Hukum

Christopher Daniel Sjarief Jadi Tahanan Kota

Tuesday, 05 Mei 2015 | View : 601

JAKARTA-SBN.

Dalam sidang kedua yang digelar pada Selasa (5/5/2015), Christopher Daniel Sjarief (23 tahun), terdakwa kasus kecelakaan di Pondok Indah yang menewaskan empat orang, diubah statusnya dari tahanan Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan menjadi tahanan kota.

Pengemudi mobil Outlander Sport yang menyebabkan kecelakaan maut di Jalan Sultan Iskandar Muda, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Christopher Daniel Syarief yang adalah terdakwa kasus kecelakaan di Jalan Sultan Iskandar Muda, Pondok Indah, tidak lagi menjadi tahanan Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan. Artinya, Christopher Daniel Sjarief saat ini berstatus sebagai tahanan kota, bebas melakukan kegiatan selama ia masih berada di dalam kota.

Keputusan itu dibacakan dalam sidang kedua dirinya di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Selasa (5/5/2015).

Jika dibandingkan dengan kasus kecelakaan lainnya, seperti yang dialami Afriyani Susanti, Christopher Daniel Sjarief terbilang beruntung.

Sebab, tanpa pengajuan penangguhan penahanan, ia tidak perlu mendekam di ruang tahanan selama proses persidangan berjalan.

Afriyani Susanti diketahui terlibat dalam kecelakaan mobil Daihatsu Xenia yang menewaskan sembilan orang. Ia menabrak sejumlah pejalan kaki yang baru pulang berolahraga di depan Gedung Kementerian Perdagangan di Tugu Tani, Jakarta Pusat, 22 Januari 2012 lalu.

Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan memutuskan mahasiswa salah satu kampus di San Francisco, Amerika Serikat tersebut menjalani tahanan kota.

Alasan Majelis Hakim menjadikan Christopher Daniel Sjarief sebagai tahanan kota adalah karena sudah ada kesepakatan damai antara terdakwa dan keluarga korban.

Keputusan ini, menurut Ketua Majelis Hakim Made Sutisna, karena terdakwa sudah berdamai dengan pihak keluarga korban. Keluarga Christopher Daniel Sjarief juga menjadi penjaminnya.

"Sudah ada perdamaian antara pihak terdakwa dan korban, serta ada jaminan dari pihak keluarga bahwa terdakwa tak akan melarikan diri dan menghilangkan barang bukti," kata Hakim Made Sutisna pada Selasa (5/5/2015) siang, di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.

Majelis Hakim juga mempertimbangkan status Christopher Daniel Sjarief masih menempuh masa pendidikan tinggi.

Dalam kasus Christopher Daniel Sjarief, alasan Majelis Hakim menjadikan dia sebagai tahanan kota adalah karena sudah ada kesepakatan damai antara terdakwa dan keluarga korban. Majelis Hakim juga mempertimbangkan stastus Christopher Daniel Sjarief masih menempuh masa pendidikan tinggi.

Menurut kriminolog dari Universitas Indonesia Kisnu Widagso, keputusan Majelis Hakim untuk tidak menahan Christopher Daniel Sjarief adalah wajar.

Kriminolog dari Universitas Indonesia Kisnu Widagso menilai tidak ada yang aneh dari pengalihan status penahanan pengemudi maut Christopher Daniel Sjarief menjadi tahanan kota.

Menurut dia, hal itu lumrah terjadi jika terdakwa telah sepakat mematuhi poin-poin tertentu yang menjadi pertimbangan Majelis Hakim.

Dalam beberapa kasus, bila terdakwa sudah memenuhi persyaratan tertentu, penahanan adalah hal yang tidak perlu dilakukan.

Syarat-syarat itu adalah tidak ada niatan kabur, menghilangkan barang bukti, kooperatif, dan sebagainya.

