Agama & Masyarakat

10 Kota Paling Toleran Versi Setara Institute

Tuesday, 17 Nopember 2015 | View : 2106

JAKARTA-SBN.

Lembaga Setara Institute for Democracy and Peace atau lebih dikenal dengan nama Setara Institute merilis hasil penelitian mengenai tingkat toleransi beragama di kota-kota hampir di seluruh Indonesia.

Setara Institute merilis hasil temuannya terkait Indeks Kota Toleran di Indonesia.

Beberapa kota seperti Manado, Ambon, dan Pontianak, termasuk dalam 10 kota yang memiliki tingkat toleransi cukup tinggi. Kota lain yang masuk daftar tersebut adalah Pematang Siantar, Salatiga, Singkawang, Sibolga, Sorong, dan Palangkaraya.

Sebanyak 10 kota tersebut adalah Pematang Siantar, Salatiga, Singkawang, Manado, dan Tual. Selain itu, ada juga Sibolga, Ambon, Sorong, Pontianak, dan Palangkaraya. Berdasarkan hasil temuan tersebut, Setara Institute menempatkan Pematang Siantar, Salatiga, Singkawang, Manado, Tual, Sibolga, Ambon, Sorong, Pontianak, dan Palangkaraya dalam daftar sepuluh Kota Toleran Teratas 2015.

"Itulah 10 kota tertoleren 2015 berdasarkan indeks yang kami buat. Tujuan pengindeksan Kota Toleran 2015 ini berusaha untuk mempromosikan kota-kota yang dianggap berhasil mengembangkan toleransi umat beragama sehingga hal ini bisa menjadi pemicu kota-kota lain untuk bergegas membangun toleransi yang sama di wilayahnya," ucap Direktur Riset Setara Institute Ismail Hasani dalam konferensi pers di Jl. Danau Gelinggang No.62, Cikini, Jakarta Pusat, Senin (16/11/2015).

Kota Ambon dan Tual, yang punya sejarah konflik dan kerusuhan terkait agama, masuk dalam daftar sepuluh Kota Toleran Teratas yang dibuat berdasarkan studi indeks Setara Institute.

"Di Ambon memang pernah terjadi konflik terkait agama. Tetapi Ambon mempunyai kekuatan luar biasa pasca-konflik, bagaimana toleransi dipromosikan di sana, kelompok beragama saling bekerja dan saling menguatkan. Ambon telah melewati fase itu," kata Direktur Riset Setara Institute Ismail Hasani di Jakarta, Senin (16/11/2015).

Direktur Riset Setara Institute Ismail Hasani, menjelaskan pengukuran tersebut menggunakan dua paradigma, negative rights dan positive rights. Paradigma negative rights sesuai dengan karakter kebebasan beragama yang merupakan bagian dari rumpun kebebasan sipil politik.

"Dengan perspektif ini, semakin negara tidak mencampuri urusan kebebasan beragama atau berkeyakinan maka semakin toleran kota tersebut," ungkapnya.

"Sementara perspektif positive rights dengan memeriksa tindakan positif pemerintah kota dalam mempromosikan toleransi, baik yang tertuang dalam kebijakan, pernyataan resmi, respon atas peristiwa maupun upaya membangun budaya toleransi di masyarakat," tambah Ismail Hasani.

Dalam pengukuran tingkat toleransi ini, Setara Institute menggunakan empat variabel penelitian. Laporan tentang indeks kota toleran ini adalah laporan pertama Setara Institute yang disusun dengan memeriksa 4 variabel di 94 kota di Indonesia.

Lembaga itu menakar tingkat toleransi kota berdasarkan empat variabel pengukuran yakni regulasi pemerintah (Rencana Pembangunan Jangka Menengah dan Peraturan Daerah Diskriminatif), tindakan pemerintah (pernyataan dan respons atas pemerintah), regulasi sosial (peristiwa), serta demografi agama (komposisi penduduk berdasarkan agama).

Setara Institute membuat indeks berdasarkan empat variabel indikator. Variabel tersebut yang meliputi regulasi pemerintah (RPJMD dan Perda Diskriminatif), tindakan pemerintah (pernyataan dan respons dari pemerintah terhadap kebebasan beragama/berkeyakinan), regulasi sosial (peristiwa terkait intoleransi), dan demografi agama (komposisi penduduk berdasarkan agama).

Keempat variabel tersebut, yang pertama adalah regulasi pemerintah kota yang terdapat dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) dan peraturan daerah dengan penilaian diskriminatif atau non-diskriminatif.

Variabel kedua, yaitu tindakan pemerintah kota. Dalam hal ini, Setara menilai respons  pemerintah dalam menangani persitiwa intoleran yang terjadi di daerahnya.

