Hukum

Guru JIS Neil Bantleman Divonis 10 Tahun Penjara

Thursday, 02 April 2015 | View : 769

JAKARTA-SBN.

Guru Jakarta International School (JIS), Neil Bantleman, divonis bersalah atas tuduhan mencabuli tiga siswa TK Jakarta International School (JIS), yakni AK, AL, dan DA.

Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan, memvonis terdakwa oknum guru Jakarta Internasional School (JIS) Neil Bantleman dengan hukuman 10 tahun penjara, terkait kasus kekerasan seksual terhadap anak.

Neil Bantleman juga dihukum dengan denda sebesar Rp 100 juta dengan subsider kurungan selama 6 bulan.

Vonis itu dijatuhkan pada sidang Pengadilan Negeri Jakarta Selatan yang dipimpin oleh Hakim Ketua Nur Aslam Bustaman Kamis (2/4/2015) sore ini.

"Memutuskan terdakwa Neil Bantleman, selama 10 tahun dan denda sebesar Rp 100 juta," ujar Hakim Ketua, Nur Aslam Bustaman, di Ruang Sidang Utama Prof. H. Oemar Seno Adji, S.H., Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan, Kamis (2/4/2015) sore.

Dikatakan Nur Aslam Bustaman, jika Neil Bantleman tak dapat membayar denda, maka harus mengganti dengan hukuman enam bulan penjara. "Memerintahkan agar terdakwa tetap di dalam tahanan," ungkap Hakim Ketua, Nur Aslam Bustaman.

Ia terbukti mencabuli dan melecehkan murid-murid JIS. Ia juga dianggap dengan sengaja melakukan tipu muslihat kepada murid Jakarta International School (JIS).

Menurutnya, terdakwa telah secara sadar dan meyakinkan melakukan kekerasan seksual terhadap anak serta melakukan serangkaian kebohongan.

Adapun hal yang memberatkan, tambahnya, tersangka tidak menyesalkan perbuatannya, dan tidak meminta maaf. Padahal jelas-jelas telah merusak anak di bawah umur. "Terdakwa dibebankan biaya persidangan sebesar Rp 5.000," tandas Hakim Ketua, Nur Aslam Bustaman sambil mengetuk palu.

Setelah membaca putusan, Nur Aslam Bustaman menyampaikan, terdakwa Neil  Bantleman memiliki hak untuk menerima putusan atau mengajukan banding.

Dalam persidangan, Neil Bantleman, menyatakan dirinya akan mengajukan banding atas putusan Hakim. Tanpa pikir panjang, Neil Bantleman langsung mengatakan akan melakukan banding. Ia merasa hukuman yang ditetapkan kepadanya tidak adil. "Saya akan ajukan banding atas putusan ini," tegas Neil Bantleman.

Berdasarkan pantauan awak media, sidang vonis terdakwa Neil terkait dugaan kasus kekerasan seksual terhadap korban MAK, AL dan DA, masih berlangsung di Ruang Sidang Utama Prof. H. Oemar Seno Adji, SH, PN Jakarta Selatan.

Persidangan berjalan lama, karena materi dakwaan harus dibacakan ulang penerjemah ke dalam Bahasa Inggris, karena Neil Bantleman yang berasal dari Kanada kurang memahami Bahasa Indonesia. Vonis yang dibacakan pada pukul 9.48 WIB ini berjalan lambat lantaran pembacaan seluruh pertimbangan persidangan dibaca ulang oleh penerjemah bahasa.

Hakim Ketua, Nur Aslam Bustaman, berkali-kali juga harus mengingatkan para pengunjung agar tidak mengganggu jalannya sidang. Ketua Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan Nur Aslam Bustaman memperingatkan pengunjung sidang agar tertib.

Peringatan itu disampaikan Hakim Nur Aslam Bustaman saat memimpin sidang pembacaan putusan dalam kasus dugaan pelecehan siswa Jakarta International School (JIS) dengan terdakwa Neil Bantleman dan Ferdinant Tjiong.

