Opini

Peran Puskesmas Dan Pekerja Sosial Profesional

Author : Dra Esthi Susanti Hudiono MSi | Wednesday, 22 April 2015 | View : 661

SBN

Di sela-sela menjadi fasilitator pelatihan ketrampilan hidup saya bercakap-cakap tentang Puskesmas dengan Ibu Rika yang lama bekerja di Puskesmas sekarang jadi Widya Iswara Ciloto. Katanya sekarang ekonomi Puskesmas jauh lebih baik. BPJS memberi dana ke Puskesmas berdasarkan jatah bukan berdasarkan jumlah pasien. Karena itu Puskesmas bisa menggunakan dana yang ada untuk melakukan pencegahan dan promosi kesehatan. Dengan demikian peran Puskesmas yang diharapkan lama kelamaan bisa diwujudkan. Promotor kesehatan akan jadi profesi baru yang punya ruang dan tempat di pelayanan kesehatan dasar. Tantangan tersendiri lahirnya PROMOTOR KESEHATAN YANG BENAR-BENAR MAMPU MELAKUKAN PENCEGAHAN PENYAKIT.

Berita baik ini tentu tidak berarti peranan Organisasi Non Pemerintah (Ornop) yang bergerak di bidang kesehatan akan menjadi berkurang dan kecil. Cara kerja dan memberi respon yang berbeda membuat kedua lembaga ini punya peran sendiri-sendiri.

Lalu saya saya bertemu dengan 2 anak muda lulusan Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial Bandung milik Kementerian Sosial (Kemensos). Saya suka sekali dengan semangat kedua anak muda yang baru lulus ini. Nama mereka adalah Intan dan Rendi. Mereka menyebut dirinya adalah Pekerja Sosial Profesional. Mereka tidak mau disamakan dengan Tenaga Kerja Sosial Kecamatan yang tidak memiliki latar belakang pendidikan tentang kesejahteraan sosial.

Yang membedakan psikologi dengan kesejahteraan sosial adalah kesejahteraan sosial fokus pada 3 ilmu terdiri dari sosiologi, antropologi dan psikologi. Sedangkan psikologi hanya fokus pada psikologi.

Saya senang mendengar perkembangan yang ada. Itu berarti gerak organisasi Pemerintah mengarah lebih baik dan ada konsolidasi penyelesaian masalah sosial yang ada di masyarakat.

Saya mendukung lahirnya banyak Pekerja Sosial Profesional yang mengisi ruang-ruang sosial yang penting seperti rumah sakit dan masyarakat miskin kota. Keperpihakan Pemerintah pada invisible people harus nampak. Konstitusi Republik Indonesia memandatkan hal seperti itu. (esh)

See Also

Berdiri Di Dua Kaki
Politik Akal Sehat Atau Politik Merangkul?
Hati-hati Dengan Ide Keliru Yang Jahat Sekali
Partner Dari Ahok
Kapan Kegaduhan Akan Berakhir?
Peringati Hari HAM Sedunia, Rohingya Masih Menjadi Manusia Paling Teraniaya
Susi Pudjiastuti Dan Definisi Profesional
Mentor Keponakan Dan Spesialis Anak
Bahagia Menggunakan Ketrampilan Yang Ada Tanpa Tekanan
Kebanyakan Perempuan Pola Dari Hati Ke Otakkah?
Diperlakukan Terhormat Oleh Pemerintah Kota Surabaya
Autis Dan UN Habitat
Di Bali Saya Menemukan Ide Tentang Guru Spiritualitas
Empat Orang Yang Diikat Proyek Televisi Kiprah Remaja Di Masa Lalu
Sisi Lain Dari Keindahan Bali
Murid Cinta
Intuisi Yang Bertumbuh
Perut Dan Kemampuan Kognitif Kaitannya Dengan Usia
Soft Launching Misi Hidup Saya
Bahagia Itu Bisa Penuhi Janji Dan Ide Terealisir
Sjahrir Dan Kisah Cintanya
Cinta Oksitosin Dan Cinta Komitmen
Nasehat Bagi Yang Memutuskan Mempertahankan Pernikahan
Berjudi Mempertaruhkan Kebahagiaan Hidup
Mati Untuk Mendapatkan Yang Lebih Baik
jQuery Slider
Arsip :201920172016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 7.907.332 Since: 05.03.13 | 0.1415 sec