Internasional

Nelayan Aceh Selamatkan Ratusan Warga Asing

Monday, 11 Mei 2015 | View : 819

ACEH-SBN.

Etnis Rohingya terusir dari tanah mereka di Myanmar. Selama berpuluh tahun mereka hidup menderita karena diskriminasi oleh pemerintah dan kelompok Buddha di sana. Padahal pada Desember 2014 silam, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mendesak pemberian hak kewarganegaraan penuh pada Rohingya.

Sebanyak 569 warga Myanmar ditemukan terombang-ambing di perairan Aceh Utara.

Hampir 600 warga muslim etnis Rohingya asal Myanmar dan Bangladesh diselamatkan di perairan Aceh kemarin, Minggu (10/5/2015).

Minggu (10/5/2015), sebanyak 600 orang tiba di pesisir Aceh dengan empat perahu.

Mereka ditemukan oleh nelayan setempat kemarin, Minggu (10/5/2015).

Dari keterangan diperoleh, sebelumnya mereka sempat terkatung-katung di tengah laut saat bertolak dari Thailand selama dua bulan.

Sedikitnya dua kapal penuh sesak oleh perempuan dan anak-anak ketika diselamatkan oleh nelayan di Aceh.

Saat ditemukan, semua warga Myanmar ini dalam kondisi memprihatinkan. Selama dua bulan terbawa arus laut, mereka mengalami kelaparan dan dehidrasi.

Mereka terkatung-katung karena perahu yang ditumpangi mengalami kerusakan mesin. Kemudian mereka ditarik ke darat dan merapat di Desa Meunasah Sagoe, Kecamatan Seunuddon, Kabupaten Aceh Utara.

Semua pengungsi dari Myanmar saat ini ditampung di beberapa lokasi. Yakni Meunasah, Desa Matang Raya Barat, Desa Matang Puntong, Desa Meunasah Sagoe. Sebagian lagi ditampung di Mapolres Aceh Utara.

Salah seorang warga Myanmar, Thambir Ahmad (21 tahun) yang fasih berbahasa Melayu mengatakan, mulanya mereka hendak berangkat ke Malaysia buat mencari pekerjaan. Mereka melakukan itu sebab negara mereka tidak stabil lantaran konflik.

Akan tetapi, mereka ditipu oleh agen yang menawarkan pekerjaan di Malaysia.

Mereka diduga ditelantarkan oleh penyelundupnya selepas berlayar dengan perahu tahanan.

Pengarah kapal menyuruh rombongan itu ke pesisir Malaysia. Si pemberi arahan itu sendiri kabur dengan kapal lain.

"Awalnya kami mau ke Malaysia, tetapi kami ditipu oleh agen yang membawa kami," kata Thambir Ahmad, Senin (11/5/2015).

Thambir Ahmad melanjutkan, karena kena tipu oleh agen yang membawanya, alhasil mereka malah ditahan di Thailand selama satu bulan. Kemudian, pemerintah negeri gajah putih malah mengusir mereka semua ke laut dengan diberi tumpangan kapal sudah rusak. Karena mengalami kerusakan mesin, mereka terkatung-katung selama dua bulan di tengah laut.

"Kami setelah dibuang ke lautan oleh Thailand, terkatung-katung selama dua bulan dan akhirnya terdampar di perairan Aceh," ujar Thambir Ahmad.

Warga Myanmar lainnya, Muhammad Juned (21) mengatakan, mereka sengaja pergi ke negara lain buat mencari suaka politik ke negara Malaysia. Sebab di negaranya sedang berkecamuk konflik.

"Tak tahan tinggal di negara sendiri (Myanmar) karena konflik sedang berkecamuk, maka kami mencari suaka politik ke negara lain dengan tujuan bekerja di Malaysia," kata Muhammad Juned.

Salah seorang pengungsi bernama Rashid Ahmed mengatakan kepada kantor berita the Associated Press, mereka adalah etnis Rohingya yang meninggalkan Myanmar sejak tiga bulan lalu bersama putranya. "Kami tidak punya makanan. Kami hanya bisa berdoa," papar Rashid Ahmed.

Myanmar selama ini selalu menolak mengakui warga etnis Rohingya sebagai warga negara.

Pihak Imigrasi Aceh Utara menyatakan masih memeriksa seluruh warga Myanmar ditemukan terdampar di perairan Aceh Utara. Dari hasil pemeriksaan, ditemukan fakta ada sebagian dari mereka merupakan warga negara Bangladesh.

"Selain warga Myanmar, sebagian dari mereka adalah warga Bangladesh," kata perwakilan Imigrasi setempat.

Kepala kepolisian setempat, Kapolres Aceh Utara, AKBP Achmadi, mengatakan para pengungsi dirawat sekaligus ditanyai. AKBP Achmadi mencatat ada 573 etnis Rohingya dan Bangladesh, termasuk 98 wanita dan 51 anak-anak.

