Internasional

Keluarga Mahasiswa S3 Indonesia Percaya Putranya Tak Lakukan Pelecehan

Saturday, 30 Mei 2015 | View : 580

SINGAPURA-SBN.

Yurnalis Tanjung dan Suwarni, orangtua Irfan Syanjaya (26 tahun), mahasiswa doktoral asal Karawang, Jawa Barat yang tersandung kasus pelecehan di Singapura mempertanyakan tuduhan Pengadilan Singapura terhadap anaknya.

Keluarga tidak yakin atas perbuatannya anaknya tersebut.

Orangtua Irfan Syanjaya yang tinggal di wilayah Jatirasa, Karawang, Jawa Barat mengaku sangat shock dengan kabar tersebut. Yurnalis Tanjung menilai, anaknya baik dan pendiam.

Terakhir, Yurnalis Tanjung bertemu anaknya, saat Irfan Syanjaya cuti kuliah dan sempat pulang ke rumah.

"Dia sempat cuti tapi nggak pernah bilang tersandung kasus pelecehan. Saya tahu kasus ini dari temannya. Saya sendiri nggak terlalu percaya karena anak saya orangnya pendiam dan baik," urai Yurnalis Tanjung di rumahnya, di kawasan Jatirasa, Karawang, Jawa Barat, Sabtu (30/5/2015).

Yurnalis Tanjung kini kesulitan menghubungi anaknya. Pesan yang dikirim tidak pernah ada balasan.

"Saya coba telepon untuk menanyakan keberadaannya tapi nggak pernah diangkat. Kirim pesan singkat pun terkirim tapi nggak pernak ada balasan," imbuh Yurnalis Tanjung.

Irfan Syanjaya dituduh melakukan perbuatan tidak senonoh karena memegang pantat seorang mahasiswi berumur 20 tahun di gerbong MRT dalam perjalanan dari Stasiun Buona Vista menuju Stasiun East Jurong Singapura, pada 12 Agustus 2014 silam.

Irfan Syanjaya merupakan mahasiswa program doktoral (Ph.D.) di bidang teknik elektro dan komputer di Universitas Nasional Singapura (NUS) terancam dibui hingga dua tahun, didenda, dicambuk atau memperoleh tiga hukuman tersebut. Irfan Syanjaya yang tengah menyelesaikan gelar doktoral di bidang teknik komputer dan elektro di National University of Singapura (NUS) ini divonis 6 pekan penjara. Namun, Pengadilan memutuskan menjatuhkan hukuman penjara selama enam minggu.

Yurnalis Tanjung, ayah Irfan Syanjaya, sudah mengetahui anaknya tersandung kasus pelecehan di Singapura dari teman anaknya. Bahkan, Yurnalis Tanjung mendengar kabar dari teman anaknya tersebut, bila Irfan Syanjaya dikeluarkan dari kampusnya di National University of Singapura (NUS).

"Dengar kabar dari temannya anak saya kalau dia di-DO dari kampusnya," ungkap Yurnalis Tanjung di rumahnya, di wilayah Jatirasa, Karawang, Jawa Barat, Sabtu (30/5/2015).

Impian mahasiswa Indonesia, Irfan Syanjaya menggapai program doktor di Singapura terpaksa harus pupus lantaran tersangkut kasus hukum. Irfan Syanjaya dituding melakukan tindak kejahatan pelecehan seksual pada tahun lalu ketika berada di dalam kereta Mass Rapid Transportation (MRT) di Negeri "Singa".

Harian Singapura, The Straits Times, Rabu (27/5/2015) melansir Irfan saat itu tengah berada di kereta MRT dari Buona Vista menuju ke Jurong.

Menurut informasi yang terungkap di persidangan, Irfan Syanjaya sengaja berdiri di belakang seorang wanita muda berusia 20 tahun.

Saat berada di belakang wanita itu, pemuda berusia 26 tahun tersebut diduga menggesek-gesekan tubuhnya ke bagian bokong korban.

