Hukum

Mantan Sekjen Kementerian ESDM Kooperatif

Friday, 19 Desember 2014 | View : 543

JAKARTA-SBN.

Setelah berkali-kali memeriksa mantan Sekretaris Jenderal Kementerian Energi dan Sumber Mineral (Sekjen ESDM) Waryono Karno sebagai tersangka, lembaga antirasuah Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) akhirnya resmi menahan mantan Sekjen Kementerian ESDM itu.

Dalam dua pekan terakhir, bekas anak buah mantan Menteri ESDM Jero Wacik ini hampir setiap hari diperiksa lembaga antikorupsi itu dalam kapasitasnya sebagai tersangka. Namun, Waryono Karno selalu bungkam saat ditanya pers perihal dugaan kasus korupsi yang membelitnya.

Informasi yang diperoleh, Wahyono Karno selama ini dikenal cukup kooperatif dengan penyidik KPK. Meski demikian, saat ditanya pers seusai diperiksa, Waryono Karno tidak pernah mau berbicara.

KPK cukup lama tidak menahan Waryono Karno meskipun sudah sejak awal tahun ini dijadikan tersangka. Hal tersebut disebabkan KPK belum mendapatkan semua informasi yang ingin diketahuinya soal keterlibatan sejumlah pihak dalam kasus dugaan korupsi sektor migas tersebut. Beberapa nama yang diungkapkan antara lain, cukup dikenal masyarakat.

Salah satu informasi penting yang diungkapkan Waryono Karno adalah dugaan korupsi yang dilakukan Jero Wacik dan Sutan Bhatoegana.

Jero Wacik diduga melakukan korupsi dengan modus pemerasan terhadap bawahan dan rekanan pengadaan di Kementerian ESDM.

Adapun, Sutan Bhatoegana ditetapkan sebagai tersangka terkait dugaan suap dalam pembahasan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) 2013 untuk Kementerian ESDM.

Waryono Karno merupakan tersangka kasus dugaan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) terkait kegiatan sosialisasi, sepeda sehat dan perawatan Gedung Kantor Sekretariat Jenderal ESDM.

Kemarin, bekas anak buah mantan Menteri ESDM Jero Wacik yang ditetapkan sebagai tersangka kasus korupsi perawatan Gedung Kementerian ESDM dan beberapa kegiatan lain sejak 7 Mei 2014 itu, Waryono Karno diperiksa lebih dari 10 jam.

Tiba pukul 09.30 WIB, Waryono Karno baru terlihat di ruang steril pukul 20.50 WIB. Waryono Karno keluar dari Gedung KPK,  Kamis (18/12/2014) sekitar pukul 20.50 WIB. Tampak batik abu-abu lengan panjang yang dikenakannya sudah berbalut rompi tahanan KPK oranye bergaris hitam.

Saat keluar, Waryono Karno telah mengenakan rompi tahanan warna oranye.

Dengan mengenakan rompi warna oranye khas tahanan KPK, Waryono Karno enggan berbicara banyak setelah diperiksa kurang lebih sepuluh jam.

Tersangka dalam kasus korupsi perawatan Gedung Kementerian ESDM dan beberapa kegiatan lain itu ditahan di Rutan Guntur.

Saat menuruni tangga Waryono Karno tidak berkomentar banyak mengenai penahanannya. Sebelum masuk ke mobil tahanan, Waryono Karno, yang ditanya apakah telah memberikan semua informasi ke penyidik tentang keterlibatan sejumlah pihak dalam kasus korupsi sektor migas di Indonesia, pasrah menjawab. “Saya lillahi ta’ala saja. Saya pasrah apa adanya saja," ucap Waryono Karno saat keluar dari Gedung KPK di Jalan H.R. Rasuna Said, Jakarta Selatan, Kamis (18/12/2014) malam.

Ditanya soal apakah ada informasi yang sudah diberikan ke KPK mengenai siapa saja anggota Komisi VII DPR RI yang menerima suap dalam pembahasan APBN-P 2013 untuk Kementerian ESDM, Waryono Karno yang sudah mengenakan rompi tahanan membenarkan.

Tetapi, Waryono Karno berjanji akan membongkar kasus yang menjebloskannya ke penjara itu. "Iya, iya (mau bongkar). Kita apa adanya saja," ujarnya saat keluar Gedung KPK, Kamis (18/12/2014) malam.

Tanpa memberikan keterangan lebih lainnya, Waryono Karno yang sudah mengenakan rompi tahanan warna oranye langsung masuk ke mobil tahanan yang telah menunggunya. Eks Sekjen Kementerian ESDM itu langsung dibawa ke rutan Guntur.

Pihak KPK membenarkan adanya penahanan tersebut. Waryono Karno ditahan di rumah tahanan KPK cabang Kompleks Pomdam Jaya, Guntur, Jakarta. Tersangka akan ditempatkan di rutan Guntur cabang KPK untuk dua puluh hari pertama. "Penyidik melakukan upaya penahanan terkait dugaan TPK kegiatan sosialisasi dan perawatan Gedung Kementerian ESDM dengan tersangka WK. WK ditempatkan di rutan Guntur untuk 20 hari pertama," ungkap Juru Bicara KPK Johan Budi Sapto Prabowo usai penahanan.

