Hukum

Polda Lampung Minta Maaf Ke Wartawan Tribunnews

Friday, 06 Maret 2015 | View : 1031

BANDAR LAMPUNG-SBN.

Jajaran Direktorat Narkoba Polda Lampung menemui pimpinan Tribun Lampung, Kamis (5/3/2015).

Direktorat Narkoba Polda Lampung mendatangi Kantor Tribun Lampung untuk meminta maaf terkait salah menangkap bandar narkoba.

Direktorat Narkoba Polda Lampung meminta maaf terkait tindakan anggota yang melakukan salah tangkap terhadap wartawan Tribun.

Yang ditangkap adalah wartawan Tribun Lampung, Ridwan Hardiansyah. Padahal, Ridwan Hardiansyah sama sekali tak tersangkut dengan kasus itu.

Aksi brutal polisi dalam operasi salah tangkap terhadap wartawan Tribun Lampung, Ridwan Hardiansyah, Rabu (4/3/2015) lalu, berujung permohonan maaf. Polda Lampung diwakili jajaran Direktorat Narkoba mendatangi kantor Tribun Lampung, Kamis (5/3/2015).

"Secara jantan kami meminta maaf atas tindakan anggota kami. Kami akan serahkan kasus ini ke Propam (Profesi dan Pengamanan) Polda untuk menyidik anggota kami yang berbuat di luar batas," kata Direktur Narkoba Polda Lampung, Komisaris Besar Polisi (Kombes Pol.) Edi Swasono di Kantor Tribun Lampung, Kamis (5/3/2015).

Menurut Direktur Narkoba Polda Lampung, Komisaris Besar Polisi (Kombes Pol.) Edi Swasono, anggotanya tidak mengolah dengan matang informasi yang diterima.

Ia menduga, jajarannya terpengaruh euforia setelah menangkap bandar narkoba di Lampung beberapa hari sebelumnya.

Ditanya bagaimana nama wartawan Ridwan Hardiansyah bisa dicatut dalam kasus itu, Kombes Pol. Edi Swasono mengatakan, ada informasi yang masuk terkait jaringan pengedar narkoba.

Namun, ia enggan merinci siapa dan bagaimana informasi itu.

Kombes Pol. Edi Swasono juga membantah kasus yang menimpa Ridwan Hardiansyah adalah hasil pengembangan kasus penggerebekan mantan wartawan media lokal di Lampung, Jumat (27/2/2015) lalu.

Kombes Pol. Edi Swasono mengakui ada kesalahan teknis yang dilakukan anggotanya saat penggerebekan di rumah Ridwan Hardiansyah. "Anggota sudah membawa surat. Namun, ada perilaku anggota yang tak tepat sehingga menyinggung wartawan Tribun," ungkapnya.

Kunjungan dan permohonan maaf dari jajaran Direktorat Narkoba Polda Lampung tersebut langsung disambut dan diterima oleh Pemimpin Redaksi Tribun Lampung, Andi Asmadi.

Andi Asmadi menuturkan, pihaknya menyayangkan tindakan anggota kepolisian terhadap salah satu awak wartawannya. "Sejak awal kami menyayangkan tindakan anggota Kepolisian terhadap wartawan kami. Dia bukan tersangka," tukas Andi Asmadi.

"Prosedur penangkapan ini tidak sesuai. Wartawan kami ini bukan tersangka. Dia juga tidak terjaring operasi tangkap tangan. Dia juga tak terbukti memiliki atau menggunakan narkoba. Namun, kenapa diperlakukan seperti itu?" urai Pemimpin Redaksi Tribun Lampung, Andi Asmadi.

Dengan pertemuan ini, Polda Lampung dan Tribun sepakat tidak memperpanjang masalah ini.

Wartawan Tribun Lampung, Rd, menjadi korban salah tangkap oknum polisi. Ridwan Hardiansyah dituduh terlibat dalam kasus narkoba yang menyeret oknum wartawan. Ridwan Hardiansyah digerebek di kediamannya di Tanjungkarang, Bandar Lampung, Rabu (4/3/2015) siang. Dalam pengakuannya, ia sempat mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari lima orang polisi berpakaian preman yang menyatroni rumahnya.

