Redaksi

Nuansa Betawi Pada Perayaan Natal Di Gereja Katolik Santo Servatius

Author : Opa Jappy | Friday, 26 Desember 2014 | View : 672

SBN

Pemandangan berbeda tampak di Gereja Katolik Paroki Santo Servatius yang terletak di Jati Melati, Pondok Melati, Bekasi.

Ribuan umat Katolik di Gereja Paroki Santo Servatius Kampung Sawah, Pondok Gede, Bekasi, dengan khidmat melakukan Misa malam Natal. Pelaksanaan Misa berjalan dengan lancar, semuanya dengan nuansa adat Betawi.

Saat dilangsungkan Misa Anak, jemaat Gereja ini mengenakan pakaian adat Betawi.

Mayoritas jemaat laki-laki yang merayakan Natal, Kamis (25/12/2014) di Gereja Katolik Paroki Santo Servatius itu mengenakan peci hitam yang dipadukan dengan sarung dan baju koko. Sementara itu, jemaat perempuan mengenakan kebaya. Dari anak-anak hingga orang dewasa kompak mengenakan pakaian ala Betawi.

Menurut Anggar Bagus Kumoro, Ketua Panitia acara Misa Anak Perayaan Natal, " …pemilihan tema adat Betawi tidak lepas dari lokasi Gereja. Karena kami juga tinggal di tanah Betawi, Gereja kita juga Gereja Betawi, jadi nuansa sangat kental dengan Betawi," terang Anggara Bagus Kumoro kepada awak media, Kamis (25/12/2014).

Dalam Misa Perayaan Natal yang dimulai sejak pukul 8.30 WIB tersebut, jelas Anggara Bagus Kumoro, para panitia dan petugas persembahan juga mengenakan kebaya untuk wanita dan baju koko untuk pria.

Bahkan menurut Vera Angelina,  Pembina Iman Anak, dengan menggunakan pakaian kebaya dan koko, umat Nasrani bisa lebih mencintai budaya dan keragaman Indonesia, khususnya budaya Betawi. "Saat ini, khususnya pakaian kebaya, tidak lagi terlihat kuno atau tradisional, melainakan sudah terlihat modern, jadi cantik. Tapi kalau yang buat berbeda terdapat pin lambang salib kecil pada bagian peci," papar Vera Angelina.

Adapun untuk Missa Anak yang digelar pagi tadi mengusung tema "Aku Melayani di Dalam Keluarga".

Menurut Anggara Bagus Kumoro, dengan tema tersebut diharapkan umat, terutama anak-anak, mempunyai tekad untuk berbuat yang lebih baik. "Namun tekad ini harus lebih jelas dilakukan anak-anak, khususnya membantu orang tua," tutur Anggara Bagus Kumoro.

Pujian dan doa juga dilakukan dengan logat khas Betawi; tiap Natal dan perayaan Katolik lainnya memang menggunakan adat Betawi, sebagai ciri khas Gereja yang berakar dari budaya Betawi.

Hanya saja, budaya Betawi di Gereja yang berdiri sejak 1896 ini sempat pudar namun mulai dihidupkan kembali beberapa tahun belakangan. Nuansa Betawi di sini sudah ada sejak Gereja ini berdiri tahun 1896, hanya saja sempat pudar. Tapi mulai 5 tahun belakangan mulai dihidupkan kembali.

Gereja Katolik Paroki Santo Servatius tak ingin akar budayanya pudar. Pihak Gereja akan semampu mungkin menjaga kelestarian budaya Betawi meski dibungkus dengan kemasan religi Katolik. Betawi Katolik seperti umat kami disini adalah warisan sejarah. Kami juga akan melestarikan budaya Betawi dengan nuansanya yang kami pakai setiap Hari Raya.

Perayaan Natal dalam/dengan bentuk etnis Betawi di Kampung Sawah, merupakan suatu bentuk ibadah dengan budaya setempat; juga merupakan ungkapan nyata bahwa kehadiran Tuhan Yesus Kristus untuk semua; Yesus lahir sebagai manusia dan masuk ke dalam budaya manusia; sehingga kelahiran-Nya bisa dirayakan dengan berbagai cara, termasuk dengan bahasa dan pakaian Betawi. Hal yang sama pun, terjadi di Gereja Kristen Palalangon, Cianjur Jabar, dengan nuansa Sunda; Gereja Hati Kudus Yesus Ganjuran, dengan nuansa Jawa; atau pun Gereja-gereja di desa-desa dan pedalaman Timor, dengan nuansa Timor.

