Internasional

Polisi Diraja Malaysia Periksa Putri Anwar Ibrahim

Tuesday, 17 Maret 2015 | View : 1234

KUALA LUMPUR-SBN.

Polisi Diraja Malaysia menangkap Nurul Izzah Anwar, Wakil Presiden Partai Keadilan Rakyat dan putri sulung dari pemimpin oposisi Malaysia, Anwar Ibrahim, Senin (16/3/2015).

Polisi Malaysia menangkap putri sulung Anwar Ibrahim, Nurul Izzah, Senin (16/3).

Perempuan 34 tahun itu ditangkap saat akan memberi kesaksian tentang unjuk rasa Kita Lawan beberapa waktu lalu. Tetapi, aparat di kantor polisi Dang Wangi justru langsung menahannya.

’’Saya sangat marah. Demikian juga seharusnya kita. Sebab, sebagai anggota parlemen, saya berhak mengkritik pemerintah dengan bebas,’’ ujar Nurul.

- See more at: http://www.jpnn.com/index.php?mib=berita.detail&id=292797#sthash.vTzc391Q.dpuf

Nurul Izzah, putri tertua Anwar Ibrahim, tokoh oposisi Malaysia, ditahan karena dianggap melakukan penghasutan setelah dalam pidatonya di Parlemen mengkritik hukuman penjara yang dijatuhkan untuk ayahnya. Perempuan 34 tahun itu ditangkap saat akan memberi kesaksian tentang unjuk rasa Kita Lawan beberapa waktu lalu.

Tetapi, aparat di kantor polisi Dang Wangi justru langsung menahannya. Dia ditangkap berdasarkan Undang-undang hasutan terkait komentar yang disampaikannya mengenai peradilan di Parlemen.

Saat ini aktivis oposisi yang juga anggota Parlemen tersebut mendekam di tahanan. Polisi terpaksa menahan ibu dua anak itu untuk keperluan penyelidikan. Nurul Izzah ditahan dengan tuduhan menghasut rakyat agar berani melawan pemerintah.

Nurul Izzah (34), merupakan anggota parlemen dan sosok populer di Malaysia, memastikan penahanan dirinya kepada AFP lewat telepon, Senin (16/3/2015).

Nurul Izzah menjadi tokoh terakhir yang ditahan Pemerintah Malaysia dengan tuduhan penghasutan. Selama setahun terakhir puluhan orang ditahan dan dipenjarakan, termasuk beberapa tokoh oposisi, dengan tuduhan melakukan penghasutan.

Berbicara kepada AFP melalui sambungan telepon, "Saya sangat marah, dan demikian juga kita semua seharusnya (marah), karena sebagai anggota Parlemen, saya seharusnya berhak untuk mengkritik Pemerintah dengan bebas sepanjang hari tanpa pembalasan," cetus Nurul Izzah, yang belum lama ini memimpin aksi unjuk rasa menentang hukuman untuk Anwar Ibrahim.

Pekan lalu, mantan anggota Parlemen Zulkifili Noordin mengajukan laporan polisi terhadap Nurul Izzah karena membuat komentar yang diduga menghina dan menghasut mengenai pelaksanaan Pengadilan selama persidangan ayahnya. Nurul Izzah telah membacakan sebagian dari pernyataan Anwar Ibrahim di Parlemen, di mana ia mempertanyakan independensi peradilan Malaysia.

Sebuah pernyataan pers yang disampaikan oleh Inspektur Jenderal Polisi Malaysia mengatakan Nurul Izzah ditangkap berdasarkan Undang-Undang hasutan untuk membantu penyelidikan polisi mengenai "Kita Lawan Demo" dan terkait   "pernyataan menghina" bahwa mereka yang berada dalam sistem peradilan telah "menjual jiwa mereka kepada setan."

Dia menambahkan bahwa Nurul Izzah akan dilepaskan setelah pernyataannya dicatat atau didokumentasikan oleh polisi.

Penangkapan dan penahanan Nurul Izzah tersebut jelas memantik murka keluarga besar Anwar Ibrahim. "Ini bentuk intimidasi dan penyalahgunaan kekuasaan oleh kepolisian," tukas Nurul Nuha, putri kedua Anwar Ibrahim.

Nurul Nuha menyayangkan sikap arogan polisi Dang Wangi yang menangkap Nurul Izzah ketika mendatangi kantornya di pusat ibu kota. Menurut kabar, Nurul Izzah akan mendekam di tahanan selama dua pekan.

"Kami tetap bertahan pada pendirian kami bahwa penangkapan ini tak sah dan bertentangan dengan konstitusi," tegas Nurul Nuha membacakan surat berisi sikap keluarga Anwar Ibrahim terhadap penangkapan dan penahanan Nurul Izzah.

Dia lantas menuntut polisi segera membebaskan kakaknya. Sebab, tidak ada alasan hukum yang kuat untuk menahan politikus vokal itu sampai dua pekan.