Misalnya, pernyataan pemerintah kota yang tidak memihak.

Selain itu, variabel ketiga adalah regulasi sosial, atau peristiwa intoleran yang terjadi selama beberapa waktu terakhir di kota tersebut.

Kemudian, yang keempat adalah demografi agama dan komposisi penduduk. Dalam hal ini, penelitian membandingkan komposisi penduduk berdasarkan agama.

"Sebaiknya Menteri Dalam Negeri memberikan perhatian terhadap temuan ini dan berkoordinasi soal kebebasan beragama," kata Wakil Ketua Setara Institute Bonar Tigor Naipospos.

"Ini bahan evaluasi pemerintah kota, apakah kebijakan telah memperlakukan kesetaraan terhadap kelompok yang berbeda?" tanya Bonar Tigor Naipospos.

“Kita berharap melalui media masa, (indeks ini) jadi evaluasi dan warning agar pemerintah kota melihat apakah kebijakan mereka memang sudah melakukan perlakukan yang setara terhadap kelompok-kelompok yang berbeda,” ujar Bonar Tigor Naipospos.

“Saran kami sebaiknya Menteri Dalam Negeri (Tjahjo Kumolo) memberikan perhatian terhadap temuan ini dan Mendagri mengambil langkah untuk koordinasi dengan pemerintah kota ini agar ada upaya lebih serius dalam perbaikan kebebasan beragama,” katanya.

Obyek penelitian Setara Institute adalah 94 kota dari 98 kota di seluruh Indonesia. Penelitian ini dilakukan terhadap 94 kota di seluruh Indonesia. Setara Institute melakukan studi indeks pada 94 kota di Indonesia dalam hal promosi dan praktik toleransi dan mempublikasikannya bertepatan dengan peringatan Hari Toleransi Internasional pada 16 November.

Kota-kota administrasi di DKI Jakarta digabung menjadi Kota DKI Jakarta karena kota-kota ini tidak punya kewenangan mengeluarkan peraturan perundang-undangan.

Penelitian dilakukan sejak 3 Agustus sampai 13 November 2015. Penelitian menggunakan studi dokumen berdasarkan data dan pengamatan peristiwa, yang dilakukan pada 3 Agustus-13 November 2015.

Indexing ini dilakukan dengan menggunakan skala 1-7 dengan 1 untuk nilai terbaik (paling toleran) dan 7 nilai terburuk (paling tidak toleran). Peneliti Setara Institute Aminuddin Syarief mengatakan pengindeksan dilakukan dengan skala satu untuk yang paling toleran hingga tujuh yang paling tidak toleran.

Kota-kota yang menempati 10 kota paling toleran di Indonesia adalah Pematang Siantar, Salatiga, Singkawang, Manado, Tual, Sibolga, Ambon, Sorong, Pontianak, dan Palangkaraya.

"Kota Pematang Siantar, Salatiga, Singkawang, Manado, dan Tual merupakan kota paling tertoleran dengan skor masing-masing 1,47. Disusulkan kota Sibolga, Ambon, Sorong, Pontianak dan Palangkaraya dengan skor masing-masing 1,59," ujar peneliti Setara Institute Aminuddin Syarif.

DKI Jakarta dikategorikan sebagai daerah yang tingkat toleransinya sedang dengan total skor 3,05. Menurut Direktur Riset Setara Institute Ismail Hasani, faktor peristiwa memberikan sumbangan besar ke nilai toleransi DKI Jakarta.

"Bukan karena Gubernur. Di Jakarta secara faktual kita masih menemukan tempat ibadah yang mengalami gangguan. Perlu diingat, Jakarta sebagai Ibu Kota menjadi tempat segala politik berkontes, akan selalu ada demonstrasi yang menggunakan Jakarta sebagai media," jelas Direktur Riset Setara Institute Ismail Hasani.

"Tetapi kalau Gubernur tidak bertindak, hal itu juga bisa berkontribusi," tambah dia.

Setara Institute merilis hasil kajian indeks kota toleran 2015, di mana kota-kota di sekitar Jakarta seperti Bogor, Bekasi, Tangerang, Depok, dan Bandung menempati peringkat terbawah atau dianggap sebagai kota-kota yang paling intoleran di Indonesia.

Selain kota-kota di sekitar Jakarta tersebut, kota-kota lain seperti Banda Aceh, Serang, Mataram, Sukabumi, Banjarmasin, dan Tasikmalaya juga menempati 10 peringkat terbawah dalam indeks kota toleran.

