Politik

Kompolnas Sebut Rekam Jejak Komjen Pol Dwi Priyatno Positif

JAKARTA-SBN.

Presiden RI ke-7, Joko Widodo yang akrab disapa 'Jokowi' dikabarkan tidak akan jadi melantik Komisaris Jenderal Polisi (Komjen Pol.) Drs. Budi Gunawan, S.H., M.Si., Ph.D. menjadi Kepala Polisi Republik Indonesia/Kapolri (Tribrata-1). Kabar itu diamini oleh Ketua Tim Independen Ahmad Syafii Maarif.

Lewat Tim Independen, Buya Syafi'i demikian Ahmad Syafii Maarif dipanggil, Presiden Joko Widodo (Jokowi) bakal batal melantik Komjen Pol. Budi Gunawan sebagai Kapolri. Buya Syafii mengaku telah ditelepon langsung oleh Presiden Jokowi terkait pembatalan pelantikan Komjen Pol. Budi Gunawan. "Nampaknya benar (batal pelantikan). Sudah ya demikian dulu," kata pria yang akrab disapa Buya Syafii ini kepada wartawan melalui sambungan telepon, Selasa (3/2/2015).

Bahkan, Buya Syafii mengungkap adanya telepon Presiden tersebut di depan peserta acara Seminar di Yogyakarta, Rabu (4/2/2015). "Ya, semalam (Selasa malam) Presiden Jokowi menelepon saya dan menyampaikan keputusannya itu untuk batal melantik BG sebagai Kapolri," beber Buya Syafii di depan peserta Seminar bertajuk "Menyambut Kongres Umat Islam Indonesia Ke-6" di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta tersebut. Mantan Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah itu mengaku senang dan segera memberi tahu beberapa koleganya melalui pesan singkat. Keputusan tersebut, menurut Buya Syafii, sudah sesuai dengan aspirasi dan masukan dari Tim Independen.

Presiden RI ke-7, Joko Widodo alias Jokowi dipastikan tak akan melantik Komisaris Jenderal Polisi (Komjen Pol.) Drs. Budi Gunawan, S.H., M.Si., Ph.D. sebagai Kepala Polisi Republik Indonesia/Kapolri (Tribrata-1). Gantinya, nama Komisaris Jenderal Polisi (Komjen Pol.) Drs. Dwi Priyatno, S.H. yang akan dipilih Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk menduduki jabatan tertinggi di korps Bhayangkara.

Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) juga sudah ngebet menyodorkan nama-nama baru pengganti Komjen Pol. Budi Gunawan, jika memang batal dilantik. Jumat (6/2/2015) pekan lalu, Kompolnas juga mendatangi Mabes Polri untuk berkoordinasi soal rekomendasi calon Kapolri yang baru. “Untuk mengantisipasi jika Budi Gunawan batal dilantik, kami koordinasi dengan Wakapolri dan pejabat-pejabat utama Polri,” kata Komisioner Kompolnas Edi Saputra Hasibuan.

Kompolnas yang dipanggil Presiden Joko Widodo (Jokowi) Selasa (10/2/2015) sore. Komisioner Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) telah menunggu Presiden Joko Widodo di ruang tunggu Istana Kepresidenan, Selasa (10/2/2015) sore. Namun, rencana pertemuan dengan Presiden Jokowi batal digelar dengan alasan ada agenda mendadak bertemu dengan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK). "Kami sudah menunggu Bapak Presiden, tetapi disampaikan oleh Mensesneg bahwa pertemuan tersebut tidak jadi dilakukan karena Presiden ada agenda mendadak," kata Komisoner Kompolnas Hamidah Abdurrachman kepada awak media, Selasa (10/2/2015) petang.

Komisioner Kompolnas Hamidah Abdurrachman belum tahu kapan Istana Negara bakal kembali menjadwalkan pertemuan Presiden Jokowi dengan lembaga yang diketuai oleh Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan tersebut. "Kami menunggu informasi dari Presiden," cetusnya.