Sikap yang sama ditunjukkan Partai Keadilan Rakyat. "Penangkapan ini sangat janggal dan konyol," ungkap Fahmi Fadzil, Kepala Humas partai. Sebagai anggota Parlemen, menurut dia, Nurul Izzah punya imunitas politik.

Seharusnya dia tidak ditangkap meski melontarkan kritik pedas kepada Pemerintah. Apalagi, pekan lalu, Nurul Izzah menyampaikan kritik melalui pidato di Gedung Parlemen.

Meski menyebut pidato Nurul Izzah sebagai alasan penangkapan, polisi tidak mau memerinci tudingannya. Aparat juga tidak menyebutkan bagian pidato mana yang berisi hasutan. Wajar jika Fahmi Fadzil menyebut aksi penangkapan dan penahanan Nurul Izzah itu hanyalah cara baru Pemerintah untuk membungkam suara oposisi. Sebab, sejak Anwar Ibrahim masuk penjara, oposisi tidak berhenti menuntut kebebasan tokoh 67 tahun tersebut.

Dalam pernyataannya, polisi menegaskan bahwa penahanan Nurul Izzah itu tidak bersangkut paut dengan aktivitas unjuk rasa sejak bulan lalu. Menurut kabar, alumnus Johns Hopkins University tersebut ditangkap lantas ditahan karena pidatonya di parlemen pekan lalu.

Saat itu dia mengkritik pemerintahan Perdana Menteri (PM) Najib Razak terkait dengan vonis bersalah terhadap sang ayah.

Pemerintah Gedung Putih Amerika Serikat (AS) mengatakan pihaknya "sangat prihatin" dengan penahanan putri sulung pemimpin oposisi Malaysia Anwar Ibrahim.

Washington menyatakan keprihatinannya atas penahanannya kepada pemerintah Malaysia, kata Juru Bicara Departemen Luar Negeri Jen Psaki.

Nurul Izzah, putri sulung pemimpin oposisi Malaysia Anwar Ibrahim, yang juga menjadi anggota Parlemen ditahan di penjara berdasarkan Akta Hasutan terkait pernyataan di Parlemen yang mengkritik Badan Kehakiman.

Nurul Izzah ditahan karena pernyataannya di parlemen pekan lalu setelah kasasi ayahnya, Datuk Seri Anwar Ibrahim, ditolak oleh Mahkamah Persekutuan pada 10 Februari lalu sehingga ia dimasukkan ke penjara dalam kasus sodomi.

"Dalam ucapan Nurul Izzah telah mengkritik badan kehakiman dalam kasus Datuk Seri Anwar Ibrahim dan lain sebagainya. Bagi saya, itu tidak boleh dianggap sebagai kesalahan. Itulah hak seorang anggota parlemen untuk berbicara tentang isu-isu kepentingan negara, termasuk kasus yang sangat penting untuk negara kita," jelas Sivarasa Rasiah.

Sebelumnya Nurul Izzah telah dijadwalkan akan dimintai keterangan oleh polisi terkait unjuk rasa akhir kubu oposisi pada 7 Maret di Kuala Lumpur untuk menyerukan pembebasan ayahnya, namun perkara yang menjadikannya ditahan adalah ucapannya di parlemen.

Pada 10 Februari lalu, Pengadilan memutuskan Anwar Ibrahim bersalah dalam kasus sodomi yang juga melibatkan mantan ajudannya pada 2008. Pengadilan menjatuhkan hukuman penjara lima tahun untuk tokoh oposisi itu.

Anwar Ibrahim, yang tak menerima tuduhan tersebut, menyebut hukuman yang dijatuhkan kepadanya adalah sebuah konspirasi politik oleh kelompok koalisi yang berkuasa sejak 1957. Konspirasi itu, menurut Anwar Ibrahim, dirancang untuk menghancurkan perolehan suara oposisi yang semakin signifikan.

Pemerintah Malaysia sebelumnya telah memperingatkan bahwa mengkritik proses hukum yang menjerat Anwar Ibrahim bisa dianggap melakukan penghasutan.

Kelompok oposisi menilai kasus sodomi adalah proses panjang yang dilakukan untuk menyingkirkan Anwar Ibrahim, yang ditendang dari partai berkuasa pada akhir 1990-an.

Dalam berbagai kesempatan, para pejabat Malaysia menegaskan sidang kasus sodomi Anwar Ibrahim telah berlangsung adil dan membantah tudingan bahwa kasus itu dilatarbelakangi faktor politik.

PM Najib Razak pada 2012 pernah menjanjikan akan menghapuskan Undang-undang Anti-pengghasutan warisan penjajah Inggris.

Namun, setelah koalisi berkuasa kehilangan banyak suara pada pemilu 2013, para pengkritik Pemerintah kembali menjadi sasaran hukum.

Pada November 2013, PM Najib Razak justru mempertahankan bahkan memperkuat Undang-undang anti-penghasutan.

