Hukum

PN Denpasar Tolak Praperadilan Margriet Christina Megawe

Wednesday, 29 Juli 2015 | View : 829

DENPASAR-SBN.

Sidang praperadilan atas tersangka pembunuh Engeline, Margriet Christina Megawe, di Pengadilan Negeri Denpasar, Bali, Senin (27/7/2015), hanya mendengarkan tanggapan atau jawaban dari pihak termohon (Polda Bali) melalui kuasa hukumnya. Dalam sidang lanjutan Selasa (28/7/2015), selain menghadirkan sejumlah bukti, kedua pihak akan menghadirkan saksi ahli.

Dion Pongkor, kuasa hukum Margriet menjelaskan besok akan menghadirkan satu saksi ahli acara hukum perdata. "Kemungkinan besar kita akan menghadirkan satu saksi yaitu saksi ahli acara hukum perdata," jelasnya.

Sebelumnya, kuasa hukum Margriet menyatakan akan menghadirkan dua saksi, yakni saksi hukum perdata dan saksi psikologis. "Kami akan menghadirkan satu saksi, satu saksi berhalangan hadir karena ada keluarganya sakit keras," terangnya lagi.

Para kuasa hukum termohon yakni kepolisian juga menyatakan menghadirkan saksi ahli. "Kami akan menghadirkan saksi ahli dan melihat juga perkembangannya," jelas Wayan Parwata kordinator dari lima tim kuasa hukum Polda Bali.

Sementara itu, penyidik gabungan Polda Bali dan Polresta Denpasar saat ini tengah menyelesaikan berkas kasus pembunuhan Engeline (sebelumnya disebut Angeline) dengan tersangka Margriet.

Kepala Bidang Humas Polda Bali Komisaris Besar Polisi (Kombes Pol.) Herry Wiyanto mengatakan, penyidik sedang bekerja maksimal untuk menyelesaikan berkas kasus pembunuhan dengan tersangka Margriet. "Kita akan selesaikan dulu kasus pembunuhannya," tandas Kombes Pol. Herry Wiyanto di Mapolda Bali, Senin (27/7/2015).

Dia memperkirakan, secara garis besar berkas kasus penelantaran dan pembunuhan dengan tersangka Margriet telah rampung. Dalam waktu dekat kasus tersebut akan dilimpahkan ke Kejati Bali.

Sidang praperadilan terkait kematian Engeline, Rabu (29/7/2015) akan membacakan hasil kesimpulan baik dari termohon maupun pemohon.

Kesimpulan sudah disampaikan dengan kesimpulan berbeda baik pemohon dan termohon dan akhirnya sidang diskors sampai pukul 14.00 WITA untuk pembacaan kesimpulan dari Hakim sekaligus mengambil putusan.

Sidang yang berlangsung pukul 10.25 WITA, berlangsung lancar kendati suasana sidang kurang nyaman karena ruang sidang cakra tempat berlangsungnya sidang penuh sesak dihadiri pengunjung.

Sementara di luar sidang ribuan ormas berorasi dan ingin masuk sidang, namun dibatasi oleh aparat keamanan. Polisi yang mengawal keamanan persidangan hanya memberikan izin perwakilan lima orang yang bisa masuk.

Dalam kesimpulannya, kuasa hukum Margriet, Hotma Sitompoel, bersama rekan-rekannya selaku pemohon menyampaikan, bahwa penetapan tersangka Margriet selaku tersangka pembunuhan karena penetapan tersangka hanya berdasarkan keterangan saksi Agus Tay yang sudah ditetapkan menjadi pelaku tunggal pembunuhan.

Mereka juga sangat menyayangkan karena termohon tidak mau menghadirkan Agus Tay di persidangan beserta Berita Acara Pemeriksaan (BAP)-nya. Padahal keterangan Agus Tay sangat diperlukan untuk dijadikan bahan dalam sidang praperadilan.

“Kalau keterangan Agus dijadikan alat bukti menetapkan klien kami tentu tidaklah tepat. Sebab, dalam keterangan BAP pertama Agus secara terang benderang mengakui memperkosa dan membunuh korban Engeline dengan membenturkan kepalanya,” tegas kuasa hukum Margriet.

Selain minta supaya kilennya Margriet dibebaskan dari tuduhan menjadi tersangka, pemohon juga minta kepada Hakim mengabulkan tuntutannya dan membebankan biaya perkara kepada negara.