Perayaan Natal dengan nuansa Betawi di Paroki Santo Servatius, sekali lagi membuktikan bahwa umat Kristen yang berlatar etnis Betawi, tak pernah melupakan akar budaya mereka. Walau sudah menjadi Kristen sejak dilahirkan atau Kristen secara turun termurun, namun masih tetap menjaga iman dan budaya secara bersamaan, dan tak melihatnya sebagai dua kutub yang berseberangan.

Mereka, warga Gereja Servatius, telah membuktikan diri sebagai orang Betawi yang Katolik; Katolik yang tetap menggunakan bahasa dan adat Betawi sebagai bagian tak terpisahkan dari hidup serta kehidupan mereka.

Sejarah Gereja mencatat bahwa akhir 1800an hingga awal 1900an, Meester Anthing, melakukan pelayanan di Kampung Sawah, pada waktu itu, pelosok antara Batavia dan Bekasi, di antara komunitas “campuran etnis Betawi-Sunda-Jawa;”  komunitas yang dalam praktek religiusnya memadukan agama dengan kebiasaan-kebiasaan warisan leluhur.

Hasil pelayanan Meester Anthing, kini dikenal sebagai warga Kristen dan Katolik di Kampung Sawah. Setelah Meester Anthing meninggal, komunitas jemaat yang ia bentuk tersebut terpecah menjadi tiga, yaitu Kelompok Laban di Kampung Sawah Barat, kelompok Yoseph di Kampung Sawah Timur, dan kelompok Nathanael, yang kemudian bergabung dengan Gereja Katolik. Dan kelompok Nathanael inilah yang kemudian menjadi Paroki Santo Servatius Kampung Sawah.

Menurut Pastor Kepala Gereja Katolik Paroki Santo Servatius, Agustinus Purwantoro, sejarah berdirinya Santo Servatius tak lepas dari orang Betawi; gereja ini memang didirikan oleh orang Betawi asli. Budaya dan nuansa Betawi yang digunakan sejak tahun 1896.

Perpaduan antara budaya Betawi dengan kekristenan sebenarnya sudah terjadi sebelum masuknya Katolik ke Kampung Sawah. Meester Anthing adalah orang Protestan pertama yang berhasil masuk ke dalam budaya Betawi. Ia berhasil mendirikan jemaat di Kampung Sawah dan berhasil memadukan ritus-ritus budaya dengan kekristenan yang menitikberatkan pada ilmu gaib dan hal-hal mistik lainnya.

Pada awalnya, kondisi tersebut sempat dinilai sinkretisme dan semakin lama praktik-praktik tersebut mulai memudar. Saat ini masih tersisa beberapa anggota jemaat yang menggunakan doa Bapa Kami dalam bahasa Betawi untuk melindungi mereka di tempat-tempat angker.

Sekarang warga Gereja Katolik Paroki Santo Servatius Kampung Sawah berjumlah 8.500 orang dan sebagian besar adalah Katolik Betawi, bahkan para anggota gereja selalu menggunakan bahasa dan adat Betawi pada waktu ibadah. (opajappy/jos)

See Also

Mas Arswendo: Menulis Itu Gampang
Pidato Pertanggungjawaban Atas Penerimaan Soetandyo Wignjosoebroto Award
Merenungi Kepergian KH Hasyim Muzadi
Koalisi Cikeas Usung Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni
Saya Mengurus Kewarganegaraan Indonesia Sendiri Dan Tidak Mudah
Lian Gouw Untuk Penyebaran Novel Sejarah Indonesia
Seminar Membangun Ke-Indonesia-an
Rencana Bekerja Untuk Otonomi Perempuan
Ketemu Anak Presiden Di Markobar Surabaya
Mengenang Mas Slamet Riyadi Sabrawi
Batik Cermin Budaya Bangsa Indonesia
Keberlangsungan Batik Dalam Pergulatan
Handoko Wibowo Penerima Yap Thiam Hien Award 2015
Cengkeh Dan Petani Berdaya
Senyum Solidaritas Wong Cilik Yang Aku Suka
Ketika Myra Diarsi Di Tlogo Wening
SBO TV Tentang Masa Orientasi Sekolah
Membimbing Karier Anak
Menulis Karya Besar Yang Berdampak Untuk Yang Lain
Festival Kartini Bersama Wakil Gubernur Dan Konsulat Jenderal Amerika Serikat
Surat Cinta Untuk Kartini
Wisata Suku Bajo Terbesar Di Dunia
Wisata Darat Di Tomia Wakatobi
Jiwa Entrepreneur Di Belakang Perkembangan Wakatobi
Taman Laut Wakatobi Terbaik Di Dunia
jQuery Slider

Comments

Arsip :201920172016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 7.503.374 Since: 05.03.13 | 0.1208 sec