Internasional

Marty Natalegawa Ditunjuk Jadi Anggota Panel Tinggi PBB

Friday, 03 April 2015 | View : 534

JAKARTA-SBN.

Sekretaris Jenderal (Sekjen) PBB Ban Ki-moon mengumumkan penunjukan panel tingkat tinggi untuk Respon Global Krisis Kesehatan.

Sekretaris Jenderal (Sekjen) PBB Ban Ki-moon pada Kamis (2/4/2015) menunjuk satu panel untuk memberi saran memperkuat sistem nasional dan internasional untuk mencegah dan menangani krisis kesehatan masa depan.

Panel Tingkat Tinggi mengenai Reaksi Global bagi Krisis Kesehatan direncanakan mempertimbangkan pelajaran yang diperoleh dari reaksi terhadap wabah penyakit virus Ebola di Afrika Barat.

Berdasarkan pernyataan  yang diterima awak media Jumat (3/4/2015), Sekjen PBB Ban Ki-Moon telah menunjuk sejumlah utusan dari berbagai negara untuk menjadi anggota panel tingkat tinggi PBB.

Menurut Wakil Juru Bicara Sekjen PBB Farhan Haq mengungkapkan Sekjen PBB Ban Ki-Moon menunjuk Presiden Republik Tanzania Jakaya Mrisho Kikwete sebagai Ketua.

Ban Ki-Moon telah menunjuk Presiden Tanzania Jakaya Mrisho Kikwete sebagai Ketua Panel tersebut.

Salah satu dari anggota panel adalah mantan Menteri Luar Negeri Indonesia Dr. Raden Mohammad Marty Muliana Natalegawa, B.Sc., M.Phil. atau biasa dipanggil dengan sebutan Marty Natalegawa. Lama tak dengar kabarnya, mantan Menteri Luar Negeri RI, Marty Natalegawa ternyata terpilih menjadi anggota panel tingkat tinggi Persatuan Bangsa Bangsa (PBB) dalam 'Respons Global Terhadap Krisis Kesehatan'.

Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Ban Ki-Moon, menunjuk mantan Menteri Luar Negeri Indonesia, Dr. Raden Mohammad Marty Muliana Natalegawa, B.Sc., M.Phil. atau biasa dipanggil dengan sebutan Marty Natalegawa sebagai anggota panel tingkat tinggi PBB untuk mengatasi masalah krisis kesehatan. Mantan Menteri Luar Negeri RI Marty Natalegawa dipilih menjadi anggota panel tingkat tinggi PBB dalam 'Respons Global Terhadap Krisis Kesehatan'.

Panel tersebut diberi nama High-level Panel on the Global Response to Health Crises.

Presiden Tanzania Jakaya Mrisho Kikwete ditunjuk sebagai Ketua Panel tersebut. Tim panel yang terdiri dari 6 orang itu dipimpin dan diketuai oleh Presiden Republik Tanzania Jakaya Mrisho Kikwete. Para anggota tim panel lainnya selain Marty Natalegawa dari Indonesia adalah Celso Luiz Nunes Amorim dari Brasil, Micheline Calmy-Rey dari Swiss, Joy Phumaphi dari Botswana, dan Rajiv Shah dari Amerika Serikat (AS).

Situs resmi PBB pada Jumat (3/4/2015) melansir bahwa panel ini dibentuk oleh Sekjen PBB Ban Ki Moon dalam rangka meningkatkan pencegahan krisis kesehatan. Dikutip dari situs resmi PBB, Jumat (3/4/2015) panel ini dibentuk oleh Sekjen PBB Ban Ki Moon dalam rangka meningkatkan pencegahan krisis kesehatan.

"Sekretaris Jenderal meminta panel untuk membuat rekomendasi untuk memperkuat sistem nasional dan internasiional, dalam mencegah dan menanggulangi krisis kesehatan di masa mendatang. Langkah ini diambil setelah terjadi wabah Ebola," pernyataan pihak PBB, dalam keterangan tertulis yang diterima awak media, Jumat (3/4/2015).

Nama Marty Natalegawa menjadi satu-satunya wakil dari Asia yang masih ke dalam panel tersebut. Mantan Duta Besar Indonesia untuk PBB tersebut, akan bekerja sama dengan tokoh-tokoh internasional lainnya.

Selain Marty Natalegawa, Sekjen Ban Ki-Moon juga menunjuk mantan Menlu Brasil Celso Amorim sebagai anggota. Ban Ki-Moon juga meminta mantan Presiden Swiss Micheline Calmy-Rey untuk turut serta dalam panel.

Sementara itu, dari Botswana, sosok Joy Phumaphi juga turut ditunjuk sebagai anggota. Phumaphi dikenal sebagai Sekretaris Eksekutif dari Aliansi Pemimpin Afrika Anti Malaria.

Amerika Serikat (AS) juga turut memberikan nama dalam panel ini. Mantan Administrator USAID Rajiv Shah, ditunjuk oleh Ban Ki-Moon dalam panel tersebut.

