Internasional

Bos Besar Mafia Di China Dieksekusi

Monday, 09 Februari 2015 | View : 621

BEIJING-SBN.

Seorang triliuner China yang membangun kerajaan tambang di Australia menjalani eksekusi mati, Senin (9/2/2015), dengan pidana membentuk geng kejahatan ala mafia untuk membunuh dan memeras.

China akhirnya mengeksekusi Liu Han, mantan bos besar Sichuan Hanlong Group. Liu Han menjalani hukuman mati bersama empat kroninya.

Dikabarkan sebelumnya, pengusaha besar tambang Sichuan, Liu Han menangis saat digiring oleh polisi sesudah dijatuhi hukuman mati pada 16 April 2014 silam.

Senin (9/2/2015), kantor berita Xinhua melaporkan, seorang di antara empat orang itu adalah adik kandungnya, Liu Wei. Liu Han, 49, saudara laki-lakinya Liu Wei, dan tiga rekan lainnya dieksekusi sekaligus pada hari yang sama atas perintah pengadilan Xianning di Provinsi Hubei.

Xianning Intermediate People’s Court (setingkat pengadilan tinggi) di Provinsi Hubei, China mengonfirmasikan kematian Liu Han dan empat terpidana mati lain.

’’Eksekusi segera dilakukan setelah Mahkamah Agung China menyetujui hukuman mati terhadap lima terpidana,’’ jelas pihak pengadilan dalam pernyataan resmi. Tetapi, pihak pengadilan tidak memberitahukan waktu dan tempat eksekusi berlangsung.

Hukum yang berlaku di Negeri Tirai Bambu, China mewajibkan MA mengkaji dan mempertimbangkan seluruh vonis mati yang telah dijatuhkan pengadilan di bawahnya.

Setelah itu, MA harus memberikan rekomendasi kepada pengadilan yang akan menjalankan eksekusi tersebut. Tanpa restu atau persetujuan MA, tidak ada pengadilan yang boleh mengeksekusi terpidana mati di Negeri Panda tersebut.

Liu Han dan komplotannya dijatuhi hukuman mati pada Mei 2014 setelah terbukti membunuh. Para terpidana itu dijatuhi hukuman mati Mei tahun lalu atas tuduhan membunuh sedikitnya delapan orang, melakukan pemerasan, menyelundupkan senjata dan menjalankan rumah judi. Selain itu, mereka terbukti mengelola, mengendalikan, dan berpartisipasi dalam sebuah geng kriminal.

Sebagai bos, Liu Han jelas berperan sebagai pimpinan geng ala mafia tersebut.

Dalam berkas pengadilan, tim Jaksa menyebut Liu Han sebagai kriminal setara mafia. Sebab, dia menguasai hampir seluruh kasino di Provinsi Sichuan serta memonopoli bisnis perjudian, realestat, dan pertambangan di wilayah barat daya provinsi.

Pidana yang mereka lakukan "sangat jahat dan sangat keji", tulis media pemerintah Xinhua, mengutip bunyi putusan pengadilan.

"Dia tidak segan memerintah anak buahnya untuk menghabisi nyawa rival-rival bisnisnya," kata Xinhua.

Di sisi lain, kolektor ratusan mobil mewah seperti Rolls-Royce, Bentley, dan Ferrari tersebut juga berbisnis dengan sindikat narkotika dan obat-obatan terlarang.

Saat digerebek, menurut pengakuan polisi, aparat keamanan telah menyita granat, senjata api, peluru dan pisau. Dua bersaudara ini juga dikabarkan memiliki armada mobil mewah seperti Rolls-Royce, Bentley, dan Ferrari.

Tidak hanya moncer di dalam negeri, perusahaan yang Liu pimpin pun punya saham di Australia dan Amerika Serikat (AS). Dia menanamkan seluruh sahamnya di luar negeri pada sektor pertambangan.

Di Negeri Kanguru itu, saham Liu Han melantai dengan bendera Moly Group dan Sundance Resources. Namun, sejak Liu Han tertangkap pada 2013, gurita bisnisnya ikut melemah.

Meski tidak mau menyebutkan waktu atau tempat eksekusi lima terpidana mati tersebut berlangsung, Xinhua menegaskan bahwa hak Liu dan komplotannya telah diberikan. Yakni, hak untuk bertemu dengan keluarga sebelum mereka menjalani eksekusi.

’’Lima terpidana bertemu dan berkumpul bersama keluarga masing-masing sebelum eksekusi berlangsung,’’ papar media pemerintah tersebut.

Liu Han dan gangnya kali pertama muncul dalam radar polisi pada Januari 2009. Saat itu anak buah Liu Han menembaki sejumlah orang yang sedang bersantai di sebuah kedai teh di Kota Guanghan.