Ridwan Hardiansyah, wartawan Harian Tribun Lampung yang mendapatkan perlakuan semena-mena berupa upaya penangkapan dan penggeledahan di rumahnya di Bandar Lampung, Rabu (4/3/2915) siang oleh oknum polisi, akhirnya melaporkan kejadian itu ke Bidang Profesi dan Pengamanan (Propam) Polda Lampung.

Pengaduan Ridwan Hardiansyah itu, didampingi sejumlah pengacara dari kantor LBH Bandarlampung, beserta pengurus AJI Bandar Lampung dan perwakilan pengurus AJI Indonesia maupun AJI Wilayah Sumatera di Lampung. Sejumlah aktivis dan wartawan ikut mendampingi hingga selesai pelaporan ke Bidang Propam dan berlanjut ke Provost Polda Lampung yang berlangsung hingga menjelang maghrib.

Menurut Ridwan Hardiansyah, didampingi anggota tim pengacaranya, Anggit Nugroho dari LBH Bandar Lampung dan Ketua AJI Bandar Lampung Yoso Muliawan serta M. Yunus dari Komite Antikorupsi (KoAK) Lampung, pelaporan itu dimaksudkan agar petugas kepolisian yang melakukan tindakan penggeledahan dan upaya penangkapan terhadap dirinya secara semena-mena dapat diproses hukum lebih lanjut.

Ketua AJI Bandar Lampung Yoso Muliawan menjelaskan bahwa pelaporan ke Propam Polda Lampung Nomor: STPL/B-12/III/2015/Yanduan itu bertujuan dapat memberikan efek jera kepada pihak kepolisian yang telah melakukan tindakan tidak prosedural dalam proses penggeledahan dan upaya penangakapan di rumah Ridwan Hardiansyah, Jalan Abdul Mutholib Gedung Air, Bandarampung, Rabu (4/3/2015) siang.

Menurut Ketua AJI Bandar Lampung Yoso Muliawan, apabila tindakan kepolisian yang sewenang-wenang itu tidak dilaporkan, maka hal serupa akan dapat terulang lagi di masa mendatang.

Pihaknya juga mendesak pihak kepolisian memproses pengaduan tersebut dan memberikan sanksi kepada petugas kepolisian yang melakukan tindakan tidak sesuai prosedur dan menyalahi aturan seperti itu.

Dalam pengaduan itu, Ridwan Hardiansyah antara lain menuturkan kronologis kejadian dialaminya, termasuk mengungkapkan tindakan yang tidak prosedural telah dilakukan petugas kepolisian yang datang dan menggerebek rumahnya, seperti tidak langsung menunjukkan surat perintah penyelidikan atau penggeledahan rumah.

Menurut Ridwan Hardiansyah, surat tersebut baru diberikan setelah tangannya diborgol secara paksa. Petugas polisi sebanyak lima orang yang mengaku dari Polresta Bandar Lampung dan kemudian diketahuinya pula berasal dari Polda Lampung itu, diadukan tidak persuasif terhadap Ridwan Hardiansyah dan menggunakan cara yang kasar dan semena-mena, meskipun dia sudah mencoba kooperatif.

Anggit Nugroho, Kepala Divisi Advokasi LBH Bandar Lampung yang mendampingi pelaporan Ridwan Hardiansyah, mempertanyakan profesionalitas anggota Polri dalam kejadian dialami Ridwan Hardiansyah. "Kami sangat keberatan atas perlakuan kasar petugas kepolisian itu, termasuk memaksa Ridwan melakukan tes urine di rumahnya itu saat melakukan penggeledahan dan upaya penangkapan. Seharusnya polisi jangan main asal tangkap dan borgol seperti itu," katanya lagi.

Anggit Nugroho minta Kapolda Lampung, Irwasda Polda Lampung, dan jajaran pimpinan Polda Lampung lainnya harus terus memantau penanganan atas perkara yang menunjukkan proses pemborgolan dan salah tangkap oleh jajaran Polda Lampung dengan prosedur hukum yang tidak dijalankan oleh anggota kepolisian sebagaimana mestinya. "Kita tunggu saja proses hukum lebih lanjut, setelah pengaduan ini disampaikan ke Propam dan berlanjut ke Provost Polda Lampung," ujar Anggit Nugroho pula.

