Internasional

Khairat El-Shater Dikunjungi Utusan Khusus

Tuesday, 06 Agustus 2013 | View : 780

KAIRO-SBN.

Selain mantan Presiden Mesir terguling, Mohamed Moursi, yang mendapatkan kunjungan istimewa dari utusan khusus negara asing, kini tersiar kabar bahwa wakil pemimpin kelompok Ikhwanul Muslimin (IM) yang tengah dipenjara, Khairat El-Shater, juga mulai mendapat kunjungan dari sejumlah utusan khusus dari negara-negara luar. Rangkaian kunjungan itu diyakini sebagai desakan dari dunia internasional agar krisis Mesir yang memburuk setelah kejatuhan Mohamed Moursi segera mereda.

Kantor berita MENA pada Senin (5/8/2013) mewartakan para utusan khusus itu berjumpa Shater pada Minggu (4/8/2013) tengah malam setelah mengantongi izin dari Jaksa Penuntut Umum (JPU) untuk mengunjunginya di penjara Tora, wilayah Selatan Kairo. Menurut sumber tepercaya yang tidak mau ditulis namanya, turunnya izin tersebut bertolak belakang dengan sikap Pemerintah Mesir interim yang sebelumnya menolak kunjungan dari utusan Uni Eropa, Uni Emirat Arab, Qatar, dan Amerika Serikat (AS).

Dalam pemberitaannya MENA tidak menuliskan secara detail apa saja yang dibicarakan dalam pertemuan itu. Sedangkan saluran berita Al Jazeera menuliskan pertemuan para utusan luar negeri itu dengan Khairat El-Shater sudah dilakukan sejak lama. Namun, sama seperti MENA, Al Jazeera tidak menuliskan secara mendalam apa saja yang dibicarakan dalam pertemuan tersebut.

Dalam tubuh kepemimpinan Ikhwanul Muslimin, posisi Khairat El-Shater cukup vital. Bersama para pemimpin Ikhwanul Muslimin lainnya, Khairat El-Shater ikut andil mengegolkan Mohamed Moursi sebagai Presiden Mesir melalui proses pemilu. Semenjak itu, Ikhawanul Muslimin mulai dipandang serius dalam panggung politik Mesir. Ketika Mohamed Moursi terguling, Khairat El-Shater ikut-ikutan ditahan, tapi dalam penjara yang berbeda dengan Mohamed Moursi.

Rentetan kunjungan sejumlah perwakilan negara-negara luar kepada para pemimpin Ikhwanul Muslimin sebetulnya terkait upaya mediasi dunia internasional untuk membantu meredakan konflik antara para simpatisan Mohamed Moursi dengan pemerintah Mesir interim yang didukung oleh militer. Mohamed Moursi digulingkan oleh militer Mesir pada 3 Juli lalu dalam sebuah kudeta.

Menjawab iktikad baik itu, militer Mesir pada Ahad (4/8/2013) menyatakan akan memberikan kesempatan pada dunia internasional untuk melakukan mediasi. Tapi, waktu mediasi tersebut dibatasi.

Ketika dunia internasional tengah berusaha mendamaikan pihak-pihak yang berselisih di Mesir, para pendukung mantan Presiden Mohamed Moursi tanpa kenal lelah terus melakukan unjuk rasa. Ribuan simpatisan Mohamed Moursi sampai saat ini masih menduduki dua tempat strategis di Kota Kairo kendati pemerintah Mesir interim telah memperingatkan pendudukan tersebut mengancam keamanan nasional sehingga akan dibubarkan paksa.

Situasi Mesir semakin memanas setelah pemerintah Mesir interim menuding Ikhwanul Muslimin ikut menyulut aksi kekerasan selama ini. Rangkaian aksi unjuk rasa yang dilakukan simpatisan Mohamed Moursi dan dibalas oleh pendukung Pemerintah Mesir interim telah memakan korban jiwa lebih dari 300 orang. Kondisi tersebut tercatat sebagai situasi terburuk dalam 85 tahun sejarah Mesir.

Saat ini, militer Mesir mengaku telah menyusun rencana untuk segera mengadakan pemilu, memilih kepala negara yang baru. Jika tidak ada aral melintang, pemilu akan dilaksanakan sembilan bulan setelah mantan Presiden Mohamed Moursi terguling. Akan tetapi, sejumlah diplomat meyakini Mohamed Moursi tidak akan maju lagi sebagai Presiden Mesir.

Pada bagian lain, mantan utusan AS untuk konflik Suriah, Robert Ford, sedang dipertimbangkan oleh Washington untuk menjadi Duta Besar AS di Mesir. Sampai hari Minggu kemarin (4/8/2013), pencalonan Robert Ford sebagai dubes masih dalam pembicaraan internal. Penunjukan Robert Ford sebagai wakil AS di Mesir dinilai sejumlah kalangan cukup bagus mengingat saat ini Negara Paman Sam itu dan Uni Eropa sedang berupaya menjadi mencari resolusi damai atas krisis politik Mesir. Sayangnya, saat dikonfirmasi soal ini, Kementerian Luar Negeri AS memilih tidak berkomentar. Robert Ford diketahui cakap berbahasa Arab dan dikenal cukup vokal menentang Pemerintah Suriah serta mendukung perjuangan para pejuang oposisi Suriah yang ingin menggulingkan 41 tahun kekuasaan rezim Presiden Suriah Bashar al-Assad. Sosok kandidat Dubes AS di Mesir ini sebelumnya pernah ditugaskan sebagai Dubes Suriah dan Robert Ford pernah ditugaskan di Kairo sebagai pejabat penasihat ahli bidang ekonomi. (rtr)

See Also

Pengadilan Rusia Perintahkan Perempuan Yang Kabur Dari Karantina Balik Ke RS
Virus Korona Tewaskan Direktur Rumah Sakit Di Wuhan
Penembakan Di Century Plaza Bangkok
Jeff Bezos Donasi USD 10 Miliar Untuk Penelitian Iklim
Korban Tewas Akibat Virus Korona Total Jadi 1.868
1.789 Korban Tewas Akibat Virus Korona
Warga Kanada Di Kapal Pesiar Diamond Princess Segera Dievakuasi
Arab Saudi Larang Warganya Ke China
Dokter Pengungkap Virus Korona Meninggal Dunia
Korban Jiwa Virus Korona Bertambah Jadi 634
Jepang Karantina Seluruh Penumpang Kapal Pesiar Diamond Princess Terkait Virus Corona
Ratusan Warga Negara Malaysia Dan Keluarganya Dipulangkan Dari Wuhan
Penembakan Di Asrama Kampus Texas A & M University
7 Fakta Rumah Sakit Kilat Pasien Korban Virus Corona Wuhan
Singapura Umumkan 6 Kasus Baru Virus Korona
Rumah Sakit Kilat Virus Corona Wuhan Mulai Beroperasi
Penembakan Dalam Bus Greyhound Di California
Korban Meninggal Virus Korona Bertambah Jadi 362
TNI Siap Bantu Kebakaran Hutan Di Australia
Rudal Kenai Objek Di Langit Iran Saat Pesawat Ukraina Jatuh
Iran Sebut Pesawat Ukraina Terbakar Sebelum Jatuh
Pejabat AS Sebut Pesawat Ukraina Kemungkinan Kena Rudal Iran
Bencana Kebakaran Lahan Di Australia
Kapal Induk Kedua China Resmi Diluncurkan
PBB Sebut 7 Ribu Demonstran Iran Ditahan Akibat Protes Kenaikan BBM
jQuery Slider
Arsip :20202019201820172016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 7.874.996 Since: 05.03.13 | 0.1877 sec