Nasional

Junimart Girsang Minta Maaf Dan Cium Tangan Buya Syafii

JAKARTA-SBN.

Anggota Komisi III DPR RI dari Fraksi PDI-P Junimart Girsang mendatangi Maarif Institute untuk meminta maaf secara langsung sembari mencium tangan Prof. Dr. H. Ahmad Syafii Maarif atau Buya Syafii.

"Kalau ada salah, sebagai anak maka saya meminta maaf," kata Junimart Girsang usai jumpa pers di Maarif Institute, Jalan Tebet Barat Dalam II No.6, Jakarta, Selasa (17/2/2015).

Buya Syafii Maarif pernah memberi komentar berupa saran kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk tidak melantik calon Kepala Polri (Kapolri) Komisaris Jenderal Polisi (Komjen Pol.) Drs. Budi Gunawan, S.H., M.Si., Ph.D.

Kemudian ditanggapi Junimart Girsang dengan mengatakan, ia tokoh yang tidak jelas dan tahu posisinya sebagai apa ketika komentar.

Junimart Girsang menegaskan, pernyataan Buya Syafii berdasarkan pembicaraan lewat telepon dengan Presiden tersebut tidak punya dasar. "Karena tak jelas siapa dia dan apa posisinya. Kalau bisa, kita harap jangan pula dia membuat suasana makin keruh," sergah Junimart Girsang seperti dilansir sebuah media.

"Habis Tedjo, terbitlah Junimart," sindir mantan Direktur Eksekutif Maarif Institute, Raja Juli Antoni Ph.D., dalam keterangannya, Kamis (5/2/2015).

Raja Juli Antoni mengingatkan, sejak awal diskusi di internal Maarif Institute, mereka mendukung penuh keterlibatan Buya Syafii dalam Tim Independen ketika diminta Presiden Jokowi. Karena mereka berharap Buya Syafii membantu Presiden Jokowi menyesaikan persoalan Komjen Pol. Budi Gunawan yang berlarut-larut akibat ketidakdewasaan berfikir dan kedangkalan moral politisi negeri ini.

Raja Juli Antoni menyampaikan demikian karena persoalan calon Kapolri tersebut ini tidak akan melebar bila Presiden Jokowi sejak awal menarik surat pengajuan Komjen Pol. Budi Gunawan dari DPR RI begitu ditetapkan sebagai tersangka.

"Jadi posisi Buya dan anggota Tim independen lainnya justru memberikan suntikan moral bagi Presiden Jokowi untuk mempunyai keberanian mengambil keputusan untuk tetap pro pemberantasan korupsi di tengah rongrongan para politisi rendah akal dan moral, seperti Junimart Girsang," tutur Raja Juli Antoni.

Karena itu, sikap Junimart Girsang yang mempertanyakan siapa Buya Syafii Maarif justru memperlihatkan rendahnya jam terbang politikus PDIP itu di dunia politik. "Buya Syafii ini adalah bapak bangsa yang masih tersisa setelah tidak ada lagi sosok seperti Gus Dur dan Cak Nur," ungkap Raja Juli Antoni.

Apalagi, Buya Syafii sangat akrab dengan tokoh-tokoh penting PDIP, partai Junimart Girsang. Misalnya, hari Senin (2/2/2015), Buya Syafii masih diundang Megawati Soekarnoputri ke Teuku Umar untuk diminta nasehat dan pertimbangannya. "Dua jam Buya ngobrol dengan Megawati," beber Raja Juli Antoni.

Begitu juga kedekatan Buya Syafii dengan almarhum suami Megawati Soekarnoputri, Taufiq Kiemas. "Saya berkali-kali menemani Buya Syafii bertemu almarhum Taufiq Kiemas. Kalau ketemu, Pak TK selalu cium tangan Buya. Aneh kalau Junimart tidak mengenal Buya," jelas Raja Juli Antoni.

