Redaksi

Rumah Kuno Dan Kampung Batik Lasem

Author : Dra Esthi Susanti Hudiono MSi | Thursday, 01 Januari 2015 | View : 765

SBN

Lasem adalah sebuah Kecamatan di Kabupaten Rembang, Provinsi Jawa Tengah. Lasem merupakan kota terbesar kedua di Kabupaten Rembang setelah Kota Rembang.

Kecamatan Lasem mempunyai luas wilayah mulai dari pesisir Laut Jawa hingga ke Selatan. Kecamatan ini merupakan salah satu Kecamatan di pesisir pantai Laut Jawa di Kabupaten Rembang, berjarak lebih kurang 12 km ke arah Timur dari Ibu Kota Kabupaten Rembang, dengan batas-batas wilayah meliputi sebelah Utara berbatasan dengan Laut Jawa, sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Sluke dimana di sebelah Timur terdapat Gunung Lasem, sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Pancur, dan sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Rembang.

Wilayahnya seluas 4.504 ha. 505 ha diperuntukkan sebagai pemukiman, 281 ha sebagai lahan tambak, 624 ha sebagai hutan milik Negara. Letaknya yang dilewati oleh jalur Pantura, menjadikan Lasem sebagai tempat yang strategis dalam bidang perdagangan dan jasa.

Lasem di Provinsi Jawa Tengah dulu merupakan pelabuhan ramai dan terkait dengan kedatangan dan perkembangan Wali Songo. Oleh karena itu, Lasem juga dikenal sebagai Kota Santri dan Kota Pelajar.

Lasem adalah salah satu daerah penghasil buah jambu dan mangga selain hasil dari laut seperti garam dan terasi.

Batiknya terkenal. Lasem terkenal sebagai Kota Batik terutama Batik Tulis Laseman. Batik Lasem sangat terkenal karena cirinya sebagai Batik pesisir yang indah dengan pewarnaan yang berani.

Di buku klasik tentang Batik, selalu Batik Lasem disebutkan. Dalam beberapa literatur tentang Batik juga yang terdapat di Museum Batik Nasional, Batik Lasem disebutkan sebagai salah satu varian klasik atau biasa disebut pakem dangan pola dan corak yang punya kekhasan tersendiri, yaitu paduan warna yang berani dan mencolok dengan motif-motif yang beraneka macam dan khas tetapi tetap indah serta elegan. Batik tersebut populer dengan sebutan batik tulis kendoro kendiri atau batik Pesisiran Laseman, di mana batik ini berbeda dengan Batik Jogja atau Batik Solo yang sangat baku pada pakem Keraton yang motifnya eksklusif dan khusus bagi golongan ningrat saja.

Batik Laseman sangat liat bercirikan egalitarian, yang mana batik ini lebih terbuka atau umum penggunaannya bagi segala kalangan atau lapisan masyarakat berikut macam etnisnya.

Batik Laseman ini dipengaruhi oleh unsur-unsur seni dan budaya negeri seberang, yaitu China dan Campa. Banyaknya orang-orang China dan Campa yang menetap di Lasem dan membaur dengan penduduk lokal lambat laun melahirkan akulturasi kebudayaan yang positif dan kaya, salah satunya adalah seni Batik itu sendiri.

Secara historis, budaya di Lasem merupakan perpaduan budaya dari masyarakat suku Jawa dan China serta Campa yang dibawa oleh pasukan Laksamana Cheng Ho, Arab, dan Belanda. Wujud nyata dari perpaduan budaya ini dapat dijumpai sampai detik ini pada Batik Lasem motif Tiga Negeri maupun Empat Negeri.

Hari ini pukul 4.00 WIB pagi saya menuju Provinsi Jawa Tengah melewati kota Lasem dan melihat Gapura dengan tulisan Kampung Batik.

Ke Kampung Batik langsung imajinasi jadi hidup. Membayangkan situasi dulu ketika pelabuhan ramai dengan lalu lalang orang-orang dari negara lain yang berpengaruh pada perkembangan budaya lokal. Saya jadi semakin percaya dengan interaksi budaya China dengan Indonesia. Bekasnya begitu kuat.

Saya suka Batik Lasem dengan warna merah dan Burung Hong. Karena itu saya masuk Gapura tersebut.

