HAM

Ormas Islam Bekasi Tolak Pembangunan Gereja Katolik Santa Clara

Monday, 10 Agustus 2015 | View : 911

BEKASI-SBN.

Lagi, organisasi masyarakat (Ormas) Islam menuntut Pemerintah Kota Bekasi, Provinsi Jawa Barat (Jabar) untuk menuntut pembatalan surat rekomendasi pembangunan gereja di wilayah setempat. Kali ini, ribuan massa yang tergabung dalam Aliansi Majelis Silaturahim Umat Islam Bekasi menuntut dibatalkannya rencana pembangunan Gereja Katolik Santa Clara di RT02/RW06, Kelurahan Harapan Baru, Kecamatan Bekasi Utara, Kota Bekasi. Sejumlah massa berkumpul di Islamic Center dan berunjuk rasa menolak pembangunan Gereja Katolik Santa Clara di atas lahan seluas lebih dari 5.000 meter persegi di RT02/RW06, Kelurahan Harapan Baru, Kecamatan Bekasi Utara, Kota Bekasi itu.

Massa berkumpul dari Islamic Center, Bekasi Selatan dan bergerak menuju Kantor Wali Kota Bekasi, tidak jauh dari titik kumpul, pada Senin (10/8/2015) siang. Massa bergerak dengan berjalan kaki melewati Jalan Raya Ahmad Yani. Massa dari berbagai organisasi Islam di Kota Bekasi, Provinsi Jawa Barat (Jabar) tersebut menggeruduk kantor Wali Kota Bekasi di Jalan Raya Ahmad Yani.

Sekelompok massa pengunjuk rasa di depan Pemerintah Kota Bekasi, Jawa Barat tersebut memblokir Jalan Raya Ahmad Yani.

Massa menuntut pemerintah membatalkan pembangunan Gereja Katolik Santa Clara di Bekasi Utara. Massa tersebut ngotot meminta pembangunan Gereja Katolik Santa Clara di Bekasi Utara dibatalkan. "Di dalam boleh nego, tapi kami tetap ingin pembangunan dibatalkan," teriak seorang demonstran, Ustadz Aang, Senin (10/8/2015).

"Kami meminta Wali Kota Bekasi membatalkan surat rekomendasi pembangunan Gereja Santa Clara," cetus Ibrahim, salah satu pendemo.

Berdasarkan pantauan awak media, massa mayoritas beratribut putih dan membawa bendera berorasi di depan Kantor Wali Kota Bekasi. Massa berorasi di atas kendaraan roda empat yang dimodifikasi dan terdapat pengeras suara. "Cabut rekomendasi pendirian Gereja Santa Clara," kata seorang orator, Senin (10/8/2015).

Bahkan, massa menggelar salat Zuhur berjamaah di Jalan Raya Ahmad Yani agar Wali Kota Bekasi mengabulkan tuntutan mereka.

Massa mulai menutup Jalan Raya Ahmad Yani sekitar pukul 11.30 WIB setelah berorasi di depan Kantor Wali Kota Bekasi. Aksi massa tersebut sempat membuat lalu lintas di Jalan Raya Ahmad Yani terhenti.

Massa tersebut memblokir empat lajur di Jalan Raya Ahmad Yani, sehingga kepolisian setempat melakukan pengalihan arus lalu lintas. Berdasarkan pantauan awak media, empat jalur jalan dua arah di Jalan Raya Ahmad Yani ditutup massa.

Ribuan petugas Kepolisian melakukan penjagaan. Ratusan aparat Kepolisian dibantu petugas Satuan Polisi Pamong Praja melakukan pengamanan. Polisi juga menyiagakan mobil anti huru-hara di area demonstrasi.

Banyak pengguna jalan terpaksa memutar balik kendaraan mereka. Petugas Kepolisian pun melakukan rekayasa arus lalu lintas.