Sementara itu, sepuluh kota yang dinilai paling rendah toleransinya yakni Bogor, Bekasi, Banda Aceh, Tangerang, Depok, Bandung, Serang, Mataram, Sukabumi, Banjarmasin, dan Tasikmalaya.

Pada kesempatan yang sama, Aminuddin Syarif juga mengungkapkan 10 Kota Toleran Terbawah 2015, yakni Bogor (5,21), Bekasi (4,68), Banda Aceh (4,58), Tangerang (4,26), Depok (4,26), Bandung (4,16), Serang (4,05), Mataram (4,05), Sukabumi (4,05), Banjarmasin (4,05) dan Tasikmalaya (4).

“Mengapa kota-kota ini bisa jadi kota terbawah dalam skor? Karena memang catat saja beberapa peristiwa yang terjadi di Bogor, Bekasi, Tangerang, dan Depok,” cetus wakil ketua Setara Institute Bonar Tigor Naipospos saat peluncuran hasil indeks di Jakarta, Senin (16/11/2015).

Wakil Ketua Setara Institute Bonar Tigor Naipospos mengatakan secara umum sebagian besar kota di Indonesia bisa dikategorikan sebagai kota yang toleran.

"Kalau secara umum gambarannya adalah semua pada medium, jadi ada keseimbangnya pada empat variabel tadi. Secara umum angkanya berimpit, sebagian besar kota-kota Indonesia masih bisa kami kategorikan sebagai kota yang toleran. Hanya beberapa kota saja yang buruk, misal Bogor karena faktor peristiwa," jelas Bonar Tigor Naipospos.

Ia memberikan contoh Bogor, yang mendapatkan skor terendah dalam indeks kota toleran 2015, atau predikat sebagai kota paling intoleran di Indonesia.

“Teman-teman tahu Bogor dalam beberapa waktu ini banyak kejadian-kejadian buruk, misalnya (rencana relokasi) GKI Yasmin, (larangan perayaan Asyuro bagi penganut) Syiah (yang dikeluarkan oleh Wali Kota Bogor),” tukas Bonar Tigor Naipospos.

Bahkan ada kabar bahwa pertemuan Aliansi Nasional Anti Syiah (ANNAS) akan diadakan di Gedung Wali Kota Bogor, ungkapnya.

“Bagaimana mungkin pemerintah memfasilitasi kelompok-kelompok intoleran?” pungkas Bonar Tigor Naipospos. (sp/jos)

See Also

Klaim Keraton Agung Sejagat Purworejo
Gubernur Jawa Tengah Minta Usut Munculnya Keraton Agung Sejagat
Polres Purworejo Akan Klarifikasi Keraton Agung Sejagat
Kapolri Sebut Teringat Insiden Sweeping Sabuga Bandung
MUI Bantah Buat Spanduk Tolak Natal Di Pangandaran
Lepas Santri Ke Luar Negeri Di Momentum Hari Santri
Pesan K. H. Aniq Muhammadun Dalam Halalbihalal UMK
Forkopimda Kabupaten Demak Gelar Halal Bi Halal
Mahasiswa UMK Kembangkan Kap Lampu Bertema Kebangsaan Dan Pluralisme
Danpos-Babinkamtibmas Kebonagung Bersinergi Amankan Perayaan Kebaktian
Dandim 0716/Demak Tarling Perdana Bersama Bupati
Kodim 0716/Demak Dan GP Ansor Milik Warga Demak
Tangkal Radikalisme, Babinsa Bangun Komunikasi Dengan GP Ansor
Menangkal Gerakan Radikal Teroris Kaum Perempuan: Belajar Dari Sunan Kudus
Kepedulian Babinsa Kodim 0716/Demak Terhadap Tokoh Agama
Ngalap Berkah, Dandim 0716/Demak Ruwahan Dan Kirab Budaya
Bersama Bupati, Dandim 0716/Demak Buka Acara Tradisi Megengan Guna Menyambut Bulan Suci Ramadhan
Kasdim 0716/Demak Hadiri Musyawarah Tamir Masjid Agung Demak
Danramil 03/Wonosalam Komsos Dengan Toga, Tomas, Dan Toda
Nuansa Religius Warnai HUT Kabupaten Demak Yang Ke-515
Selamat Jalan Bang Indra Sahnun Lubis
UGM Tolak Usul Penerimaan Mahasiswa Lewat Kemampuan Baca Kitab Suci
Kodim 0716/Demak Gelar Doa Bersama Pada 171717
Dandim 0721/Blora Ajak Warga Blora Doa Bersama
Ulama NU KH Hasyim Muzadi Wafat Kamis Pagi
jQuery Slider

Comments

Arsip :20202019201820172016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 7.993.389 Since: 05.03.13 | 0.1643 sec