Internasional

Kapolri Pastikan Putra Kandung Imam Samudera Tewas Di Suriah

Monday, 26 Oktober 2015 | View : 600

JAKARTA-SBN.

Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri) ke-22 yang mulai menjabat sejak 17 April 2015, Jenderal Polisi (Jend. Pol.) Drs. Badrodin Haiti memastikan putra dari pelaku bom Bali 2002, Imam Samudera yang bernama Umar Jundul Haq tewas terbunuh di Suriah. Kabar itu diterima pihak Polri dua pekan yang lalu.

"Benar itu anak Imam Samudera. Berdasarkan informasi yang dari orang-orang di sana," kata mantan Kapolda Jawa Timur (2010-2011), Jend. Pol. Drs. Badrodin Haiti di PTIK Jakarta, Jl.Tirtayasa No.6 Kebayoran Baru Jakarta Selatan, Senin (26/10/2015).

Selain anak Imam Samudera, Polri juga mencatat ada 350 Warga Negara Indonesia (WNI) yang bergabung dengan kelompok teroris Negara Islam Suriah dan Irak (ISIS) atau Negara Islam Irak dan Syam (ISIS) atau Negara Islam atau Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) atau Islamic State (IS) atau The Islamic State of Iraq and the Levant (ISIL) atau Islamic State of Iraq and Syria atau Islamic State of Iraq and al-Sham (ISIS) yang lebih dikenal dengan Islamic State (IS) atau Negara Islam (IS). "Itu data by name, belum termasuk yang ilegal," jelas mantan Kadivkum Polri (2010), Jend. Pol. Drs. Badrodin Haiti.

Sekedar informasi, Umar Jundul Haq yang biasa disapa Uncu diyakini sudah bergabung dengan kelompok teroris Negara Islam Suriah dan Irak (ISIS) atau Negara Islam Irak dan Syam (ISIS) atau Negara Islam atau Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) atau Islamic State (IS) atau The Islamic State of Iraq and the Levant (ISIL) atau Islamic State of Iraq and Syria atau Islamic State of Iraq and al-Sham (ISIS) yang lebih dikenal dengan Islamic State (IS) atau Negara Islam (IS) sejak dua tahun silam.

Pemuda 19 tahun ini merupakan putra sulung Imam Samudera yang telah di eksekusi mati pada 2008 lalu bersama Amrozi dan Muklas.

Kematian Uncu pertama kali disebut oleh pengamat terorisme dari Institute for Policy Analysis of Conflict (IPAC) Sydney Jones.

Direktur Institute for Policy Analysis of Conflict (IPAC) Sydney Jones kepada VOA memastikan bahwa Umar Jundulhaq (19), putra pelaku bom bunuh diri di Bali, Imam Samudera, tewas dalam sebuah pertempuran di Kota Deir ez-Zur, Suriah pada 14 Oktober lalu.

Sydney Jones mengatakan, "Dia (Umar) tewas dalam tempur di sekitar bandara Deir ez-Zur di Suriah. Saya bisa memastikan dia yang tewas, saya sudah lihat foto mayatnya."

Umar, menurut Sydney Jones, adalah satu dari 50 waga negara Indonesia yang tewas dalam pertempuan di Suriah sejak Maret lalu, baik dengan pasukan Kurdi maupun dengan pasukan Presiden Suriah Bashar al-Assad.

Selain itu ada juga yang tewas akibat pengeboman udara yang dilakukan pasukan koalisi tetapi jumlahnya tidak banyak. Ada pula lima orang yang tewas karena menjadi pelaku bom bunuh diri.

Saat ini, lanjut Sydney Jones, masih ada sekitar 300-an Warga Negara Indonesia (WNI) yang pergi ke Suriah untuk bergabung dengan kelompok teroris Negara Islam Suriah dan Irak (ISIS) atau Negara Islam Irak dan Syam (ISIS) atau Negara Islam atau Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) atau Islamic State (IS) atau The Islamic State of Iraq and the Levant (ISIL) atau Islamic State of Iraq and Syria atau Islamic State of Iraq and al-Sham (ISIS) yang lebih dikenal dengan Islamic State (IS) atau Negara Islam (IS) tetapi 40 persen di antaranya perempuan dan anak-anak. Mereka ikut dengan suami mereka.

Mereka yang pergi ke Suriah untuk bergabung dengan kelompok teroris Negara Islam Suriah dan Irak (ISIS) atau Negara Islam Irak dan Syam (ISIS) atau Negara Islam atau Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) atau Islamic State (IS) atau The Islamic State of Iraq and the Levant (ISIL) atau Islamic State of Iraq and Syria atau Islamic State of Iraq and al-Sham (ISIS) yang lebih dikenal dengan Islamic State (IS) atau Negara Islam (IS) mayoritas mempunyai hubungan atau memiliki afiliasi dengan organisasi radikal yang ada di Indonesia.

