Hukum

MA Tolak Kasasi Tubagus Chaery Wardana

Thursday, 26 Februari 2015 | View : 572

JAKARTA-SBN.

Permohonan kasasi yang diajukan terdakwa kasus suap sengketa Pemilihan Kepala Daerah Lebak, Banten, Tubagus Chaery Wardana alias Wawan, ditolak Mahkamah Agung MA). Adik Gubernur nonaktif Banten Ratu Atut Chosiyah tersebut diperberat hukumannya oleh Majelis Hakim yang dipimpin Artidjo Alkostar dengan anggota M. Askin dan M.S. Lumme. Majelis kasasi justru menambah hukuman bagi adik Gubernur nonaktif Banten Ratu Atut Chosiyah itu menjadi 7 tahun penjara.

Mahkamah Agung (MA) menjatuhkan hukuman kepada Tubagus Chaery Wardana alias Wawan selama 7 tahun penjara. Adik Ratu Atut Chosiyah itu dihukum karena menyuap Ketua MK Akil Mochtar guna memuluskan sengketa pilkada yang diadili MK.

Korupsi Wawan merupakan korupsi berjamaah yang dilakukan untuk memenangkan Pilkada Lebak saat ditangani MK. Wawan menjadi sponsor dana bagi calon Bupati Lebak dengan perantara Susi Tur Andayani yang mengantarkan uang ke Akil Mochtar.

Pada 23 Juni 2014, Wawan dihukum 5 tahun penjara oleh Pengadilan Tipikor Jakarta dan dikuatkan oleh Pengadilan Tinggi Jakarta. Pengadilan Tinggi Jakarta, menghukum Wawan dengan pidana 5 tahun penjara dan denda Rp 150 juta subsider 3 bulan kurungan. Atas vonis itu, KPK lalu kasasi.

"Mengabulkan tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU). Menjatuhkan dengan pidana selama 7 tahun," kata Hakim Agung Artidjo Alkostar, Kamis (26/2/2015).

“Kasasi ditolak, (hukuman) jadi 7 tahun," terang Hakim Agung Krisna Harahap kepada pers, Rabu (25/2/2015) sore.

Semula Wawan divonis tujuh tahun penjara dan denda Rp 200 juta subsider 6 bulan kurungan. Hukuman itu lebih berat dari vonis Pengadilan Tinggi yang menguatkan putusan Pengadilan Negeri. Pada Oktober 2014, Pengadilan Tinggi menghukum Wawan dengan pidana lima tahun penjara dan denda Rp 150 juta subsider tiga bulan kurungan.

MA menolak kasasi Wawan lantaran pertimbangan hukumnya tidak dapat dibuktikan dalam Judex Facti. Perbuatan Wawan mempengaruhi Hakim Mahkamah Konstitusi dalam perkara Pilkada Lebak telah mencederai demokrasi dan penegakan hukum.

Menurut Majelis, perbuatan terdakwa mempengaruhi Hakim Mahkamah Konstitusi dalam perkara Pilkada Lebak telah mencederai demokrasi dan penegakan hukum.

MA mengabulkan kasasi Komisi Pemberantasan Korupsi. Wawan, sesuai uraian Jaksa KPK, Wawan terbukti bersifat aktif mempengaruhi Akil Mochtar selaku Hakim Mahkamah Konstitusi agar meluluskan keinginan pasangan Amir Hamzah-Kasmin untuk menggelar pemungutan suara ulang dalam Pilkada Lebak.

Wawan bertemu Akil Mochtar pada 25 dan 29 September 2013 di rumah dinas Akil Mochtar, Jalan Widya Chandra III Nomor 7, Jakarta Selatan. Wawan juga aktif berkomunikasi dengan Akil Mochtar pada 1 Oktober 2013 melalui pesan singkat. Ia meminta Akil Mochtar membantu perkara Pilkada Kabupaten Lebak.

Pada periode yang sama, ia bertemu dengan pengacara Susi Tur Andayani untuk meminta bantuan menyerahkan duit. Pada 1 Oktober 2013 pukul 6.30 WIB, Susi Tur Andayani mengirim pesan singkat ke Akil Mochtar.

"Terkait pengurusan perkara telah disiapkan uang Rp 1 miliar," ujar Majelis Hakim sesuai petikan putusan yang diterima wartawan.

Selanjutnya Susi Tur Andayani menghubungi Wawan yang menyatakan Lebak sudah menang. "Terdakwa (Wawan) menjawab dengan terima kasih telah dibantu," demikin petikan tersebut. Pada malam harinya, Susi Tur Andayani ditangkap KPK.

Susi Tur Andayani juga divonis lebih berat oleh MA. "Diputus dengan pidana tujuh tahun, dengan semula diputus pengadilan tinggi lima tahun penjara," ujar Juru Bicara MA Suhadi di Gedung MA, Jakarta.