Raja Juli Antoni juga mengingatkan, Junimart Girsang mesti paham bahwa sumber legitimasi politik itu tidak selalu berasal dari aspek legal-formal. Sejarah dunia melahirkan tokoh-tokoh yang tidak mempunyai posisi formal dalam sistem politik tapi justru mempunya legitimasi politik kuat karena konsistensi pandangan intelektual dan posisi moralnya yang independen dan imparsial.

"Aneh pernyataan Junimart. Bagaimana PDIP yang menjadi oposisi selama 10 tahun melahirkan politisi dangkal seperti Junimart. Jokowi adalah presiden yang diusung PDIP, mestinya PDIP pasang badan menjaga Jokowi agar menjadi presiden yang pro pemberantasan korupsi. Bukan malah merongrong presidennya sendiri. Sepuluh tahun menjadi oposisi, membuat PDIP lupa bahwa sekarang mereka adalah partai penguasa," tandas Toni.

Banyak tokoh yang menentang dan menyayangkan pernyataan Junimart Girsang yang terkesan melecehkan tersebut.

Budayawan Benny Susetyo meminta agar pernyataan mantan Ketua PP Muhammadiyah Buya Syafii Maarif soal Komjen Pol. Budi Gunawan takkan dilantik oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi), tak dijadikan alasan untuk menyerangnya. Romo Benny Susetyo menilai, pernyataan Buya Syafii yang berdasarkan pembicaraan lewat telepon dengan Presiden tersebut tidak akan melantik Komjen Pol. Budi Gunawan, punya dasar.

Romo Benny Susetyo mengkritik anggota Komisi III DPR RI dari Fraksi PDI-P, Junimart Girsang, yang menyebut Buya Syafii Maarif sebagai orang yang tak jelas hanya karena pernyataannya soal Komjen Pol. Budi Gunawan.

Pengurus Konferensi Wali-gereja Indonesia (KWI), Romo Benny Susetyo juga mengatakan bahwa Buya Syafii Maarif merupakan Negarawan sejati. "Buya Syafii Maarif itu Negarawan yang sejati karena dia tokoh yang mengayomi bangsa ini. Maka ketokohannya tak bisa disepelekan," kata Romo Benny Susetyo di Jakarta, Kamis (5/2/2015).

Menurut Romo Benny Susetyo, sepuh yang akrab disapa Buya Syafii itu mengoyomi bangsa ini.

Dia juga menilai Buya Syafii Maarif adalah orang yang memiliki kejujuran dan tokoh yang masih menyuarakan suara rakyat.

"Karena itu, ketokohannya nggak bisa disepelekan. Menyebut Buya tokoh tidak jelas, (berarti) benar menghina rakyat Indonesia," tegas Romo Benny Susetyo.

Analis politik Boni Hargens juga menyayangkan Junimart Girsang. "Pernyataan Junimart Girsang yang bernuansa merendahkan Buya Syafi'i Maarif adalah bentuk ketidaksantunan berpolitik," tukas analis politik Boni Hargens, Kamis (5/2/2015).

Menurut Boni Hargens, Junimart Girsang mungkin saja berkepentingan dengan mempertahankan Komjen Pol. Budi Gunawan sebagai calon tunggal Kapolri. Sehingga dia tidak menyukai pernyataan Buya Syafii yang memastikan Presiden Joko Widodo tak akan melantik Komjen Pol. Budi Gunawan. "Tapi reaksi Girsang harus tetap bijak," ungkap dosen Universitas Indonesia ini.

Karena bagaimanapun, Boni Hargens menjelaskan, Buya Syafii adalah tokoh bangsa, yang sudah makan banyak garam dalam perjuangan membangun peradaban bangsa ini. Sehingga tidak bisa seenaknya merendahkan hanya karena kepentingan terganggu. "Soal BG, Presiden dan Tim 9 sudah jelas menyatakan bahwa pada waktunya akan ada keputusan pasti," jelasnya.