Tetapi ada juga Warga Negara Indonesia (WNI) yang sebelumnya tidak memiliki afiliasi apapun dengan kelompok radikal ketika mereka direkrut.

Mereka, tambah Sydney Jones, biasanya direkrut melalui hubungan langsung, pengajian dan tidak melalui internet.

Tim Ahli Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Wawan Purwanto membenarkan Umar Jundulhaq, anak pelaku bom bunuh diri di Bali, Imam Samudera, tewas di Suriah.

"Rata-rata dimakamkan di sana, tidak dibawa ke sini karena kepergiannya sendiri dianggap menyalahi dari perundang-undangan, kewarganegaraan dalam negeri juga jadi tidak dipulangkan".

"Sampai saat ini tidak ada mereka yang meninggal di Suriah dibawa pulang ke Indonesia, itu tidak ada. Semua dimakamkan di sana," jelasnya.

Direktur Institute for Policy Analysis of Conflict (IPAC) Sydney Jones mengakui bahwa sebenarnya jaringan-jaringan teroris di Indonesia telah lemah.

Meski demikian, tambahnya, semua pihak tetap harus waspada karena apabila ada yang pulang dari Suriah, mereka memiliki kredibilitas dan keterampilan yang tinggi seperti mahir menggunakan senjata dan berperang.

Berdasarkan informasi yang dimilikinya, sudah ada 7 orang Warga Negara Indonesia (WNI) yang bergabung dengan kelompok teroris Negara Islam Suriah dan Irak (ISIS) atau Negara Islam Irak dan Syam (ISIS) atau Negara Islam atau Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) atau Islamic State (IS) atau The Islamic State of Iraq and the Levant (ISIL) atau Islamic State of Iraq and Syria atau Islamic State of Iraq and al-Sham (ISIS) yang lebih dikenal dengan Islamic State (IS) atau Negara Islam (IS) dan kembali ke Indonesia.

Untuk itu, Sydney Jones menyarankan agar aparat penegak hukum ataupun pemerintah melakukan pendekatan yang baik terhadap mereka.

Sydney Jones juga berharap program deradikalisasi yang dilakukan pemerintah dapat lebih ditingkatkan lagi seperti program untuk narapidana kasus teroris.

Program ini, sambungnya, bisa diperkuat lagi agar penjara tidak dijadikan oleh teroris sebagai tempat yang subur untuk melakukan perekrutan .

"Pasti ada satu atau dua yang mau melakukan jihad di Indonesia, tetapi paling sedikit kalau didekati oleh aparat keamanan di sini," imbuhnya.

"Mereka bisa membedakan antara orang kecewa dan mungkin ingin kerja sama dengan pemerintah untuk mencegah orang lain berangkat dan orang-orang yang betul masih mempunyai niat yang kurang baik," lanjutnya.

"Kalau orang terakhir seperti itu saya kira harus dipantau saja," tambahnya.

BNPT menyatakan dari 1.030 orang yang ditangkap dan ditahan karena kasus terorisme, masih ada 25 orang yang dinilai radikal, antara lain Abu Bakar Bashir/Ba'asyir. (tri/mer/jos)

See Also

Boris Johnson Terpilih Sebagai PM Inggris Baru
Menlu Inggris Ancam Iran
Laut China Selatan Tegang
Presiden AS Pecat Direktur Dinas Rahasia
Kapal China Dekati Pulau Filipina
Thailand Dilanda Badai Pabuk
Warga Kelas Menengah Australia Akan Kian Sulit Dapat Kredit Perumahan
Donald Trump Kunjungi Militer AS Di Irak
Kota Surabaya Raih Guangzhou Awards 2018
Teleskop NASA Temukan 2 Planet Baru
Najib Razak Ditahan SPRM
Mantan PM Malaysia Ditahan
Najib Razak Ditahan KPK Malaysia
Turki Adakan Pemilu Hari Ini
Arab Saudi Resmi Mencabut Larangan Perempuan Menyetir
Gempa Guncang Osaka
Amerika Serikat Keluar Dari Dewan HAM PBB
Suriah Berhasil Usir ISIS
Kementerian Pertanian Cegah Rock Melon Australia Masuk Indonesia
Perwakilan Nahdlatul Ulama Dan Wahid Foundation Temui Dubes Amerika Serikat
Polri Benarkan Penangkapan WNI Isteri Tokoh ISIS Marawi
Sultan Selangor Kecewa Terhadap Mahathir Mohamad Soal Bugis
China Meminjamkan Sepasang Panda Ke Indonesia
Spanyol Buru Sopir Pelaku Teror Di Barcelona
Serangan Teror Di Barcelona
jQuery Slider
Arsip :2019201820172016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 7.669.991 Since: 05.03.13 | 0.1623 sec