Politik

Strategi Kampanye Politik Blusukan Caleg

Friday, 09 Agustus 2013 | View : 1396

JAKARTA-SBN.

Tahun 2013 dan 2014 merupakan tahunnya politik di mana Indonesia akan menggelar Pemilu ke-11 sejak diselenggarakan untuk pertama kalinya mulai tahun 1955. Hasil survei nasional yang dirilis survei Center for Strategic and International Studies (CSIS), Mei 2013 silam, mengungkapkan sebanyak 82% masyarakat tidak mengenal siapa anggota dewan di daerahnya. Angka memprihatinkan tersebut masih lebih baik ketimbang hasil survei Februari 2012, yaitu 92,2% masyarakat sama sekali tidak mengetahui perwakilannya di parlemen.

Dampak dari fenomena ‘caleg baliho’ itu pula yang belakangan coba diangkat dalam pembahasan revisi Peraturan Komisi Pemilihan Umum (PKPU) Nomor 1 Tahun 2013 tentang Pedoman Pelaksanaan Kampanye Pemilu Anggota DPR, DPD, dan DPRD. Pada rapat konsultasi dengan Komisi II DPR RI dan pemerintah, salah satu poin revisi mengarah pada pembatasan kampanye bagi caleg.

Alat peraga kampanye seperti baliho, spanduk, billboard, atau umbul-umbul, selain itu kalender juga poster bergambar caleg yang pada pemilu lalu dan hari-hari belakangan mulai bertebaran di tiap sudut kota, akan hilang pada Pemilu 2014. Caleg sama sekali dilarang untuk mempergunakan alat peraga kampanye di atas, khususnya di luar ruangan atau tempat umum. "Caleg bisanya di ruang privat. Kalau di rumah (sendiri) mau pasang baliho besar-besar silakan saja," tutur Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU), Husni Kamil Manik.

Nantinya baliho, spanduk, billboard, atau umbul-umbul, dan sejenisnya hanya boleh digunakan partai, tanpa ada embel-embel foto maupun nama caleg. Partai pun nantinya tidak dapat sembarangan untuk berkampanye lewat media tersebut. Revisi PKPU juga menyatakan alat peraga kampanye itu maksimal dua titik dalam satu kecamatan bagi partai politik.

Sementara itu, seorang caleg hanya diperbolehkan kampanye memanfaatkan media seperti kartu nama, leaflet, pamflet, kaos, dan cendera mata. Yang paling diharapkan adalah caleg melakukan kampanye tatap muka secara langsung dengan masyarakat. Jadi, setidaknya pengaturan itu diakomodasi dalam revisi PKPU 1 Tahun 2013, sepenuhnya berada di tangan KPU yang akan memutuskannya pasca Idul Fitri.

Pembatasan itu sendiri mendapatkan pro dan kontra, baik di kalangan pembuat undang-undang maupun aktivis pegiat pemilu.

Koordinator Komite Pemilih Indonesia (Tepi), Jeirry Sumampow, menilai pengaturan di atas kurang pas sebab faktanya Indonesia menganut sistem proporsional dengan daftar terbuka atau suara terbanyak sehingga para caleg harus diberi kesempatan untuk menampilkan dirinya. "Ini risiko sistem. Kalau mau diatur seperti itu, tidak konsisten dengan sistem walaupun proporsional itu masih kedepankan partai, tapi dengan pemberlakuan suara terbanyak, semestinya eksistensi calon juga penting di masyarakat secara sendiri," urainya. Terhadap pengaturan itu, Jeirry juga menilainya sebagai pembatasan informasi atau akses masyarakat terhadap kandidat. "Seolah-olah KPU ingin sembunyikan calon di dalam partai. Itu tidak boleh," imbuhnya. KPU seharusnya mendorong bagaimana calon-calon yang ada dikenal masyarakat dengan harapan bisa terpilih yang terbaik. "KPU tidak boleh berasumsi dalam membuat aturan dan dia harus konsisten dengan sistem," tegasnya.

