Keluarga

Deteksi Dini Mencegah Diabetes Melitus

Sunday, 08 Nopember 2015 | View : 605

SBN.

Teh manis dan kudapan menjadi teman akrab sebagian kaum urban bukan hanya untuk memulai hari, tapi juga menemani waktu-waktu mengantuknya di kantor. Tak banyak yang sadar, gaya hidup termasuk kebiasaan seperti itu membawa mereka pada ancaman nyata, yaitu pandemi diabetes.

Berdasarkan data terbaru diabetes Atlas Update 2014 dari Federasi Diabetes Internasional/ Internasional Diabetes Federation (IDF), menyebutkan pada 2014 lalu pengidap diabetes berusia 20-79 di Indonesia ada berjumlah lebih dari 9,1 juta orang Indonesia yang hidup dengan diabetes. Sebanyak hampir 176.000 meninggal karenanya. Menurut lembaga itu, sekitar 70 persen total kasus diabetes baru diketahui setelah ada komplikasi.

Kadar gula darah yang tidak terkontrol pada penyandang diabetes bisa menyebabkan berbagai komplikasi. Salah satu komplikasi yang paling ditakuti adalah gangguan pada organ seksual.

Menurut penjelasan Prof. Dr. Agung Pranoto, Sp.PD-KEMD, gangguan seksual itu bisa terjadi pada penyandang diabetes pria dan wanita. "Komplikasi bisa terjadi pada diabetes yang tidak terkontrol dengan baik," katanya.

Kadar gula darah yang terus menerus tinggi bisa menyebabkan kelainan saraf atau disebut neuropati.

Pada wanita, neuropati bisa menyebabkan keputihan akibat infeksi jamur, vagina kering, dan juga nyeri. Kondisi ini tentu membuat seorang wanita malas berhubungan seksual.

Sementara itu pada pria kondisi tersebut membuat disfungsi ereksi atau ketidakmampuan mendapatkan ereksi. Pada pasien diabetes, disfungsi ereksi dapat terjadi pada usia yang relatif muda tanpa sebab lain, dan makin cepat terjadi apabila gula darah tinggi, serta ada kebiasaan merokok.

"Kalau gula darahnya terkontrol baik, kadar Kolesterol dan juga tekanan darahnya baik, maka tidak ada perbedaan dengan orang yang normal," kata Agung Pranoto.

Berdasarkan data tersebut, pengidap diabetes di Indonesia, yang merupakan negara dengan kriteria berpenghasilan rendah, berasal dari usia di bawah 60 tahun. Bahkan, prediksi peningkatan signifikan terjadi pada 2035 mendatang penderita diabetes mencapai 14,1 juta dan dua pertiga di antaranya bermukim di perkotaan.

"Saat orang pindah ke kota, gaya hidupnya berubah. Pola hidup kurang sehat menyebabkan diabetes rentan menghampiri kaum urban," kata Susanne Stormer dari Novo Nordisk, perusahaan farmasi yang fokus pada perawatan diabetes, seperti dilansir awak media, Selasa (4/11/2014).

Jutaan orang Indonesia ditengarai hidup dengan diabetes. Namun, banyak orang diduga tak menyadari hal itu karena tak pernah melakukan pemeriksaan dini.

Sebetulnya, gejala diabetes dapat dikenali dengan mudah. Di antara gejala itu adalah sering buang air kecil, kerap merasakan haus secara berlebihan, mudah emosi, stres, serta penglihatan kabur. Komplikasi hingga kegagalan organ tubuh bisa timbul bila kondisi tersebut dibiarkan dan terlanjur memburuk.

Diabetes termasuk jenis penyakit kronis yang pola pengobatannya berlangsung selama seumur hidup. Karena itu, memeriksa kadar gula darah secara berkala sebaiknya dilakukan sebagai upaya deteksi dini untuk bisa segera mengambil tindakan bila ditemukan gejala awal.

Ada beberapa cara deteksi dini diabetes yang umum dilakukan, salah satunya adalah tes Fasting Plasma Glucose (FPG). Tes ini fokus pada mengukur kadar glukosa pada sel darah merah setelah puasa.

Pemilik darah yang diuji masih dalam kategori normal tanpa diabetes, bila dari hasil tes didapati glukosanya kurang dari 100 mg/dl. Namun, bila angkanya ada dalam rentang 100 mg/dl hingga 125 mg/dl, orang tersebut masuk kategori pre-diabetes. Hasil tes melebihi 126 mg/dl, menunjukkan kemungkinan seseorang positif menderita diabetes.

Sampai saat ini, uji laboratorium masih menjadi pilihan utama untuk pemeriksaan darah. Jaminan lengkapnya peralatan canggih dan faktor kebersihan menjadi pertimbangannya. Namun, perkembangan teknologi sudah memungkinkan pemeriksaan darah untuk deteksi dini diabetes dilakukan secara mandiri.

