Redaksi

Dalang Yang Adalah Guru Dan Perubahan Perilaku Masyarakat

SBN

Di masa lalu dalang memiliki peran penting sebagai guru masyarakat. Melalui cerita Mahabharata dan Ramayana, dalang menyampaikan pesan moral dan etika pada pemirsanya. Cerita kedua epik disampaikan dalam masyarakat feodal yang memiliki stratifikasi kelas. Gambaran bagaimana negara dan masyarakat diatur sudah jelas. Setiap orang bisa mengidentifikasi diri dan perannya dalam masyarakat dengan nilai dan etika yang disampaikan oleh dalang. Penguatan nilai dan etika dilakukan dalam event-event penting ketika dalang beraksi dalam hajatan yang diselenggarakan masyarakat.

Ketika dalam masa pertumbuhan saya dulu, Ramayana dan Mahabharata membantu dalam penbentukan nilai hidup saya. Cerita Bima yang jujur, lugas dan tanpa pandang bulu ketika mencari jati dirinya telah memberi inspirasi dan turut membentuk karakter saya. Nasehat Kresna ke Arjuna ketika gentar melawan dan bakalan membunuh saudara sedarah memberi penguatan dan pegangan pada saya. Bahwa yang dibunuh dan dimusuhi adalah angkara murka. Begitu juga adegan Rama yang harus mempersoalkan kesucian Shinta demi menjaga kepercayaan masyarakatnya, memberi inspirasi tentang tugas pemimpin yang menjaga kepercayaan masyarakat. Jadi saya mengerti betul pentingnya wacana yang akan jadi pegangan bersama dalam suatu masyarakat.

Sayang jaman berubah. Ketika kita masuk ke alam demokrasi dengan nilai pada persamaan, keadilan, dan kemerdekaan tatanan berubah.

Diperlukan wacana dan metode penyampaian yang lain dalam struktur masyarakat modern. Lalu kita mengandalkan pendidik dan media massa. Masalahnya wacana besar apa yang mengikat kita bersama dalam bertata negara dan bermasyarakat yang akan menjamin keadilan dan kebenaran sehingga damai dan sejahtera bisa terealisir? Konflik of interest, power of abuse yang dipraktekkan media massa mereduksi perannya sebagai penjaga gamang nilai dan etika yang ada. Sedihnya lagi pendidik ikut-ikutan jadi pragmatis sehingga defisit pendidikan karakter melalui nilai dan etika terjadi.

Pusat Humaniora Kebijakan Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI yang berkantor di Jl. Indrapura No.17 Surabaya 60176 dan Jl. Percetakan Negara No.23A Jakarta tersebut sebagai lembaga penelitian Pemerintah dengan kreatif telah menggunakan metode dalang melalui boneka dengan cerita-cerita aktual.

Hal ini saya ketahui ketika diundang sebagai nara sumber untuk masalah seksualitas anak dan dampaknya ketika memperingati ulang tahun ke-50 tahun pada hari Minggu tanggal 9 November 2014.

Acara yang berlangsung di Graha Indrapura Surabaya, Jawa Timur tersebut berlangsung dengan tanya jawab yang seru, dengan narasumber Ajun Komisaris Polisi (AKP) Sugeng dari pihak Polrestabes Surabaya, Dra. Esthi Susanti Hudiono, M.Si. dari Yayasan Hotline Surabaya, Tety Rachmawati (dokter), dan Made Asri (dokter gigi), serta Setia Pranata (anthropologi) dari salah satu Peneliti pada Pusat Humaniora, Kebijakan Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, Surabaya. Undangan peringatan HUT ke-50 ini adalah ditujukan kepada para pelajar dari berbagai sekolah di Surabaya.

Pada hari Minggu (9/11/2014) tersebut telah diselengarakan “Pagelaran Wayang Koplo” yang bersubtemakan “Jauhi Rokok, narkoba, dan pergaulan Bebas sebagai tantangan Remaja” yang dihadiri para pelajar di Kota Surabaya. Pagelaran Wayang Koplo ini merupakan rangkaian kegiatan yang diselenggarakan Museum Kesehatan dr. Adhyatma, M.P.H., sebagai puncak acara Open House Museum.

