Hukum

KPK Sita Toyota Alphard Milik Sutan Bhatoegana

Tuesday, 17 Maret 2015 | View : 646

JAKARTA-SBN.

Selasa (10/3/2015), Kepala Bagian Pemberitaan dan Publikasi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Priharsa Nugraha membeberkan, penyidik KPK berencana menyita mobil Toyota Alphard milik mantan Ketua Komisi VII DPR RI, Sutan Bhatoegana, dari kediamannya di Bogor.

Penyitaan ini dilakukan lantaran mobil tersebut diduga terkait dengan kasus dugaan penerimaan hadiah atau gratifikasi dalam pembahasan penetapan anggaran APBNP tahun 2013 di Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) yang menjerat Sutan Bhatoegana sebagai tersangka.

Namun, penyitaan itu batal karena keluarga Sutan Bhatoegana menghalangi penyidik KPK untuk menyita mobil tersebut. "Tadi ada upaya penyitaan, tapi tidak jadi karena dihalang-halangi oleh pihak keluarga," ungkap Priharsa Nugraha di Gedung KPK, Jalan H.R. Rasuna Said, Kuningan, Jakarta, Selasa (10/3/2015) malam.

Priharsa Nugraha mengungkapkan, sejumlah penyidik KPK mendatangi kediaman Sutan pada Selasa (10/3/2015) siang. Namun, saat hendak menyita mobil Sutan Bhatoegana, pihak keluarga enggan memberikan kunci mobil. "Penyidik datang ke sana tanpa pengamanan. Keluarga ini tidak mau kasih kuncinya," beber Priharsa Nugraha.

Penyidik, sambung Priharsa Nugraha, bisa saja melakukan upaya paksa dengan menderek mobil tersebut. Namun, penyidik KPK belum mempersiapkan kemungkinan penyitaan tersebut dihalang-halangi pihak keluarga sehingga tidak membawa mobil derek. "Tadi tujuannya mau datang baik-baik, mau minta kunci," jelas Priharsa Nugraha.

Akhirnya, Lembaga antirasuah, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyita mobil Toyota Alphard milik politikus Partai Demokrat, Sutan Bathoegana. Penyidik KPK menderek mobil Toyota Alphard milik mantan Ketua Komisi VII DPR RI, Sutan Bhatoegana dari kediamannya di Bogor, Jawa Barat. "Terkait tersangka SB (Sutan Bathoegana) KPK melakukan penyitaan terhadap mobil Alphard dan menderek mobil itu pada Jumat (13/3/2015) siang," kata Kabag Pemberitaan dan Publikasi KPK, Priharsa Nugraha di Gedung KPK, Jalan H.R. Rasuna Said, Kuningan, Jakarta, Selasa (17/3/2015).

Penyitaan terhadap mobil milik Sutan Bhatogana kali ini dilakukan dengan menggandeng pihak dealer dan mobil derek. Hal ini dilakukan lantaran pihak keluarga masih menolak menyerahkan kunci mobil tersebut.

Kepala Bagian Pemberitaan dan Publikasi KPK Priharsa Nugraha mengatakan, KPK meminta bantuan dealer setempat untuk membuka mobil tersebut dan mendereknya ke KPK.

"Jumat (13/3/2015) kemarin, KPK minta bantuan kepada dealer untuk membuka mobil tersebut. Kemudian, ada juga mobil derek," beber Priharsa Nugraha di Gedung KPK, Jalan H.R. Rasuna Said, Kuningan, Jakarta, Selasa (17/3/2015).

Priharsa Nugraha mengatakan, upaya penderekan dilakukan karena pihak keluarga Sutan Bhatoegana tidak mengizinkan petugas KPK untuk menyita mobil tersebut.

Pada Selasa (10/3/2015) lalu, penyidik KPK gagal menyita mobil tersebut karena dihalangi pihak keluarga Sutan Bhatoegana. Pada Selasa (10/3/2014), petugas KPK kembali dengan tangan hampa lantaran tanpa persiapan sita paksa.

"Sebelumnya kan penyitaan gagal karena ada perlawanan dari keluarga. Jadi minta bantuan pada dealer karena kuncinya memang tidak diserahkan oleh pihak keluarga," tutur Priharsa Nugraha.

Saat ini, mobil milik Sutan Bhatoegana tersebut sudah diamankan di halaman parkir Gedung KPK, Jakarta. Sebelum penyitaan ini, KPK sudah menahan Sutan Bhatoegana di Rumah Tahanan (Rutan) Salemba, Jakarta Pusat pada Selasa (2/2/2015) lalu.

Dikabarkan sebelumnya, penasihat hukum Sutan Bhatoegana, Razman Arif Nasution, yang mendatangi KPK pada Selasa (10/3/2015) malam, menyatakan keberatan atas upaya penyitaan mobil Sutan Bhatoegana.

Menurut advokat Razman Arif Nasution, KPK tidak menghormati proses praperadilan yang diajukan kliennya ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.