Dalam sidang itu, berulang kali Hakim Nur Aslam Bustaman memarahi peserta yang melanggar tata tertib di dalam ruang sidang. "Jangan menelepon di dalam ruang sidang. Ini ruang sidang tolong hormati," kata Hakim Nur Aslam Bustaman, Kamis (2/4/2015).

Lantaran banyak yang melanggar tata tertib, Hakim Nur Aslam Bustaman juga berulang kali menskors persidangan dan memarahi peserta sidang. "Satu kali lagi saya temukan Anda masih melanggar, saya usir Anda dari ruang sidang," kata Hakim Nur Aslam Bustaman kepada seorang pengunjung.

Persidangan kasus kejahatan tak senonoh yang dilakukan oleh guru Jakarta International School, Neil Bantleman dan Ferdinant Tjiong, telah berjalan selama kurang lebih 5 jam 15 menit.

Neil Bantleman dinyatakan bersalah dan dihukum dengan dasar hukum tuntutan subsider Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 Pasal 82 tentang Perlindungan Anak.

Jaksa menjerat Neil Bantleman dan Ferdinant Tjiong dengan Pasal 82 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Ancaman hukuman maksimal yang bisa diterima mereka berdua ialah 15 tahun penjara dan denda Rp 300 juta. Sebelumnya, Jaksa Penuntut Umum (JPU) menjerat Neil Bantleman dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara dan denda Rp 300 juta.

Persidangan kasus dugaan kekerasan seksual yang melibatkan dua oknum guru Jakarta Internasional School (JIS), Neil Bantleman dan Ferdinant Tjiong, terhadap tiga anak murid Taman Kanak-kanak berinisial MAK, AL, dan DA hampir rampung.

Penasihat hukum Neil Bantleman dan Ferdinan Tjiong, Hotman Paris Hutapea, mengatakan sepanjang persidangan semakin banyak dugaan adanya rekayasa di balik kasus itu.

Hotman Paris Hutapea, penasihat hukum oknum guru Jakarta International School (JIS) Neil Bantleman, angkat bicara terkait putusan vonis 10 tahun penjara terhadap kliennya.

"Ini semua terkait uang US$ 125 juta (permintaan ganti rugi pihak korban melalui sidang gugatan perdata)," ujar Hotman Paris Hutapea, usai sidang vonis Neil Bantleman, di Ruang Sidang Utama Prof. H. Oemar Seno Adji, S.H., PN Jakarta Selatan, Kamis (2/4/2015) sore.

"Kasus ini tidak terlepas dari kerakusan oknum tertentu yang tergiur dengan gugatan ganti rugi US$ 125 juta," terang Hotman Paris Hutapea, usai sidang kedua terdakwa dengan agenda pembacaan duplik, di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan, Kamis (26/3/2015).

Ia menyampaikan, awalnya korban AL menyampaikan tidak pernah mendapatkan kekerasan seksual. Tapi kemudian korban mengaku disodomi. "Ini setelah sebelumnya, permintaan ganti rugi US$ 13,5 juta ditolak JIS, lalu jadi berubah mengaku disodomi," bilangnya.

Menurutnya, selama tiga bulan pemeriksa polisi, korban mengaku dilecehkan karyawan cleaning service dan tidak pernah menyebut nama guru.

"Masa lupa nama guru, malah ingat nama cleaning service. Logikanya di mana. Tiba-tiba, karena sadar gugatan perdata lemah, maka dibuat baru. Kalau hanya cleaning service tidak kuat, karena itu pegawai PT. ISS. Supaya kuat harus kena karyawan JIS," imbuhnya.

Dia menuturkan, banyak fakta-fakta yang diajukan tim penasihat hukum terdakwa yang tidak dipertimbangkan Majelis Hakim.

