Internasional

Indonesia Kirim Nota Protes Ke Arab Saudi

Wednesday, 15 April 2015 | View : 451

RIYADH-SBN.

Menteri Luar Negeri Retno Lestari Priansari Marsudi mengatakan, pemerintah melayangkan nota protes kepada pemerintah Arab Saudi soal eksekusi mati tenaga kerja Indonesia, Siti Zaenab.

Menteri Luar Negeri Retno Lestari Priansari Marsudi sudah melayangkan nota protes kepada pemerintah Arab Saudi terkait tidak diberitahukannya eksekusi mati terhadap tenaga kerja Indonesia, Siti Zaenab.

Eksekusi mati kemudian dijatuhkan pada Selasa (14/4/2015) siang waktu Indonesia. Pemerintah Indonesia protes karena tidak mendapat pemberitahuan sebelumnya.

Menurut Menlu Retno Lestari Priansari Marsudi, tak ada pemberitahuan apa pun soal eksekusi mati yang dilakukan Selasa (14/4/2015) siang waktu Indonesia itu.

"Kami sudah menyampaikan nota protes kepada pemerintah Saudi, mengapa eksekusi ini tidak informasikan ke pemerintah Indonesia. Sudah kita kirim," kata Retno Lestari Priansari Marsudi usai mendampingi Presiden Joko Widodo menggelar jamuan makan malam untuk Perdana Menteri Norwegia Erna Solberg di Istana Kepresidenan, Selasa (14/4/2015) malam.

Menindaklanjuti protes itu, Menlu Retno Lestari Priansari Marsudi memanggil Duta Besar Arab Saudi di Jakarta.

"Nota protes baru dikirim kemarin sore dan hari ini akan kami panggil Dubesnya," tegas Menlu Retno Lestari Priansari Marsudi usai mendampingi Presiden Joko Widodo bertemu Duta Besar dan perwakilan negara-negara OKI di Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (15/4/2015).

Di dalam pertemuan dengan Duta Besar Arab Saudi di forum itu, Menlu Retno Lestari Priansari Marsudi mengaku tidak membahas soal nasib Siti Zaenab yang berakhir dipancung pada Selasa (14/4/2015).

Presiden dan Duta Besar Arab Saudi lebih banyak membahas soal perlunya umat Islam bersatu untuk memajukan perdamaian.

Duta Besar Arab Saudi Mustafa I A Mubarak mengaku terkejut karena dipanggil mendadak oleh Menteri Luar Negeri RI Retno Lestari Priansari Marsudi.

Dubes Arab Saudi untuk Indonesia, Mustafa I A Mubarak mengaku tidak tahu-menahu soal tidak adanya pemberitahuan kepada pemerintah Indonesia akan eksekusi mati WNI Siti Zaenab di Arab Saudi.

"Saya tidak tahu apa-apa. Saya pun kaget saat Menlu Indonesia memanggil saya pagi ini. Maka itu, saya harus berkoordinasi dulu dengan pemerintahan Indonesia," jelas Mustafa I A Mubarak usai pertemuan negara-negara OKI di Istana Kepresidenan, Rabu (15/4/2015).

Mustafa I A Mubarak menyatakan, pemerintah Indonesia hanya mempersoalkan tidak ada pemberitahuan sebelumnya soal eksekusi mati. Menurut dia, pemerintah Indonesia sama sekali tidak mempersoalkan dengan hukuman mati itu.

"Ini bukan soal aturan. Indonesia tidak menentang hukuman (mati) yang ada. Mereka bilang, mereka kesal karena tidak adanya pemberitahuan. Itu saja," ucap dia.

Mustafa I A Mubarak menyatakan tidak tahu alasan tiadanya pemberitahuan kepada pemerintah Indonesia soal eksekusi hukuman mati itu. Dia juga mengatakan, pertemuannya dengan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) juga tidak membahas isu tersebut.

"Jadi, saya tidak tahu. Tapi saya akan mengeceknya," ucap Mustafa I A Mubarak.

Menlu Retno Lestari Priansari Marsudi mengatakan, seluruh upaya telah dilakukan pemerintah mulai dari jalur diplomatik, jalur hukum, hingga pendekatan kekeluargaan kepada ahli waris korban yang dibunuh Siti Zaenab. Surat permohonan maaf terakhir kali juga disampaikan oleh Presiden Joko Widodo.

Menlu Retno Lestari Priansari Marsudi menjelaskan, pemerintah sudah melakukan berbagai upaya untuk meloloskan Siti Zaenab dari hukum pancung.

Sebelumnya, Presiden Abdurrahman Wahid dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono juga mengirimkan surat senada. Tiga presiden RI, yakni Presiden Abdurrahman Wahid, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, dan Presiden Joko Widodo telah mengirimkan surat permohonan maaf bagi Siti Zaenab.