Salah satu alat bisa dipakai untuk uji mandiri diabetes adalah One Touch Ultra 2. Ukurannya yang tidak lebih besar dari telapak tangan memungkinkan alat tersebut mudah disimpan dalam saku celana dan hasil pengujiannya tidak berbeda dengan tes laboratorium berdasarkan standar ISO 15197.

Alat ini juga dilengkapi dengan blood strip serta teknologi fast draw yang hanya membutuhkan sedikit sampel darah untuk pengujian. Pengaruh makanan terhadap gula darah sebelum dan sesudah makan dalam perhitungan rata-rata 7, 14 hingga 30 hari, terlacak pula di sini.

Satu hal perlu dicamkan, apabila hasil pemeriksaan menunjukkan pre-diabetes, apalagi diketahui positif diabetes melitus, langkah yang perlu dilakukan selanjutnya adalah mulai membiasakan mengedukasi diri tentang penyakit tersebut. Edukasi itu termasuk mengatur pola makan, olahraga teratur, serta pengobatan dan pemantauan hasil cek mandiri.

Jauh sebelum terjadinya diabetes melitus, sebenarnya tubuh sudah mengalami gangguan metabolisme yang disebut dengan resistensi insulin. Karena tidak menimbulkan gejala yang jelas, banyak orang tidak menyadari kondisi ini.

Insulin adalah hormon yang diproduksi pankreas dan berperan besar dalam tubuh. Karbohidrat yang diperoleh dari asupan makanan dipecah menjadi gula dan masuk aliran darah dalam bentuk glukosa (senyawa siap pakai untuk menghasilkan energi).

Tingginya kadar glukosa setelah makan akan direspons kelenjar pankreas dengan memproduksi hormon insulin. Dengan bantuan insulin, glukosa masuk ke dalam sel.

Dengan pertolongan insulin, kelebihan glukosa akan disimpan di dalam liver dalam bentuk glikogen. Saat lemas, kadar glukosa darah turun, glikogen dipecah menjadi glukosa guna memenuhi kebutuhan energi. Ketika kita tidur pun liver perlahan-lahan akan mengeluarkan glikogen.

Tetapi pada resistensi insulin sinyal untuk memasukkan gula itu rusak sehingga insulin tidak tersedia atau tubuh tak mampu menggunakan insulin yang ada. Akibat dari kondisi tersebut adalah glukosa tetap berada dalam aliran darah sehingga kadar gula darah menjadi tinggi.

Menurut dr. Aris Wibudi, Sp.PD, ahli endokrin dari RSPAD Gatot Subroto Jakarta, resistensi insulin mulai terjadi saat berat badan meningkat dan lingkar perut melebar. Pada orang yang memiliki faktor genetik dan juga penyakit liver, risiko resistensi insulin juga akan meningkat.

"Tidak semua orang punya konsep perut kecil itu sehat. Padahal, membesarnya lingkar perut berbahaya," katanya.

Aris Wibudi menjelaskan, lemak yang bertumpuk di rongga perut juga akan menyelimuti organ-organ tubuh seperti ginjal atau liver. Lemak tersebut menghasilkan zat-zat yang merusak dan menyebabkan peradangan.

Seseorang dikatakan mengalami resistensi insulin jika lingkar perutnya lebih dari 80 sentimeter pada wanita dan 90 sentimeter pada pria, serta kadar gula darah Puasa lebih tinggi dari kadar gula darah sewaktu.

"Kalau kondisi ini dibiarkan, lama kelamaan akan terjadi sindrom metabolik dan mengarah pada diabetes," ujarnya.

Sindrom metabolik ditandai dengan lingkar perut yang membesar, kadar Kolesterol baik (HDL) kurang dari 45 pada pria dan kurang dari 55 pada wanita, kadar trigliserida lebih dari 150, tekanan darah sama dengan atau lebih dari 140/95, kadar gula darah Puasa lebih dari 100 dan gula darah sewaktu lebih dari 140.

Perubahan gaya hidup mutlak dilakukan jika kita memiliki gejala-gejala tersebut. "Perbaiki pola makan dan aktivitas fisik agar massa lemak perut mengecil," kata Aris Wibudi.

Menurut Susanne Stormer dari Novo Nordisk, perusahaan farmasi yang fokus pada perawatan diabetes, penyebab diabetes memang ditengarai banyak hal, termasuk genetik.

Namun, kebiasaan kaum urban mengabaikan pola hidupnya, seperti hobi menikmati camilan manis dan minuman bersoda, malas bergerak, stres, kurang istirahat, hingga jarang olahraga membuat penyakit ini lebih rentan diidap banyak orang. 