Sebelumnya, jajaran Polda Lampung (Direktorat Narkoba dan Humas) beserta Kapolresta Bandar Lampung juga mendatangi kantor Harian Umum Tribun Lampung menyampaikan penjelasan dan permintaan maaf atas kejadian dan perlakuan telah dialami Ridwan Hardiansyah.

Setelah itu, jajaran Direktorat Narkoba Polda Lampung juga mendatangi sekretariat Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bandar Lampung, juga untuk menjelaskan kejadian tersebut, menyampaikan penyesalan atas ulah jajarannya kepada Ridwan Hardiansyah, sekaligus menyampaikan permintaan maaf atas nama pribadi dan institusi Polda Lampung.

Pihak Polda Lampung itu juga mempersilakan Ridwan Hardiansyah bersama AJI Bandarlampung dan pihak lainnya yang tetap ingin mengadukan hal itu ke Propam Polda Lampung. "Kami mempersilakannya, dan kami pasti akan menindak jajaran yang bersalah dalam persoalan ini," ujar Wadir Reserse Narkoba Polda Lampung AKBP Yani Sudarto, didampingi Kasubdit III Polda Lampung AKBP Ahmad Zulfikar, saat menyambangi sekretariat AJI Bandar Lampung itu pula.

AKBP Yani Sudarto menegaskan pihaknya meminta maaf kepada Ridwan Hardiansyah dan keluarga, juga organisasi AJI Bandar Lampung. Menurutnya, dari kejadian itu, Polda Lampung akan melakukan evaluasi dan pembenahan ke dalam serta mengakui tindakan petugasnya yang melakukan penangkapan dan penggeledahan itu adalah kesalahan anggota reserse Narkoba Polda Lampung.

Sejumlah wartawan dan beberapa elemen masyarakat Lampung juga menggelar aksi demo di Tugu Adipura Bandar Lampung menyikapi kejadian buruk dialami Ridwan Hardiansyah itu, mengecam tindakan kepolisian dan menuntut pertanggungjawaban atas kejadian tersebut. "Kami akan terus kawal penanganan kasus ini, dan akan terus memantau perkembangan pengaduan yang sudah disampaikan," ujar Yoso Muliawan, Ketua AJI Bandarlampung menegaskan lagi.

Kapolda Lampung Brigjen Pol Heru Winarko, Jurnalis Tribun Ridwan Hardiansyah, dan Ketua AJI Bandar Lampung Yoso Muliawan dalam pertemuan di Markas Polda Lampung, Jumat (6/3/2015).

Kapolda Lampung mengakui ada kesalahan prosedur saat petugasnya saat menggeledah dan memeriksa Jurnalis Tribun Lampung, Ridwan Hardiansyah pada Rabu (4/3/2015).

Kapolda Lampung Brigjen Pol. Heru Winarko menyampaikan hal tersebut dalam silaturahmi dengan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bandar Lampung, Ikatan Jurnalistik Televisi Indonesia (IJTI) pengurus daerah (Pengda) Lampung, dan berbagai jurnalis media massa cetak dan elektronik di Markas Polda Lampung, Jumat (6/3/2015).

Acara dihadiri Wakapolda Lampung, Irwasda, Kabid Propam, Direktur Reserse Kriminal Umum, Direktur Intel Keamanan, Kabid Humas, serta Pemimpin Redaksi Lampung Post Iskandar Zulkarnain.

Brigjen Pol. Heru Winarko mengungkapkan dirinya tidak pernah memerintahkan anggotanya untuk melakukan kekerasan.

Terkait penangkapan terhadap Ridwan Hardiansyah, yang juga jurnalis Tribun Lampung ini, Brigjen Pol. Heru Winarko mengakui hal itu adalah salah tangkap dari anggota reserse narkoba Polda Lampung. "Saya akan tegas kepada anggota yang tidak menjalankan tugasnya secara profesional," tegas Brigjen Pol. Heru Winarko.