"Lho, kan ini ada proses praperadilan. Dalam kepentingan apa Anda menyita Alphard? Kemarin sudah ada penyitaan rumah beberapa kali. Ini Alphard mau diambil," tukas advokat Razman Arif Nasution.

Pengacara Razman Arif Nasution menduga penyitaan mobil Sutan Bhatoegana karena pihaknya menolak diajak bersekongkol dengan penyidik KPK. Ia menuduh ada seorang penyidik KPK yang ingin membarter penyitaan aset Sutan Bhatoegana dengan pengajuan praperadilan. Menurut dia, ada seorang penyidik KPK yang ingin membarter penyitaan aset Sutan Bhatoegana dengan pengajuan praperadilan.

"Ada orang mengaku dari KPK bicara dengan teman Sutan. Dia bilang kalau Sutan tidak kooperatif, maka disita Alphard dan rumah. Ternyata, kooperatif yang mereka maksudkan harus dengan tidak mengajukan praperadilan. Ada bujukan-bujukan itu," urai advokat Razman Arif Nasution.

Sutan Bhatoegana ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK dalam kasus dugaan penerimaan hadiah atau gratifikasi terkait pembahasan penetapan anggaran Anggaran Pendapatan Belanja Negara Perubahan (APBNP) tahun 2013 Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) di Komisi VII DPR RI pada Rabu (14/5/2014) saat masih menjabat sebagai Ketua Komisi VII DPR RI.

Politikus Partai Demokrat (PD) ini, Sutan Bhatoegana dijerat dengan Pasal 12 huruf a atau Pasal 12 huruf b atau Pasal 11 dan Pasal 12 B Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Dalam amar putusan mantan Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) juga mantan Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) pada Kabinet Indonesia Bersatu jilid II, Prof. Dr-Ing. Ir. Rudi Rubiandini R.S. (R.R), Majelis Hakim menyebutkan, Rudi Rubiandini pernah menyerahkan US$ 200.000 kepada Sutan Bhatoegana. Uang itu merupakan bagian dari suap yang diberikan oleh Komisaris Kernel Oil Pte. Ltd. (KOPL), Simon Gunawan Tanjaya, kepada Rudi Rubiandini. Suap diberikan Simon Gunawan Tanjaya melalui pelatif golf pribadi Rudi Rubiandini, Deviardi alias Ardi. (kom/jos)

See Also

Keterangan Ahli Di Sidang Praperadilan Terkait Eksekusi Penahanan Matheus Mangentang
Peras Mantan Petinggi Polri, Hukuman Sisca Dewi Diperberat
LBH Ansor Jateng Apresiasi Penangkapan Cepat Polres Kebumen Terhadap Pelaku Kekerasan Seksual
Kapolres Bitung Perintahkan Pelaku Kejahatan Ditembak Di Tempat
Reserse Polres Bitung Bekuk Residivis Sadis Pembegal Motor
Satuan Reskrim Polres Bitung Tangkap Dua Tersangka Curanmor
Mahasiswa Unesa Sorot Penggunaan Dana Pembelian Mebel Di Kampus
KPK Tetapkan Dirut PT. Rohde And Schwarz Indonesia Sebagai Tersangka
KPK Akan Segera Periksa Saksi Dan Tersangka Suap KONI
KPK Cekal Robert Tantular Ke Luar Negeri
Tim Resmob Dan Tarsius Bitung Lumpuhkan Pencuri Kambuhan
Mahkamah Agung Hukum Alfian Tanjung 2 Tahun Penjara
Polda Jatim Duga Ada Kesalahan Teknis Proyek Berujung Jalan Gubeng Ambles
KPAI Apresiasi Langkah Cepat Polri Proses Bahar Bin Smith
Polri Sebut Penahanan Tersangka Bahar Bin Smith Murni Kasus Hukum
Polri Koordinasi Dengan LPSK Amankan 2 Remaja Korban Bahar Bin Smith
Usai OTT KPK, Kemenpora Lanjutkan Program SEA Games-Olimpiade
KPK Sita Miliaran Rupiah Terkait OTT Pejabat Kemenpora Dan KONI
Polri Kantongi Bukti Penganiayaan Oleh Bahar Bin Smith
KPK OTT Pejabat Kemenpora Dan Pengurus KONI
Polres Metro Jakarta Selatan Buru Pembunuh Perempuan Muda Di Kebagusan City
Pembunuh Keji Sopir Taksi Online Divonis 10 Tahun Penjara
Uang Pengganti E-KTP, KPK Sita Rp 862 Juta Dari Setya Novanto
Keterangan Ahli Ketua DPD KAI DKI Jakarta Pada Sidang Lanjutan Julius Lobiua
TNI AL Ringkus Pelaku Narkoba Di Tanjung Ahus
jQuery Slider

Comments

Arsip :2019201820172016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 7.542.653 Since: 05.03.13 | 0.1623 sec