Redaksi

Seminar Politik Bertajuk Peran Dan Kesaksian Kekristenan Dalam Pemerintahan Masyarakat Majemuk (2)

SBN

Jagad politik Indonesia akhir-akhir ini mengalami dinamika signifikan dengan hadirnya pejabat-pejabat publik yang memperoleh dukungan rakyat. Rakyat di negeri ini seakan memiliki tumpuan baru untuk hadirnya Indonesia yang lebih baik dengan tampilnya tokoh-tokoh bermutu tersebut. Persoalannya, hadirnya Indonesia yang lebih baik mesti diperjuangkan dengan segenap tenaga, dan oleh segenap rakyat Indonesia. Kekristenan dalam hal ini layak menunjukkan partisipasi nyata untuk mewujudkan Indonesia yang adil, damai dan sejahtera.

Berangkat dari realitas di atas, peran dan kesaksian kekristenan dalam kehidupan masyarakat Indonesia yang majemuk amat dibutuhkan dan merupakan sebuah keniscayaan. Maka dari itu, Reformed Center for Religion and Society (RCRS) menghadirkan tokoh-tokoh yang telah menunjukkan dedikasi dan perjuangannya dalam seminar sehari yang diselenggarakan  di Katedral Mesias RMCI, Aula John Calvin, Jl. Industri Blok B14 Kav.1, Kemayoran, Jakarta Pusat, pada Sabtu (17/1/2015).

Acara Seminar Politik ini direlay ke 24 tempat, termasuk luar negeri, di antaranya Boston, Los Angeles, Salt Lake City, New York, Berlin, Hamburg, Munich, Bern, Taichung, Guangzhou, Beijing, Shanghai, Xiamen, Fuzhou, Tianjin, Nanjing, Hangzhou, Hongkong, Melbourne, Sydney, Perth, Auckland, Singapore, dan Kuala Lumpur.

Seminar itu menampilkan pembicara handal di bidangnya masing-masing antara lain Prof. James W. Skillen, Ph.D, pendiri Center for Public Justice, Maryland, AS.  Narasumber yang kedua yakni Ir. Basuki Tjahaja Purnama, M.M, Gubernur DKI Jakarta. Dan narasumber yang ketiga adalah Pdt. Dr. Stephen Tong, D.L.C.E., D.D., seorang filsuf, teolog, budayawan, dan pendiri RCRS. Ketiga pembicara ini dipandu oleh moderator Pdt. Benyamin F. Intan‎, Ph.D., yang juga Direktur Eksekutif RCRS.

Prof. James W. Skillen, Ph.D. yang tampil pada sesi pertama menyatakan bahwa orang Kristen dipanggil untuk melayani dan mengasihi sesama. Menurutnya, kita tidak dipanggil untuk menghakimi manusia lainnya. Dia juga mengatakan bahwa kita harus mendorong anak-anak muda untuk menjadi orang yang melayani publik dan melihat mereka menjadi pejabat yang akan mempromosikan dan menegakkan keadilan.

Lebih jauh, Prof. James W. Skillen, Ph.D. memaparkan, salah satu cara menunjukkan kasih terhadap sesama adalah dengan menunjukkan keadilan. Dan orang Kristen, sesuai perintah dalam Alkitab, harus memikirkan keadilan bagi sesama. Pemerintah yang tidak adil itu memalukan dan merupakan pemberontakan terhadap Allah. “Kita sebagai masyarakat dalam segala aspek harus menghormarti pemerintah, sebaliknya pemerintah harus melakukan keadilan. Sebab tugas pokok pemerintah adalah menegakkan keadilan,” ujarnya.

Prof. James W. Skillen, Ph.D. selanjutnya menjelaskan, untuk menjaga agar pemerintahan itu bersikap adil, maka kekuasaan pemerintah tersebut harus dibatasi, artinya mesti ada perbedaan mana yang menjadi tanggung jawab pemerintah, dan mana yang tidak.

Senada dengan James W. Skillen, Basuki Tjahaja Purnama mengakui bahwa seorang pejabat publik mestinya memberikan keadilan kepada semua, tidak hanya pada penganut agama tertentu, tetapi kepada semua. Selanjutnya Gubernur DKI Jakarta yang populer dengan nama panggilan Ahok ini juga menjelaskan bahwa di Indonesia, bukan mustahil seorang minoritas yang memiliki integritas dan bijaksana dapat menduduki jabatan publik yang penting, sebagaimana yang dia alami. Memang, untuk menduduki jabatan penting tersebut menurutnya tidak mudah bagi seorang yang berasal dari kelompok minoritas, tapi pengalaman Basuki Tjahaja Purnama yang kini menjadi orang nomor satu di Jakarta menepis anggapan itu. Beliau juga mengingatkan, bahwa Allah sungguh berdaulat atas dunia dan pemerintahan yang ada, dan pertolongan Tuhan yang berdaulat itu dirasakannya dalam memimpin Jakarta. Menurutnya, menurunnya harga minyak dunia, yang mengakibatkan turunnya harga BBM di dalam negeri adalah sebuah anugerah Tuhan yang memungkinkan pemerintahan yang baru saat ini dapat melaksanakan tugasnya dengan baik. “Itu menunjukkan bahwa kedaulatan Allah ada dalam dunia ini, dan itu pun harus menjadi pegangan bagi semua pejabat publik,” kata mantan anggota Komisi II DPR RI yang populer dengan nama Ahok tersebut.