Ridwan Hardiansyah yang juga sekretaris AJI Bandar Lampung didatangi sejumlah polisi berpakaian preman di rumahnya di Tanjungkarang Barat, Rabu (4/3/2015). Ridwan Hardiansyah digerebek saat berada di kediamannya di Tanjungkarang Barat, Rabu (4/3/2015) siang.

Ia mengatakan mendapat perlakuan tidak mengenakkan dari lima polisi berpakaian preman yang menyatroni rumahnya.

Dia langsung diborgol bahkan diancam akan ditembak saat polisi menggeledah rumahnya atas tuduhan menjadi tempat transaksi narkoba. "Saya sempat dibekap, diborgol, dan diancam akan ditembak. Jujur, sampai sekarang saya trauma, sampai sekarang saya takut pulang ke rumah. Sekarang yang terpenting keselamatan istri dan anak saya," tutur Ridwan Hardiansyah.

Setelah menggeledah, polisi tidak menemukan narkoba. Tidak puas dengan hasil penggeledahan, polisi menguji urine Riwan Hardiansyah dan hasilnya negatif.

Di Jakarta, Kepala Bagian Penerangan Umum Polri Komisaris Besar Polisi (Kombes Pol.) Rikwanto meminta Polda Lampung memproses secara internal polisi yang melakukan tindakan salah tangkap terhadap seorang wartawan Tribun Lampung.

Seorang polisi dianggap sebagai pihak yang bertanggung jawab atas tindakan yang dinilai tak mengenakkan itu. (jos/tri/kom)

See Also

Keterangan Ahli Di Sidang Praperadilan Terkait Eksekusi Penahanan Matheus Mangentang
Peras Mantan Petinggi Polri, Hukuman Sisca Dewi Diperberat
LBH Ansor Jateng Apresiasi Penangkapan Cepat Polres Kebumen Terhadap Pelaku Kekerasan Seksual
Kapolres Bitung Perintahkan Pelaku Kejahatan Ditembak Di Tempat
Reserse Polres Bitung Bekuk Residivis Sadis Pembegal Motor
Satuan Reskrim Polres Bitung Tangkap Dua Tersangka Curanmor
Mahasiswa Unesa Sorot Penggunaan Dana Pembelian Mebel Di Kampus
KPK Tetapkan Dirut PT. Rohde And Schwarz Indonesia Sebagai Tersangka
KPK Akan Segera Periksa Saksi Dan Tersangka Suap KONI
KPK Cekal Robert Tantular Ke Luar Negeri
Tim Resmob Dan Tarsius Bitung Lumpuhkan Pencuri Kambuhan
Mahkamah Agung Hukum Alfian Tanjung 2 Tahun Penjara
Polda Jatim Duga Ada Kesalahan Teknis Proyek Berujung Jalan Gubeng Ambles
KPAI Apresiasi Langkah Cepat Polri Proses Bahar Bin Smith
Polri Sebut Penahanan Tersangka Bahar Bin Smith Murni Kasus Hukum
Polri Koordinasi Dengan LPSK Amankan 2 Remaja Korban Bahar Bin Smith
Usai OTT KPK, Kemenpora Lanjutkan Program SEA Games-Olimpiade
KPK Sita Miliaran Rupiah Terkait OTT Pejabat Kemenpora Dan KONI
Polri Kantongi Bukti Penganiayaan Oleh Bahar Bin Smith
KPK OTT Pejabat Kemenpora Dan Pengurus KONI
Polres Metro Jakarta Selatan Buru Pembunuh Perempuan Muda Di Kebagusan City
Pembunuh Keji Sopir Taksi Online Divonis 10 Tahun Penjara
Uang Pengganti E-KTP, KPK Sita Rp 862 Juta Dari Setya Novanto
Keterangan Ahli Ketua DPD KAI DKI Jakarta Pada Sidang Lanjutan Julius Lobiua
TNI AL Ringkus Pelaku Narkoba Di Tanjung Ahus
jQuery Slider

Comments

Arsip :2019201820172016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 7.498.771 Since: 05.03.13 | 0.1052 sec