Dalam persidangan terungkap, saat itu, kereta MRT tengah padat karena orang baru saja pulang kerja di malam hari.

Namun, gerbong kereta mulai kosong ketika meninggalkan stasiun Dover. Tetapi, bukannya menjauhi korban karena sudah mulai lengang, Irfan Syanjaya terus berdiri di dekat korban.

Ketika ditegur korban, Irfan Syanjaya meminta maaf. Peristiwa itu disaksikan tiga penumpang lainnya.

Salah satu saksi, Johan Tay, mengatakan Irfan Syanjaya berdiri sangat dekat dari korban. Dia mengaku telah mencoba menghentikan tindak pelecehan itu terjadi dengan meletakkan tas di antara Irfan Syanjaya dan korban. Tetapi, Irfan Syanjaya tetap melanjutkan perbuatannya.

Sementara, saat ditanya oleh Hakim di  pengadilan, Irfan Syanjaya memang mengakui telah menyentuh korban tetapi tidak disengaja. Padahal, sebelumnya kepada polisi, dia mengaku memang secara sengaja menyentuh korban.

Ketika ditanya mengapa Irfan Syanjaya terus berdiri di dekat korban, dia menjawab melalui seorang penerjemah bahwa dia tak merasa sesuatu yang aneh dan tidak keberatan melihat posisinya dekat korban. "Saya menganggap dia tak memiliki masalah jika melihat saya berdiri di dekatnya," jelas Irfan Syanjaya.

Yurnalis Tanjung mempertanyakan, kenapa anaknya baru disidangkan dan divonis saat ini. Menurutnya, kasus Irfan Syanjaya sudah lama terjadi. "Ini kasus sudah lama lalu kenapa baru disidangkan dan divonis sekarang," pungkas Yurnalis Tanjung.

See Also

Pengadilan Rusia Perintahkan Perempuan Yang Kabur Dari Karantina Balik Ke RS
Virus Korona Tewaskan Direktur Rumah Sakit Di Wuhan
Penembakan Di Century Plaza Bangkok
Jeff Bezos Donasi USD 10 Miliar Untuk Penelitian Iklim
Korban Tewas Akibat Virus Korona Total Jadi 1.868
1.789 Korban Tewas Akibat Virus Korona
Warga Kanada Di Kapal Pesiar Diamond Princess Segera Dievakuasi
Arab Saudi Larang Warganya Ke China
Dokter Pengungkap Virus Korona Meninggal Dunia
Korban Jiwa Virus Korona Bertambah Jadi 634
Jepang Karantina Seluruh Penumpang Kapal Pesiar Diamond Princess Terkait Virus Corona
Ratusan Warga Negara Malaysia Dan Keluarganya Dipulangkan Dari Wuhan
Penembakan Di Asrama Kampus Texas A & M University
7 Fakta Rumah Sakit Kilat Pasien Korban Virus Corona Wuhan
Singapura Umumkan 6 Kasus Baru Virus Korona
Rumah Sakit Kilat Virus Corona Wuhan Mulai Beroperasi
Penembakan Dalam Bus Greyhound Di California
Korban Meninggal Virus Korona Bertambah Jadi 362
TNI Siap Bantu Kebakaran Hutan Di Australia
Rudal Kenai Objek Di Langit Iran Saat Pesawat Ukraina Jatuh
Iran Sebut Pesawat Ukraina Terbakar Sebelum Jatuh
Pejabat AS Sebut Pesawat Ukraina Kemungkinan Kena Rudal Iran
Bencana Kebakaran Lahan Di Australia
Kapal Induk Kedua China Resmi Diluncurkan
PBB Sebut 7 Ribu Demonstran Iran Ditahan Akibat Protes Kenaikan BBM
jQuery Slider
Arsip :20202019201820172016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 8.012.511 Since: 05.03.13 | 0.1592 sec