Hukum

33 Warga Negara China Dibekuk Polda Metro Jaya

Thursday, 07 Mei 2015 | View : 858

JAKARTA-SBN.

Petugas dari Subdirektorat Kejahatan dan Kekerasan (Subdit Jatanras) Direktorat Reskrimum (Ditreskrimum) Polda Metro Jaya menggerebek sebuah rumah mewah di kawasan Cilandak Timur, Jalan Kenanga, Pasar Minggu, Jakarta Selatan (Jaksel), pada Rabu (6/5/2015) malam. Di lokasi tersebut, aparat Subdirektorat Kejahatan dan Kekerasan (Jatanras) Ditreskrimum Polda Metro Jaya mengamankan dan meringkus 33 Warga Negara Asing (WNA) asal China.

Informasi yang dihimpun awak media, penggerebekan dilakukan di sebuah rumah mewah di Jalan Kenanga No.44, RT07/RW02 Kelurahan Cilandak Timur, Pasar Minggu, Jakarta Selatan (Jaksel). Penggerebekan ini sudah dimulai sejak pukul 20.00 WIB tadi.

Kasubdit Jatanras Ditreskrimum Polda Metro Jaya Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Herry Heryawan saat dikonfirmasi awak media, membenarkan adanya kegiatan penggerebekan tersebut.

"Ya, semalam sekitar pukul 20.00 WIB kami lakukan penggerebekan," ungkap Kasubdit Jatanras Ditreskrimum Polda Metro Jaya Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Herry Heryawan, Kamis (7/5/2015).

33 WN China digerebek petugas Subdit Jatanras Ditreskrimum Polda Metro Jaya di sebuah rumah mewah yang terletak di Jalan Kenanga No.44, RT07/RW02, Cilandak Timur, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. 33 WN China itu melakukan kejahatan carding dengan target penipuan warga Negara China.

"Iya, ada 33 WN China yang diamankan. Sekarang anggota masih di TKP," beber AKBP Herry Heryawan saat dikonfirmasi awak media, Rabu (6/5/2015).

Namun, terkait apa para WN China ini diamankan, AKBP Herry Heryawan belum bisa memberikan penjelasan lebih detail.

Kasubdit Jatanras Ditreskrimum Polda Metro Jaya Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Herry Heryawan akhirnya menjelaskan, lokasi penggerebekan adalah rumah kontrakan dua lantai yang dihuni 33 orang.

Penangkapan bermula dari informasi bahwa rumah tersebut digunakan untuk praktik prostitusi.

"Informasi awalnya dari laporan yang menyatakan tempat tersebut adalah lokasi prostitusi," kata Kasubdit Jatanras Ditreskrimum Polda Metro Jaya Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Herry Heryawan, Kamis (7/5/2015) di lokasi.

Petugas langsung menggerebek tempat tersebut pada Rabu (6/5/2015) malam. Saat itu, mereka yang sedang beristirahat langsung kocar-kacir. Bahkan, saat digerebek, satu orang WN China bernama Siau Pei (25) tewas karena mencoba kabur.

Ia tewas seketika ketika melompat dari lantai dua dan mengenai lantai tepian kolam renang di dalam rumah. Namun, setelah dikembangkan, mereka bukanlah pelaku prostitusi komersial.

Mereka justru ditugaskan oleh otak sindikat penipuan untuk menjadi call center. Mereka ditugaskan untuk mendata pejabat ataupun pengusaha di China yang memiliki rekening gendut.

Dari 33 WNA itu, 14 orang di antaranya merupakan berjenis kelamin perempuan dan 19 orang lainnya adalah berjenis kelamin laki-laki.

Mereka diduga melakukan penipuan melalui internet terkait perdagangan manusia.

Tiga puluh tiga orang itu ternyata dipekerjakan sebagai petugas call center pemerasan pelaku korupsi di negeri asal mereka, China.

AKBP Herry Heryawan menjelaskan, para WNA menggunakan cyber online dengan target warga negaranya sendiri, yakni di China. "Mereka gunakan cyber online dengan target warga negaranya yang berada di China," terang AKBP Herry Heryawan.

Sindikat penipuan itu membangun server di rumah lantai dua tersebut. Dengan begitu, mereka bisa terhubung dengan server di China yang bisa mendata pemilik-pemilik rekening gendut. "Mereka membangun server di sini, yang bisa mendeteksi koruptor dengan rekening gendut di China," kata Kasubdit Jatanras Ditreskrimum Polda Metro Jaya Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Herry Heryawan, Kamis (7/5/2015) di lokasi.

Selanjutnya, 33 WN China yang terdiri dari 14 wanita dan 19 pria itu kemudian bertugas berhubungan lewat telepon dengan komplotannya di China yang bertugas memverifikasi data kasus korupsi di sana. Mereka kemudian memerasnya lewat telepon.