Komisioner Kompolnas Adrianus Meliala mengatakan telah mewawancarai para perwira tinggi polisi yang dipertimbangkan sebagai calon Kapolri. “Masing-masing diwawancara selama dua jam oleh enam Komisoner Kompolnas,” katanya.

Nama Komisaris Jenderal Polisi (Komjen Pol.) Suhardi Alius dieliminasi dari daftar calon Kapolri yang direkomendasikan Kompolnas pada Presiden Indonesia Joko Widodo. Selain masih muda, Komjen Pol. Suhardi Alius mental dari daftar karena Kompolnas khawatir dia kesulitan jika menjadi Kapolri.

Penyebabnya menurut Komisioner Kompolnas Adrianus Meliala karena Komjen Pol. Suhardi Alius bakal kesulitan memimpin para perwira tinggi Polri yang jadi seniornya. "Jika yang bersangkutan dipilih Presiden maka akan membuatnya sulit memimpin senior," kata Adrianus Meliala, Senin (9/2/2015).

Meski aturan tersebut tidak tertulis di Undang-undang, kriminolog Universitas Indonesia ini menyatakan jika etika tersebut memang sebuah aturan tidak tertulis di Kepolisian. "Memang ini merupakan aturan tidak tertulis yang mengatakan sebaiknya Kapolri seimbang dalam segi angkatan," lanjut Adrianus Meliala. "Itu agar kompak di lapangan," tambah dia.

Nama Komjen Pol. Suhardi Alius akhirnya dieleminasi karena Kompolnas berpikir dia masih muda dan masa pensiunnya masih lama. Komjen Pol. Suhardi Alius merupakan lulusan Akademi Kepolisian tahun 1985. Sementara empat calon lain lulusan 1982 dan 1984. Badrodin Haiti dan Dwi Priyatno lulusan Akpol 1982. Sementara Budi Waseso dan Putut Bayuseno lulusan tahun 1984.

Selain masih tergolong junior di antara perwira tinggi lainnya, umur Komjen Pol. Suhardi Alius juga masih muda yakni 52 tahun. Masih ada waktu 6 tahun bagi Komjen Pol. Suhardi Alius untuk mengabdi di Kepolisian sebelum pensiun. "Mungkin dia bisa dua kali ikut pemilihan Kapolri, makin lama peluangnya makin matang," ujar Adrianus Meliala.

Kompolnas berharap Presiden Joko Widodo melibatkan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Pusat Pelaporan Analisa dan Transaksi Keuangan (PPATK) menelusuri rekam jejak calon Kapolri yang ditunjuknya. Seluruh calon Kapolri harus jelas dan bersih rekam jejaknya agar kejadian yang menimpa Komjen Pol. Budi Gunawan menjadi tersangka KPK tak terulang lagi.

Komisioner Kompolnas Adrianus Meliala, Senin (9/2/2015) mengatakan, Presiden Joko Widodo harus meminta pertimbangan KPK dan PPATK segera setelah memilih satu dari empat nama yang direkomendasikan Kompolnas.

"Kompolnas menekankan setelah Presiden memilih satu nama, segera kontak KPK dan PPATK untuk klarifikasi supaya semuanya clear," ujar Adrianus Meliala.

Menurut Komisioner Kompolnas Adrianus Meliala, pengecekan atau klarifikasi yang dilakukan saat mencalonkan Komjen Pol. Budi Gunawan terlalu lamban. Ini berakibat terhambatnya pelantikan calon Kapolri karena terganjal masalah hukum.

Memang pelibatan KPK dan PPATK tidak diatur oleh Undang-undang. Karena itu Adrianus Meliala menyatakan tak akan mempermasalahkan jika nantinya saran Kompolnas tidak diikuti oleh Presiden Jokowi. Namun, Adrianus Meliala menekankan bantuan KPK dan PPATK dilakukan untuk mengantisipasi agar kejadian yang menimpa Komjen Pol. Budi Gunawan tak terjadi lagi.