Negara dalam konteks kedaulatan Allah ditetapkan Allah untuk mengusung komunitas manusia menuju keadaan yang di dalamnya kesetaraan, kebebasan, dan keadilan tumbuh. Maka, negara yang ber-kedaulatan Allah tidak boleh mereduksi manusia menjadi boneka serta membenarkan tirani politik dan sosial sebagaimana marak pada era Pemerintahan Orde Baru.

Konsep kedaulatan Allah dalam pemerintahan semestinya mende-absolutisasi dan merelativisasi semua klaim atas kekuasaan absolut. Seperti yang selalu diingatkan John Calvin bahwa kepatuhan tanpa syarat kepada siapa dan apa pun merupakan pemberhalaan, ketaatan mutlak seorang Kristen hanyalah kepada Allah. Senada dengan John Calvin, Abraham Kuyper secara tegas menyatakan suara kenabian dan tugas profetis gereja dan orang Kristen bukan hanya melakukan desakralisasi dan relativisasi, tetapi juga menegakkan keadilan dan demokratisasi.

Sementara itu, Pdt. Dr. Stephen Tong, D.L.C.E., D.D. yang tampil dalam sesi ketiga mengatakan bahwa  minoritas selalu memiliki tempat yang penting dalam sejarah.  Misalnya, Yusuf, Daniel, nabi-nabi, rasul-rasul, Yohanes Pembaptis, dan Yesus, adalah minoritas. Minoritas yang membentuk sejarah, asal saja minoritas itu mengetahui posisinya,  visi, tugasnya, dan kemungkinan potensinya  berkembang menjadi berkat mayoritas. “Ketika minoritas berjuang untuk mayoritas, saat itu dia terlepas dari minoritas,” terang Dr. Stephen Tong.

Orang Kristen adalah hati nurani masyarakat. Kalau orang Kristen tidak menjaga peranan  sebagai hakim, hati nurani masyarakat, berarti  tidak ada pengaruhnya di dunia. Dunia ini harus melihat patokan dan contoh.  Masyarakat punya hati nurani, dan hati nurani itu adalah orang Kristen. Orang Kristen adalah hari nurani masyarakat sekalipun minoritas. “Orang Kristen harus punya sikap yang benar-benar adil melihat segala sesuatu.  Bila ada sesuatu yang tidak adil kita merasa  terganggu, terluka, karena kita adalah hati nurani yang bisa melihat dan menilai dengan keadilan sebagai patokan," papar pendiri Reformed Institute for Christianity and 21st Century di Washington D.C., Amerika Serikat (AS) pada tahun 1996 ini.

Orang  Kristen harus punya kepekaan  di dalam mengevaluasi segala sesuatu yang terjadi dalam masyarakat.  Orang Kristen harus punya pandangan yang jernih dan tajam sehingga bisa melihat arah dan bahaya.  Pendiri RCRS ini mengingatkan, “Pemerintah mendapat kuasa dari Tuhan, tetapi banyak pemerintah yang buta. Padahal sebelum dipilih masih bisa melihat jelas. Tetapi setelah menduduki jabatan, matanya  mulai kabur”. Dia juga mengatakan bahwa kita harus punya  keberanian untuk menegur.  “Di dalam masyarakat yang semakin majemuk kita harus menjadi hati nurani, menjadi kompas , nabi, contoh, lokomotif,” tegas Pdt. Dr. Stephen Tong yang sejak tahun 1984 kerap mengadakan seminar-seminarnya di berbagai kota di Indonesia seperti Jakarta, Bandung, Surabaya; dan di kota-kota mancanegara seperti di Regent College, China Graduate School of Theology (Hong Kong), China Evangelical Seminary (Taiwan), Trinity Theological College (Singapura), University of Cambridge, Westminster Theological Seminary, Massachusetts Institute of Technology, Columbia University, University of California Berkeley, Stanford University, University of Maryland, dan Cornell University menggelar seminar akbar yakni Seminar Pembinaan Iman Kristen (SPIK) di Jakarta yang memelopori Doktrin Reformed.

See Also

Pidato Pertanggungjawaban Atas Penerimaan Soetandyo Wignjosoebroto Award
Merenungi Kepergian KH Hasyim Muzadi
Koalisi Cikeas Usung Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni
Saya Mengurus Kewarganegaraan Indonesia Sendiri Dan Tidak Mudah
Lian Gouw Untuk Penyebaran Novel Sejarah Indonesia
Seminar Membangun Ke-Indonesia-an
Rencana Bekerja Untuk Otonomi Perempuan
Ketemu Anak Presiden Di Markobar Surabaya
Mengenang Mas Slamet Riyadi Sabrawi
Batik Cermin Budaya Bangsa Indonesia
Keberlangsungan Batik Dalam Pergulatan
Handoko Wibowo Penerima Yap Thiam Hien Award 2015
Cengkeh Dan Petani Berdaya
Senyum Solidaritas Wong Cilik Yang Aku Suka
Ketika Myra Diarsi Di Tlogo Wening
SBO TV Tentang Masa Orientasi Sekolah
Membimbing Karier Anak
Menulis Karya Besar Yang Berdampak Untuk Yang Lain
Festival Kartini Bersama Wakil Gubernur Dan Konsulat Jenderal Amerika Serikat
Surat Cinta Untuk Kartini
Wisata Suku Bajo Terbesar Di Dunia
Wisata Darat Di Tomia Wakatobi
Jiwa Entrepreneur Di Belakang Perkembangan Wakatobi
Taman Laut Wakatobi Terbaik Di Dunia
Makanan, Suku, Pantai, Dan Kain Tradisional Kendari
jQuery Slider

Comments

Arsip :20172016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 6.989.520 Since: 05.03.13 | 0.2947 sec