Agama & Masyarakat

Menteri Agama Larang Pemaksaan Pemakaian Atribut Agama

Thursday, 18 Desember 2014 | View : 1277

JAKARTA-SBN.

Menteri Agama (Menag) Republik Indonesia (RI) ke-22, Drs. H. Lukman Hakim Saifuddin menegaskan, pihaknya tidak akan membuat aturan mengenai penggunaan atribut tertentu dalam memperingati hari besar keagamaan. Menteri Agama melarang umat non-kristiani mengenakan topi sinterklas.

Lulusan Pesantren Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo, Jawa Timur, 1983 beralasan bahwa itu adalah atribut Natal.

“Kemenag tentu takkan membuat aturan berisi perintah atau larangan tentang penggunaan atribut dan pakaian keagamaan tertentu,” demikian penegasan Menag Lukman Hakim Saifuddin menanggapi isu tentang penggunaan pakaian atau atribut Kristen jelang Natal, Jakarta, Selasa (9/12/2014), sebagaimana dikutip dari situs resmi Kementerian Agama.

Menurutnya, masing-masing pemeluk agama dituntut untuk dewasa dan bijak serta tidak menuntut apalagi memaksa seseorang untuk menggunakan pakaian atau atribut agama yang tidak dianutnya.

“Seorang muslim tidak usah dituntut menggunakan kalung salib atau topi sinterklas demi menghormati Hari Natal. Juga umat perempuan non-muslim tidak perlu dipaksa berjilbab demi hormati Idul Fitri,” tegas alumnus Sarjana (S1) Universitas Islam As-Syafiiyah, Jakarta, 1990.

Dikatakan lulusan Pondok Pesantren Modern Gontor, Ponorogo, Jawa Timur, 1983 bahwa bertoleransi bukanlah saling meleburkan dan mencampurbaurkan identitas masing-masing atribut dan simbol keagamaan yang berbeda, tetapi saling mengerti dan memahami.

“Bertoleransi adalah saling memahami, mengerti, dan menghormati akan perbedaan masing-masing, bukan menuntut pihak lain yang berbeda untuk menjadi sama seperti dirinya,” tandas mantan Wakil Ketua MPR RI periode 2009-2014.

Faktanya, Menteri Agama belum memahami bahwa Sinterklas itu sebenarnya bukan termasuk dalam ajaran gereja.

Sinterklas menjadi gejala global setelah Coca-Cola menampilkannya dalam iklan majalah The Saturday Evening Post pada tahun 1920. Gambar Sinterklas dalam iklan itu mengikuti contoh gambar yang dibuat oleh Thomas Nast. Pada tahun 1931, iklan Coca-Cola ini merambah ke ke majalah-majalah yang populer.

Mulai saat itu, Sinterklas menjadi ikon Natal yang dimanfaatkan oleh para pemasar untuk meningkatkan penjualan di akhir tahun.

Dengan demikian, Sinterklas sebenarnya tidak lebih dari 'boneka kapitalis' yang digunakan untuk mengeruk uang dari dompet-dompet konsumen. Sinterklas adalah alat komersialisasi Natal.

Para manajer dan pimpinan toko mewajibkan karyawannya menggunakan atribut sinterklas semata-mata adalah demi bisnis. Untuk meningkatkan omzet di tokonya. Tidak ada kepentingan agama.

Mantan anggota DPR RI Periode 2004-2009 tersebut seyogianya membedakan Sinterklas versi Amerika Serikat (AS) dengan Roma Katholik, yaitu yang satu keperluan komersil, yang lain untuk keteladanan, sebelum Menteri Agama memberikan pernyataan larangan pemakaian atribut Sinterklas karena itu bagian dari ajaran kristiani. Menteri Agama seharusnya mengajak agar seluruh umat memboikot Sinterklas sebagai alat komersialisasi.

Sementara itu, dalam catatan pinggir-nya berjudul Santa, Senin (15/12/2014), penulis Goenawan Mohamad menyebut Santa sesungguhnya adalah Santo Nikolas dari abad ke-4 yang merupakan perwujudan kepercayaan orang Jerman sebelum Kristen, tentang Dewa Odin. Kepercayaan itu kemudian diejawantahkan oleh produk minuman Coca-Cola pada abad ke-19.

“Ia makhluk asing yang tak disebutkan Injil. Ia produk Eropa yang dirakit di Amerika,” tulisnya.

“Ia tampak seperti seorang penjaja yang membuka kantong dagangannya,” kata Goenawan  Mohamad mengutip sajak yang ditulis Clement Moore menjelang Natal 1822.

“Apa salahnya jenaka? Santa toh bagian kegembiraan dan barang dagangan yang tak perlu pikiran mendalam,” tulis Goenawan Mohamad.