Komisioner Kompolnas M. Nasser mengaku belum tahu terkait penunjukkan Komjen Pol. Dwi Priyatno sebagai pengganti Komjen Pol. Budi Gunawan. "Belum ada suatu statemen, tapi nampaknya memang mengerucut ke beberapa nama yang dianggap senior. Dan pertimbangan senior memang hal biasa dalam TNI atau Polri. Jadi saya anggap itu masuk akal," ungkap Komisioner Kompolnas M. Nasser, saat dihubungi wartawan, Jumat (13/2/2015).

Komisoner Kompolnas M. Nasser menyatakan Komjen Pol. Dwi Priyatno mendapatkan restu dari mantan Kapolri Jenderal Drs. Sutarman. Komjen Pol. Dwi Priyatno juga digadang-gadang mampu menjadi pemersatu di dalam tubuh Polri

"Saya dengar-dengar saja tapi tidak punya bukti. Mungkin iya, itu saya setuju (Dwi Priyatno sosok pemersatu). Kami ingin juga pimpinan yang benar-benar mampu membangun soliditas," kata M. Nasser.

Meski begitu Kompolnas menilai sejauh ini Komjen Pol. Dwi Priyatno dinilai tak punya catatan negatif.

"Di catatan kita seperti itu, tidak ada laporan masyarakat atau dari pihak lain bahwa beliau ada hal-hal negatif," lanjutnya.

Rekam jejak Komjen Pol. Dwi Priyatno juga dinilai lembaga antirasuah, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) cukup bersih dan dapat bekerja sama. Poin itu akan menjadi pertimbangan penting sehingga dirinya dapat diterima oleh penegak hukum lain termasuk KPK.

Menurut Komisioner Kompolnas M. Nasser, riwayat tugas Komjen Pol. Dwi Priyatno juga cukup lengkap. Ia pernah menjabat sebagai Kapolda Jawa Tengah dan Kapolda Metro Jaya sebelum akhirnya dilantik sebagai Inspektorat Pengawasan Umum (Irwasum) pada 2014.

"Saya kira iya disiplin, sekarang kan memimpin Irwasum. Artinya ia berada di dalam lini depan pengawasan Polri, tentu yang harus jadi contoh," jelasnya.

Mantan Wakil Kepala Polri Komisaris Jenderal Polisi (Purn) Oegroseno menilai, Komisaris Jenderal Polisi (Komjen Pol.) Dwi Prayitno dapat menjadi pengayom, baik bagi institusi kepolisian maupun bagi masyarakat. Hal tersebut dicermati Komjen Pol. (Purn) Oegroseno menanggapi semakin mengerucutnya calon orang nomor satu di Polri.

"Dwi mampu berkomunikasi dengan masyarakat. Dia juga perhatian kepada anak buah. Menurut saya, dia bisa menjadi pelindung dan pengayom di dalam dan luar.  Idealnya memang seperti itu," urai Komjen Pol. (Purn) Oegroseno kepada awak media, Kamis (12/2/2015) malam.

Komjen Pol. (Purn.) Oegroseno mengakui pernah bekerja sama secara langsung dengan Dwi. Ketika itu keduanya aktif di Jakarta Center for Law Enforcement Coorporation (JCLEC), sebuah lembaga bilateral antara Indonesia dan Australia yang fokus mengkaji kejahatan transnasional. "Sebagai staf, dia juga bekerja dengan baik," ucapnya.

Komjen Pol. (Purn.) Oegroseno pun menilai kinerja Dwi tatkala menjadi Kapolda Jawa Tengah patut dijadikan acuan. "Setiap ada kejadian, Dwi pasti hadir. Begitu juga saat ada bencana alam," katanya.

Komjen Pol. (Purn.) Oegroseno memang menjagokan dua nama untuk menggantikan Jenderal Polisi Drs. Sutarman. Selain Komjen Pol. Dwi Priyatno, dia juga menyebut nama Wakapolri saat ini, Komisaris Jenderal Polisi (Komjen Pol.) Badrodin Haiti.