Uang yang diserahkan Susi Tur Andayani berasal dari Ratu Atut Chosiyah dan Wawan. Suap dimaksudkan untuk memenangkan gugatan pasangan calon Bupati dan wakil Bupati Lebak, Amir Hamzah-Kasmi, di MK. Pasangan tersebut diusung oleh Golkar, partai yang juga mengusung Ratu Atut Chosiyah menjadi Gubernur Banten.

Dalam sengketa di MK, Amir Hamzah-Kasmi menggugat keputusan Komisi Pemilihan Umum Lebak yang menetapkan rival mereka, Iti Octavia-Ade Sumardi, sebagai Bupati dan wakil Bupati terpilih pada 2013. Amir Hamzah juga menuntut diselenggarakannya pemungutan suara ulang. Setelah adanya suap, MK memutuskan pemungutan suara ulang digelar di Kabupaten Lebak, Banten.

Perkara nomor 2429 K/PID.SUS/2014 itu diadili pada Rabu (25/2) kemarin oleh ketua majelis Dr Artidjo Alkostar dengan anggota MS Lumme dan Prof M Askin. Dalam kasus ini, Wawan juga mengajukan kasasi karena tidak terima dihukum 5 tahun penjara.

"Menolak kasasi terdakwa," ujar Majelis Hakim.

Hukuman 7 tahun penjara sama dengan hukuman yang dijatuhkan kepada Ratu Atut Chosiyah.

Berikut daftar hukuman yang dijatuhkan dalam perkara Akilgate itu:

1. Akil Mochtar, dijatuhi penjara seumur hidup.
2. Gubernur Banten, Ratu Atut Chosiyah, dihukum 7 tahun penjara.
3. Pengusaha Tubagus Chaery Wardana alias Wawan divonis 7 tahun penjara.
4. Susi Tur Andayani, divonis 7 tahun penjara.
5. Bupati Gunung Mas, Hambit Bintih dihukum 4 tahun penjara.
6. Pengusaha Cornelis Nalau Antun dihukum 3 tahun penjara.
7. Wali Kota Palembang, Romi Herton dan istrinya Masyito (masih diadili di Pengadilan Tipikor Jakarta).
8. Sopir Akil Mochtar, Muhtar Ependy (masih diadili di Pengadilan Tipikor Jakarta), berperan sebagai kurir.
9. Bupati Empat Lawang, Budi Antoni Al-Jufri (masih diproses KPK).
10. Bupati Tapanuli Tengah, Bonaran Situmeang masih disidang di Pengadilan Tipikor Jakarta.
11. Bekas calon Bupati Lebak, Amir Hamzah, masih diproses KPK. (jos)

See Also

Keterangan Ahli Di Sidang Praperadilan Terkait Eksekusi Penahanan Matheus Mangentang
Peras Mantan Petinggi Polri, Hukuman Sisca Dewi Diperberat
LBH Ansor Jateng Apresiasi Penangkapan Cepat Polres Kebumen Terhadap Pelaku Kekerasan Seksual
Kapolres Bitung Perintahkan Pelaku Kejahatan Ditembak Di Tempat
Reserse Polres Bitung Bekuk Residivis Sadis Pembegal Motor
Satuan Reskrim Polres Bitung Tangkap Dua Tersangka Curanmor
Mahasiswa Unesa Sorot Penggunaan Dana Pembelian Mebel Di Kampus
KPK Tetapkan Dirut PT. Rohde And Schwarz Indonesia Sebagai Tersangka
KPK Akan Segera Periksa Saksi Dan Tersangka Suap KONI
KPK Cekal Robert Tantular Ke Luar Negeri
Tim Resmob Dan Tarsius Bitung Lumpuhkan Pencuri Kambuhan
Mahkamah Agung Hukum Alfian Tanjung 2 Tahun Penjara
Polda Jatim Duga Ada Kesalahan Teknis Proyek Berujung Jalan Gubeng Ambles
KPAI Apresiasi Langkah Cepat Polri Proses Bahar Bin Smith
Polri Sebut Penahanan Tersangka Bahar Bin Smith Murni Kasus Hukum
Polri Koordinasi Dengan LPSK Amankan 2 Remaja Korban Bahar Bin Smith
Usai OTT KPK, Kemenpora Lanjutkan Program SEA Games-Olimpiade
KPK Sita Miliaran Rupiah Terkait OTT Pejabat Kemenpora Dan KONI
Polri Kantongi Bukti Penganiayaan Oleh Bahar Bin Smith
KPK OTT Pejabat Kemenpora Dan Pengurus KONI
Polres Metro Jakarta Selatan Buru Pembunuh Perempuan Muda Di Kebagusan City
Pembunuh Keji Sopir Taksi Online Divonis 10 Tahun Penjara
Uang Pengganti E-KTP, KPK Sita Rp 862 Juta Dari Setya Novanto
Keterangan Ahli Ketua DPD KAI DKI Jakarta Pada Sidang Lanjutan Julius Lobiua
TNI AL Ringkus Pelaku Narkoba Di Tanjung Ahus
jQuery Slider

Comments

Arsip :2019201820172016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 7.497.907 Since: 05.03.13 | 0.2015 sec