Redaksi

Trafficking Dan Memperkarakan Predator Anak

Author : Dra Esthi Susanti Hudiono MSi | Thursday, 30 April 2015 | View : 844

SBN

Rabu (29/4/2015) kemarin, staf Yayasan Hotline Surabaya mendampingi korban trafficking anak yang kami temukan pertama kali. Kami ngotot agar predator atau pembeli jasa seks anak diperkarakan sampai tuntas. Selama bertahun-tahun urus hal ini, yang berhasil kami lakukan hanya sampai predator ditangkap. Namun kemudian dia atau pun mereka dilepas. Konon kabarnya ada urusan sogok menyogok. Padahal untuk mendapatkan predator kami bekerja keras dengan melakukan jebakan dengan mempertaruhkan keselamatan anak. Yang selalu berhasil diperkarakan adalah mucikarinya.

Perkara hukum kami selalu bekerja sama dengan Surabaya Children Crisis Centre (SCCC) yang dipimpin Edward Dewaruci. Kami kompak untuk urusan ini.

Skemanya paling baik berkolaborasi. Kami telah berkolaborasi dengan Surabaya Children Crisis Centre (SCCC) dan Genta Surabaya. Pemain anak di Surabaya sedikit khusus untuk trafficking.

Kami juga bekerja sama dengan LPA (Lembaga perlindungan Anak) secara baik. Hanya level intervensinya berbeda. LPA tidak melakukan rehabilitasi. LPA justru yang sering merujuk anak ke Yayasan Hotline Surabaya. Hubungan yang ada adalah hubungan rujukan.

Kali ini kami jaga hal itu jangan sampai terjadi. Anak ini bisa menjadi korban trafficking karena sebelumnya dikondisikan untuk menjadi kecanduan narkoba. Hanya dalam waktu sebulan lebih saja, anak polos berubah menjadi kecanduan narkoba dan rela menjadi korban trafficking. Modus operandinya seperti yang saya sampaikan dalam buku yang saya tulis.

Masalah rehabilitasi dan penanganan trafficking anak masih banyak kedodoran. Kebanyakan donor yang membantu kami hanya mau membiayai anak tinggal di rumah aman kami berkisar 2 minggu sampai 1 bulan. Untung yang terakhir tidak mematok batas waktu. Begitu juga setahu saya, skema bantuan Pemerintah Provinsi (Pemprov) maupun Pemerintah Kota (Pemkot) tidak memungkinkan anak bisa tinggal untuk waktu yang lama. Waktu pendek tersebut tidak memungkinkan proses rehabilitasi dan transformasi bisa dilakukan. Bagi anak dengan latar belakang keluarga kuat dan mampu mendukung maka waktu itu cukup. Namun bagi anak dengan latar belakang keluarga berantakan dan miskin, waktu itu bukanlah waktu yang cocok. Anak dikembalikan ke keluarga hanya menunda masalah datang lagi.

Karena itu saya menetapkan policy atau kebijakan sendiri sekalipun tidak ada yang membiayai yakni melepaskan anak sampai dia siap berinteraksi dengan keluarga dan masyarakat.

Kosekwensinya ada pada dana. Untuk ini saya setengah mati mencari dana tambahan. Antara lain bekerja sama dengan Universitas Ciputra melakukan selling produk Hotline.

Masalah lain muncul yakni saya harus meluangkan waktu untuk melakukan selling produk Hotline ini dan belajar hal baru.

Belum lagi kalau donornya selesai membantu kami. Seperti pada kasus anak tersebut, donor yang membantu kami selesai membantu kami namun kami tidak bisa melepaskan begitu saja.

Pengalaman berinteraksi dengan masalah di lapangan itulah yang membuat saya berkesimpulan bahwa peran ORNOP tidak bisa diganti oleh Pemerintah maupun partai politik (parpol).

Sebenarnya kami telah berkolaborasi dengan ORNOP Nasional, memperjuangkan hubungan yang setara antara ORNOP dengan Pemerintah dan lembaga donor. Isu ini penting. Memang kolaborasi menjadi isu penting ketimbang kerja sendiri-sendiri.