Semisal, ibu korban AL, yang telah membawa anaknya untuk diperiksa di Rumah Sakit KK Women's and Children's, di Singapura.

"Karena ternyata, Pengadilan Tinggi di Singapura dengan putusannya telah mengeluarkan izin kepada rumah sakit Singapura (KK Women's and Children's), agar hasil medis dokter terhadap anak salah satu yang menjadi korban di sini (AL), bisa dijadikan bukti di Indonesia," ungkapnya.

Ia menyampaikan, ibu korban AL, ternyata telah membawa anaknya untuk diperiksa di Singapura. Tim dokter di Rumah Sakit KK Women's and Children's, sangat lengkap. Ada tim anastesi, bedah dan psikolog.

Kedua, tambahnya, kredibilitas beberapa oknum dokter di Jakarta, dalam penerbitan visum sangat diragukan.

Hasilnya, negatif dan tidak pernah mengalami kekerasan seksual.

"Hasilnya adalah tidak ada indikasi sodomi atau negatif. Anus total normal. Kalau Anda lihat, semua catatan tangan dokter lengkap. Bahkan, tanda tangan ibu korban ada di visum ini. Dan ini 100 persen berbeda dengan visum di Indonesia," tegasnya.

Ia menyampaikan, hasil penelitian di Indonesia pada bagian dalam anus korban ada bekas luka, ciri khas korban sodomi.

Hotman Paris Hutapea melanjutkan, guna mengetahui adanya luka di bagian dalam anus harus dilakukan anuskopi. "Dimasukan alat yang besar ke dalam, dibor. Anuskopi bisa dilakukan kalau dibius total. Tapi, itu tidak dilakukan di Indonesia. Hanya dilihat sepintas dari luar. Sedangkan, di Singapura semuanya visum lengkap," katanya.

Ia menduga, ada permainan dari oknum dokter, sehingga visum begitu mudah keluar hasilnya.

Advokat Hotman Paris Hutapea menambahkan, hasil visum di RS KK Women's and Children's, sudah disampaikan pada persidangan 3 minggu lalu.

"Ini sudah distampel Kedutaan Singapura dan notaris. Dan ini bukan hasil visum yang liar. Di sini jelas menyebutkan, memerintahkan agar bukti ini dipakai di pengadilan di Indonesia dengan terdakwa Neil dan Ferdi. Apakah perlu diragukan kredibilitas pengadilan di Singapura. Sekiranya ini palsu, pasti ibu korban sudah melaporkan kita ke polisi, kalau ini bohong," paparnya.

Ia melanjutkan, pada tiga bulan pertama kasus ini bergulir yang dituduh melakukan sodomi hanya pegawai cleaning service.

"Sedangkan, nama gurunya dia tidak pernah sebut. Sekarang logikanya di mana? Mungkin gak seorang anak lupa sama gurunya kalau dia pernah disodomi gurunya," imbuhnya.

"Tiga bulan penuh, waktu kasus cleaning service, sang anak diperiksa, rekonstruksi, diinterview dan berkali-kali tidak pernah menyebutkan nama guru. Dia hanya menyebutkan nama cleaning service. Apakah mungkin anak lupa nama gurunya. Masa nama cleaning service tahu, nama guru lupa," sebutnya.

Di dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP) kasus pegawai cleaning service, sambungnya, korban AL menyampaikan tidak pernah disodomi.

"Ini ditandatangani. Ini disumpah. Ibunya tanda tangan, psikolognya tanda tangan. Kok bisa di sini berubah. Sekarang, klien saya didakwa karena mensodomi AL ini. Padahal di BAP dia mengatakan tidak pernah disodomi," tuturnya.

Menyoal apakah yakin jika anak-anak tersebut tidak mengalami tindak kekerasan seksual, Hotman Paris Hutapea menegaskan, untuk kaitannya dengan dua oknum guru tidak ada.