Hati saya terkesima melihat begitu banyak bangunan kuno, yang saya duga dihuni oleh orang China. Kampung dengan penghuni campur. Bangunan-bangunan kuno di Pecinan Karangturi, Soditan, Babagan, Gedongmulyo, dan Sumbergirang.

Hampir di setiap Desa dijumpai pengrajin Batik. Namun pusat-pusat industri Batik terletak di Babagan, Gedongmulyo, Karangturi, Karasgede, Soditan, dan Ngemplak. Selain itu juga terdapat di beberapa Desa di sekitar Lasem yang terkenal sebagai Desa Wisata Batik Laseman seperti di Pohlandak, Dukuh Ngropoh Pancur, Karaskepoh, dan Doropayung.

Saya mampir ke salah satu perusahaan Batik bernama Purwati. Dia punya show room dan bengkel kerja. Tidak puas dengan batik yang ada show room, saya ke bengkel kerjanya. Di sana ada kurang lebih 50 pengrajin. Katanya usaha batik keluarga ini telah berjalan sekitar setengah abad. Sayang batik yang saya taksir berwarna merah putih atau ungu masih digarap pengrajinnya. Saya beli lendang. Warna dan coraknya menarik. Saya suka Batik sebagai penghargaan saya kepada kerja perempuan dan salah satu budaya Indonesia yang belum dilestarikan dan dikembangkan.

Kampung Batik ini didukung oleh BNI. Saya hargai usaha seperti ini. Saya suka sekali mengamati kampung. Apalagi kampung yang ekonominya hidup. Semoga kampung ini berhasil menghidupkan kembali kejayaan Lasem dalam urusan Batik. Batik Laseman pernah mengalami kejayaan dalam produksi dan pemasarannya. Corak Batiknya telah dikenal dunia. Dua tahun lalu industri dan pengrajin Batiknya tidak sebanyak sekarang. Kini Batik Laseman dapat ditemukan di sudut-sudut Kota Lasem bahkan di daerah sekitar Lasem.

Ada banyak rumah kuno di Kampung Batik Lasem. Dugaan saya dulu ini memang pusat industri dan pengrajin Batik.

Rumah kuno yang saya kunjungi tidak ada lagi penghuninya. Penghuninya telah pindah ke Kediri dan sekarang berusia kurang lebih 70 tahun. Rencananya rumah ini hendak dijual. Rumah yang luas sekali dan sebagian telah jadi sarang walet. Rumah ini dulu adalah industri Batik. Semoga Batik Lasem bisa hidup kembali dan ekonomi kampung ini bangkit dengan bantuan BNI. (esh/jos)

See Also

Profesi Advokat Semakin Menjanjikan Bagi Kaum Hawa
Mas Arswendo: Menulis Itu Gampang
Pidato Pertanggungjawaban Atas Penerimaan Soetandyo Wignjosoebroto Award
Merenungi Kepergian KH Hasyim Muzadi
Koalisi Cikeas Usung Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni
Saya Mengurus Kewarganegaraan Indonesia Sendiri Dan Tidak Mudah
Lian Gouw Untuk Penyebaran Novel Sejarah Indonesia
Seminar Membangun Ke-Indonesia-an
Rencana Bekerja Untuk Otonomi Perempuan
Ketemu Anak Presiden Di Markobar Surabaya
Mengenang Mas Slamet Riyadi Sabrawi
Batik Cermin Budaya Bangsa Indonesia
Keberlangsungan Batik Dalam Pergulatan
Handoko Wibowo Penerima Yap Thiam Hien Award 2015
Cengkeh Dan Petani Berdaya
Senyum Solidaritas Wong Cilik Yang Aku Suka
Ketika Myra Diarsi Di Tlogo Wening
SBO TV Tentang Masa Orientasi Sekolah
Membimbing Karier Anak
Menulis Karya Besar Yang Berdampak Untuk Yang Lain
Festival Kartini Bersama Wakil Gubernur Dan Konsulat Jenderal Amerika Serikat
Surat Cinta Untuk Kartini
Wisata Suku Bajo Terbesar Di Dunia
Wisata Darat Di Tomia Wakatobi
Jiwa Entrepreneur Di Belakang Perkembangan Wakatobi
jQuery Slider

Comments

Arsip :2020201920172016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 8.405.611 Since: 05.03.13 | 0.2125 sec