Karena itu, Boni Hargens meminta Junimart Girsang untuk menunggu saja pengumuman resmi daripada menghina Buya Syafii Maarif.

"Saya menyarankan Junimart Girsang segera meralat kalimatnya dan meminta maaf kepada Buya Maarif sebagai wujud etika politik kekeluargaan yang menjadi salah satu ciri demokrasi Pancasila," tandas Boni Hargens.

Buya Syafii Maarif dipandang sebagai salah satu negarawan Indonesia. Ia adalah ketua Tim Independen yang ditunjuk oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Selain itu, Buya Syafii adalah mantan Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah ke-13 periode 2000-2005, Presiden World Conference on Religion for Peace (WCRP), dan pendiri Maarif Institute.

Ketika dikonfirmasi, Buya Syafii Maarif membenarkan hal tersebut.

"Iya, dia meminta maaf dan mencium tangan saya, namun sudah tidak menjadi masalah," ungkap Buya Syafii Maarif.

Buya Syafii Maarif mengatakan, tidak pernah sakit hati atau tersinggung masalah komentar Junimart yang disayangkan banyak orang.

"Saya tidak pernah tersinggung, katanya ia (Junimart) disuruh oleh Megawati dan Puan untuk mendatangi saya serta meminta maaf," beber Buya Syafii Maarif.

Buya Syafii Maarif menjelaskan juga tidak terlalu mengenal Junimart Girsang sebelumnya, namun mengetahui komentar tersebut melalui media massa.

Buya Syafii Maarif menyarankan semua partai tetap damai dan tidak ada perpecahan yang memperkeruh suasana. (ant/jos)

See Also

Basarnas Telah Mengetahui Lokasi Tenggelamnya KM Sinar Bangun
Kementerian Sosial Sediakan Logistik Untuk Pencarian Korban KM Sinar Bangun
Kecelakaan Tragis Mobil Menabrak Baja Pembatas Jalan
Mendagri Lantik Penjabat Gubernur Sumatera Utara
Presiden Jokowi Sampaikan Belasungkawa Untuk Korban KM Sinar Bangun
Pernyataan Presiden Jokowi Terkait Musibah KM Sinar Bangun Di Perairan Danau Toba
Dandim 0716/Demak Bersama Masyarakat Panen Raya Demlot
Nahkoda KM Sinar Bangun Diamankan
Dandim 0716/Demak Tekankan Netralitas Dalam Apel Pengecekan Personel Jelang Pilkada
Pencarian Korban KM Sinar Bangun Terkendala Kedalaman Danau Toba
Kodim 0716/Demak Gelar Apel Pengecekan Usai Cuti Lebaran
Arus Balik Di Jalan Arteri Karawang Padat Merayap
Daftar Korban Hilang KM Sinar Bangun
Mendagri Lantik Plt Gubernur Jawa Barat
Jasad Seorang Wanita Ditemukan Dalam Perut Ular Sanca
Perempuan Ditelan Ular Sanca
Kronologi Perempuan Tewas Dimakan Ular
Truk Sampah Dinas LH DKI Hampir Jatuh Dari Jalan Tol Layang
Babinsa Koramil 02/Bonang Bantu Bagikan Sembako Saat Jelang Lebaran
Prajurit Kodim 0716/Demak Tes Urine Secara Acak
Babinsa Terus Dampingi Petani Saat Pengubinan
Danramil 11/Sayung Hadiri Gebyar Pasar Murah
Dosen Dimotivasi Untuk Giat Penelitian Dan Pengabdian
Kodim 0716/Demak Gelar Upacara Bendera Peringati Hari Kebangkitan Nasional Ke-110
Widjanarko, Dosen Fakultas Psikologi UMK Raih Doktor
jQuery Slider
Arsip :201820172016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 6.885.508 Since: 05.03.13 | 0.2174 sec