AKBP Herry Heryawan menjelaskan, mereka kemudian berhubungan lewat telepon dengan komplotannya di China yang bertugas memverifikasi data kasus korupsi di sana. Mereka yang di Indonesia kemudian memeras koruptor lewat telepon. Setiap hari, tambah AKBP Herry Heryawan, 33 WN China itu ditugaskan menerima telepon dan menelepon sindikat penipuan tersebut.

Mereka juga harus berhubungan dengan korban penipuan yang menjadi target mereka. Target mereka, lanjut AKBP Herry Heryawan, merupakan koruptor, mulai dari pejabat hingga pengusaha. Mereka diancam untuk memberikan sejumlah dana tertentu kepada sindikat penipuan itu.

Mereka juga diduga melakukan pelanggaran keimigrasian di Indonesia. Tujuannya untuk melakukan penipuan tersebut.

Berdasarkan pantauan awak media di lokasi, puluhan telepon kabel ditemukan dari rumah dua lantai tersebut. Telepon tersebut memiliki koneksi langsung dengan internet. Di atap terdapat antena dengan ukuran sekitar 1,5 meter yang berfungsi menerima dan memberikan sinyal. "Itu untuk server-nya," tutur AKBP Herry Heryawan.

Warga Negara China tersebut sudah menempati rumah itu sejak setahun lalu. Warga asing tersebut berasal dari daerah berbeda-beda di China. Namun, secara keseluruhan Warga Negara Asing (WNA) tersebut memiliki kesamaan tidak berpendidikan tinggi dan pengangguran.

Awalnya, para WNA tersebut didatangkan ke Indonesia untuk dijanjikan bekerja sebagai pegawai restoran dan hotel. Namun sesampainya di Indonesia, paspor orang asing itu malah ditahan dan para WNA dipaksa masuk dan diminta tinggal di rumah yang disewa dari seorang pengusaha itu.

Para WNA tersebut juga dijadikan petugas call center untuk melakukan penipuan dan pemerasan terhadap orang-orang berekening gendut.

Berdasarkan hasil pemeriksaan, mereka dibawa ke Indonesia dari negaranya dengan janji dipekerjakan sebagai pelayan restoran dan hotel. Namun, mereka justru dipekerjakan sebagai petugas call center pemerasan.

Kasubdit Jatanras Ditreskrimum Polda Metro Jaya Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Herry Heryawan mengatakan, mereka dijanjikan oleh orang yang menjadi petinggi sindikat penipuan tersebut.

Mereka yang kebanyakan berasal dari keluarga miskin dan tidak memiliki pekerjaan akhirnya menyetujuinya.

"Namun sesampainya di Indonesia, paspor mereka malah ditahan dan mereka dipaksa masuk ke rumah," papar AKBP Herry Heryawan, Kamis (7/5/2015) di lokasi penggerebekan Jalan Kenanga, Cilandak Timur, Pasar Minggu, Jakarta Selatan.

Mereka telah menetap di sana selama satu tahun. Mereka sempat pulang ke negeri asalnya saat tahun baru Imlek lalu. AKBP Herry Heryawan mengatakan, mereka sudah satu tahun berada di rumah itu. Tiap bulan, mereka mengaku mendapatkan gaji Rp 6 juta per bulannya.

AKBP Herry Heryawan mengatakan, paspor mereka dikembalikan saat itu, tetapi ditahan lagi saat mereka kembali ke Indonesia.

Hingga saat ini, petugas masih berada di lokasi. Sejumlah barang bukti diamankan polisi di lokasi kejadian.

Dari penggerebekan tersebut, polisi juga mengamankan sejumlah barang bukti antara lain laptop, ponsel, modem, printer, HT, dan kartu identitas.

Dari lokasi penggerebekan 33 Warga Negara China di Jalan Kenanga, Cilandak Timur, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, pada Rabu (6/5/2015) malam, ditemukan sejumlah kondom dan pil KB. Sehingga diduga tempat tersebut juga digunakan untuk pesta seks.

Dari informasi itu, ketiga puluh tiga orang itu tidak memiliki hubungan resmi.

Namun, dengan ditemukan banyak kondom dan pil KB, diduga para WNA melakukan hubungan badan satu sama lain. "Mereka sepertinya juga melakukan hubungan seks dan sering mengadakan party," papar AKBP Herry Heryawan, Kamis (7/5/2015) di lokasi.

Berdasarkan pantauan awak media, di kamar lantai dua memang ditemukan satu kardus berisi kondom dan pil KB.

Pada sisi kamar bawah tempat mereka biasa tidur juga ditemukan banyak kondom bekas pakai dan beberapa strip pil KB yang sudah kosong.

