Hukum

Polisi Gerebek Pabrik Produksi Olahan Nata Jeli Dioplos Pupuk ZA

Tuesday, 31 Maret 2015 | View : 996

SLEMAN-SBN.

Satuan Reserse Kriminal Kepolisian Resor (Polres) Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pada Selasa (31/3/2015) menggerebek sebuah tempat usaha pembuatan sari kelapa atau nata de coco di Desa Sidomulyo, Godean, Sleman. Penggerebekan itu dipimpin langsung oleh Kapolres Sleman AKBP Fried Zulkarnaen.

Aparat Polres Sleman membongkar produksi olahan nata jeli (nata de coco) yang terbuat dari endapan air kelapa, dan dicampur dengan pupuk ZA.

Aktivitas itu ditemukan di sebuah industri rumahan yang berada di bangunan bekas SDN Semarang 3, Sidomulyo, Godean, Sleman. Usaha rumah tangga yang menempati bangunan gedung bekas Sekolah Dasar (SD) Semarangan III di Dusun Sidomulyo, Kecamatan Godean itu ditutup paksa aparat karena diduga melakukan praktik ilegal. Bangunan ini merupakan pabrik pembuatan nata de coco yang dioplos dengan pupuk urea.

"Saat dilakukan pengerebekan kami mendapatkan aktivitas pembuatan makanan sejenis nata coco yang diduga dicampur bahan pupuk jenis ZA (urea) yang merupakan pupuk bersubsidi untuk pertanian," kata Kapolres Sleman AKBP Faried Zaulkarnaen, Selasa (31/3/2015).

Menurut dia, dalam pengerebekan tersebut, pihaknya juga menemukan puluhan drum berisi cairan kelapa yang akan dijadikan bahan utama pembuatan nata coco.

"Kami juga menemukan ratusan botol berisi nata coco, serta ratusan baki berisi nata coco yang sudah siap jadi," katanya.

Polisi menduga pemilik dalam proses pembuatan nata de coco mencampurkan pupuk kimia jenis ZA yang dianggap membahayakan jika dikonsumsi manusia.

Kepala Polres Sleman AKBP Faried Zulkarnaen yang datang di lokasi tersebut menuturkan, sebelumnya polisi mendapat informasi dari masyarakat terkait adanya kegiatan pabrik rumahan yang memproduksi nata de coco dengan bahan tambahan pupuk ZA.

Berbekal informasi tersebut, penyidik lantas melakukan penyelidikan. "Pupuk ZA ini pupuk untuk tanaman, bukan (untuk) dicampur dalam makanan untuk dikonsumsi," ungkap AKBP Faried Zulkarnaen, Selasa (31/3/2015).

 

Di Tempat Kejadian Perkara (TKP), AKBP Faried Zulkarnaen langsung menginterogasi pemilik usaha, Danang Ari Prasetyo. Danang Ari Prasetyo mengaku belajar membuat produk semacam agar-agar itu secara otodidak dan menggeluti usaha itu sejak lebih dari lima tahun lalu.

Danang Ari Prasetyo mengatakan, ia memperolehnya pupuk ZA di sebuah KUD atau toko mainan. “ZA itu hanya diambil nitrogennya untuk mengikat glukosa,” kilahnya. Tujuannya supaya mendapatkan nata de coco sempurna.

Pemilik pabrik nata coco Danang Ari Prasetyo mengakui melakukan pencampuran nata de coco. Namun, dia membantah bila pupuk tersebut merupakan pupuk bersubsidi untuk pertanian.

"Pupuk yang digunakan merupakan pupuk khusus untuk campuran bahan pembuatan pangan," kata Danang Ari Prasetyo.

Menurut dia, penggunaan pupuk jenis ZA tersebut berfungsi untuk mengangkat bakteri yang ada dalam nata cair ketika dipanaskan. Jika tidak, lanjutnya, nata akan berbau dan tidak enak.

Dalam seminggu, usaha ini menghasilkan sekitar 800 kilogram nata de coco. Untuk membuat produk itu, dibutuhkan air kelapa sebagai bahan utamanya. Kemudian pupuk ZA, gula pasir dan cuka dicampurkan ke dalam rebusan air kelapa. 

“Rata-rata seribu liter sekali produksi,” katanya. Danang Ari Prasetyo mengaku produknya telah memperoleh sertifikasi uji laboratorium dari Institut Pertanian Bogor (IPB) sejak 2013.

Namun, polisi menganggap tindakan Danang Ari Prasetyo itu tergolong ilegal. “Pupuk jelas bukan bahan makanan. Itu melanggar undang-undang,” ujar AKBP Faried Zulkarnaen.

Karenanya, polisi menjerat Danang Ari Prasetyo dengan UU Perlindungan Konsumen. Tersangka juga dijerat pasal penyalahgunaan pupuk bersubsidi.

