Hukum

Hakim Menangis Bacakan Kekejaman Muhammad Delfi Cs

Thursday, 12 Februari 2015 | View : 1007
Tags : Mutilasi, Siak

SIAK-SBN.

Ruangan Sidang Utama Pengadilan Negeri (PN) Siak awalnya penuh sesak sembari menunggu sidang vonis Hakim terhadap tiga terdakwa kasus pembunuhan disertai mutilasi, Kamis (12/2/2015).

Muhammad Delfi (20) alias Buyung, Dita Desmala Sari (20) dan Supiyan (26) diseret ke pengadilan atas perbuatan sadis membunuh dan memutilasi tujuh korban, yang semuanya bocah laki-laki. Ketujuh orang itu adalah Febrian Dela (5), M. Hamdi Al-Iqsan (9), Rendi Hidayat (10), M. Akbar (9), Marjevan Gea (8), Femasili Madeva (10), dan Acik (40).

Pengunjung itu terdiri dari pihak kepolisian, wartawan, keluarga korban, dan masyarakat umum.

Sidang putusan terhadap tiga terdakwa kasus pembunuhan disertai mutilasi di Pengadilan Negeri (PN) Siak dijaga ketat aparat kepolisian, Kamis (12/2/2015).

Puluhan polisi dari Polres Siak sejak pagi, Kamis (12/2/15) sudah berjaga-jaga. Tampak sejumlah peralatan anti kerusuhan melengkapi personel.

Tiga terdakwa tersebut, yakni Muhammad Delfi, Supyan dan Dita Desmala Sari yang sudah melenyapkan nyawa 7 korbannya selama 2013 dan 2014 tampak ketakutan menjelang sidang dimulai.

Saat mobil tahanan tiba di PN Siak, awak media langsung mengejar untuk mengambil gambar. Ketiganya langsung digiring aparat kepolisian ke dalam ruangan sidang.

Majelis Hakim akhirnya menetapkan vonis mati kepada tiga pelaku pembunuhan disertai mutilasi pada sidang putusan di Pengadilan Negeri (PN) Siak, Kamis (12/2/2015).

Dua terpidana mati, Muhammad Delfi dan mantan istrinya, Dita Desmala Sari, tampak lebih santai ketimbang dibanding rekannya Supyan.

Vonis mati untuk M. Delfi dan Supyan sesuai dengan tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU). Sedangkan vonis Dita Desmala Sari justru lebih berat, karena sebelumnya ia dituntut dengan hukuman penjara seumur hidup.

Ketiga terdakwa mendengarkan pembacaan amar putusan oleh Majelis Hakim secara bergantian.

Muhammad Delfi (20) yang dianggap sebagai otak pelaku pembunuhan berantai terhadap tujuh korbannya yang semuanya laki-laki, enam di antaranya masih anak-anak, lebih dahulu divonis mati. Baru menyusul Supyan dan terakhir Dita Desmala Sari, mantan istri M. Delfi.

Majelis Hakim yang diketuai Sorta Ria Neva, S.H. dan dua Hakim anggota, Desbertua Naibaho, S.H. dan Robi Wibowo, S.H., membacakan tujuh berkas untuk M. Delfi.

Saat menguraikan fakta-fakta persidangan sebelumnya, Hakim Sorta Ria Neva sempat membuat seisi ruangan terharu.

Hakim Sorta Ria Neva menangis ketika sampai pada kronologi kekejian Muhammad Delfi Cs dalam menghabisi nyawa tujuh korbannya. Perbuatan keji Muhammad Delfi Cs dibacakan secara runut mulai dari proses penculikan, pembunuhan hingga mutilasi dan diambil alat kelaminnya, sehingga membuat bulu roma merinding.

Muhammad Delfi memulai aksi kejinya dengan membunuh bocah berusia 5 tahun, Febrian Dela, di Kampung Baru, Kelurahan Rangau, Kecamatan Rantau Kopar, Kabupaten Rokan Hilir Provinsi Riau.

Febrian dilaporkan hilang oleh orangtuanya pada tanggal 10 Januari 2013. Korban pertamanya itu merupakan pembeli sate yang dijajakan oleh M. Delfi. Dari pengakuannya ke polisi, M. Delfi mengatakan ia sendirian membunuh dan memutilasi Febrian.