Waryono Karno ditetapkan sebagai tersangka dan dijerat pasal gratifikasi oleh KPK. Waryono Karno disangka melanggar Pasal 2 ayat (1) atau Pasal 3 Undang-Undang (UU) Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dalam UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Dalam kasus ini, diduga ada penggunaan anggaran di Kesekjenan Kementerian ESDM pada Tahun Anggaran (TA) 2012 sekitar Rp 25 miliar tentang pengadaan barang/jasa. Dari beberapa kegiatan itu, ada dugaan telah terjadi penggelembungan harga (mark-up) dan penyalahgunaan wewenang yang dilakukan Waryono Karno. Akibatnya, negara mengalami kerugian sebesar Rp 11 miliar.

Selaku Sekjen ketika itu, Waryono Karno diduga melakukan perbuatan melawan hukum dan atau penyalahgunaan wewenang secara bersama-sama yang mengakibatkan kerugian negara. Hasil perhitungan sementara, KPK memperkirakan kerugian negara dalam kasus ini sekitar Rp 9,8 miliar dari total anggaran Kesekjenan tahun 2012 yang mencapai Rp 25 miliar.

Sebelumnya pada pertengahan Januari lalu, KPK juga menetapkan Waryono Karno sebagai tersangka dalam kasus dugaan penerimaan hadiah atau janji terkait kegiatan di Kementerian ESDM. Ia disangkakan melanggar Pasal 12 huruf b dan atau Pasal 11 UU Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dalam UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Lebih lanjut kasus Waryono Karno merupakan hasil pengembangan dari kasus suap di lingkungan Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas).

KPK kemudian menetapkan mantan Ketua Komisi VII DPR RI Sutan Bhatoegana dalam kasus dugaan suap dan/atau gratifikasi pembahasan APBNP 2013 Kementerian ESDM serta belakangan, KPK menetapkan Jero Wacik sebagai tersangka dari pengembangan kasus ini. KPK menjerat mantan Menteri ESDM Jero Wacik sebagai tersangka pemerasan dalam jabatan lebih dari Rp 9,9 miliar. “Tersangka JW (Jero Wacik) pastikan akan diperiksa, tapi belum ada jadwalnya,” imbuh Johan Budi SP.

See Also

Keterangan Ahli Di Sidang Praperadilan Terkait Eksekusi Penahanan Matheus Mangentang
Peras Mantan Petinggi Polri, Hukuman Sisca Dewi Diperberat
LBH Ansor Jateng Apresiasi Penangkapan Cepat Polres Kebumen Terhadap Pelaku Kekerasan Seksual
Kapolres Bitung Perintahkan Pelaku Kejahatan Ditembak Di Tempat
Reserse Polres Bitung Bekuk Residivis Sadis Pembegal Motor
Satuan Reskrim Polres Bitung Tangkap Dua Tersangka Curanmor
Mahasiswa Unesa Sorot Penggunaan Dana Pembelian Mebel Di Kampus
KPK Tetapkan Dirut PT. Rohde And Schwarz Indonesia Sebagai Tersangka
KPK Akan Segera Periksa Saksi Dan Tersangka Suap KONI
KPK Cekal Robert Tantular Ke Luar Negeri
Tim Resmob Dan Tarsius Bitung Lumpuhkan Pencuri Kambuhan
Mahkamah Agung Hukum Alfian Tanjung 2 Tahun Penjara
Polda Jatim Duga Ada Kesalahan Teknis Proyek Berujung Jalan Gubeng Ambles
KPAI Apresiasi Langkah Cepat Polri Proses Bahar Bin Smith
Polri Sebut Penahanan Tersangka Bahar Bin Smith Murni Kasus Hukum
Polri Koordinasi Dengan LPSK Amankan 2 Remaja Korban Bahar Bin Smith
Usai OTT KPK, Kemenpora Lanjutkan Program SEA Games-Olimpiade
KPK Sita Miliaran Rupiah Terkait OTT Pejabat Kemenpora Dan KONI
Polri Kantongi Bukti Penganiayaan Oleh Bahar Bin Smith
KPK OTT Pejabat Kemenpora Dan Pengurus KONI
Polres Metro Jakarta Selatan Buru Pembunuh Perempuan Muda Di Kebagusan City
Pembunuh Keji Sopir Taksi Online Divonis 10 Tahun Penjara
Uang Pengganti E-KTP, KPK Sita Rp 862 Juta Dari Setya Novanto
Keterangan Ahli Ketua DPD KAI DKI Jakarta Pada Sidang Lanjutan Julius Lobiua
TNI AL Ringkus Pelaku Narkoba Di Tanjung Ahus
jQuery Slider

Comments

Arsip :2019201820172016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 7.539.393 Since: 05.03.13 | 0.1626 sec