Anggota Satlantas Polresta Bekasi Kota melakukan pengalihan arus lintas. Kendaraan yang keluar dari Tol Bekasi Barat dialihkan ke Jalan Rawa Tembaga menuju Jalan Juanda. Arus lalu lintas dari Jalan Sudirman dialihkan melalui Jalan Juanda.

"Dari awal berkumpul di Islamic Center sudah kita kawal hingga konvoi menuju kantor Wali Kota" ujar Kasat Lantas Polresta Bekasi Kota, AKP Bayu Pratama.

Ratusan petugas Satlantas Polresta Bekasi Kota diterjunkan mengatur arus lalu lintas. Dia menambahkan pihaknya mengerahkan sekitar 270 personel Satlantas untuk mengatur lalu lintas.

Sementara itu, Wakil Kapolda Metro Jaya, Brigjen Pol Nandang Jumarna mengatakan, pihaknya telah mengerahkan 1.200 personel untuk mengamankan aksi di Kantor Wali Kota Bekasi. "Aksi berjalan kondusif meski ada penutupan jalan," papar Brigjen Pol. Nandang Jumarna.

Berdasarkan pantauan awak media, kini Jalan Raya Ahmad Yani sudah kembali normal. Sebelumnya, sejumlah kendaraan hendak melintas di jalur itu terpaksa dialihkan. Misalnya, kendaraan dari arah Tol Bekasi Barat dialihkan ke Jalan Hasibuan dan Jalan Rawa Tembaga.

Sedangkan, kendaraan dari Jalan Sudirman dialihkan ke Jalan Juanda. Akibat pengalihan arus, sejumlah titik mengalami kepadatan.

Wali Kota Bekasi Rahmat Effendi yang menerima perwakilan massa mengatakan, untuk sementara rencana pembangunan gereja dihentikan. Namun dia menegaskan, rencana pembangunan Gereja Katolik Santa Clara tidak ada kecacatan administrasi. Wali Kota Bekasi Rahmat Effendi membantah tuduhan pengunjuk rasa yang menolak pembangunan Gereja Katolik Santa Clara di Bekasi. Rahmat Effendi memastikan proses perizinan pembangunan gereja itu sudah sesuai dengan prosedur yang berlaku. Panitia pembangunan gereja telah melengkapi semua persyaratan berdasarkan ketentuan yang berlaku. "Tidak ada kecacatan," tegas Rahmat Effendi, Senin (10/8/2015).

Meski demikian, kata Rahmat Effendi, jika massa penolak gereja bersikeras menilai masih ada kejanggalan, pihaknya mempersilakan massa melakukan kajian ulang. "Tapi apabila dianggap masih menimbulkan interpretasi dalam proses perizinan, silakan dikaji ulang," imbuh Rahmat Effendi seusai mediasi dengan perwakilan demonstran.

Wali Kota Bekasi, Rahmat Effendi mengatakan, menampung aspirasi massa tergabung dalam forum itu. Rahmat Effendi mempersilakan forum organisasi Islam itu melakukan verifikasi di lapangan selama status quo. Dia pun mempersilakan kepada pihak yang keberatan dengan pembangunan gereja melakukan verifikasi ulang terkait persyaratan yang sudah diajukan oleh panitia pembangunan gereja.

Dia juga setuju status pembangunan Gereja Santa Clara dinyatakan quo hingga seluruh prosedur pendiriannya benar-benar memiliki kekuatan hukum. "Sementara ini dalam status quo dulu (rencana pembangunan gereja tersebut)," tambah dia.

"Kami saling menghargai," tukas Rahmat Effendi.

Jalan Raya Ahmad Yani, Kota Bekasi sempat lumpuh total akibat diblokir massa pengunjuk rasa dari sejumlah organisasi Islam. Namun, situasi kini mulai normal kembali setelah mereka membubarkan diri usai tercapainya kesepakatan dengan Pemerintah Kota Bekasi soal rencana pembangunan Gereja Katolik Santa Clara di Bekasi Utara.

