Redaksi

Kita Akan Terus Bersuara

Author : Dr Imam Budidarmawan Prasodjo SIP MA PhD | Sunday, 22 Februari 2015 | View : 516

SBN

Pagi ini, Minggu (22/2/2015), keluarga besar Kampus Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Jayabaya, Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Sam Ratulangi, Universitas Diponegoro (Undip) dan banyak lagi entah dari kampus mana, berhimpun di Bundaran Hotel Indonesia (HI).

Seperti telah direncanakan, para guru besar, dosen, dekan, mahasiswa dan alumni, turun ke jalan, tumpah ruah di jalan Bundaran HI. Tak disangka, mereka banyak yang datang sangat pagi dari luar kota untuk bergabung dengan segenap civitas akademika di Jakarta.

Dengan mobil yang di atasnya ada pengeras suara, kami bergantian berorasi menyatakan kepedulian, keprihatinan, kepedihan, kegemasan hingga kemarahan terhadap berbagai peristiwa yang melanda bangsa.

Segenap petugas kepolisian dengan setia mendampingi kami, walau pun sesekali ada kata-kata dari yang berorasi menyinggung institusi mereka. Namun, hampir semua yang mengemukakan aspirasinya menghendaki agar KPK harus diselamatkan dan institusi kepolisian harus tata, dibenahi dan dibangun agar menjadi lembaga yang secara penuh mendapat kepercayaan rakyat. Kompol Iswandi dan AKBP Gunawan yang selalu ada di tengah kami, sesekali terlihat mengangguk tanda setuju saat mendengar kata-kata agar masyarakat, KPK, Polri, dan lembaga-lembaga penegak hukum lain bersinergi untuk bersama-sama memerangi koruptor yang menggerogoti negeri.

Di pagi hari itu, ada kegiatan yang menarik peliputan media. Kerumunan civitas akademika tiba-tiba bergerak mendekati Pos Polisi yang berada persis di depan Hotel Indonesia. Pos Polisi ini rupanya telah beberapa minggu ditinggalkan sejak ada peristiwa memalukan yang terekam video amatir yang disebarkan seluruh dunia melalui YouTube. Dalam rekaman video itu terlihat para supir bus angkutan dalam kota bergiliran melakukan pelanggaran rute dengan berputar di luar jalur yang telah ditetapkan. Untuk menghindari sanksi tilang dari petugas polisi, para kernet bus turun bergantian menaruh uang untuk menyuap petugas yang tengah berdinas di Pos Polisi ini. Karena kejadian ini kasat mata terlihat dan menjadi berita begitu luas, akhirnya Pos Polisi itu ditinggalkan petugas dan dibiarkan merana.

Pagi itu, seluruh civitas akademika datang ke Pos Polisi itu untuk membersihkannya. Kami bergantian mengecat kembali agar tampak bersih seperti baru. Beberapa petugas polisi ikut bergabung dalam kegiatan ini. Pimpinan KPK yang tengah berhenti sementara, Dr. Bambang Widjojanto, S.H., M.H. juga ikut dalam kegiatan ini. Saat aksi pengecatan dilakukan, seseorang berteriak: "Mari kita bersihkan dan cat putih sehingga bersih. Kita mulai pembersihannya dari atas." Kami pun tertawa mendengarnya.

Dengan kerja keroyokan, bergotong-royong, pengecatan Pos Polisi dalam sekejap selesai dilakukan. Setelah terlihat bersih dan rapih, beberapa civitas akademika memasang tulisan di atap Pos Polisi yang berbunyi: "Masyarakat dan Polisi Saling Menjaga Kejujuran." Semua yang hadir membaca tulisan itu dan tentu maklum apa makna di balik itu semua. Kita semua tentu berharap Pos Polisi itu segera dapat digunakan kembali. Para petugas tak perlu takut lagi menggunakannya karena kita semua akan selalu saling mendampingi dan saling mengingatkan untuk menjaga kejujuran dan kehormatan.

Tanpa terasa kegiatan di Bundaran HI selesai. Kompol Iswandi membisikkan pada saya bahwa Komisaris Jenderal Polisi (Komjen Pol.) Drs. Badrodin Haiti yang kini menjadi Wakapolri dan akan dicalonkan sebagai Kapolri baru, telah menunggu di Mabes Polri untuk bertemu berdiskusi dan menerima masukan apa pun dari kami. Kami pun bergegas menuju Mabes Polri.

Saat kami akan berangkat, sedikit kesemrawutan terjadi karena kami tak mempersiapkan transportasi bersama menuju kantor Mabes Polri. Ini terjadi karena acara ini memang benar benar spontan, tak ada panitia resmi.

Di tengah kami berjalan kaki, sambil berfikir bagaimana kami menuju lokasi, dua bus berwarna kuning milik Dinas Kebersihan DKI terparkir di ujung Jalan Imam Bonjol. Secara spontan kami meminta batuan agar kiranya Pak Supir bersedia mengantar kami. Alhamdulillah, Pak Supir secara spontan bersedia mengantar. Maka rombongan para guru besar, dosen, mahasiswa dan para alumni pun tersenyum gembira mendapat angkutan gratis menuju Mabes Polri. Di antara kami ada yang berseloroh: "Mungkin malaikat ikut membantu dalam kegiatan pagi ini." Kami pun tersenyum lepas di pagi ini. (imambprasodjo)

See Also

Merenungi Kepergian KH Hasyim Muzadi
Koalisi Cikeas Usung Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni
Saya Mengurus Kewarganegaraan Indonesia Sendiri Dan Tidak Mudah
Lian Gouw Untuk Penyebaran Novel Sejarah Indonesia
Seminar Membangun Ke-Indonesia-an
Rencana Bekerja Untuk Otonomi Perempuan
Ketemu Anak Presiden Di Markobar Surabaya
Mengenang Mas Slamet Riyadi Sabrawi
Batik Cermin Budaya Bangsa Indonesia
Keberlangsungan Batik Dalam Pergulatan
Handoko Wibowo Penerima Yap Thiam Hien Award 2015
Cengkeh Dan Petani Berdaya
Senyum Solidaritas Wong Cilik Yang Aku Suka
Ketika Myra Diarsi Di Tlogo Wening
SBO TV Tentang Masa Orientasi Sekolah
Membimbing Karier Anak
Menulis Karya Besar Yang Berdampak Untuk Yang Lain
Festival Kartini Bersama Wakil Gubernur Dan Konsulat Jenderal Amerika Serikat
Surat Cinta Untuk Kartini
Wisata Suku Bajo Terbesar Di Dunia
Wisata Darat Di Tomia Wakatobi
Jiwa Entrepreneur Di Belakang Perkembangan Wakatobi
Taman Laut Wakatobi Terbaik Di Dunia
Makanan, Suku, Pantai, Dan Kain Tradisional Kendari
Kolaborasi Masyarakat Sipil Dengan Kota Surabaya Untuk Anak
jQuery Slider

Comments

Arsip :20172016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 6.071.824 Since: 05.03.13 | 1.9916 sec