Sebanyak 50 wanita dirawat di rumah sakit. Mereka sakit karena dua bulan terombang-ambing di laut.

Kapolres Aceh Utara AKBP Achmadi mengatakan sedikitnya 50 orang pengungsi itu harus dibawa ke rumah sakit untuk perawatan. "Secara umum mereka kelaparan dan kebanyakan dari mereka dalam keadaan sangat kurus," kata AKBP Achmadi.

Belakangan diketahui, perahu mereka berlayar dari Rakhine, Myanmar, terus berniat ke Thailand dan Malaysia. Beberapa tewas dalam perjalanan.

Wakil Menteri Luar Negeri A.M. Fachir mengatakan, pihaknya akan melakukan investigasi terhadap 600 warga etnis Rohingya asal Myanmar dan Bangladesh yang terdampar di perairan Aceh.

"Pemerintah tentu saja terlebih dahulu menginvestigasi apa penyebabnya mereka bisa terdampar di sana (Aceh)," ujar A.M. Fachir saat ditemui di kantornya, Jakarta, Senin (11/5/2015).

Selain itu, Kementerian Luar Negeri (Kemlu) juga akan berkoordinasi dengan kementerian terkait dan Polisi. Bisa jadi, tambah A.M. Fachir, pihaknya juga melibatkan Organisasi Internasional untuk Migrasi/OIM/International Organization for Migration (IOM).

BBC melaporkan, ratusan ribu warga muslim Rohingya mengungsi dari negaranya untuk menghindari konflik. Mereka keluar lewat Thailand dan laut.

Menurut pihak berwenang mereka yang terdampar ini sudah berada di laut selama sepekan. Kemungkinan, orang-orang ini mencoba menuju Malaysia, kata Steve Hamilton dari OIM

"Mereka mengira sudah sampai di Malaysia. Tetapi ternyata di Indonesia. Mereka ditinggalkan oleh para penyelundup," pungkas Steve Hamilton.

Di Indonesia, menurut Steve Hamilton dari International Organization for Migration Jakarta, ketika empat perahu tiba di pesisir, beberapa penumpang melompat ke air dan berenang. Perahu mereka kehabisan bahan bakar dan diderek oleh nelayan yang menemukannya. Rombongan pengungsi ditampung di Stadion Lhoksukon, Ibu Kota Aceh Utara.

OIM memperkirakan sekitar 25.000 muslim Rohingya dan warga Bangladesh diselundupkan keluar dengan kapal sejak Januari hingga Maret tahun ini.

Chris Lewa, Direktur Arakan Project, mengatakan sudah 100 ribu orang Rohingya kabur dari Myanmar dalam tiga tahun terakhir.

Chris Lewa memperkirakan ada 7.000 hingga 8.000 etnis Rohingya dan Bangladesh dalam perahu yang parkir di Selat Malaka. Mereka tidak bisa ke darat karena razia perdagangan manusia di negara tujuannya, Malaysia dan Thailand. (aljazeera/bbc/ap)

See Also

Boris Johnson Terpilih Sebagai PM Inggris Baru
Menlu Inggris Ancam Iran
Laut China Selatan Tegang
Presiden AS Pecat Direktur Dinas Rahasia
Kapal China Dekati Pulau Filipina
Thailand Dilanda Badai Pabuk
Warga Kelas Menengah Australia Akan Kian Sulit Dapat Kredit Perumahan
Donald Trump Kunjungi Militer AS Di Irak
Kota Surabaya Raih Guangzhou Awards 2018
Teleskop NASA Temukan 2 Planet Baru
Najib Razak Ditahan SPRM
Mantan PM Malaysia Ditahan
Najib Razak Ditahan KPK Malaysia
Turki Adakan Pemilu Hari Ini
Arab Saudi Resmi Mencabut Larangan Perempuan Menyetir
Gempa Guncang Osaka
Amerika Serikat Keluar Dari Dewan HAM PBB
Suriah Berhasil Usir ISIS
Kementerian Pertanian Cegah Rock Melon Australia Masuk Indonesia
Perwakilan Nahdlatul Ulama Dan Wahid Foundation Temui Dubes Amerika Serikat
Polri Benarkan Penangkapan WNI Isteri Tokoh ISIS Marawi
Sultan Selangor Kecewa Terhadap Mahathir Mohamad Soal Bugis
China Meminjamkan Sepasang Panda Ke Indonesia
Spanyol Buru Sopir Pelaku Teror Di Barcelona
Serangan Teror Di Barcelona
jQuery Slider
Arsip :2019201820172016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 7.535.438 Since: 05.03.13 | 0.1661 sec