Sedangkan saudaranya, Liu Wei, juga bukan orang sembarangan. Dia merupakan salah satu pembawa obor dalam Olimpiade Beijing 2008. Liu Wei divonis bersalah memerintahkan pembunuhan tiga orang di sebuah warung teh di kotanya, Provinsi Sichuan, pada 2009.

Belakangan diketahui bahwa orang-orang yang tewas dalam insiden penembakan tersebut adalah saingan bisnis Liu Han. Sejak saat itu, polisi lantas mengendus jejak kriminal Liu Han dalam sejumlah kasus.

Sebelum 2009, Liu Han dikenal sebagai taipan yang murah hati. Dia memang sengaja membangun citra dermawan di mata publik. Gempa dahsyat yang meluluhlantakkan Sichuan pada 2008 menjadi salah satu lahan subur Liu Han untuk menonjolkan sisi murah hatinya.

Dia sengaja membangun sekolah di Sichuan sebagai ganti sekolah yang rata dengan tanah dan memberikan berbagai bantuan kepada para korban.

China adalah negara yang paling banyak melakukan eksekusi di dunia, namun kasus Liu Han ini tetap menarik perhatian Internasional karena kekayaannya yang luar biasa.

Menurut sebuah data resmi, aset keluarganya mencapai lebih dari US$ 6 miliar atau Rp 76 triliun.

Liu Han memiliki jaringan bisnis internasional dengan investasi tambang Australia. Saat ditangkap pada Maret 2013, Liu Han sedang dalam proses negosiasi untuk membeli perusahaan tambang Australia, Sundance Resources. Kesepakatan ini batal bulan berikutnya. Sebelumnya pada 2009, perusahaan utama dia Sichuan Hanlong Group membeli saham mayoritas di perusahaan tambang Moly Mines, juga asal Australia.

Liu Han dikabarkan memiliki koneksi dengan seorang mantan Kepala Polisi yang masih menunggu persidangan. Layaknya mafia lain, Liu Han bersekongkol dengan aparat untuk mengamankan bisnis kotornya. Konon, geng itu melibatkan mantan petinggi keamanan China yang kini menjadi tersangka dalam kasus korupsi, Zhou Yongkang. Selain polisi, pria 48 tahun itu ’’bersahabat’’ dengan sejumlah Jaksa.

Liu Han ditangkap hanya beberapa bulan setelah Xi Jinping menjadi Presiden China. Setelah itu mantan Kepala Polisi China Zhou Yongkang juga ditahan. Putra dia disebut-sebut memiliki hubungan busnis dengan Liu Han. (xinhua)

See Also

Pengadilan Rusia Perintahkan Perempuan Yang Kabur Dari Karantina Balik Ke RS
Virus Korona Tewaskan Direktur Rumah Sakit Di Wuhan
Penembakan Di Century Plaza Bangkok
Jeff Bezos Donasi USD 10 Miliar Untuk Penelitian Iklim
Korban Tewas Akibat Virus Korona Total Jadi 1.868
1.789 Korban Tewas Akibat Virus Korona
Warga Kanada Di Kapal Pesiar Diamond Princess Segera Dievakuasi
Arab Saudi Larang Warganya Ke China
Dokter Pengungkap Virus Korona Meninggal Dunia
Korban Jiwa Virus Korona Bertambah Jadi 634
Jepang Karantina Seluruh Penumpang Kapal Pesiar Diamond Princess Terkait Virus Corona
Ratusan Warga Negara Malaysia Dan Keluarganya Dipulangkan Dari Wuhan
Penembakan Di Asrama Kampus Texas A & M University
7 Fakta Rumah Sakit Kilat Pasien Korban Virus Corona Wuhan
Singapura Umumkan 6 Kasus Baru Virus Korona
Rumah Sakit Kilat Virus Corona Wuhan Mulai Beroperasi
Penembakan Dalam Bus Greyhound Di California
Korban Meninggal Virus Korona Bertambah Jadi 362
TNI Siap Bantu Kebakaran Hutan Di Australia
Rudal Kenai Objek Di Langit Iran Saat Pesawat Ukraina Jatuh
Iran Sebut Pesawat Ukraina Terbakar Sebelum Jatuh
Pejabat AS Sebut Pesawat Ukraina Kemungkinan Kena Rudal Iran
Bencana Kebakaran Lahan Di Australia
Kapal Induk Kedua China Resmi Diluncurkan
PBB Sebut 7 Ribu Demonstran Iran Ditahan Akibat Protes Kenaikan BBM
jQuery Slider
Arsip :20202019201820172016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 8.276.235 Since: 05.03.13 | 0.1788 sec