephanus Paiman yang merupakan Koordinator Forum Relawan Kemanusiaan Pontianak (FRKP) Kalbar menyatakan sudah berkoordinasi dengan Polda Kalbar.

Menurutnya, Kapolda Kalbar menegaskan kepada dirinya kasus ini tetap lanjut.

Anggota DPR RI dapil Kalbar, Daniel Johan (DJ), angkat bicara terkait kasus penganiayaan terhadap mahasiswi Widya Dharma Pontianak, Veronica (22), oleh pelaku seorang oknum PNS Kota Pontianak waktu lalu.

Daniel Johan menyatakan, pelaku harus ditindak tegas oleh penegak hukum. Demi rasa keadilan korban maupun masyarakat. Supaya tindakan sewenang-sewenang seperti itu, tidak terulang lagi.

"Wali Kota Pontianak, Sutarmidji, harus ikut bertanggungjawab memastikan hal ini. Karena Wali Kota wajib melindungi setiap warganya, dari kesewenang-wenangnya dan penganiayaan. Apalagi dilakukan oleh PNS bawahannya," tegas politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu.

Kata Daniel Johan, seharusnya seorang PNS bertugas, melayani masyarakat. Maka, Wali Kota harus memastikan korban mendapat keadilan, dengan menjamin perawatannya. "Sampai sehat maupun memastikan pelaku ditindak hukum dan mengganti kerugian korban," ucapnya.

Bahkan jika kasusnya adalah penganiayaan berat, menurut Daniel Johan, oknum PNS tersebut pantas dipecat. "Saya minta pelaku harus ditindak sesuai hukum. Tidak perlu ada pelaporan, jelas-jelas pidana penganiayaan. Kalau sudah tersangka langsung ditahan, jangan ditunggu lagi," tandas Daniel Johan.

Penghinaan dan penganiayaan yang dilakukan sungguh di luar batas wajar kemanusiaan yang adil dan beradab. Teristimewa hal itu dilakukan oleh seorang laki-laki dewasa terhadap seorang perempuan yaitu anak kuliah. Keadilan seyogyanya ditegakkan tanpa pandang bulu demi menciptakan efek jera bagi pelaku maupun orang lain. (tri/change)

See Also

Keterangan Ahli Di Sidang Praperadilan Terkait Eksekusi Penahanan Matheus Mangentang
Peras Mantan Petinggi Polri, Hukuman Sisca Dewi Diperberat
LBH Ansor Jateng Apresiasi Penangkapan Cepat Polres Kebumen Terhadap Pelaku Kekerasan Seksual
Kapolres Bitung Perintahkan Pelaku Kejahatan Ditembak Di Tempat
Reserse Polres Bitung Bekuk Residivis Sadis Pembegal Motor
Satuan Reskrim Polres Bitung Tangkap Dua Tersangka Curanmor
Mahasiswa Unesa Sorot Penggunaan Dana Pembelian Mebel Di Kampus
KPK Tetapkan Dirut PT. Rohde And Schwarz Indonesia Sebagai Tersangka
KPK Akan Segera Periksa Saksi Dan Tersangka Suap KONI
KPK Cekal Robert Tantular Ke Luar Negeri
Tim Resmob Dan Tarsius Bitung Lumpuhkan Pencuri Kambuhan
Mahkamah Agung Hukum Alfian Tanjung 2 Tahun Penjara
Polda Jatim Duga Ada Kesalahan Teknis Proyek Berujung Jalan Gubeng Ambles
KPAI Apresiasi Langkah Cepat Polri Proses Bahar Bin Smith
Polri Sebut Penahanan Tersangka Bahar Bin Smith Murni Kasus Hukum
Polri Koordinasi Dengan LPSK Amankan 2 Remaja Korban Bahar Bin Smith
Usai OTT KPK, Kemenpora Lanjutkan Program SEA Games-Olimpiade
KPK Sita Miliaran Rupiah Terkait OTT Pejabat Kemenpora Dan KONI
Polri Kantongi Bukti Penganiayaan Oleh Bahar Bin Smith
KPK OTT Pejabat Kemenpora Dan Pengurus KONI
Polres Metro Jakarta Selatan Buru Pembunuh Perempuan Muda Di Kebagusan City
Pembunuh Keji Sopir Taksi Online Divonis 10 Tahun Penjara
Uang Pengganti E-KTP, KPK Sita Rp 862 Juta Dari Setya Novanto
Keterangan Ahli Ketua DPD KAI DKI Jakarta Pada Sidang Lanjutan Julius Lobiua
TNI AL Ringkus Pelaku Narkoba Di Tanjung Ahus
jQuery Slider

Comments

Arsip :2019201820172016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 7.502.237 Since: 05.03.13 | 0.116 sec