Bahkan, pemerintah Indonesia juga sudah menyiapkan uang 600.000 riyal kepada ahli waris korban untuk meloloskan Siti Zaenab dari jerat kematian.

Namun, berdasarkan peraturan hukum di Arab Saudi, vonis hukum qhisash bisa gugur asalkan mendapat pengampunan dari ahli waris korban. Persoalan muncul saat ahli waris korban tidak mau memaafkan.

"Tapi sekali lagi karena hukum mereka qishash, yang semuanya akan tergantung pada pemaafan keluarga, sehingga ada titik di mana kita tidak bisa melakukan lebih jauh. Tapi semua tugas pemerintah semua sudah kita lakukan," ucap Menlu Retno Lestari Priansari Marsudi.

Siti Zaenab lalu dieksekusi mati pada Selasa (14/4/2015) siang waktu Indonesia, tanpa ada pemberitahuan sebelumnya ke pihak kuasa hukum.

"Perwakilan kami tak diberi tahu soal pelaksanaan ini. Kami hanya diberi tahu setelah pelaksanaan dilakukan," ujar Retno Lestari Priansari Marsudi.

Soal eksekusi mati Siti Zaenab ini, Menlu Retno Lestari Priansari Marsudi mengaku sudah menyampaikan langsung kepada Presiden Joko Widodo. Presiden Jokowi menyatakan rasa duka yang mendalam mendengar kabar tersebut. Selanjutnya, kata Retno Lestari Priansari Marsudi, Kementerian Luar Negeri mengirimkan tim yang berangkat ke Bangkalan, kota kelahiran Siti Zaenab untuk menyampaikan kabar duka kepada pihak keluarga.

Siti Zaenab (47) dipidana atas kasus pembunuhan terhadap istri dari pengguna jasanya yang bernama Nourah Bt. Abdullah Duhem Al Maruba pada tahun 1999. Dia kemudian ditahan di Penjara Umum Madinah sejak 5 Oktober 1999.

Setelah melalui rangkaian proses hukum, pada 8 Januari 2001, Pengadilan Madinah menjatuhkan vonis hukuman mati qishash kepada Siti Zaenab.

Dengan jatuhnya keputusan qishash tersebut maka pemaafan hanya bisa diberikan oleh ahli waris korban.

Namun pelaksanaan hukuman mati tersebut ditunda untuk menunggu Walid bin Abdullah bin Muhsin Al Ahmadi, putra bungsu korban, mencapai usia akil balig.

Pada tahun 2013, setelah dinyatakan akil balig, Walid bin Abdullah bin Muhsin Al Ahmadi telah menyampaikan kepada Pengadilan perihal penolakannya untuk memberikan pemaafan kepada Siti Zaenab dan tetap menuntut pelaksanaan hukuman mati. Hal ini kemudian dicatat dalam keputusan pengadilan pada tahun 2013. (kom)

See Also

Pengadilan Rusia Perintahkan Perempuan Yang Kabur Dari Karantina Balik Ke RS
Virus Korona Tewaskan Direktur Rumah Sakit Di Wuhan
Penembakan Di Century Plaza Bangkok
Jeff Bezos Donasi USD 10 Miliar Untuk Penelitian Iklim
Korban Tewas Akibat Virus Korona Total Jadi 1.868
1.789 Korban Tewas Akibat Virus Korona
Warga Kanada Di Kapal Pesiar Diamond Princess Segera Dievakuasi
Arab Saudi Larang Warganya Ke China
Dokter Pengungkap Virus Korona Meninggal Dunia
Korban Jiwa Virus Korona Bertambah Jadi 634
Jepang Karantina Seluruh Penumpang Kapal Pesiar Diamond Princess Terkait Virus Corona
Ratusan Warga Negara Malaysia Dan Keluarganya Dipulangkan Dari Wuhan
Penembakan Di Asrama Kampus Texas A & M University
7 Fakta Rumah Sakit Kilat Pasien Korban Virus Corona Wuhan
Singapura Umumkan 6 Kasus Baru Virus Korona
Rumah Sakit Kilat Virus Corona Wuhan Mulai Beroperasi
Penembakan Dalam Bus Greyhound Di California
Korban Meninggal Virus Korona Bertambah Jadi 362
TNI Siap Bantu Kebakaran Hutan Di Australia
Rudal Kenai Objek Di Langit Iran Saat Pesawat Ukraina Jatuh
Iran Sebut Pesawat Ukraina Terbakar Sebelum Jatuh
Pejabat AS Sebut Pesawat Ukraina Kemungkinan Kena Rudal Iran
Bencana Kebakaran Lahan Di Australia
Kapal Induk Kedua China Resmi Diluncurkan
PBB Sebut 7 Ribu Demonstran Iran Ditahan Akibat Protes Kenaikan BBM
jQuery Slider
Arsip :20202019201820172016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 7.907.488 Since: 05.03.13 | 0.1211 sec