Agama & Masyarakat

Menteri Agama Nyatakan Adalah Salah Jika Sebut Pesantren Sarang Teroris

Tuesday, 17 Nopember 2015 | View : 1152

JAKARTA-SBN.

Menteri Agama (Menag) Republik Indonesia (RI) ke-22 yang menjabat sejak 9 Juni 2014 di Kabinet Indonesia Bersatu II dan kembali menjadi Menteri Agama di Kabinet Kerja sejak 27 Oktober 2014, Drs. H. Lukman Hakim Saifuddin menyebut sebagai sebuah kesalahan jika mengkategorikan pondok pesantren sebagai sarang teroris karena di instutusi pendidikan Islam ini justru mengajarkan tentang arti toleransi di tengah keberagaman.

"Saya pikir tidak. Pesantren itu selalu memiliki ciri utama keberagaman pesantren. Keberagaman itu mencirikan tiga hal di manapun pesantren itu ada," kata Sekretaris Forum Konstitusi (2004-sekarang), Lukman Hakim Saifuddin di Jakarta, Selasa (17/11/2015).

Tiga hal dari keberagaman dalam pesantren, sambung mantan Anggota Pengurus Lembaga Pusdiklat DPP PPP (1994-1999) Lukman Hakim Saifuddin, di antaranya pesantren itu selalu mengajarkan nilai-nilai Islam yang moderat. Kemudian pesantren tidak mengajarkan nilai-nilai ekstrim dan terakhir pesantren mengajarkan tentang cinta Tanah Air.

"Jadi kalau ada orang yang menyatakan lembaga pendidikannya pesantren itu mengajarkan nilai-nilai ekstrim, itu bukan pesantren. Itu sekedar mengatasnamakan pesantren," tambah dia.

Pesantren, lanjut mantan Ketua Lembaga Pusat Pendidikan dan Pelatihan DPP PPP (1999-2003), tidak mengajar ekstrimitas tapi justru selalu tumbuh dengan rendah hati.

Lebih lanjut dikatakannya, sejatinya pesantren adalah yang mengajarkan nilai-nilai serta tidak mengklaim kebenaran itu hanya miliknya. Toleransi di dalam pondok pesantren dibangun secara luar biasa.

"Pesantren itu pasti cinta Tanah Air. Jadi kalau di tengah-tengah masyarkat ada orang yang mengatasnamakan pesantren lalu mengajarkan hal-hal yang bertolak belakang dengan ajaran Islam itu hanya mengatasnamakan Islam saja," imbuh Wakil Ketua Bidang Pengembangan Program Yayasan Saifuddin Zuhri (1994-sekarang).

Menurut mantan Ketua PH DPP Partai Persatuan Pembangunan (PPP) (2007-2012) ini, Lukman Hakim Saifuddin, masyarakat sendiri bisa menilai sebuah lembaga pendidikan Islam itu disebut sebagai pesantren atau tidak dengan melihat sepak terjang institusi tersebut.

"Masyarakat sendiri yang akan menilai mana pesantren yang betul-betul pesantren dan mana yang hanya mengatasnamakan pesantren saja," papar mantan Sekretaris PH DPP PPP (2003-2007) tersebut.

Sementara itu, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode 2010-2020, Prof. Dr. K.H. Said Aqil Siradj, M.A. atau sering dikenal Said Aqil Siroj menyatakan, selain tempat menimba ilmu, pesantren juga sebagai lembaga yang membangun generasi berakhlak.

"Pesantren ikut berperan dalam kemerdekaan Republik Indonesia serta membangun akhlak masyarakat sejak dulu," ujar K.H. Said Aqil Siradj, saat menghadiri pengukuhan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kutai Kartanegara 2015-2020 yang diketuai H Chairul Anwar, di Pondok Pesantren Karya Pembangunan Ribathul Khail, Tenggarong, Minggu (15/11/2015).

Nahdlatul Ulama, imbuh K.H. Sadi Aqil Siradj, tidak boleh jauh dari prinsip dan nilai-nilai pesantren.

Tanpa pesantren, tambah K.H. Said Aqil Siradj, NU bukan apa-apa karena dibentuk oleh ulama sekolah Islam tersebut, yang membawa misi pesantren menjadi pandangan hidup Muslim Indonesia.

Kelebihan pesantren menurut K.H. Said Aqil Siradj, selain tempat menimba ilmu, juga sekaligus mengamalkannya.

Sebelumnya diberitakan, Politikus PDI Perjuangan yang juga Direktur Eksekutif Megawati Institute, Jl. Proklamasi No.53, Menteng, Jakarta Pusat, Prof. Dr. Hj. Siti Musdah Mulia, M.A. menuding sekolah Islam sebagai penyebab munculnya terorisme di Indonesia.

Aktivis perempuan, peneliti, konselor, dan penulis di bidang keagamaan kelahiran Bone, Sulawesi Selatan (Sulsel) ini, Siti Musdah Mulia menyarankan agar sekolah-sekolah Islam termasuk pesantren untuk dikurangi karena menjadi tempat berkembangnya terorisme. (ant/jos)

See Also

Kapolri Sebut Teringat Insiden Sweeping Sabuga Bandung
MUI Bantah Buat Spanduk Tolak Natal Di Pangandaran
Lepas Santri Ke Luar Negeri Di Momentum Hari Santri
Pesan K. H. Aniq Muhammadun Dalam Halalbihalal UMK
Forkopimda Kabupaten Demak Gelar Halal Bi Halal
Mahasiswa UMK Kembangkan Kap Lampu Bertema Kebangsaan Dan Pluralisme
Danpos-Babinkamtibmas Kebonagung Bersinergi Amankan Perayaan Kebaktian
Dandim 0716/Demak Tarling Perdana Bersama Bupati
Kodim 0716/Demak Dan GP Ansor Milik Warga Demak
Tangkal Radikalisme, Babinsa Bangun Komunikasi Dengan GP Ansor
Menangkal Gerakan Radikal Teroris Kaum Perempuan: Belajar Dari Sunan Kudus
Kepedulian Babinsa Kodim 0716/Demak Terhadap Tokoh Agama
Ngalap Berkah, Dandim 0716/Demak Ruwahan Dan Kirab Budaya
Bersama Bupati, Dandim 0716/Demak Buka Acara Tradisi Megengan Guna Menyambut Bulan Suci Ramadhan
Kasdim 0716/Demak Hadiri Musyawarah Tamir Masjid Agung Demak
Danramil 03/Wonosalam Komsos Dengan Toga, Tomas, Dan Toda
Nuansa Religius Warnai HUT Kabupaten Demak Yang Ke-515
Selamat Jalan Bang Indra Sahnun Lubis
UGM Tolak Usul Penerimaan Mahasiswa Lewat Kemampuan Baca Kitab Suci
Kodim 0716/Demak Gelar Doa Bersama Pada 171717
Dandim 0721/Blora Ajak Warga Blora Doa Bersama
Ulama NU KH Hasyim Muzadi Wafat Kamis Pagi
Anton Ferdian Rilis Kisahku
Marie Muhammad Berpulang
K.H. Sofiyan Hadi Sebut Setiap Anak Itu Spesial
jQuery Slider

Comments

Arsip :201820172016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 7.442.730 Since: 05.03.13 | 0.911 sec