Ahmad Sahal atau @sahal_AS, pengurus cabang Nahdatul Ulama (NU) istimewa di Amerika Serikat (AS), berbeda pendapat dengan Fahira Idris. Dalam setiap tweet-nya, ia mengungkap alasan-alasan mengapa ia tak setuju simbol topi Santa diangkat oleh Fahira Idris. Ia mengungkap alasan ketidaksetujuannya itu. "Menurutku polemik topi Santa menunjukkan gejala ‘akidah-isasi’ hal-hal yang sesungguhnya tak masuk ranah akidah,” kata Ahmad Sahal, Kamis (18/12/2014).

Ahmad Sahal menyebut, Santa Klaus adalah produk masyarakat Barat yang kemudian mengglobal karena kapitalisme. “Tidak ada kaitan yang niscaya dengan doktrin Kristiani,” katanya.

Ahmad Sahal menilai, pihak yang mempermasalahkan topi Santa sesungguhnya dangkal melihat persoalan. Bahkan, katanya, jika diteliti, banyak sekali produk budaya yang lahir dari masyarakat Kristen, tapi kemudian menjadi pegangan umum, seperti kalendar Masehi.

“Akidah-isasi ini mencerminkan iman yang parno pada sebagian orang Islam. Selalu merasa terkepung dengan ancaman-ancaman dari luar, dan akhirnya melihat segala hal dengan tatapan curiga dan memusuhi,” kata Warga Negara Indonesia (WNI) yang sedang menimba ilmu di The John F. Kennedy School of Government at Harvard University atau juga lebih dikenal dengan nama Harvard Kennedy School and HKS, Cambridge, Massachusetts, Amerika Serikat (AS), ini.

Ahmad Sahal menegaskan, bukan berarti ia menganjurkan Muslim memakai Topi Santa. “Saya seumur hidup tak pernah pakai topi Santa, dan tak tertarik. Tapi kalau ada Muslim yang memakainya, ya jangan langsung dicap men-syiarkan Kekristenan. Pandangan sempit ini yang saya tolak,” tulisnya.

Ahmad Sahal juga menyebut, dalam konteks kapitalisme global seperti saat ini, atribut Santa tak lebih dari ornamen kapitalisme, yang dipakai untuk tujuan meraup konsumen.

Ahmad Sahal mengakhiri komentarnya dengan dukungannya terhadap umat Muslim untuk mengembangkan identitas-identitas agama dan kulturalnya sendiri. “Tapi dalam dunia yang terbuka dan kosmopolitan seperti sekarang, pengembangan identitas kolektif kaum muslim hendaknya tak diartikan sebagai sebuah sikap parno,” katanya lagi.

Foto memperlihatkan melalui akun Twitternya, Fahira Fahmi Idris yang juga menolak penggunaan topi santa bagi muslimah. (rap/jos)

See Also

Kapolri Sebut Teringat Insiden Sweeping Sabuga Bandung
MUI Bantah Buat Spanduk Tolak Natal Di Pangandaran
Lepas Santri Ke Luar Negeri Di Momentum Hari Santri
Pesan K. H. Aniq Muhammadun Dalam Halalbihalal UMK
Forkopimda Kabupaten Demak Gelar Halal Bi Halal
Mahasiswa UMK Kembangkan Kap Lampu Bertema Kebangsaan Dan Pluralisme
Danpos-Babinkamtibmas Kebonagung Bersinergi Amankan Perayaan Kebaktian
Dandim 0716/Demak Tarling Perdana Bersama Bupati
Kodim 0716/Demak Dan GP Ansor Milik Warga Demak
Tangkal Radikalisme, Babinsa Bangun Komunikasi Dengan GP Ansor
Menangkal Gerakan Radikal Teroris Kaum Perempuan: Belajar Dari Sunan Kudus
Kepedulian Babinsa Kodim 0716/Demak Terhadap Tokoh Agama
Ngalap Berkah, Dandim 0716/Demak Ruwahan Dan Kirab Budaya
Bersama Bupati, Dandim 0716/Demak Buka Acara Tradisi Megengan Guna Menyambut Bulan Suci Ramadhan
Kasdim 0716/Demak Hadiri Musyawarah Tamir Masjid Agung Demak
Danramil 03/Wonosalam Komsos Dengan Toga, Tomas, Dan Toda
Nuansa Religius Warnai HUT Kabupaten Demak Yang Ke-515
Selamat Jalan Bang Indra Sahnun Lubis
UGM Tolak Usul Penerimaan Mahasiswa Lewat Kemampuan Baca Kitab Suci
Kodim 0716/Demak Gelar Doa Bersama Pada 171717
Dandim 0721/Blora Ajak Warga Blora Doa Bersama
Ulama NU KH Hasyim Muzadi Wafat Kamis Pagi
Anton Ferdian Rilis Kisahku
Marie Muhammad Berpulang
K.H. Sofiyan Hadi Sebut Setiap Anak Itu Spesial
jQuery Slider

Comments

Arsip :2019201820172016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 7.684.257 Since: 05.03.13 | 0.1651 sec