Selanjutnya, pembunuhan kedua dan ketiga ia lakukan bersama istrinya, Dita Desmala Sari. Pasangan ini kemudian bercerai.

Setelah itu, M. Delfi kembali beraksi sendirian membunuh korban keempat dan kelima. Sementara untuk korban keenam dan ketujuh, ia melakukannya bersama temannya, Supiyan.

Dita Desmala Sari, yang ikut andil menghilangkan nyawa tiga dari tujuh korban sempat berharap Majelis Hakim tidak menjatuhkan hukuman mati. Sebab, Jaksa Penuntut Umum (JPU) sebelumnya menuntut Dita dengan penjara seumur hidup. Alasan Jaksa, Dita ikut melakukan pembunuhan di bawah tekanan Delfi, yang kala itu terikat hubungan suami-istri.

Dita yang rauh wajah datar itu menjadi perhatian banyak hadirin. Ia tampak bertambah gemuk selama menjalani proses hukumnya. Sebelum duduk di kursi pesakitan, ia masih sempat melempar senyum. Ia tetap santai walaupun Hakim membacakan dua berkas dari fakta-fakta persidangan sebelumnya.

Dari uraian Hakim, Dita lah yang berperan membuka celana korbannya, sebelum Muhammad Delfi mencekiknya. Dita pula yang memainkan kelamin korbannya sebelum dipotong dengan pisau kater.

Perbuatan yang membuat roma hadirin merinding itu, dibacakan secara seksama oleh Majelis Hakim.

Dita tampak biasa saja saat banyak hadirin keluar ruangan sidang, karena tak sanggup mendengarkan kronologi perbuatannya pada korban-korbannya.

Saat sidang berlangsung, para pengunjung satu per satu keluar ruangan. Alasan mereka tidak tahan mendengar pembacaan kronologis mutilasi yang dilakukan terdakwa oleh Majelis Hakim.

Maklum saja, dari kronologis berdasarkan fakta persidangan dan keterangan saksi sebelumnya, yang dibacakan Majelis Hakim, proses mutilasi yang dilakukan ketiga terdakwa sangat sadis. Seperti membujuk korban ke lokasi pemancingan, lalu membuka celana korban.

Sementara Dita, satu di antara tiga terdakwa membuka celana korban, lalu memainkan kemaluan korban. Setelah kemaluan korban menegang, Supyan bertindak mencekik leher korban, lalu kemaluan korban dipotong.

Setelah dibunuh, korban dimutilasi dan diambil alat vitalnya. Terdakwa Supiyan tega menguliti Femasili yang pernah bekerja di rumah potong. Setelah aksi keji itu berhasil, ketiga terdakwa juga memotong-motong daging korban untuk kemudian dijual. Daging korban dijual pelaku ke rumah makan dan kedai tuak di Perawang, Siak. Korban dengan kondisi mengenaskan ditinggalkan oleh terdakwa.

Delfi Cs memburu korban-korbanya sampai ke Duri (Bengkalis) dan Rokan Hilir. Aksi mereka berakhir Juli 2014 atau setahun setelah beraksi.

Setelah menyeka air matanya, Hakim Sorta Ria Neva tampak geram membacakan amar putusan. Ruangan sidang terbuka yang dipenuhi wartawan, keluarga korban dan pihak kepolisian itu ikut berdiri. "Semua unsur terkait hukum dan keyakinan sudah terpenuhi. Dari fakta-fakta persidangan, tidak satupun yang dapat meringankan (terdakwa)," kata Hakim Sorta Ria Neva sesaat sebelum mengetuk palu terhadap putusan itu di ruang sidang Cakra, Pengadilan Negeri (PN) Siak.

Namun, tuntutan Jaksa terhadap Dita tidak disepakati Majelis Hakim. Sebab, Dita mempunyai andil besar pula dalam menghabisi nyawa korbannya. Sehingga tak ada keterangan saksi dan fakta persidangan sebelumnya yang dapat meringankan. Dugaan itu akhirnya benar. Dita lalu divonis mati.