Menurut saya tugas kita adalah menggalang solidaritas bersama untuk memperkuat peran ORNOP. Struktur yang ada belum secara tegas, jelas dan gamblang mengakui peran ORNOP yang mendukung demokratisasi dan Hak Asasi Manusia (HAM). Mari kita perjuangkan sebagai anak sah negeri ini.

Bagaimana Pemerintah merespon dan karakter yang dimiliki MASIH JAUH DARI PEMECAHAN MASALAH YANG TUNTAS. Mekanisme yang ada sekarang ini menempatkan kami sebagai ORNOP pada pilihan membiarkan diri dikooptasi dengan mendukung Pemerintah dengan tidak mendapatkan imbalan yang sebanding atau berposisi mengkritisi apa yang dilakukan.

Pemerintah boleh arogan meskipun tidak semuanya dan merasa sebagai pihak yang memiliki wewenang kalau memang tangung jawabnya melindungi penduduk yang paling lemah yakni anak bisa dilakukan secara tuntas. Sungguh saya tidak terganggu dengan arogansinya kalau kewajiban itu dilakukan. Kenyataannya arogansi yang ditunjukkan tidak sebanding dengan apa yang dilakukan.

UNICEF 100% pro Pemerintah dan mendukung Pemerintah. Karena itulah mandat badan PBB. Mereka tidak berhubungan dengan pelayanan di lapangan. Nama besarnyalah yang memungkinkan memobilisasi dana. Apa yang dilakukan masih jauh dari kurang. Karena itu saya sekarang lagi merancang konsep dukungan privat sektor atau individu dengan sistem yang transparan dan accountable.

Jadilah kami dalam posisi terjepit. Karena itu mengapa saya membuka ruang partisipasi privat sektor untuk mendukung mengatasi masalah anak bangsa ini. YANG INGIN SAYA CAPAI ADALAH MUNCULNYA KONSENSUS YANG KELUAR DARI HATI BAHWA ANAK JANGAN SEKALI-KALI DIGUNAKAN UNTUK KEPENTINGAN BISNIS DAN DIRUSAK. KAMI SEMUA MEMILIKI KEWAJIBAN UNTUK MELINDUNGI ANAK DAN JANGAN MEMASUKKAN PRAGMATISME PADA ANAK. MAU KE MANA KALAU SEMUA DIHALALKAN? HANCUR SUDAH. (esh)

See Also

Mas Arswendo: Menulis Itu Gampang
Pidato Pertanggungjawaban Atas Penerimaan Soetandyo Wignjosoebroto Award
Merenungi Kepergian KH Hasyim Muzadi
Koalisi Cikeas Usung Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni
Saya Mengurus Kewarganegaraan Indonesia Sendiri Dan Tidak Mudah
Lian Gouw Untuk Penyebaran Novel Sejarah Indonesia
Seminar Membangun Ke-Indonesia-an
Rencana Bekerja Untuk Otonomi Perempuan
Ketemu Anak Presiden Di Markobar Surabaya
Mengenang Mas Slamet Riyadi Sabrawi
Batik Cermin Budaya Bangsa Indonesia
Keberlangsungan Batik Dalam Pergulatan
Handoko Wibowo Penerima Yap Thiam Hien Award 2015
Cengkeh Dan Petani Berdaya
Senyum Solidaritas Wong Cilik Yang Aku Suka
Ketika Myra Diarsi Di Tlogo Wening
SBO TV Tentang Masa Orientasi Sekolah
Membimbing Karier Anak
Menulis Karya Besar Yang Berdampak Untuk Yang Lain
Festival Kartini Bersama Wakil Gubernur Dan Konsulat Jenderal Amerika Serikat
Surat Cinta Untuk Kartini
Wisata Suku Bajo Terbesar Di Dunia
Wisata Darat Di Tomia Wakatobi
Jiwa Entrepreneur Di Belakang Perkembangan Wakatobi
Taman Laut Wakatobi Terbaik Di Dunia
jQuery Slider

Comments

Arsip :201920172016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 7.907.189 Since: 05.03.13 | 0.1401 sec