"Tidak ada kaitannya dengan dua orang guru ini. Waktu tiga bulan pertama hanya menyebutkan pegawai cleaning service, waktu perdata pun hanya menyebut cleaning service. Tapi karena ibunya minta US$ 13,5 juta, US$ 12 juta untuk ibunya, US$ 1,5 juta untuk tim kuasa hukum ditolak JIS, di situ biang keladi masalah ini. Sehingga pada bulan Juni tiba-tiba ada tersangka baru. Jadi ini terkait kepentingan uang," terangnya.

"Mereka tahu, JIS tidak akan membayar, JIS tidak bisa ditekan, kalau pegawai JIS tidak dijadikan tersangka. Karena enam pegawai cleaning service itu bukan pegawai JIS, mereka tahu gugatannya lemah. Sehingga diciptakan laporan baru agar JIS secara hukum bisa dianggap bertanggungjawab ganti rugi. Maka, pegawai langsung dari JIS harus dibuat tersangka dengan membuat rekayasa ini," paparnya.

Ihwal apakah yakin kedua terdakwa tidak bersalah, Hotman Paris Hutapea belum bisa memastikannya.

"Apa nanti reaksi negara kita, pengadilan kita, hanya Tuhan yang tahu," pungkasnya.

Menurutnya, pertimbangan Hakim dalam mengambil keputusan terlihat memihak pihak korban. "Ini adalah pertimbangan hukum yang sangat bias dan memihak," tandasnya. (tem/sp/jos)

See Also

Pengacara Yang Sukses Mengadakan MoU Dengan Negara Lain
Polda Metro Jaya Tahan Para Tersangka Kasus Penculikan WN Inggris
Presiden Joko Widodo Resmi Lantik Idham Azis Sebagai Kapolri Baru
Keterangan Ahli Di Sidang Praperadilan Terkait Eksekusi Penahanan Matheus Mangentang
Peras Mantan Petinggi Polri, Hukuman Sisca Dewi Diperberat
LBH Ansor Jateng Apresiasi Penangkapan Cepat Polres Kebumen Terhadap Pelaku Kekerasan Seksual
Kapolres Bitung Perintahkan Pelaku Kejahatan Ditembak Di Tempat
Reserse Polres Bitung Bekuk Residivis Sadis Pembegal Motor
Satuan Reskrim Polres Bitung Tangkap Dua Tersangka Curanmor
Mahasiswa Unesa Sorot Penggunaan Dana Pembelian Mebel Di Kampus
KPK Tetapkan Dirut PT. Rohde And Schwarz Indonesia Sebagai Tersangka
KPK Akan Segera Periksa Saksi Dan Tersangka Suap KONI
KPK Cekal Robert Tantular Ke Luar Negeri
Tim Resmob Dan Tarsius Bitung Lumpuhkan Pencuri Kambuhan
Mahkamah Agung Hukum Alfian Tanjung 2 Tahun Penjara
Polda Jatim Duga Ada Kesalahan Teknis Proyek Berujung Jalan Gubeng Ambles
KPAI Apresiasi Langkah Cepat Polri Proses Bahar Bin Smith
Polri Sebut Penahanan Tersangka Bahar Bin Smith Murni Kasus Hukum
Polri Koordinasi Dengan LPSK Amankan 2 Remaja Korban Bahar Bin Smith
Usai OTT KPK, Kemenpora Lanjutkan Program SEA Games-Olimpiade
KPK Sita Miliaran Rupiah Terkait OTT Pejabat Kemenpora Dan KONI
Polri Kantongi Bukti Penganiayaan Oleh Bahar Bin Smith
KPK OTT Pejabat Kemenpora Dan Pengurus KONI
Polres Metro Jakarta Selatan Buru Pembunuh Perempuan Muda Di Kebagusan City
Pembunuh Keji Sopir Taksi Online Divonis 10 Tahun Penjara
jQuery Slider

Comments

Arsip :2019201820172016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 7.594.716 Since: 05.03.13 | 0.1144 sec