Hukum

Guru JIS Menang Di Pengadilan Singapura

Friday, 31 Juli 2015 | View : 545

SINGAPURA-SBN.

Pengadilan Singapura memutuskan Neil Bantleman dan Ferdinant Tjiong, dua guru di Jakarta International School (JIS), memenangi gugatan pencemaran nama baik yang dilakukan DR, ibu anak berusia 6 tahun siswa di sekolah tersebut, yang disebut sebagai korban pelecehan seksual. Namun putusan tersebut tak akan mengubah vonis pengadilan di Indonesia.

Humas Pengadilan Negeri Jakarta Selatan Made Sutrisna mengatakan putusan pengadilan Singapura tidak mempengaruhi putusan pengadilan Jakarta.

Sebelumnya, Neil Bantleman dan Ferdinant Tjiong divonis 10 tahun penjara dan denda Rp 100 juta subsider enam bulan penjara. "Putusan di Singapura tak mengikat di sini (Jakarta)," kata Made Sutrisna, saat ditemui awak media di ruang kerjanya, Kamis (30/7/2015).

Menurut Made Sutrisna, putusan tersebut juga tak akan mempengaruhi sidang perdata JIS yang akan dilaksanakan 10 Agustus mendatang. Putusan di Singapura, kata dia, juga tak bisa menjadi dalil yang dapat meringankan kasus pelecehan seksual di JIS. "Kecuali jika ada bukti esensial yang mampu menjadi pertimbangan, tetapi hanya pertimbangan dan bukan meringankan," kata dia.

Dalam pembacaan putusan April 2015, Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan yang diketuai Nur Aslam Bustaman memvonis dua guru JIS itu bersalah. Vonis tersebut diklaim berdasarkan bukti-bukti fakta, seperti hasil pemeriksaan forensik sejumlah rumah sakit, serta beberapa keterangan sejumlah saksi yang diajukan Jaksa Penuntut Umum (JPU) dalam persidangan yang berjalan sejak Desember 2014.

Sebaliknya, Pengadilan Singapura memutuskan bahwa Neil Bantleman dan Ferdinant Tjiong tidak terbukti melakukan tindak kekerasan seksual terhadap AL, 16 Juli lalu. Putusan dengan nomor perkara 779 tahun 2014 itu mengharuskan DR membayar ganti rugi total sebesar 230 ribu dolar Singapura atau sekitar Rp 2,3 miliar.

Kuasa hukum Neil Bantleman dan Ferdinant Tjiong, Patra M. Zen, berharap kemenangan itu bisa menjadi alat bukti hukum baru bagi kliennya dalam proses banding di Pengadilan Tinggi nanti. "Pengadilan Singapura dalam persidangan menggunakan alat bukti berupa visum rumah sakit,” kata penasihat hukum Patra M. Zen, saat dihubungi awak media, Kamis (30/7/2015). 

Dari keterangan visum dokter rumah sakit KK Women and Children Singapore, kata advokat Patra M. Zen, tidak terbukti ada tindak pelecehan seksual pada tubuh korban. Sedangkan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, menurut pengacara Patra M. Zen, tidak menggunakan surat visum dokter sebagai bukti dalam putusannya. "Alasannya, alat bukti dari luar negeri tidak bisa digunakan dalam sistem hukum di Indonesia," beber dia.

Adapun putusan dari pengadilan Singapura itu muncul, menurut pengacara JIS, Harry Ponto, karena laporan pertama kali DR ke media yang menuding guru JIS melakukan pelecehan seksual terhadap anaknya berasal dari Singapura. "Makanya, kami menyarankan dua guru itu melayangkan gugatan di pengadilan Singapura," ungkap dia.

Namun Harry Ponto mengakui bahwa putusan Pengadilan Singapura tidak akan dipakai sebagai bukti pengajuan banding. Dalam kasus pidana, sambung dia, kliennya terbukti dan banding sudah berjalan. “Kalau di Pengadilan Singapura, kami hanya dari unsur perdata pencemaran nama baik saja," imbuh dia.

Hukuman dua guru ini lebih tinggi dibandingkan dengan lima petugas kebersihan dalam kasus yang sama di JIS. Hukuman itu dijatuhkan Desember 2014 terhadap empat petugas kebersihan pria dengan delapan tahun penjara dan satu petugas wanita dengan vonis tujuh tahun penjara. (tem/jos)

See Also

Keterangan Ahli Di Sidang Praperadilan Terkait Eksekusi Penahanan Matheus Mangentang
Peras Mantan Petinggi Polri, Hukuman Sisca Dewi Diperberat
LBH Ansor Jateng Apresiasi Penangkapan Cepat Polres Kebumen Terhadap Pelaku Kekerasan Seksual
Kapolres Bitung Perintahkan Pelaku Kejahatan Ditembak Di Tempat
Reserse Polres Bitung Bekuk Residivis Sadis Pembegal Motor
Satuan Reskrim Polres Bitung Tangkap Dua Tersangka Curanmor
Mahasiswa Unesa Sorot Penggunaan Dana Pembelian Mebel Di Kampus
KPK Tetapkan Dirut PT. Rohde And Schwarz Indonesia Sebagai Tersangka
KPK Akan Segera Periksa Saksi Dan Tersangka Suap KONI
KPK Cekal Robert Tantular Ke Luar Negeri
Tim Resmob Dan Tarsius Bitung Lumpuhkan Pencuri Kambuhan
Mahkamah Agung Hukum Alfian Tanjung 2 Tahun Penjara
Polda Jatim Duga Ada Kesalahan Teknis Proyek Berujung Jalan Gubeng Ambles
KPAI Apresiasi Langkah Cepat Polri Proses Bahar Bin Smith
Polri Sebut Penahanan Tersangka Bahar Bin Smith Murni Kasus Hukum
Polri Koordinasi Dengan LPSK Amankan 2 Remaja Korban Bahar Bin Smith
Usai OTT KPK, Kemenpora Lanjutkan Program SEA Games-Olimpiade
KPK Sita Miliaran Rupiah Terkait OTT Pejabat Kemenpora Dan KONI
Polri Kantongi Bukti Penganiayaan Oleh Bahar Bin Smith
KPK OTT Pejabat Kemenpora Dan Pengurus KONI
Polres Metro Jakarta Selatan Buru Pembunuh Perempuan Muda Di Kebagusan City
Pembunuh Keji Sopir Taksi Online Divonis 10 Tahun Penjara
Uang Pengganti E-KTP, KPK Sita Rp 862 Juta Dari Setya Novanto
Keterangan Ahli Ketua DPD KAI DKI Jakarta Pada Sidang Lanjutan Julius Lobiua
TNI AL Ringkus Pelaku Narkoba Di Tanjung Ahus
jQuery Slider

Comments

Arsip :2019201820172016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 7.501.710 Since: 05.03.13 | 0.1113 sec