Redaksi

Pancasila Dan Bhinneka Tunggal Ika

SBN

Saya di Yogyakarta untuk rapat pengurus Yayasan Interfidei yang bergerak di dialog antar iman yang telah banyak berkarya sejak awal tahun 90-an.

Saya memilih tinggal di rumah teman baik ketimbang di hotel. Rumahnya di tengah sawah, gunung merapi terlihat begitu dekat. Bangun tidur langsung ke taman belakang yang menghadap matahari. Tanaman, ketenangan dan sinar matahari yang lembut begitu menenangkan hati. Sungguh menyenangkan dan menyegarkan.Nanti akan bertemu dengan orang-orang terkenal yang bergerak di bidang dialog antar iman. Pasti pertemuan yang mencerahkan. Pagi yang luar biasa indah di Pondok Sagu Rahan Vatnim. Hari yang menyenangkan. Syukur.

Dalam rapat pengurus Interfidei Sabtu (17/1/2015) kemarin saya mendapat informasi bahwa ancaman ke depan jika masyarakat ASEAN telah berjalan akan memunculkan isu baru yakni konflik antara Islam dengan Buddha. Kisah kekerasan terhadap orang-orang pemeluk Islam Rohingya Myanmar yang kemudian berdampak di Indonesia, dengan orang-orang Islam melakukan pembalasan dendam terhadap pemeluk Buddha dan Vihara di Klender. Hal ini akan berulang kalau tidak ada langkah pencegahan.

Katanya kekerasan di Klender dipicu oleh media massa yang memberi gambaran yang sepenuhnya tidak benar. Karena itu ada 2 pekerjaan rumah yang harus kita lakukan untuk mencegah kejadian itu berulang dan menjadi besar. Pertama media massa membangun prinsip menyampaikan kabar yang mendamaikan bukanlah memperparah konflik yang ada. Kedua pemeluk agama di Indonesia harus membedakan diri dengan pemeluk agama di luar Indonesia. Jadi ada Islam Indonesia, Hindu Indonesia, Buddha Indonesia dan lain-lain. Yang membedakan adalah Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika. Sebaiknya pemeluk agama di Indonesia tidak mengidentifikasikan diri dengan gerakan agama internasional yang berorientasi pada intoleransi terhadap agama lain.

Bhinneka Tunggal Ika saya pahami seide dengan pluralisme. Satu topik yang saya peduli dan mau menjadi bagian dari kerja menjaga dan mewujudkannya. Karena itu saya menjadi pengurus Interfidei. Satu lembaga dialog antar iman yang lahir tahun awal 90-an. Salah satu karyanya adalah pembelaan terhadap Konghucu.

Melalui lembaga ini saya mendapatkan bahan untuk perubahan diri: melakukan refleksi terus menerus terhadap iman sendiri dan menghormati keyakinan orang lain dari lubuk hati.

Melalui lembaga ini, saya juga memiliki kesempatan ketemu dan berdialog dengan pejuang antar iman yang luar biasa di negeri ini antara lain mantan Presiden RI ke-4 (20 Oktober 1999-23 Juli 2001), almarhum Kiai Haji Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, salah satu tokoh gerakan anti kekerasan dari kalangan Hindu-Bali bermahzab Gandhiisme almarhumah Ibu Gedong Bagus Oka dilahirkan dengan nama Ni Wayan Gedong, almarhum Pdt. Em. Dr. Eka Darmaputera (The Oen Hien), almarhum Romo Y.B. Mangunwijaya atau yang dikenal dengan Romo Mangun, mantan Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah Bapak Prof. Dr. H. Ahmad Syafii Maarif, salah satu Dirjen di Kementerian Agama RI Bapak Prof Dr. H. Muhammad Machasin, M.A., Bapak Budi, Bhikkhu Pannyavaro Mahatera, mantan Menteri Sekretariat Negara era Gus Dur (2000-2001) Bapak Dr. Djohan Effendi, dan lain-lain.

Kali ini saya bertemu dan berdialog dengan Bhikku Pannyavaro Mahatera, Prof Dr. H. Muhammad Machasin, M.A. (salah satu Dirjen di Kementerian Agama RI), Dosen Universitas Hasanuddin Makassar Dr. Arlina G. Latief, M.Sc. serta Dosen Fakultas Teologi Universitas Kristen Duta Wacana Yogyakarta Dr. Tabita Kartika Christiani, anggota Dewan Pers sekaligus mantan Wakil Ketua dan Komisioner Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) periode 2007-2012 Yosep Stanley Adi Prasetyo, dan lain-lain.