Dikabarkan sebelumnya, tokoh oposisi Malaysia, Anwar Ibrahim (67), kembali menghadapi prahara ketika upaya bandingnya ditolak Mahkamah Agung Malaysia.

Maret tahun 2014, Anwar Ibrahim divonis penjara 5 tahun atas tuduhan menyodomi mantan asisten prianya oleh pengadilan tingkat kedua. Anwar Ibrahim bersikeras, tuduhan dan hukuman atas dirinya itu bermotif politik. Ia menegaskan, apa yang dialaminya itu berawal dari konspirasi politik untuk menghentikan karier politiknya.

Memang, dengan keputusan Mahkamah Agung (MA) Malaysia itu, Anwar Ibrahim harus menjalani hukuman penjara selama 5 tahun, yang sekaligus mengakhiri karier politiknya.

Ini bukan kasus sodomi pertama yang dituduhkan kepada Anwar Ibrahim. Kasus sodomi pertama dituduhkan tidak lama setelah ia digulingkan dari kursi Wakil Perdana Menteri (PM) Malaysia pada 1998 karena pertikaiannya dengan PM Malaysia Mahathir Mohamad.

Langkahnya sebagai tokoh oposisi terhenti ketika pengadilan memvonisnya dengan hukuman penjara 6 tahun karena kasus sodomi ditambah kasus korupsi. Tahun 2004, ia dibebaskan dan kembali memimpin koalisi oposisi.

Tahun 2008, Anwar Ibrahim kembali dituduh menyodomi mantan asistennya. Proses pengadilan terhadap Anwar Ibrahim itu cukup panjang dan melelahkan. Meskipun demikian, kelompok oposisi yang dipimpinnya sukses dalam meraih suara signifikan pada dua pemilihan umum Malaysia, tahun 2008 dan 2013. Akibatnya, dominasi partai-partai penguasa, yang bergabung dalam Barisan Nasional, mengalami kemunduran.

Tahun 2012, hakim di pengadilan tingkat pertama membebaskan Anwar dari segala tuduhan sodomi itu karena dianggap tidak cukup bukti. Namun, pemerintah melakukan banding ke MA Malaysia, dan hasilnya bertolak belakang. Hukuman penjara 5 tahun terhadap Anwar Ibrahim dikukuhkan karena dianggap bersalah.

Keputusan MA itu memicu protes, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Orang-orang mulai bertanya-tanya, jangan-jangan argumen Anwar Ibrahim bahwa tuduhan dan hukuman terhadap dirinya itu memang bermotif politik.

Di negara berkembang, trias politika, atau pemisahan antara kekuasaan eksekutif, legislatif, dan yudikatif, tidak pernah benar-benar diterapkan. Kekuasaan eksekutif itu demikian besar sehingga pemerintah praktis dapat melaksanakan apa saja. Apa yang terjadi di Malaysia dan banyak negara berkembang lain menunjukkan hal itu.

Anwar Ibrahim sepenuhnya sadar, jika dirinya ingin berkiprah di panggung politik Malaysia, itulah harga yang harus dibayarnya. Anwar Ibrahim yakin, apa yang dilakukannya itu adalah satu-satunya jalan yang harus ditempuh untuk melakukan perubahan. (afp)

See Also

Boris Johnson Terpilih Sebagai PM Inggris Baru
Menlu Inggris Ancam Iran
Laut China Selatan Tegang
Presiden AS Pecat Direktur Dinas Rahasia
Kapal China Dekati Pulau Filipina
Thailand Dilanda Badai Pabuk
Warga Kelas Menengah Australia Akan Kian Sulit Dapat Kredit Perumahan
Donald Trump Kunjungi Militer AS Di Irak
Kota Surabaya Raih Guangzhou Awards 2018
Teleskop NASA Temukan 2 Planet Baru
Najib Razak Ditahan SPRM
Mantan PM Malaysia Ditahan
Najib Razak Ditahan KPK Malaysia
Turki Adakan Pemilu Hari Ini
Arab Saudi Resmi Mencabut Larangan Perempuan Menyetir
Gempa Guncang Osaka
Amerika Serikat Keluar Dari Dewan HAM PBB
Suriah Berhasil Usir ISIS
Kementerian Pertanian Cegah Rock Melon Australia Masuk Indonesia
Perwakilan Nahdlatul Ulama Dan Wahid Foundation Temui Dubes Amerika Serikat
Polri Benarkan Penangkapan WNI Isteri Tokoh ISIS Marawi
Sultan Selangor Kecewa Terhadap Mahathir Mohamad Soal Bugis
China Meminjamkan Sepasang Panda Ke Indonesia
Spanyol Buru Sopir Pelaku Teror Di Barcelona
Serangan Teror Di Barcelona
jQuery Slider
Arsip :2019201820172016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 7.503.300 Since: 05.03.13 | 0.1261 sec