Hukum

Kepsek SMAN 3 Setiabudi Jaksel Dipolisikan

Thursday, 12 Februari 2015 | View : 676

JAKARTA-SBN.

Orang tua murid SMAN 3, Setiabudi, Jakarta Selatan, tak hanya melaporkan Erick dengan perkara perbuatan cabul ke Polda Metro Jaya. Kepala Sekolah SMAN 3 Setiabudi Jakarta Selatan, Retno Listyarti juga kena dipolisikan para wali murid. Kepala Sekolah SMAN 3 Setiabudi, Jakarta Selatan, berinisial RL tersebut, dilaporkan ke Polda Metro Jaya, lantaran diduga melakukan tindakan diskriminatif berupa skorsing terhadap sejumlah murid.

Salah satu orang tua saksi PC yang kebetulan berprofesi sebagai pengacara, atas nama Frans Paulus, akhirnya membuat laporan dugaan tindak diskriminasi terhadap anak yang dilakukan RL dengan Nomor Laporan LP/466/II/2015/PMJ/Dit Reskrimum 4 Februari 2015. Laporan ini tertera dalam Nomor Laporan: LP/446/II/2015/PMJ/Dit.Reskrimum yang dibuat pada 4 Februari 2015 lalu. Pelapor diketahui bernama Frans Paulus. Advokat Frans Paulus melaporkan Retno Listyarti dengan perkara diskriminasi terhadap anak.

Akibatnya, RL, terancam dijerat Pasal 77 Juncto Pasal 76 A huruf a Undang-undang RI Nomor 35 Tahun 2014.

Dari surat laporan tersebut, tertera ada enam nama korban siswa yang mendapatkan skorsing dari sekolah karena diduga telah terlibat pemukulan terhadap Erick. Mereka adalah HJP, PRA, AEM, EMA, MRPA, dan PC. Mereka tak boleh ke sekolah selama dua bulan, sejak 11 Februari sampai 9 Maret dan 16 Maret sampai 13 April 2015.

Hukuman ini jatuh pasca pengeroyokan keenam murid itu kepada Erick yang merupakan warga sekitar sekolah diketahui pihak sekolah.

Cerita awalnya bermula pada Jumat (30/1/2015). Ketika itu, laju motor AE tiba-tiba dihadang Erick yang mengaku sebagai polisi. Erick minta AE menunjukkan surat-surat kendaraannya.

Tapi, AE tak percaya Erick polisi. Musababnya, dia mencium bau alkohol dari mulut Erick. Di tengah cek-cok, muncul dua teman AE, masing-masing HJP (perempuan) dan PC. Tanpa diduga, Erick mengelus tangan dan pipi HJ. Melihat gelagat tak beres, PC mengajak AE dan HJP pergi.

Erick murka karena merasa diacuhkan. Dia membentak dan hendak memukul. AE pun tak tinggal diam. "Karena merasa terancam, saya pukul dia duluan. Lalu dibantu teman-teman," tutur AE beberapa waktu lalu.

Kebetulan datang pula teman mereka yang lainnya, yakni, PR, EMA, dan MRPA. Erick otomatis menjadi bulan-bulanan. Tapi, warga setempat mencegah ketika mereka mau membawa Erick ke kantor polisi.

Satu pekan setelah peristiwa berlalu, pihak sekolah mendapat laporan enam siswa mereka mengeroyok Erick. Tanpa konfirmasi, pihak sekolah langsung merumahkan sementara AE cs.

Keputusan sekolah jelas membuat orang tua keenam siswa mutung. Mereka sudah mengadukan persoalan ini ke Dinas Pendidikan DKI.

Juru Bicara Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Polisi (Kombes Pol.) Martinus Sitompul, mengatakan laporan itu bermula dari peristiwa dugaan pencabulan yang dilakukan seorang alumni bernama Erick terhadap HJP siswi SMAN 3 Setiabudi.

Kronologi kejadian, bermula ketika Erick mencoba merampas sepeda motor saksi atas nama Alif, di dekat SMAN 3 Setiabudi, tanggal 30 Januari 2015 lalu. Kemudian, korban HJP mencoba membantu saksi. Namun, saat mau membantu, pelaku meraba dada korban.

Lalu, teman-teman korban berinisial PRA, AEM, MRPA, dan PC datang membantu dan akhirnya terjadi perkelahian hingga Erick mengalami luka-luka. "Ternyata E (Erick) melaporkan kejadian perkelahian tersebut ke terlapor (kepala sekolah)," papar Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol. Martinus Sitompul, Jumat (6/2/2015).

Ia menyampaikan, kepala sekolah menerima laporan itu dan memberikan hukuman berupa sanksi skorsing selama 39 hari tidak masuk sekolah, terhadap korban dan saksi-saksi.

“Korban merasa dirugikan karena tidak dapat mengikuti proses belajar mengajar untuk mengikuti Ujian Akhir Sekolah. Hal ini, berakibat para korban mengalami kerugian materil maupun non materil yang menghambat fungsi sosialnya,” urai mantan Kabid Humas Polda Jawa Barat, Kombes. Pol. Martinus Sitompul.

See Also

Keterangan Ahli Di Sidang Praperadilan Terkait Eksekusi Penahanan Matheus Mangentang
Peras Mantan Petinggi Polri, Hukuman Sisca Dewi Diperberat
LBH Ansor Jateng Apresiasi Penangkapan Cepat Polres Kebumen Terhadap Pelaku Kekerasan Seksual
Kapolres Bitung Perintahkan Pelaku Kejahatan Ditembak Di Tempat
Reserse Polres Bitung Bekuk Residivis Sadis Pembegal Motor
Satuan Reskrim Polres Bitung Tangkap Dua Tersangka Curanmor
Mahasiswa Unesa Sorot Penggunaan Dana Pembelian Mebel Di Kampus
KPK Tetapkan Dirut PT. Rohde And Schwarz Indonesia Sebagai Tersangka
KPK Akan Segera Periksa Saksi Dan Tersangka Suap KONI
KPK Cekal Robert Tantular Ke Luar Negeri
Tim Resmob Dan Tarsius Bitung Lumpuhkan Pencuri Kambuhan
Mahkamah Agung Hukum Alfian Tanjung 2 Tahun Penjara
Polda Jatim Duga Ada Kesalahan Teknis Proyek Berujung Jalan Gubeng Ambles
KPAI Apresiasi Langkah Cepat Polri Proses Bahar Bin Smith
Polri Sebut Penahanan Tersangka Bahar Bin Smith Murni Kasus Hukum
Polri Koordinasi Dengan LPSK Amankan 2 Remaja Korban Bahar Bin Smith
Usai OTT KPK, Kemenpora Lanjutkan Program SEA Games-Olimpiade
KPK Sita Miliaran Rupiah Terkait OTT Pejabat Kemenpora Dan KONI
Polri Kantongi Bukti Penganiayaan Oleh Bahar Bin Smith
KPK OTT Pejabat Kemenpora Dan Pengurus KONI
Polres Metro Jakarta Selatan Buru Pembunuh Perempuan Muda Di Kebagusan City
Pembunuh Keji Sopir Taksi Online Divonis 10 Tahun Penjara
Uang Pengganti E-KTP, KPK Sita Rp 862 Juta Dari Setya Novanto
Keterangan Ahli Ketua DPD KAI DKI Jakarta Pada Sidang Lanjutan Julius Lobiua
TNI AL Ringkus Pelaku Narkoba Di Tanjung Ahus
jQuery Slider

Comments

Arsip :2019201820172016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 7.542.755 Since: 05.03.13 | 0.1509 sec