Pendapat berbeda disampaikan Direktur Eksekutif Perkumpulan Pemilu dan Demokrasi (Perludem), Titi Anggraini. Baginya pembatasan ini adalah jawaban dari karut-marutnya kampanye seperti terjadi selama ini. Hal itu justru akan menstimulasi dan mendorong caleg untuk turun langsung ke masyarakat dan berinteraksi langsung dengan pemilih dan konstituen di dapilnya. Salah satu tujuan sistem suara terbanyak adalah agar pemilih tidak membeli kucing dalam karung agar pemilih benar-benar mengenal calonnya. Pemilih, tambah Titi Anggraini, akan benar-benar kenal dengan calonnya kalau ada interaksi dan dialog. Jika model kampanye caleg kembali dibebaskan untuk menggunakan spanduk, baliho, umbul-umbul, dan sejenisnya, tentu hal itu akan mengurangi kebutuhan mereka untuk berinteraksi dengan masyarakat. Terlepas dari persoalan estetika untuk menghindari kota menjadi ‘hutan baliho’, pembatasan kampanye caleg dampak positifnya adalah caleg akan lebih bisa berkompetisi secara setara karena akhirnya mereka dipaksa untuk turun langsung ke basis. Caleg yang bermodal besar tidak dapat lagi hanya ‘duduk manis’ dan mengandalkan jalan pintas lewat pencitraan lewat baliho, spanduk, dan sejenisnya. "Lagi pula yang dibutuhkan adalah caleg yang mendekat dan mampu berinteraksi dengan pemilih untuk menyerap aspirasi dan kemudian menawarkan visi, misi, dan program kepada pemilih,” tukas Titi Anggraini. (kj/ant) 

See Also

Sosialisasi Pilkada Jadi Tantangan KPU
Bawaslu RI Pastikan Pilkada Luber Dan Jurdil
Ketika Ahli IT Dan Master Di Bidang Hukum Menolak Korupsi
Kami Peduli Kejahatan Pornografi
Ketua MUI Tak Sependapat Indonesia Bubar 2030
Mukernas II PPP Hasilkan Sejumlah Ketetapan
PAN Walk Out Dari Paripurna RUU Pemilu
Pengamat LIPI Sebut Fenomena Ahok Bikin Parpol Panik
Gubernur DKI Jakarta Tunggu Menteri Sebelum Konsep Baru Raperda Reklamasi
Fadli Zon Akan Sidak Lokasi RS Sumber Waras
Mekanisme Pemilihan CaGub Dan CaWaGub DKI Jakarta Dari PDIP
Presiden Joko Widodo Melantik Agus Widjojo Sebagai Gubernur Lemhannas
Ahok Kecam Cuitan Yusron Ihza Mahendra Yang Rasis
Bicara Kalimat Rasis, Kemlu Minta Yusron Ihza Mahendra Fokus Jalankan Tugas
Ahok Hadiri Pelantikan Pengurus Partai NasDem DKI Jakarta
Muhammadiyah Ingatkan Sistem Politik Tidak Boleh Memiskinkan Rakyat
Tujuh Rekomendasi Mukernas PKB
Agung Laksono Tegaskan Munaslub Partai Golkar Harus Oleh Tim Transisi
Setya Novanto Mundur
Mayoritas Anggota MKD DPR RI Putuskan Setya Novanto Langgar Kode Etik
Ibu Yang Dimarahi Ahok Soal KJP Mengadu Ke DPRD DKI Jakarta
MenkoPolhukam Bersaksi
Sejumlah Calon Petahana Menangkan Pilkada
Maroef Sjamsoeddin Ibaratkan Setya Novanto Seperti Henry Kissinger
Prabowo Subianto Juru Kampanye Maya Rumantir/Glenny Kairupan
jQuery Slider
Arsip :20202019201820172016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 8.313.067 Since: 05.03.13 | 0.1647 sec