Di perkotaan, tak banyak orang sadar untuk menjaga gaya hidup agar terhindar dari diabetes. Padahal, penyakit ini termasuk kronik dan akan diderita seumur hidup. Bila sudah mengidap, biaya obat akan menjadi beban hidup selamanya.

Penelitian menunjukkan, sekitar 11 persen biaya kesehatan di dunia dihabiskan untuk mengatasi diabetes.

Penting bagi siapapun, termasuk yang berusia muda, mengetahui gejala awal diabetes. Beberapa gelaja itu di antaranya berat badan turun tanpa sebab, seringkali buang air kecil, sering haus, penglihatan semakin lemah, mudah lelah, dan sering merasa lapar.

Indikasi itu semakin kuat saat seseorang membutuhkan waktu lama untuk sembuh ketika menderita luka. Bila memiliki gejala seperti itu, pemeriksaan lebih lanjut sangat dianjurkan. Komplikasi hingga kegagalan organ tubuh bisa timbul bila kondisi tersebut dibiarkan dan terlanjur memburuk.

Agar terhindar dari gejala tersebut, kaum urban sebaiknya mulai memberlakukan gaya hidup baru. Hindari stres, rutin berolahraga, biasakan konsumsi makanan sehat dan cukup istirahat adalah beberapa caranya.

Cara lain bisa dilakukan adalah memantau kadar gula secara berkala. Dulu, pemeriksaan kadar glukosa memang merepotkan karena harus dilakukan di rumah sakit. Sekarang, semua jadi serba mudah.

Meskipun, uji laboratorium masih disarankan, pemeriksaan kadar gula darah sudah bisa dilakukan secara mandiri dan menjadi gaya hidup baru.

Sebuah tes sederhana melalui alat uji gula darah mandiri seperti One Touch Ultra 2, misalnya, dapat memberikan pengetahuan seberapa sehat kadar gula dalam darah yang diperiksa. Dengan ukuran sebesar ponsel, alat ini mudah dibawa kemanapun dan kapanpun.

Untuk memberikan hasil uji, dibutuhkan sedikit sampel  darah yang diletakkan pada blood strip. Bila hasil tes menunjukkan kadar glukosa kurang dari 100 mg/dl berarti pemilik darah masih dalam kategori normal.

Namun, bila angkanya berada dalam rentang 100 mg/dl hingga 125 mg/dl, orang tersebut masuk kategori pre-diabetes. Hasil tes melebihi 126 mg/dl, menunjukkan kemungkinan seseorang positif menderita diabetes.

Selain informasi kadar gula darah, pemeriksa juga dapat melacak informasi asupan makanan dalam perhitungan rata-rata 7, 14 hingga 30 hari. Dengan hasil uji berkala, siapapun bisa waspada akan risiko diabetes dan penanggulangannya.

See Also

UMK Buka Prodi Teknik Industri
Penularan HIV/AIDS Melalui Hubungan Seksual Di Iran Meroket
Tekan Angka Kematian Bayi Akibat Hipotermia, Mahasiswa UMK Rancang Pup Baby
Perlu Ada Pelatihan Membuat Manisan Belimbing Dan Jambu
Perempuan Rentan Alami Kekerasan Seksual Di Media Sosial
Mahasiswa UMK Amati Produksi Kretek
Friend Peace Team Asia West Pacific-USA Berbagai Pengalaman Dengan Mahasiswa UMK
Manfaat Besar Bawang Putih Bagi Kesehatan
Konsumsi 7 Makanan Hadapi Kanker
Lagu Iwan Fals Menggema Di Arena Musywil Muhammadiyah Dan Aisyiyah Ke-47
Segera Ada Sosis Anti-kanker Usus
Kudapan Indonesia Laris Di Farmers Market Praha
Tiga Kuliner Jadi Andalan Indonesia Di MEA
Turunkan Kolesterol Dengan Cuka Apel
Diam-diam 7 Penyakit Ini Tanpa Disadari Mengakibatkan Kematian
Makanan Sehat Bunuh Sel Kanker
Hoax, Facebook Kenakan Tarif Bagi Penggunanya
KPI Sebut Lima Acara TV Yang Berbahaya Bagi Anak-anak
Wanita Yang Pernah Berhubungan Badan Wajib Lakukan Pap Smear
Lima Penyebab Utama Kanker
Kenaikan Harga Rokok Di Australia Mahal Di Dunia
Perempuan Memburu 12 Hal Terhadap Diri Lelaki
Finalis American Idol Michael Johns Meninggal Di Usia Ke-35
Lima Kebiasaan Penyebab Kanker
Tiga Gaya Hidup Cegah Kanker
jQuery Slider
Arsip :2016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 5.835.867 Since: 05.03.13 | 0.2202 sec