“Kesimpulan kami, kami mohon supaya Hakim mengabulkan permohonan kami,” papar Hotma Sitompoel di akhir kesimpulannya.

Sebaliknya, tim kuasa hukum termohon Polda Bali lewat koordinatornya, Wayan Parwata, dalam kesimpulannya minta supaya Hakim menolak permononan pemohon dan minta biaya perkara dibebankan kepada pemohon.

Wayan Parwata menyatakan proses penetapan Margriet Christina Megawe sebagai tersangka kasus pembunuhan Engeline sudah sesuai dengan prosedur penyelidikan dan penyidikan.

Sehingga termohon dengan tegas menolak gugatan praperadilan ibu angkat gadis malang tersebut.

Dalam persidangan, termohon dengan gamblang memaparkan dasar-dasar dan alat bukti untuk menetapkan Margriet sebagai tersangka kasus tindak kekerasan yang menyebabkan hilangnya nyawa bocah kelas II SDN 12 Sanur, Denpasar.

Di depan Hakim tunggal Achmad Peten Sili, kuasa hukum termohon menegaskan pihaknya menolak permohonan Margriet dalam sidang lanjutan sidang praperadilan di Pengadilan Negeri (PN) Denpasar, Rabu (29/7/2015).

Parwata selaku kuasa hukum termohon mengatakan, penetapan tersangka berdasarkan kesesuaian barang bukti, kesaksian para saksi dan hasil laboratorium forensik jenazah Engeline.

Selanjutnya Kepolisian kemudian menindaklanjuti proses penyidikan dan menerbitkan Sprindik Nomor 389/VI/2015/Reskrim tanggal 10 Juni 2015. Polisi lanjut menerbitkan Sprindik Nomor 475/VI/2015/Reskrim tanggal 10 Juni 2015 dan surat penggeledahan rumah dan menemukan sejumlah barang bukti di Tempat Kejadian Perkara (TKP) yang ada hubungannya dengan tindak pidana yang disangkakan.

Petugas menemukan tali oranye, gulungan tali warna biru yang telah disulut korek api, serta gulungan tali warna cokelat.

Terakhir pisau dengan gagang cokelat dilem. Saat melakukan pemeriksaan menemukan darah di sekitar TKP. Pencarian barang bukti berupa hasil autopsi yang telah dilakukan Tim Forensik RSUP Sanglah Denpasar juga menemukan seutas tali plastik warna merah dalam keadaan rangkap dengan ujungnya tersimpul dan berserabut.

Dalam kesimpulannya, termohon juga menyampaikan kalau pihaknya meragukan keterangan saksi ahli Tommy Sihotang yang dihadirkan pemohon.

Hal itu dikarenakan dalam memberikan pendapat, pernyataan Tommy Sihotang sering kabur dan bertentangan. Bahkan ada beberapa pertanyaan seperti yang disampaikan hakim terkait tersangka, saksi ahli tidak mampu menjelaskan.

Hakim tunggal Achmed Peten Sili menolak upaya praperadilan yang diajukan Margriet Megawe dalam sidang putusan yang digelar, Rabu (29/7/2015).

Hakim tunggal Achmed Peten Sili menyatakan pemohon praperadilan tidak dapat membuktikan dalil-dalil (argumentasi) kasus pembunuhan Engeline sehingga ditolak sepenuhnya.

"Pemohon tidak dapat membuktikan dalil-dalil permohonannya sehingga dinyatakan tidak sah dan batal demi hukum yang sudah seharusnya ditolak," urai Hakim tunggal Achmed Peten Sili membaca amar putusan sidang praperadilan di Pengadilan Negeri Denpasar.

Dalam amar putusan, untuk menetapkan seseorang sebagai tersangka harus memenuhi dua unsur alat bukti yang juga disertai pemeriksaan calon tersangkanya karena diatur dalam Pasal 184 Ayat (1) KUHAP, tanpa mengeleminasi kelima unsur alat bukti.

Padahal alat bukti dalil-dalil dari termohon (polisi) ditingkat penyidikan memiliki tiga alat bukti yakni keterangan saksi, ahli dan surat yang menurut pemohon tidak sah. Namun, itu sudah sesuai dengan Pasal 184 Ayat (1) KUHAP.

Menurut dia, pemohon memasalahkan penetapan tersangka, namun penetapan oleh penyidik itu sudah sah demi hukum.

Oleh sebab itu, Hakim berpendapat alat bukti dari penyidik kepolisian sudah sesuai dengan aturan pasal yang telah diatur dalam ketentuan itu.