Secara umum, kondisi rumah tersebut tampak tidak terawat. Cat rumah abu-abu dan putih sudah kusam. Rumput di halaman menjulang tinggi seperti tak pernah dipangkas.

Lantai rumah itu tampak kotor dengan sampah kemasan minuman dan makanan berserakan. Lantai juga dikotori oleh debu dan tanah.

Meja di dapur juga tampak kotor dengan cipratan minyak dan kuah makanan yang sudah mengering.

Hingga kini Polda Metro Jaya masih melakukan pemeriksaan terhadap para tersangka WN China tersebut.

Saat ini para WNA yang digerebek ini sudah dibawa di Kantor Imigrasi Jakarta Selatan.

Total ada 34 Warga Negara China yang digerebek polisi semalam. Salah satu di antaranya, seorang pria tewas setelah melompat dari lantai 2 rumah tersebut ketika polisi melakukan penggerebekan. Dalam penggerebakan tersebut, seorang WNA bernama Siau Pei (25) tewas.

"Korban tewas karena berusaha kabur dengan lompat dari lantai 2," ujar Kasubdit Jatanras Ditreskrimum Polda Metro Jaya Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Herry Heryawan, saat dikonfirmasi, Kamis (7/5/2015).

Setelah melompat, dia tewas di tempat.

Sementara itu, satu orang yang meninggal dunia saat akan melarikan diri itu jenazahnya langsung dibawa ke Rumah Sakit Polri Bhayangkara Tk. I. R. Said Sukanto, Jalan Raya Bogor, Kramatjati, Jakarta Timur.

AKBP Herry Heryawan mengatakan, polisi masih mengidentifikasi identitas dari para warga China itu. 33 orang lainnya dibawa ke Mapolda Metro Jaya.

Puluhan petugas bersenjata api menjaga ketat rumah dua lantai tersebut. Saat ini, Kepolisian masih mengejar otak dari sindikat penipuan tersebut. Sindikat itu diduga kuat terdiri juga dari Warga Negara Indonesia (WNI).

Polda Metro Jaya juga akan bekerja sama dengan Interpol dan Kepolisian China untuk mengungkap kasus ini. Selanjutnya, polisi akan berkoordinasi dengan Direktorat Jenderal Imigrasi, Kedutaan China, dan Subdit Cyber Bareskrim Polri. (det/kom/jos)

See Also

Keterangan Ahli Di Sidang Praperadilan Terkait Eksekusi Penahanan Matheus Mangentang
Peras Mantan Petinggi Polri, Hukuman Sisca Dewi Diperberat
LBH Ansor Jateng Apresiasi Penangkapan Cepat Polres Kebumen Terhadap Pelaku Kekerasan Seksual
Kapolres Bitung Perintahkan Pelaku Kejahatan Ditembak Di Tempat
Reserse Polres Bitung Bekuk Residivis Sadis Pembegal Motor
Satuan Reskrim Polres Bitung Tangkap Dua Tersangka Curanmor
Mahasiswa Unesa Sorot Penggunaan Dana Pembelian Mebel Di Kampus
KPK Tetapkan Dirut PT. Rohde And Schwarz Indonesia Sebagai Tersangka
KPK Akan Segera Periksa Saksi Dan Tersangka Suap KONI
KPK Cekal Robert Tantular Ke Luar Negeri
Tim Resmob Dan Tarsius Bitung Lumpuhkan Pencuri Kambuhan
Mahkamah Agung Hukum Alfian Tanjung 2 Tahun Penjara
Polda Jatim Duga Ada Kesalahan Teknis Proyek Berujung Jalan Gubeng Ambles
KPAI Apresiasi Langkah Cepat Polri Proses Bahar Bin Smith
Polri Sebut Penahanan Tersangka Bahar Bin Smith Murni Kasus Hukum
Polri Koordinasi Dengan LPSK Amankan 2 Remaja Korban Bahar Bin Smith
Usai OTT KPK, Kemenpora Lanjutkan Program SEA Games-Olimpiade
KPK Sita Miliaran Rupiah Terkait OTT Pejabat Kemenpora Dan KONI
Polri Kantongi Bukti Penganiayaan Oleh Bahar Bin Smith
KPK OTT Pejabat Kemenpora Dan Pengurus KONI
Polres Metro Jakarta Selatan Buru Pembunuh Perempuan Muda Di Kebagusan City
Pembunuh Keji Sopir Taksi Online Divonis 10 Tahun Penjara
Uang Pengganti E-KTP, KPK Sita Rp 862 Juta Dari Setya Novanto
Keterangan Ahli Ketua DPD KAI DKI Jakarta Pada Sidang Lanjutan Julius Lobiua
TNI AL Ringkus Pelaku Narkoba Di Tanjung Ahus
jQuery Slider

Comments

Arsip :2019201820172016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 7.503.334 Since: 05.03.13 | 0.1133 sec