"Ada beberapa poin yang jadi poin pertimbangan, misalnya tidak ada niatan dari terdakwa untuk melarikan diri dan tidak menghilangkan barang bukti. Ia bisa tidak ditahan selama proses persidangan," urai Kisnu Widagso kepada awak media, Rabu (6/5/2015).

Kisnu Widagso menjelaskan, sebelumnya banyak juga kasus yang terdakwanya tidak ditahan selama proses penyidangan.

"Syarat dan pedoman Hakim untuk menentukan terdakwa ditahan atau tidak itu kan sudah pasti," jelas Kisnu Widagso.

Apalagi, lanjut Kisnu Widagso, proses persidangan bagi Christopher Daniel Sjarief belum selesai. Artinya, ia masih bisa mendapatkan hukuman penjara.

"Nantinya tinggal ditentukan kalau harus ditahan, total lamanya dikurangi masa tahanan. Kalau tidak ditahan kan semakin lama hukumannya karena utuh," terang Kisnu Widagso.

Kisnu Widagso menilai, ada iktikad baik dari pihak Christopher Daniel Sjarief untuk menyantuni keluarga korban dan merawat korban yang sakit hingga sembuh. Di situlah akhirnya kesepakatan damai antara pihak terdakwa dan korban tercipta.

"Apalagi kalau sudah ada kesepakatan damai antara pelaku dan korban, seharusnya negara sudah tidak perlu masuk," kata Kisnu Widagso kepada awak media, Rabu (6/5/2015).

"Pernyataan damai itu juga seharusnya sudah diungkapkan secara resmi kepada polisi, Jaksa, dan Hakim. Jadi, bukan klaim sepihak dari terdakwa," tambah Kisnu Widagso.

Menurut kriminolog dari Universitas Indonesia, Kisnu Widagso, Christopher Daniel Sjarief bisa saja terbebas dari hukuman jika sudah ada kesepakatan damai antara pihak terdakwa dan korban.

Sebab, jika sudah ada kesepakatan tersebut, seharusnya negara tidak perlu lagi mengintervensi.

"Menurut ilmu kriminologi, konflik antara pelaku dan korban itu bisa diselesaikan dengan mediasi. Kalau kedua pihak sudah saling menerima, kasus bisa dianggap selesai. Kalau mediasi tidak kunjung dilakukan dan kasus tidak bisa selesai, negara turun tangan," ucap Kisnu Widagso.

Intervensi negara dalam sebuah kasus diwujudkan dalam penangkapan hingga persidangan. Namun, jika di antara proses itu mediasi antara pelaku dan korban dilakukan, kata Kisnu Widagso, kasus juga bisa dianggap selesai.

Mediasi setelah sebuah kasus menempuh proses hukum dicontohkan oleh kasus Rasyid Amrullah Rajasa.

Rasyid terlibat dalam kasus kecelakaan maut di Km 3+335 Tol Jagorawi arah Bogor pada 1 Januari 2013 pagi yang menewaskan dua orang.

Kisnu Widagso menyebut pihak Rasyid telah memberikan santunan kepada keluarga korban sehingga membuat kesepakatan damai antara keduanya. Karena itu, ia pun tidak ditahan selama proses persidangan.

Ia divonis selama lima bulan penjara atau denda Rp 12 juta. Jika tidak membayar denda, Rasyid dikenakan masa percobaan enam bulan. Karena membayar, alhasil, Rasyid dibebaskan dari hukuman penjara.

Sementara itu, pada kasus Afriyani Susanti, Kisnu Widagso menduga tidak ada upaya dari pihak pengemudi Daihatsu Xenia itu untuk menyantuni korban. Maka dari itu, tidak ada kesepakatan damai antara keluarga korban yang membuat Afriyani Susanti ditahan selama proses persidangan.

Afriyani Susanti divonis 15 tahun penjara pada 29 Agustus 2012 karena terbukti melanggar Pasal 311 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.

