Hukum

Abraham Samad Mangkir

JAKARTA-SBN.

Ketua lembaga antirasuah, nonaktif Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Dr. Abraham Samad, S.H., M.H. (AS) tidak memenuhi panggilan penyidik Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Kepolisian Daerah Sulawesi Selatan Barat (Polda Sulselbar) yang dijadwalkan pada hari ini, Jumat (20/2/2015).

Ketua nonaktif Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Abraham Samad tak akan memenuhi panggilan penyidik Kepolisian Daerah Sulawesi Selatan dan Barat, Jumat (20/2/2015). Sedianya, hari ini Abraham Samad dijadwalkan menjalani pemeriksaan sebagai tersangka kasus dugaan pemalsuan dokumen kependudukan (KTP dan KK) serta dokumen keimigraisian atas nama seorang wanita asal Singkawang, Pontianak, Feriyani Lim atau Fransisca Lim (29).

Penasihat hukum Abraham Samad, Dadang Trisasongko mengatakan, alasan Abraham Samad tidak memenuhi panggilan pemeriksaan karena sudah ada sejumlah acara yang harus dihadirinya pada hari ini.

"(Abraham) Tidak hadir karena ada beberapa acara yang harus dihadiri hari ini," ujar Dadang Trisasongko melalui pesan singkat, Jumat (20/2/2015) pagi.

Dadang Trisasongko mengatakan, acara tersebut sudah lama terjadwal sehingga tidak dapat dibatalkan begitu saja. Ia menambahkan, tim penasihat hukum pun telah mengirimkan surat pemberitahuan kepada Polda Sulselbar mengenai ketidakhadiran Abraham Samad.

"Kami mengirimkan surat pemberitahuan ketidakhadiran itu ke Polda Sulsel melalui tim lawyer kami yang ada di Sulsel," kata Dadang Trisasongko.

Menurut Dadang Trisasongko, alasan lainnya Abraham Samad tak memenuhi panggilan penyidik karena di dalam surat panggilan, tidak tertera nomor Surat Perintah Penyidikan atas nama kliennya. Sehingga tim penasihat hukum meragukan apakah sebenarnya penyidikan tersebut sudah berjalan atau belum.

"Asumsinya belum ada proses penyidikan," kata Dadang Trisasongko.

Anggota tim penasihat hukum Abraham Samad lainnya, Abdul Fikar Hajar, Kamis (19/2/2015) malam, mengatakan, kliennya dipastikan tak menghadiri pemeriksaan pertama itu di Makassar. "Besok (hari ini) Pak Abraham Samad belum bisa memenuhi panggilan itu," papar Abdul Fikar Hajar.

Abdul Fikar Hajar mengatakan, Abraham Samad akan mengikuti semua proses hukum dalam kasus ini. Tim penasihat hukum akan mengirimkan surat ke Polda Sulselbar sekaligus meminta penjadwalan ulang pemeriksaan Abraham Samad.

Kepala Badan Reserse Kriminal (Kabareskrim) Polri, Komjen Pol. Drs. Budi Waseso (Buwas) tidak mempermasalahkan ketidakhadiran Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) nonaktif Abraham Samad (AS) yang sedianya dipanggil Polda Sulselbar sebagai tersangka pemalsuan dokumen di Makassar hari ini.

"Oh ya enggak apa-apa, itu kan haknya dia, dengan alasan yang bisa diterima oleh penyidik. Tentunya penyidik akan memanggil dia dalam panggilan yang berikutnya. Ketentuannya begitu," kata Buwas di Mabes Polri Jumat (20/2/2015).

Soal permintaan AS untuk bisa diperiksa sebagai tersangka di Jakarta, Buwas mengatakan alasannya apa yang bersangkutan minta pemindahan.

"Alasannya kenapa? Sekarang kasusnya kecil atau besar sih, semua Warga Negara Indonesia (WNI) punya hak di mata hukum," tambah Buwas.

Kasus yang menjerat Abraham Samad bermula dari laporan Feriyani Lim, warga Pontianak, Kalimantan Barat, yang menjadi tersangka pemalsuan dokumen paspor saat mengajukan permohonan pembuatan paspor pada tahun 2007 lalu. Pada pengajuan permohonan pembuatan paspor pada 2007 lalu, Feriyani Lim memalsukan dokumen dan masuk dalam Kartu Keluarga (KK) Abraham Samad yang beralamat di Boulevar, Kelurahan Masale, Kecamatan Panakkukang, Makassar.

Setelah melakukan sejumlah pemeriksaan, Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Sulselbar juga menetapkan Abraham Samad sebagai tersangka.

