Hukum

Polisi Buru Perekrut Anggota ISIS

Tuesday, 17 Maret 2015 | View : 496

JAKARTA-SBN.

Aparat kepolisian Turki menahan 16 WNI karena mencoba menggunakan jalur penyeberangan yang sering digunakan simpatisan atau militan kelompok radikal kelompok militan Negara Islam atau Islamic State (IS) atau The Islamic State of Iraq and the Levant (ISIL) atau Islamic State of Iraq and Syria atau Islamic State of Iraq and al-Sham (ISIS) yang lebih dikenal dengan Islamic State (IS).

Pemerintah Indonesia terus menyelidiki siapa penyandang dana 16 WNI yang diamankan di perbatasan Syria, karena diduga hendak bergabung dengan kelompok militan ISIS. 

Informasi yang dihimpun, sebagian besar dari WNI tersebut adalah anak-anak dan perempuan, serta berasal dari beberapa wilayah Pulau Jawa. Mereka adalah, RAS istri dari AH, kemudian QMH, NS, JFN, IW, AN, AR dan AU yang semuanya merupakan anak AH. 

Selain itu ada TNM istri dari H seorang terduga teroris yang meninggal dunia di Tulunggagung, serta SHK anak H. Berikutnya ada DS asal Ciamis,  Jawa Barat, IS istri DS, I dan AM anak DS. Kemudian, ada AY asal Bandung, Jabar, MIR asal Ciamis.

Keenam belas orang ini berbeda dengan 16 WNI yang diberitakan hilang sebelumnya dan kini keberadaannya belum diketahui. 16 WNI tersebut dikabarkan menghilang saat berlibur ke Turki, pada akhir Februari 2015 lalu. 16 WNI berangkat ke Turki untuk melakukan wisata religi pada hari Rabu (25/2/2015) silam. Namun, di tengah rangkaian perjalanan, 16 WNI tersebut memisahkan diri dari rombongan. 16 orang tersebut dikabarkan memisahkan diri dari rombongan turnya dan berjanji akan kembali pada waktu kepulangan ke Indonesia.

Berembus kabar, 16 WNI tersebut bergabung dengan ISIS. Mengingat, Turki adalah pintu gerbang termudah untuk masuk ke Suriah ataupun Irak yang merupakan basis dari ISIS. Pemerintah mengatakan, 16 WNI tersebut diduga kuat ingin menyeberang ke Syria melalui perbatasan Turki untuk bergabung dengan ISIS.

Wakapolri, Komjen Pol. Drs. Badrodin Haiti, mengungkapkan donatur yang terdeteksi membiayai sejumlah Warga Negara Indonesia (WNI) yang hilang di Turki, terindikasi terlibat jaringan terorisme.

Namun, Wakapolri Komjen Pol. Drs. Badrodin Haiti enggan mengungkapkan lebih jauh perihal dugaan tersebut. Komjen Pol. Drs. Badrodin Haiti beralasan informasi terkait soal itu masih didalami, sehingga belum bisa diungkapkan.

"Itu kan (donatur jaringan terorisme) harus kita klarifikasi. Informasi seperti itu memang ada, tetapi, saya tidak mau sampaikan dulu, karena nanti yang dari sana itu siapa orangnya apakah terkait jaringan terorisme atau tidak," urai Komjen Pol. Drs. Badrodin Haiti usai menghadiri acara peringatan hari jadi ke-28 Harian Umum Suara Pembaruan di Candi Bentara Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Minggu (15/3/2015).

Badrodin hanya mengatakan bahwa dugaan tersebut dilatarbelakangi adanya informasi bahwa dari 16 WNI yang diamankan di perbatasan Turki tersebut berangkat tanpa suami atau kepala keluarga. Sehingga, menimbulkan kecurigaan ada yang membiayai.

"Saya lihat ada beberapa keluarga itu tidak ada lakinya. Apakah lakinya sudah disana atau suaminya sudah disana atau tidak. Nah, kalau yang tidak di sana, motifnya apa? Itu kan yang harus kita selidiki dulu, motifnya itu. Sebab, kalau disana hanya untuk mencari suatu penghidupan yang lebih baik, kan boleh-boleh saja," ungkapnya.

Lebih lanjut, Komjen Pol. Drs Badrodin Haiti mengatakan bahwa kasus pembiayaan 16 WNI tersebut adalah kasus yang pertama terjadi. Sehingga, akan didalami lebih lanjut.

Bahkan, Komjen Pol. Drs. Badrodin Haiti mengaku telah mengirim tim khusus bersama dengan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) ke Turki untuk mendalami kasus 16 WNI yang berusaha menyeberang ke Suriah tersebut.

Menurut Kabag Penum Mabes Polri Kombes Pol. Rikwanto 16 WNI yang sudah diamankan pemerintah Turki, diduga hendak bergabung dengan militan ISIS dan masuk lewat perbatasan antara Turki dan Suriah. "Namun, keburu diamankan pihak keamanan Turki," tegas Kombes Pol. Rikwanto, Senin (16/3/2015).

Dia mengatakan, dari pihak Indonesia pada Jumat telah memberangkatkan tim dari BNPT, Densus 88, Kemenlu, BIN, untuk mengidentifikasi. "Setelah itu dilakukan penyelidikan tentang mengapa di sana, darimana berangkatnya, siapa sponsor dan akan apa di sana," bebernya.