Tugas panel ini dinilai cukup berat. Tugas utama dari panel tingkat tinggi ini yakni membuat rekomendasi untuk sistem pencegahan serta pengelolaan nasional terhadap ancaman krisis kesehatan. Panel yang terdiri dari orang-orang pilihan ini juga diminta mengambil contoh dari kasus penyebaran virus Ebola.

Tim panel akan menjalankan tugas konsultasi dalam skala luas, termasuk dari negara dan komunitas yang terkena wabah penyakit, PBB sendiri, institusi keuangan bilateral dan multilateral serta sektor swasta. Panel ini juga akan didukung oleh kelompok ahli yang bertugas memberikan masukan, mengenai isu teknis dan lainnya.

Dalam melaksanakan tugas dan pekerjaannya, panel tersebut akan melakukan berbagai konsultasi. Sejumlah konsultasi dilakukan termasuk dengan wakil masyarakat dan perwakilan dari negara-negara yang terkena dampak, sistem PBB, lembaga keuangan bilateral dan multilateral dan bank pembangunan regional, organisasi non-pemerintah, negara yang mendukung upaya pemberian tanggapan, negara anggota, penyedia perawatan kesehatan, sivitas akademika, lembaga penelitian, sektor swasta serta ahli lain.

Tim panel juga akan berkoordinasi dengan lembaga keuangan multilateral dan bilateral dan bank pembangunan daerah, LSM, negara-negara yang mendukung upaya tanggap, negara anggota lain, penyedia layanan kesehatan, lembaga akademik dan penelitian, sektor swasta, dan para ahli lainnya.

Panel dapat menjalin kerja sama dengan berbagai pihak seperti LSM, perwakilan negara-negara terdampak Ebola, lembaga akademik, penyedia kesehatan, swasta, serta sektor lainnya.

Menurut Wakil Juru Bicara Sekjen PBB Farhan Haq, Ban Ki-Moon telah meminta panel membuat rekomendasi demi memperkuat sistem nasional dan internasional. Langkah ini untuk mencegah dan mengelola krisis kesehatan di masa depan. Ini dilakukan setelah terjadinya wabah Ebola.

Panel tersebut akan didukung oleh sekelompok sumber daya ahli terkemuka.

Tim panel itu akan menyelenggarakan pertemuan perdana dijadwalkan pada awal Mei 2015. Pertemuan pertama dari panel akan berlangsung pada awal Mei 2015. Setelah itu, tim panel ini akan mengadakan pertemuan rutin serta direncanakan akan melaporkan hasilnya dan menyampaikan, menyerahkan laporan akhirnya kepada Sekretaris Jenderal (Sekjen) PBB, Ban Ki-Moon paling lambat pada akhir Desember 2015.

Kemudian, Sekjen PBB akan menyerahkan laporan itu ke Sidang Majelis Umum PBB, guna mengambil tindakan lebih lanjut. Selanjutnya, Ban Ki-Moon akan membuat laporan yang tersedia untuk Sidang Majelis Umum. Setelahnya, Majelis Umum akan menindaklanjuti jika cocok. Selanjutnya PBB akan melakukan tindak lanjut atas rekomendasi yang diberikan. (met/jos)

See Also

Pengadilan Rusia Perintahkan Perempuan Yang Kabur Dari Karantina Balik Ke RS
Virus Korona Tewaskan Direktur Rumah Sakit Di Wuhan
Penembakan Di Century Plaza Bangkok
Jeff Bezos Donasi USD 10 Miliar Untuk Penelitian Iklim
Korban Tewas Akibat Virus Korona Total Jadi 1.868
1.789 Korban Tewas Akibat Virus Korona
Warga Kanada Di Kapal Pesiar Diamond Princess Segera Dievakuasi
Arab Saudi Larang Warganya Ke China
Dokter Pengungkap Virus Korona Meninggal Dunia
Korban Jiwa Virus Korona Bertambah Jadi 634
Jepang Karantina Seluruh Penumpang Kapal Pesiar Diamond Princess Terkait Virus Corona
Ratusan Warga Negara Malaysia Dan Keluarganya Dipulangkan Dari Wuhan
Penembakan Di Asrama Kampus Texas A & M University
7 Fakta Rumah Sakit Kilat Pasien Korban Virus Corona Wuhan
Singapura Umumkan 6 Kasus Baru Virus Korona
Rumah Sakit Kilat Virus Corona Wuhan Mulai Beroperasi
Penembakan Dalam Bus Greyhound Di California
Korban Meninggal Virus Korona Bertambah Jadi 362
TNI Siap Bantu Kebakaran Hutan Di Australia
Rudal Kenai Objek Di Langit Iran Saat Pesawat Ukraina Jatuh
Iran Sebut Pesawat Ukraina Terbakar Sebelum Jatuh
Pejabat AS Sebut Pesawat Ukraina Kemungkinan Kena Rudal Iran
Bencana Kebakaran Lahan Di Australia
Kapal Induk Kedua China Resmi Diluncurkan
PBB Sebut 7 Ribu Demonstran Iran Ditahan Akibat Protes Kenaikan BBM
jQuery Slider
Arsip :20202019201820172016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 7.907.309 Since: 05.03.13 | 0.1399 sec