AS sudah ditetapkan sebagai tersangka di Mapolda Sulselbar. Penetapan mantan advokat ini dilakukan setelah dilakukan gelar perkara di Bareskrim Polri yang dihadiri penyidik Polda Sulselbar pada 9 Februari lalu. "Setelah gelar perkara di Bareskrim yang dihadiri penyidik Polda Sulselbar, Abraham Samad telah ditetapkan sebagai tersangka pemalsuan dokumen. Penetapan tersangka tersebut pada tanggal 9 Februari 2015," ungkap Kepala Bidang Hubungan Masyarakat (Kabid Humas) Polda Sulselbar Komisaris Besar Polisi (Kombes Pol.) Endi Sutendi, di Markas Polda Sulselbar, Jalan Perintis Kemerdekaan, Selasa (17/2/2015).

Kepolisian Daerah Sulawesi Selatan Barat menetapkan Abraham Samad sebagai tersangka kasus dugaan pemalsuan dokumen. Surat panggilan terhadap Abraham Samad bernomor SP.Pgl/208/II/2015/Ditreskrimum. Dalam surat tersebut, Abraham Samad dipanggil untuk didengar keterangannya dalam perkara tindak pidana dugaan pemalsuan surat atau tindak pidana administrasi kependudukan. Ia disangka melakukan dugaan pemalsuan dokumen tersebut bersama dengan Feriyani Lim.

Menurut Kombes Pol. Endi Sutendi, penyidik melihat perkara tersebut sudah cukup bukti. Adapun barang bukti yang disita berupa Kartu Keluarga (KK), Kartu Tanda Penduduk (KTP) Feriyani Lim, dan paspor Feriyani Lim yang diduga palsu.

Penyidik telah memeriksa 23 orang saksi baik dari berbagai pihak dalam kasus ini. Yaitu Imigrasi, Kecamatan, dan Kelurahan. "Jadi, sampai sejauh ini, penyidik telah memeriksa 23 saksi, baik dari pihak imigrasi, kecamatan dan kelurahan, maupun pihak terkait lainnya. Dalam kasus ini, Abraham Samad sebagai kepala keluarga dan Feriyani Lim sebagai famili," kata Kombes Pol. Endi Sutendi.

Dalam kasus ini AS dijerat pemalsuan dokumen. Abraham Samad disangkakan melanggar sebagaimana diatur Pasal 263, Pasal 264 ayat (1) KUH Pidana subsider Pasal 266 ayat (1) KUH Pidana dan atau Pasal 93 UU RI No.23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan yang telah diubah diperbarui dengan Undang-undang Nomor 24 Tahun 2013. Juga Pasal 55 dan 56 KUHP. (sp/jos)

See Also

Uang Pengganti E-KTP, KPK Sita Rp 862 Juta Dari Setya Novanto
Keterangan Ahli Ketua DPD KAI DKI Jakarta Pada Sidang Lanjutan Julius Lobiua
TNI AL Ringkus Pelaku Narkoba Di Tanjung Ahus
TNI AL Gagalkan Penyelundupan 506 Gram Narkoba
Keppres Pilkada Serentak 27 Juni 2018 Sebagai Hari Libur Nasional
Jennifer Dunn Divonis 4 Tahun Penjara
Jaksa KPK Tuntut Rita Widyasari Dihukum 15 Tahun Penjara
Densus 88 Antiteror Sergap Terduga Teroris JAD Di Cirebon
Anggota DPRD Kota Bogor Diamankan Polresta Bogor Kota
Densus 88 Antiteror Lumpuhkan Dua Terduga Teroris Di Depok
Polisi Siaga Jaga Sidang Vonis Aman Abdurrahman
Aman Abdurrahman Divonis Hukuman Mati
Polres Manggarai Barat Bekuk Pemerkosa 2 Turis Mancanegara
Babinsa Kodim 0716/Demak Evakuasi Sosok Mayat Berhelm Yang Gantung Diri
Kapolres Bogor Larang Anggotanya Ambil Jatah Libur
Buku Penerbit Yang Di Black List Pemerintah Malah Dibagikan Ke Sekolah-sekolah Di Jombang
4 Pegawai Bank Jatim Sudah Jadi Terdakwa
BPOM Minta Importir Tarik Sarden Kaleng Terindikasi Mengandung Cacing
Pasangan Kekasih Cikupa Yang Ditelanjangi Sudah Bertunangan Dan Akan Menikah
Polisi Dalami Aliran Dana Jamaah First Travel
Polisi Tetapkan Komisaris First Travel Jadi Tersangka
Bareskrim Polri Geledah Rumah Mewah Bos First Travel Di Sentul
Perampok Tewaskan Italia Chandra Kirana Putri Menyerah Ke Polisi
Gatot Brajamusti Divonis 8 Tahun Terkait Kepemilikan Sabu
PK Ditolak, Pembunuh Sisca Yofie Tetap Dihukum Mati
jQuery Slider

Comments

Arsip :201820172016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 6.962.684 Since: 05.03.13 | 0.211 sec