"Maka dalil pemohon tidak benar dan menyesatkan karena dapat meruntuhkan sistem peradilan pidana di mana setiap kejahatan selalu berawal dari tingkat penyidikan, maka dampak yang ditimbulkan bahwa akan sulit bagi penyidik untuk mengungkap kejahatan," ujar dia.

Ia menjelaskan dilihat dari dalil pemohon yang menyatakan penetapan pemohon sebagai tersangka tanpa ada produk hukum atau penetapan yang dikeluarkan termohon dalam menjerat Margriet, melainkan dalam bentuk surat perintah penyidikan (Sprindik).

Untuk itu, Hakim menegaskan pemahaman pemohon mengenai penetapan produk hukum dalam menetapkan tersangka itu sangat keliru.

"Jadi dalil yang dinyatakan pemohon tidak berdasar dan beralasan menurut hukum dan harus ditolak," ujar Hakim Achmad Peten Sili.

Putusan Hakim tunggal Achmad Peten Sili yang menolak gugatan preperadilan Margriet Christina Megawe (60) terhadap Polda Bali mendapat sambutan hangat dari berbagai elemen masyarakat, termasuk orangtua Engeline.

Rosidik dan Hamidan, orangtua Engeline, mengaku lega dengan putusan Pengadilan Negeri Denpasar yang telah menolak pengajuan praperadilan Margriet, Rabu (29/7/2015).

"Kami puas dengan keputusan Hakim tadi, karena praperadilanya telah ditolak. Hal itu sudah sesuai dengan harapan kami," ujar Rosidik, ayah kandung Engeline.

Bahkan pihaknya mengucapkan syukur dan sudah merasa lega dengan keputusan Hakim. Rosidik saat di Pengadilan Negeri Denpasar tidak didampingi oleh Hamidah, ibu kandung Angline.

"Istri saya sudah tahu kalau praperadilannya Magriet ditolak. Dia juga mengatakan hal yang sama, bersyukur dan cukup puas dengan keputusan Hakim. Sekarang ini kami sudah lega karena dia (Margriet) masih jadi tersangka,"katanya.

Organisasi kemasyarakatan, pakar hukum dan masyarakat menilai putusan tersebut sangat tepat karena sejak awal mereka yakin Magriet terlibat dalam kasus tewasnya Engeline (8).

Komnas Perlindungan Anak yang terus mengikuti jalannya sidang praperadilan ibu angkat Engeline itu menyatakan puas dan senang atas putusan Hakim.

Apalagi masyarakat yang antusias hadir di sidang bahkan memenuhi ruang Cakra Pengadilan Negeri (PN) Denpasar dan memenuhi ruang persidangan praperadilan juga gembira dengan putusan Hakim.

Ketua Komnas Perlindungan Anak, Arist Merdeka Sirait, seusai persidangan praperadilan menegaskan sejak awal sudah memprediksi kalau praperadilan Magriet akan ditolak Hakim. Sebab, dalam sidang pembacaan kronologi dan bukti-bukti yang disampaikan termohon yakni Polda Bali sudah sangat kuat menyatakan bahwa Margriet sebagai tersangka.

"Ada darah, ada saksi, didukung hasil autopsi, keterangan saksi dan ahli. Dengan bukti kuat itu, penyidik Polri yakin betul mereka dalam menetapkan tersangka," ujar Arist Merdeka Sirait.

Pendapat senada juga disampaikan Sekretaris Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kota Denpasar, Siti Sapurah.

Dia mengatakan pihaknya sejak awal yakin kalau ibu angkat Engeline yakni Magriet CH Megawe ikut terlibat dalam tewasnya Engeline. Oleh karena itu, penetapan tersangka Margriet dinilai sudah tepat, apalagi didukung bukti-bukti sah dan meyakinkan.

“Saya sangat gembira dengan putusan hakim. Saya beri nilai hakim 100 dan terima kasih sudah menolak praperadilan yang diajukan Margriet lewat kuasa hukumnya,” tegas Siti Sapurah, yang akrab dipanggil Ipung, dengan wajah suminggrah.

Pakar hukum Universitas Udayana (Unud) Wirawan yang juga sempat memantau jalannya persidangan mengatakan apa pun yang diputuskan Hakim tentu sudah melalui pertimbangan yang matang sesuai dengan fakta-fakta persidangan.

Kalaupun Hakim akhirnya menolak dalil-dalil dari pemohon tentu karena dianggap tidak mendukung, apalagi pemohon sempat menyampaikan lebih banyak opini dan menyalahkan media.