Afriyani Susanti dianggap sengaja mengemudikan kendaraan dalam keadaan yang membahayakan keselamatan orang lain, sementara Christopher Daniel Sjarief masih menunggu sidang selanjutnya yang akan digelar pada 19 Mei 2015 mendatang.

Christopher Daniel Sjarief akan menjadi tahanan kota mulai Selasa ini hingga Juli 2015.

Meskipun menjadi tahanan kota, Christopher Daniel Sjarief tetap harus melaporkan diri secara rutin dan wajib mengikuti semua tahapan persidangan yang sudah dijadwalkan.

Selama menjadi tahanan kota, Christopher Daniel Sjarief tetap harus melaporkan diri secara rutin dan wajib mengikuti semua tahapan persidangan yang sudah dijadwalkan.

Christopher Daniel Sjarief pun harus menjalani persidangan selanjutnya untuknya yang akan digelar pada 19 Mei 2015 mendatang.

Pada persidangan ini, Christopher Daniel Sjarief juga tidak jadi membacakan eksepsi. Pembacaan eksepsi diundur menjadi Selasa (19/5/2015).

Sebelumnya, Christopher Daniel Sjarief didakwa karena melanggar Pasal 310 dan 311 UU tentang Lalu Lintas. Christopher Daniel Sjarief didakwa penjara minimal lima tahun akibat perbuatannya yang merenggut nyawa empat orang saat mobil Mitsubishi Outlander yang dikendarainya menabrak motor dan mobil pada Januari 2015. (kom/jos)

See Also

Keterangan Ahli Di Sidang Praperadilan Terkait Eksekusi Penahanan Matheus Mangentang
Peras Mantan Petinggi Polri, Hukuman Sisca Dewi Diperberat
LBH Ansor Jateng Apresiasi Penangkapan Cepat Polres Kebumen Terhadap Pelaku Kekerasan Seksual
Kapolres Bitung Perintahkan Pelaku Kejahatan Ditembak Di Tempat
Reserse Polres Bitung Bekuk Residivis Sadis Pembegal Motor
Satuan Reskrim Polres Bitung Tangkap Dua Tersangka Curanmor
Mahasiswa Unesa Sorot Penggunaan Dana Pembelian Mebel Di Kampus
KPK Tetapkan Dirut PT. Rohde And Schwarz Indonesia Sebagai Tersangka
KPK Akan Segera Periksa Saksi Dan Tersangka Suap KONI
KPK Cekal Robert Tantular Ke Luar Negeri
Tim Resmob Dan Tarsius Bitung Lumpuhkan Pencuri Kambuhan
Mahkamah Agung Hukum Alfian Tanjung 2 Tahun Penjara
Polda Jatim Duga Ada Kesalahan Teknis Proyek Berujung Jalan Gubeng Ambles
KPAI Apresiasi Langkah Cepat Polri Proses Bahar Bin Smith
Polri Sebut Penahanan Tersangka Bahar Bin Smith Murni Kasus Hukum
Polri Koordinasi Dengan LPSK Amankan 2 Remaja Korban Bahar Bin Smith
Usai OTT KPK, Kemenpora Lanjutkan Program SEA Games-Olimpiade
KPK Sita Miliaran Rupiah Terkait OTT Pejabat Kemenpora Dan KONI
Polri Kantongi Bukti Penganiayaan Oleh Bahar Bin Smith
KPK OTT Pejabat Kemenpora Dan Pengurus KONI
Polres Metro Jakarta Selatan Buru Pembunuh Perempuan Muda Di Kebagusan City
Pembunuh Keji Sopir Taksi Online Divonis 10 Tahun Penjara
Uang Pengganti E-KTP, KPK Sita Rp 862 Juta Dari Setya Novanto
Keterangan Ahli Ketua DPD KAI DKI Jakarta Pada Sidang Lanjutan Julius Lobiua
TNI AL Ringkus Pelaku Narkoba Di Tanjung Ahus
jQuery Slider

Comments

Arsip :2019201820172016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 7.503.162 Since: 05.03.13 | 0.1068 sec