AKBP Faried Zulkarnaen menjelaskan, nata de coco buatan Danang itu dipasok ke sebuah perusahaan di wilayah Ciputat, Tangerang. Selanjutnya, nata de coco itu dikemas dan dipasarkan ke supermarket berjejaring di wilayah Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi) melalui beberapa distributor.

Menurut AKBP Faried Zulkarnaen, produk itu dipasarkan di ritel yang bersih dan higienis. Kondisi itu berlawanan dengan pabrik pembuatannya yang kotor dan berbau tidak sedap alias tidak layak sebagai pabrikan.

AKBP Faried Zulkarnaen menambahkan akan tetap melakukan penyelidikan terkait dugaan zat berbahaya dalam bahan makanan tersebut.

Selanjutnya, aparat kepolisian menutup pabrik tersebut, dan akan berkoordinasi dengan Badan POM DIY dalam pemeriksaan kandungan di dalam produk pangan tersebut. Untuk menindaklanjuti kasus ini, Polres akan berkoordinasi dengan laboratorium UGM dan Balai Besar POM. "Kami juga akan berkoordinasi dengan dinas terkait guna memastikan ada tidaknya penyalahgunaan pupuk bersubsidi," tegas AKBP Faried Zulkarnaen.

Polisi pun menyita beberapa contoh nata de coco untuk dilakukan uji laboratorium. Petugas juga melakukan penyegelan terhadap pabrik tersebut dengan memasang garis polisi.

Menurut Zullies Ekawati, pakar farmakologi UGM, ZA adalah amonium sulfat yang dibutuhkan sebagai sumber nitrogen untuk nutrisi bagi bakteri acetobacter xylinium. Nah, bakteri tersebutlah yang lalu digunakan dalam proses fermentasi sari kelapa menjadi nata de coco.

Sebenarnya, penggunaan ZA dalam pembuatan nata de coco tidak menimbulkan masalah sepanjang jumlahnya tidak lebih dari satu persen. Artinya, dalam 100 liter, penggunaannya tidak boleh melebihi satu kilogram. Pasalnya, bakteri akan hilang dalam proses pencucian setelah fermentasi selesai.

Namun, terkait kasus yang terjadi di Sleman, ZA yang dipakai bukan yang dikhususkan untuk makanan. Amonium sulfat yang dipakai seharusnya menggunakan ZA nutrition grade, bukan ZA untuk pupuk, walaupun secara substansi merupakan senyawa yang sama. (kom/jos)

See Also

Keterangan Ahli Di Sidang Praperadilan Terkait Eksekusi Penahanan Matheus Mangentang
Peras Mantan Petinggi Polri, Hukuman Sisca Dewi Diperberat
LBH Ansor Jateng Apresiasi Penangkapan Cepat Polres Kebumen Terhadap Pelaku Kekerasan Seksual
Kapolres Bitung Perintahkan Pelaku Kejahatan Ditembak Di Tempat
Reserse Polres Bitung Bekuk Residivis Sadis Pembegal Motor
Satuan Reskrim Polres Bitung Tangkap Dua Tersangka Curanmor
Mahasiswa Unesa Sorot Penggunaan Dana Pembelian Mebel Di Kampus
KPK Tetapkan Dirut PT. Rohde And Schwarz Indonesia Sebagai Tersangka
KPK Akan Segera Periksa Saksi Dan Tersangka Suap KONI
KPK Cekal Robert Tantular Ke Luar Negeri
Tim Resmob Dan Tarsius Bitung Lumpuhkan Pencuri Kambuhan
Mahkamah Agung Hukum Alfian Tanjung 2 Tahun Penjara
Polda Jatim Duga Ada Kesalahan Teknis Proyek Berujung Jalan Gubeng Ambles
KPAI Apresiasi Langkah Cepat Polri Proses Bahar Bin Smith
Polri Sebut Penahanan Tersangka Bahar Bin Smith Murni Kasus Hukum
Polri Koordinasi Dengan LPSK Amankan 2 Remaja Korban Bahar Bin Smith
Usai OTT KPK, Kemenpora Lanjutkan Program SEA Games-Olimpiade
KPK Sita Miliaran Rupiah Terkait OTT Pejabat Kemenpora Dan KONI
Polri Kantongi Bukti Penganiayaan Oleh Bahar Bin Smith
KPK OTT Pejabat Kemenpora Dan Pengurus KONI
Polres Metro Jakarta Selatan Buru Pembunuh Perempuan Muda Di Kebagusan City
Pembunuh Keji Sopir Taksi Online Divonis 10 Tahun Penjara
Uang Pengganti E-KTP, KPK Sita Rp 862 Juta Dari Setya Novanto
Keterangan Ahli Ketua DPD KAI DKI Jakarta Pada Sidang Lanjutan Julius Lobiua
TNI AL Ringkus Pelaku Narkoba Di Tanjung Ahus
jQuery Slider

Comments

Arsip :2019201820172016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 7.503.132 Since: 05.03.13 | 0.1135 sec