Faktor senioritas dan berpengalaman memimpin Polda tipe A merupakan dua faktor yang diperhitungkan Komjen Pol. (Purn.) Oegroseno. "Budaya dan tradisinya sejak dulu sudah dibuat seperti itu," pungkasnya.

Di Jawa Tengah yang notabene daerah loyalis Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Komjen Pol. Dwi Priyatno diduga memiliki kedekatan dengan tokoh-tokoh partai banteng. Hal itu yang membuat peluang dirinya diterima oleh partai utama pendukung pemerintahan tersebut.

Komjen Pol. Dwi Priyatno pun kabarnya sudah mendapat restu dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dan Koalisi Merah Putih (KMP).

"Saya kenalnya Pak Dwi Priyatno waktu menjadi Kapolda Jateng dan saya waktu itu jadi anggota Panja revisi Undang Undang Kepolisian. Kalau dikait-kaitkan begitu bisa saja (dekat PDIP waktu menjadi Kapolda Jateng)," kata Politikus PDIP Hendrawan Supratikno saat berbincang dengan wartawan, Jumat (13/2/2015).

Menurutnya, Komjen Pol. Dwi Priyatno adalah sosok polisi yang memiliki intelektualitas tinggi dan komunikasi baik dengan berbagai kalangan. Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) pun tidak akan kesulitan untuk membangun komunikasi jika Irwasum Polri itu benar-benar menjadi Kapolri.

"Orangnya baik dan profesional, saat saya berdiskusi saya melihat sikapnya santun, tegas, dan kompeten," terang dia. (cnn/jos)

See Also

Mukernas II PPP Hasilkan Sejumlah Ketetapan
PAN Walk Out Dari Paripurna RUU Pemilu
Pengamat LIPI Sebut Fenomena Ahok Bikin Parpol Panik
Gubernur DKI Jakarta Tunggu Menteri Sebelum Konsep Baru Raperda Reklamasi
Fadli Zon Akan Sidak Lokasi RS Sumber Waras
Mekanisme Pemilihan CaGub Dan CaWaGub DKI Jakarta Dari PDIP
Presiden Joko Widodo Melantik Agus Widjojo Sebagai Gubernur Lemhannas
Ahok Kecam Cuitan Yusron Ihza Mahendra Yang Rasis
Bicara Kalimat Rasis, Kemlu Minta Yusron Ihza Mahendra Fokus Jalankan Tugas
Ahok Hadiri Pelantikan Pengurus Partai NasDem DKI Jakarta
Muhammadiyah Ingatkan Sistem Politik Tidak Boleh Memiskinkan Rakyat
Tujuh Rekomendasi Mukernas PKB
Agung Laksono Tegaskan Munaslub Partai Golkar Harus Oleh Tim Transisi
Setya Novanto Mundur
Mayoritas Anggota MKD DPR RI Putuskan Setya Novanto Langgar Kode Etik
Ibu Yang Dimarahi Ahok Soal KJP Mengadu Ke DPRD DKI Jakarta
MenkoPolhukam Bersaksi
Sejumlah Calon Petahana Menangkan Pilkada
Maroef Sjamsoeddin Ibaratkan Setya Novanto Seperti Henry Kissinger
Prabowo Subianto Juru Kampanye Maya Rumantir/Glenny Kairupan
Tiga Paslon Bupati Dan Wakil Bupati Blora Sampaikan Program Dan Visi Misi
Haedar Nashir Terpilih Menjadi Ketua Umum PP Muhammadiyah
Rapat Paripurna DPR RI Setujui Program Dana Aspirasi
Pimpinan DPR RI Minta MKD Usut Tuntas Dugaan Gelar Doktor Palsu
4 Butir Hasil Islah Partai Golkar
jQuery Slider
Arsip :20172016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 6.274.260 Since: 05.03.13 | 0.2138 sec