Mantan Wakapolwil Banyumas ini menjelaskan, tim yang berangkat ke sana ditugaskan untuk melakukan pengecekan terhadap 16 WNI yang sudah diamankan.

Sedangkan untuk 16 WNI lain yang memisahkan diri dari kelompok tur ke Turki, masih belum diketahui keberadaannya. "Yang mencari juga belum menemukan," papar mantan Kabid Humas Polda Metro Jaya itu.

Isu WNI yang bergabung dengan ISIS melalui Turki juga memancing reaksi Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) di negeri itu.

Hal tersebut seiring dengan munculnya pemberitaan bahwa mahasiswa Indonesia turut membantu WNI yang bergabung dengan ISIS.

”Pemberitaan beberapa media di tanah air yang menerangkan bahwa para pelajar Indonesia di Turki membantu WNI untuk bergabung bersama ISIS tidaklah benar. Kami adalah generasi muda bangsa yang tumbuh dengan rasa kebangsaan dan nasionalisme yang kuat. Kami jamin bahwa pelajar Indonesia di Turki menjunjung tinggi nilai-nilai Pancasila dan UUD 1945 sebagai pedoman berkehidupan,” ungkap Ketua PPI Turki Muhammad Rizky Noviyanto.

Dia menegaskan, visi PPI Turki sangat bertentangan dengan ISIS. Bahkan, mereka ikut mendukung Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) untuk mencegah upaya ekstrem yang mengganggu aktivitas pelajar di Turki.

”Kondisi negara Turki saat ini masih aman dan kondusif untuk mendukung aktivitas belajar dan keperluan wisata. Kami juga tetap melakukan aktivitas seperti biasa. Sehingga diharapkan keluarga maupun kerabat di tanah air tidak khawatir,” ucap dia.

Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) bakal membantu kepolisian menyelidiki donatur 16 warga negara Indonesia yang berangkat ke Syria untuk bergabung dengan kelompok militan ISIS.

"PPATK tentu siap membantu Polri untuk menelusuri aliran dana para terduga teroris termasuk pihak yang membiayai," kata Wakil Ketua PPATK Agus Santoso kepada wartawan di Jakarta, Minggu (15/3/2015).

Menurutnya, berdasarkan Undang-Undang Nomor 9/2013 tentang Anti Pendanaan Terorisme, perbuatan yang mendukung sokongan dana aktivitas terorisme dikategorikan sebagai delik kejahatan dan diancam pidana penjara.

Selain itu, sesuai Pasal 2 Undang-Undang TPPU Nomor 8/2010, terorisme adalah tindak pidana asal dari tindak pidana pencucian uang. Sehingga penelusuran aliran dana teroris adalah merupakan tugas PPATK.

"Selama ini pun PPATK dan Polri serta Densus 88 selalu bekerja sama dengan efektif untuk membongkar jaringan teroris melalui upaya penelusuran aliran dana. Karena metode follow the money merupakan  cara efektif," beber Agus Santoso.

See Also

Keterangan Ahli Di Sidang Praperadilan Terkait Eksekusi Penahanan Matheus Mangentang
Peras Mantan Petinggi Polri, Hukuman Sisca Dewi Diperberat
LBH Ansor Jateng Apresiasi Penangkapan Cepat Polres Kebumen Terhadap Pelaku Kekerasan Seksual
Kapolres Bitung Perintahkan Pelaku Kejahatan Ditembak Di Tempat
Reserse Polres Bitung Bekuk Residivis Sadis Pembegal Motor
Satuan Reskrim Polres Bitung Tangkap Dua Tersangka Curanmor
Mahasiswa Unesa Sorot Penggunaan Dana Pembelian Mebel Di Kampus
KPK Tetapkan Dirut PT. Rohde And Schwarz Indonesia Sebagai Tersangka
KPK Akan Segera Periksa Saksi Dan Tersangka Suap KONI
KPK Cekal Robert Tantular Ke Luar Negeri
Tim Resmob Dan Tarsius Bitung Lumpuhkan Pencuri Kambuhan
Mahkamah Agung Hukum Alfian Tanjung 2 Tahun Penjara
Polda Jatim Duga Ada Kesalahan Teknis Proyek Berujung Jalan Gubeng Ambles
KPAI Apresiasi Langkah Cepat Polri Proses Bahar Bin Smith
Polri Sebut Penahanan Tersangka Bahar Bin Smith Murni Kasus Hukum
Polri Koordinasi Dengan LPSK Amankan 2 Remaja Korban Bahar Bin Smith
Usai OTT KPK, Kemenpora Lanjutkan Program SEA Games-Olimpiade
KPK Sita Miliaran Rupiah Terkait OTT Pejabat Kemenpora Dan KONI
Polri Kantongi Bukti Penganiayaan Oleh Bahar Bin Smith
KPK OTT Pejabat Kemenpora Dan Pengurus KONI
Polres Metro Jakarta Selatan Buru Pembunuh Perempuan Muda Di Kebagusan City
Pembunuh Keji Sopir Taksi Online Divonis 10 Tahun Penjara
Uang Pengganti E-KTP, KPK Sita Rp 862 Juta Dari Setya Novanto
Keterangan Ahli Ketua DPD KAI DKI Jakarta Pada Sidang Lanjutan Julius Lobiua
TNI AL Ringkus Pelaku Narkoba Di Tanjung Ahus
jQuery Slider

Comments

Arsip :2019201820172016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 7.502.215 Since: 05.03.13 | 0.111 sec