Setelah berdiskusi dengan penasehat hukumnya, Dita juga mengajukan banding. "Apakah sikap kamu dengan putusan itu?" tanya Hakim Sorta Ria Neva. "Banding," sebut Dita setengah berbisik. "Banding? Ya, banding, waktunya tujuh hari ya," ulas Hakim Sorta Ria Neva.

Selain ketiga terdakwa, DP (17), seorang pelajar SMK di Siak ikut tersangkut. Pengadilan Negeri (PN) Siak memvonisnya 10 tahun penjara awal September 2014 lalu. Ini merupakan hukuman maksimal untuk pelaku kejahatan yang masih di bawah umur. Tetapi DP bebas di tingkat banding. Jaksa Penuntut Umum (JPU) tak terima, sehingga mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung (MA).

Dalam surat dakwaan yang dibacakan bergantian lima Jaksa selama dua jam, terungkap Muhammad Delfi sebagai aktor utama kasus ini. Ia memotong kelamin para korban sebagai syarat menguasai ilmu hitam, sesuai petunjuk ayahnya yang seorang dukun. Kemaluan korban direndam di dalam tempayan berisi kembang tujuh rupa yang kemudian dipakai mandi oleh M. Delfi.

Dalam dakwaannya, Jaksa Penuntut Umum (JPU) menjerat ketiga orang itu dengan pasal berlapis. Salah satunya Pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana. "Dengan ancaman hukuman mati atau penjara seumur hidup atau penjara paling lama 20 tahun," tegas Jaksa. Jaksa Penuntut Umum (JPU) langsung dikoordinatori Kepala Kejaksaan Negeri Siak Zainul Arifin.

See Also

Keterangan Ahli Di Sidang Praperadilan Terkait Eksekusi Penahanan Matheus Mangentang
Peras Mantan Petinggi Polri, Hukuman Sisca Dewi Diperberat
LBH Ansor Jateng Apresiasi Penangkapan Cepat Polres Kebumen Terhadap Pelaku Kekerasan Seksual
Kapolres Bitung Perintahkan Pelaku Kejahatan Ditembak Di Tempat
Reserse Polres Bitung Bekuk Residivis Sadis Pembegal Motor
Satuan Reskrim Polres Bitung Tangkap Dua Tersangka Curanmor
Mahasiswa Unesa Sorot Penggunaan Dana Pembelian Mebel Di Kampus
KPK Tetapkan Dirut PT. Rohde And Schwarz Indonesia Sebagai Tersangka
KPK Akan Segera Periksa Saksi Dan Tersangka Suap KONI
KPK Cekal Robert Tantular Ke Luar Negeri
Tim Resmob Dan Tarsius Bitung Lumpuhkan Pencuri Kambuhan
Mahkamah Agung Hukum Alfian Tanjung 2 Tahun Penjara
Polda Jatim Duga Ada Kesalahan Teknis Proyek Berujung Jalan Gubeng Ambles
KPAI Apresiasi Langkah Cepat Polri Proses Bahar Bin Smith
Polri Sebut Penahanan Tersangka Bahar Bin Smith Murni Kasus Hukum
Polri Koordinasi Dengan LPSK Amankan 2 Remaja Korban Bahar Bin Smith
Usai OTT KPK, Kemenpora Lanjutkan Program SEA Games-Olimpiade
KPK Sita Miliaran Rupiah Terkait OTT Pejabat Kemenpora Dan KONI
Polri Kantongi Bukti Penganiayaan Oleh Bahar Bin Smith
KPK OTT Pejabat Kemenpora Dan Pengurus KONI
Polres Metro Jakarta Selatan Buru Pembunuh Perempuan Muda Di Kebagusan City
Pembunuh Keji Sopir Taksi Online Divonis 10 Tahun Penjara
Uang Pengganti E-KTP, KPK Sita Rp 862 Juta Dari Setya Novanto
Keterangan Ahli Ketua DPD KAI DKI Jakarta Pada Sidang Lanjutan Julius Lobiua
TNI AL Ringkus Pelaku Narkoba Di Tanjung Ahus
jQuery Slider

Comments

Arsip :2019201820172016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 7.502.226 Since: 05.03.13 | 0.1419 sec