"Kesepakatannya yaitu akan ada verifikasi ulang di lapangan terkait proses perizinan gereja," ketus Ustadz Idhofi usai negosiasi bersama unsur Muspida, Senin (10/8/2015).

Setelah tercapainya kesepakatan, para pengunjuk rasa turun ke jalan sejak pukul 11.45 WIB, kemudian membubarkan diri dengan tertib sekitar pukul 13.00 WIB. Pada saat aksi, para pengunjuk rasa sempat menjalankan salat zuhur di jalan raya.

Sebelumnya, sejumlah perwakilan dari sejumlah organisasi agama melakukan negosiasi bersama pemerintah setempat. Hasilnya didapat akan ada verifikasi ulang di lapangan terkait proses pembangunan gereja itu.

Sehingga pemerintah dan forum itu sepakat status quo, dan tak ada proses pembangunan gereja hingga benar-benar ada landasan hukum yang kuat. Namun, perjanjian ini ditolak massa, sehingga mereka memblokir jalan utama di Kota Bekasi.

Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kota Bekasi, Momon Sulaeman, mengungkapkan persyaratan memperoleh izin mendirikan rumah ibadah seperti pengumpulan 60 tanda tangan warga Muslim telah dipenuhi.

"Persayaratan dari RT/RW/Kelurahan/Kecamatan, yang jelas telah dipenuhi makanya kita berikan rekomendasi," pungkas Momon Sulaeman.

Informasi dihimpun, gereja ditolak itu akan dibangun di lahan seluas sekitar satu hektar di wilayah Kelurahan Harapan Baru, Kecamatan Bekasi Utara, Kota Bekasi. Gereja Katolik itu disebut-sebut cukup besar, dan bisa menampung ribuan jemaat. (mer/tem/sp/jos)

See Also

Ridwan Kamil Tegaskan Organisasi Massa Dilarang Halangi Dan Hambat Ibadah
Ridwan Kamil Minta Maaf Soal Penghentian KKR Natal Stephen Tong
Menteri Agama Sayangkan Penghentian KKR Natal Stephen Tong Di Bandung
Teror Bom Di Gereja Katolik Medan
Tempat Ibadah Klenteng Harus Tertib Administrasi
Polisi Tetapkan 4 Tersangka Eksploitasi Anak Di Blok M
Rumah Ibadah Tak Punya IMB, Bukan Alasan Untuk Dibakar
Ormas Islam Protes Perayaan Paskah Digelar Di Stadion
Pemkot Bekasi Relokasi Jemaat Gereja Beribadat Di Kuburan
Wali Kota Bogor Tegaskan Tidak Ada Pembongkaran Gereja GKI Yasmin
Qaraqosh Kota Kristen Terbesar Irak Dikuasai ISIS
ISIS Singkirkan Salib Dan Bakar Ribuan Manuskrip Kuno
Menteri Agama Sebut Ideologi ISIS Berlawanan Dengan Pancasila
HMI Sebut WNI Pendukung ISIS Adalah Pengkhianat Bangsa
Menteri Agama Minta Muslim Indonesia Tak Terpengaruh ISIS
Lukman Hakim Saifuddin Tak Resmikan Bahai Sebagai Agama
Televisi Lebanon Pakai Huruf Nun Demi Solidaritas Warga Kristen Irak
Militan ISIS Ledakkan Makam Nabi Yunus
Pemerintah Kaji Agama Baru Bahai
Militan ISIS Di Irak Bakar Gereja Berusia 1.800 Tahun Di Mosul
Milisi ISIS Kuasai Gereja Tertua Di Irak
Diultimatum ISIS, Warga Kristen Irak Dipaksa Masuk Islam Atau Dibunuh
Bupati Wonosobo Kritisi Kemenag Soal Kebebasan Beragama
Kapolri Larang Ibadah Di Rumah
Tujuh Gereja Di Cianjur Diancam Ditutup Paksa
jQuery Slider

Comments

Arsip :2016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 5.821.245 Since: 05.03.13 | 0.2071 sec