Suguhan edukatif yang dikemas dalam bentuk pagelaran wayang, dengan Ki Dalang Suhan Darmo Carito, berceritakan tentang kemajuan jaman berdampak pada perubahan tatanan dengan tokoh wayang Bang Tokek sebagai juragan rokok, miras, dan narkoba, Mat Joker berperan sebagai pengedar narkoba, Mat Kretek jagoan merokok, Mat Teler yang hobi minuman keras, yang pada akhirnya ada upaya penumpasan keonaran dengan tokoh wayang Mbah Darmo dan Cepot.

Penyelenggaraan acara ini dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Nasional 2014 yang ke-50, bertemakan “Sehat Bangsaku Sehat Negeriku”.

Hadir pada peringatan HUT ke-50 tersebut, Prof. Dr. Tjandra Yoga Aditama, Sp.P.(K), M.A.R.S., D.T.M. & H, D.T.C.E. sebagai Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Badanlitangkes) merupakan pejabat eselon I di lingkungan Kementerian Kesehatan yang dilantik oleh Menteri Kesehatan (Menkes) RI, dr. Nafsiah Mboi, SpA., M.P.H., pada hari Jumat (2/5/2014) lalu di Ruang Leimena, Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Jakarta tersebut, dengan didampingi pimpinan setempat yakni drg. Agus Suprapto.

Dalam kesempatan tersebut, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Badanlitangkes) yang sebelumnya menjabat sebagai Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL), Prof. Dr. Tjandra Yoga Aditama, Sp.P.(K), M.A.R.S., D.T.M. & H., D.T.C.E. menyampaikan pesan bahwa “menjaga kesehatan lebih sehat itu lebih sangat penting dan tugas menjaga kesehatan bukan hanya tugas Pemerintah tapi perlu ada dukungan dari semua lapisan masyarakat”.

Prof. Dr. Tjandra Yoga Aditama, Sp.P.(K), M.A.R.S., D.T.M. & H, D.T.C.E. menunjukan sikap terkesan dengan pendekatan ini termasuk saya.

Menanamkan nilai tertentu melalui cerita dan humor dengan media boneka yang dimainkan dalang. Peserta menikmati acara ini dengan tertawa terbahak-bahak.

Pesan yang disampaikan dalam suasana seperti ini akan mudah masuk karena pendengar ada di gelombang rileks. Kita perlu menggali metode-metode semacam itu untuk dunia pendidikan.

Semoga dengan adanya acara ini bisa menjadi media untuk memberikan edukasi kepada para generasi penerus bangsa melalui suguhan budaya.

Selamat atas metode kreatif ini. (esh/jos)

See Also

Mas Arswendo: Menulis Itu Gampang
Pidato Pertanggungjawaban Atas Penerimaan Soetandyo Wignjosoebroto Award
Merenungi Kepergian KH Hasyim Muzadi
Koalisi Cikeas Usung Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni
Saya Mengurus Kewarganegaraan Indonesia Sendiri Dan Tidak Mudah
Lian Gouw Untuk Penyebaran Novel Sejarah Indonesia
Seminar Membangun Ke-Indonesia-an
Rencana Bekerja Untuk Otonomi Perempuan
Ketemu Anak Presiden Di Markobar Surabaya
Mengenang Mas Slamet Riyadi Sabrawi
Batik Cermin Budaya Bangsa Indonesia
Keberlangsungan Batik Dalam Pergulatan
Handoko Wibowo Penerima Yap Thiam Hien Award 2015
Cengkeh Dan Petani Berdaya
Senyum Solidaritas Wong Cilik Yang Aku Suka
Ketika Myra Diarsi Di Tlogo Wening
SBO TV Tentang Masa Orientasi Sekolah
Membimbing Karier Anak
Menulis Karya Besar Yang Berdampak Untuk Yang Lain
Festival Kartini Bersama Wakil Gubernur Dan Konsulat Jenderal Amerika Serikat
Surat Cinta Untuk Kartini
Wisata Suku Bajo Terbesar Di Dunia
Wisata Darat Di Tomia Wakatobi
Jiwa Entrepreneur Di Belakang Perkembangan Wakatobi
Taman Laut Wakatobi Terbaik Di Dunia
jQuery Slider

Comments

Arsip :201920172016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 7.997.257 Since: 05.03.13 | 0.1524 sec