“Mestinya sejak awal pemohon lebih menekankan pada substansi apa alat bukti dari polisi sehingga menetapkan kliennya menjadi tersangka pembunuhan. Kalau termohon bisa membuktikan minimal ada dua alat bukti tentu penetapan itu tidak salah. Apalagi pihak termohon sempat menyampaikan banyak alat bukti di persidangan,” katanya.

Meskipun Hakim menolak praperadilan yang diajukan tersangka Margriet dalam kasus pembunuhan Engeline, kuasa hukum Margriet dari Hotma Sitompoel & Associates yang diwakili Jefri Kam tetap meyakini kliennya tidak bersalah.

"Ini kan sidang praperadilan penetapan tersangka, nanti kan (sidang) materi beda lagi. Kalau materi kita sudah punya banyak, hal yang kita gunakan pada persidangan pokok perkara. Sampai saat ini kita yakini bu Margriet tidak bersalah," kata Jefri Kam usai sidang.

Advokat Jefri Kam juga menyampaikan bahwa sidang kali ini adalah keputusan Hakim yang independen. Pihaknya tidak mau mengomentari banyak hal terkait sidang praperadilan yang sudah diputuskan.

"Kita terima keputusannya, tidak mau mengomentari apakah ini adil atau tidak. Ini putusan, dan apa pun putusannya kita hormati. Hakimnya sudah independen," tambah pengacara Jefri Kam.

Margriet Christina Megawe mengajukan praperadilan ke Pengadilan Negri Denpasar karena penetapan dirinya sebagai tersangka pembunuh Engeline dinilai tidak cukup bukti.

Setelah diajukan dan diuji dalam praperadilan dengan termohon Polda Bali, Hakim memutuskan menolak karena penetapan Margriet Christina Megawe sebagai tersangka sudah sesuai prosedur dan cukup alat bukti. (sp/jos)

See Also

Keterangan Ahli Di Sidang Praperadilan Terkait Eksekusi Penahanan Matheus Mangentang
Peras Mantan Petinggi Polri, Hukuman Sisca Dewi Diperberat
LBH Ansor Jateng Apresiasi Penangkapan Cepat Polres Kebumen Terhadap Pelaku Kekerasan Seksual
Kapolres Bitung Perintahkan Pelaku Kejahatan Ditembak Di Tempat
Reserse Polres Bitung Bekuk Residivis Sadis Pembegal Motor
Satuan Reskrim Polres Bitung Tangkap Dua Tersangka Curanmor
Mahasiswa Unesa Sorot Penggunaan Dana Pembelian Mebel Di Kampus
KPK Tetapkan Dirut PT. Rohde And Schwarz Indonesia Sebagai Tersangka
KPK Akan Segera Periksa Saksi Dan Tersangka Suap KONI
KPK Cekal Robert Tantular Ke Luar Negeri
Tim Resmob Dan Tarsius Bitung Lumpuhkan Pencuri Kambuhan
Mahkamah Agung Hukum Alfian Tanjung 2 Tahun Penjara
Polda Jatim Duga Ada Kesalahan Teknis Proyek Berujung Jalan Gubeng Ambles
KPAI Apresiasi Langkah Cepat Polri Proses Bahar Bin Smith
Polri Sebut Penahanan Tersangka Bahar Bin Smith Murni Kasus Hukum
Polri Koordinasi Dengan LPSK Amankan 2 Remaja Korban Bahar Bin Smith
Usai OTT KPK, Kemenpora Lanjutkan Program SEA Games-Olimpiade
KPK Sita Miliaran Rupiah Terkait OTT Pejabat Kemenpora Dan KONI
Polri Kantongi Bukti Penganiayaan Oleh Bahar Bin Smith
KPK OTT Pejabat Kemenpora Dan Pengurus KONI
Polres Metro Jakarta Selatan Buru Pembunuh Perempuan Muda Di Kebagusan City
Pembunuh Keji Sopir Taksi Online Divonis 10 Tahun Penjara
Uang Pengganti E-KTP, KPK Sita Rp 862 Juta Dari Setya Novanto
Keterangan Ahli Ketua DPD KAI DKI Jakarta Pada Sidang Lanjutan Julius Lobiua
TNI AL Ringkus Pelaku Narkoba Di Tanjung Ahus
jQuery Slider

Comments

Arsip :2019201820172016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 7.542.714 Since: 05.03.13 | 0.1402 sec