Ibu Arlina G. Latief bisa jadi teladan dalam pernikahan antar agama. Beliau seorang Kristen Protestan menikah dengan seorang Islam dan tinggal di daerah yang belum bisa terlalu menerima pernikahan perbedaan agama. Mendengar kisah mereka, hati sungguh tersentuh. Mereka berdua mengambil keputusan menikah melalui proses panjang refleksi dan akhirnya Bapak Latief Tolleng yang sekarang adalah Dosen Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin Makassar, mau menikahi Ibu Arlina ketika melihat dan menyakini bahwa di luar agamanya ada juga keselamatan. Karena itu dia bisa menerima dan menghormati keyakinan lain tersebut. Lebih mengharukan lagi sampai sekarang mereka tetap bisa saling menghormati dan saling setia. Kisah yang layak ditulis dan disebarluaskan.

Seperti yang kita pahami selama ini, Pancasila adalah ideologi dasar bagi negara Indonesia. Nama ini terdiri dari dua kata dari Sanskerta yakni pañca berarti lima dan la berarti prinsip atau asas. Pancasila merupakan rumusan dan pedoman kehidupan berbangsa dan bernegara bagi seluruh rakyat Indonesia.

Lima sendi utama penyusun Pancasila adalah Ketuhanan Yang Maha Esa, kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, dan tercantum pada paragraph ke-4 Preambule (Pembukaan) Undang-undang Dasar 1945.

Bhinneka Tunggal Ika adalah moto atau semboyan Indonesia. Frasa ini berasal dari bahasa Jawa Kuna dan seringkali diterjemahkan dengan kalimat “Berbeda-beda tetapi tetap satu”.

Diterjemahkan per patah kata, kata bhinneka berarti "beraneka ragam" atau berbeda-beda. Kata neka dalam bahasa Sansekerta berarti "macam" dan menjadi pembentuk kata "aneka" dalam Bahasa Indonesia. Kata tunggal berarti "satu". Kata ika berarti "itu". Secara harfiah Bhinneka Tunggal Ika diterjemahkan "Beraneka Satu Itu", yang bermakna meskipun berbeda-beda tetapi pada hakikatnya bangsa Indonesia tetap adalah satu kesatuan. Semboyan ini digunakan untuk menggambarkan persatuan dan kesatuan Bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang terdiri atas beraneka ragam budaya, bahasa daerah, ras, suku bangsa, agama dan kepercayaan.

Kalimat ini merupakan kutipan dari sebuah kakawin Jawa Kuna yaitu kakawin Sutasoma, karangan Mpu Tantular semasa kerajaan Majapahit sekitar abad ke-14.

Kakawin ini istimewa karena mengajarkan toleransi antara umat Hindu Siwa dengan umat Buddha.

See Also

Profesi Advokat Semakin Menjanjikan Bagi Kaum Hawa
Mas Arswendo: Menulis Itu Gampang
Pidato Pertanggungjawaban Atas Penerimaan Soetandyo Wignjosoebroto Award
Merenungi Kepergian KH Hasyim Muzadi
Koalisi Cikeas Usung Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni
Saya Mengurus Kewarganegaraan Indonesia Sendiri Dan Tidak Mudah
Lian Gouw Untuk Penyebaran Novel Sejarah Indonesia
Seminar Membangun Ke-Indonesia-an
Rencana Bekerja Untuk Otonomi Perempuan
Ketemu Anak Presiden Di Markobar Surabaya
Mengenang Mas Slamet Riyadi Sabrawi
Batik Cermin Budaya Bangsa Indonesia
Keberlangsungan Batik Dalam Pergulatan
Handoko Wibowo Penerima Yap Thiam Hien Award 2015
Cengkeh Dan Petani Berdaya
Senyum Solidaritas Wong Cilik Yang Aku Suka
Ketika Myra Diarsi Di Tlogo Wening
SBO TV Tentang Masa Orientasi Sekolah
Membimbing Karier Anak
Menulis Karya Besar Yang Berdampak Untuk Yang Lain
Festival Kartini Bersama Wakil Gubernur Dan Konsulat Jenderal Amerika Serikat
Surat Cinta Untuk Kartini
Wisata Suku Bajo Terbesar Di Dunia
Wisata Darat Di Tomia Wakatobi
Jiwa Entrepreneur Di Belakang Perkembangan Wakatobi
jQuery Slider

Comments

Arsip :2020201920172016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 8.406.049 Since: 05.03.13 | 0.2205 sec