Hukum

Berikut Nama-nama Korban Penembakan Insiden Paniai Timur Papua

Tuesday, 09 Desember 2014 | View : 1681

ENAROTALI-SBN.

Akibat insiden di Enarotali, Paniai Timur, provinsi Papua, Senin (8/12/2014), Mabes Polri menyatakan 12 orang tertembak. Empat orang diantaranya meninggal dan saat ini jenazah sudah ada yang dibawa keluarga masing-masing dan ada pula yang masih di RSUD Paniai, Papua.

"Korban yang meninggal ada empat, yaitu Yulian Yeimo Lakis akibat luka tembak pada perut (sudah keluar RSUD), Andreas Dogopia (23), luka tembak pada perut dan luka robek pada tangan kiri, dan Yulian Mote (36) luka robek pada kepala,” beber Wakil Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Wakapolri) Komjen. Pol. Drs. Badrodin Haiti menjadi orang nomor dua di Korps Bhayangkara menggantikan seniornya, Komjen. Pol. Drs. Oegroseno yang pensiun mulai menjabat sejak 4 Maret 2014 pada awak media, Selasa (9/12/2014).

Korban meninggal yang lain adalah Yulius Tobay (37). Korban yang merupakan satpam RSUD itu menderita luka tembak pada bokong sebelah kanan hingga tembus paha kiri.

Sedangkan delapan orang yang luka-luka adalah Yeremias Kayame (59), luka ringan pada tangan sebelah kanan, Naftali Neles Gobai (45), luka ringan pada tangan sebelah kiri, dan Halia Edowai (35), luka ringan pada tangan sebelah kanan.

Kemudian Jeri Gobai (13), luka robek pada kaki sebelah kanan, Agusta Degei (35), luka tusuk pada tangan sebelah kanan, Abernadus Bunai (10), luka ringan pada paha sebelah kanan, Noak Gobai (26), luka ringan pada tangan sebelah kanan, dan Oktopianus Gobai (13), luka robek pada tangan sebelah kanan.

Lima warga sipil yang tewas ditembak aparat keamanan ternyata adalah pelajar yang masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 1 Paniai Timur.

Mereka adalah pelajar SMA Negeri 1 Paniai Timur. Salah satu pelajar yang tewas tertembak, Simon Degei, masih berusia 18 tahun. Ia sekolah di SMA Negeri 1 Paniai Timur dan saat ini berada di Kelas III.

Otianus Gobai (18), yang merupakan siswa kelas III SMA Negeri 1 Paniai Timur, bahkan masih mengenakan baju sekolah saat peristiwa terjadi.

Lalu, Alfius Youw berusia (17) siswa kelas III SMA Negeri 1 Paniai Timur. Kemudian Yulian Yeimo (17), yang masih di kelas I SMA Negeri 1 Paniai Timur.

Kemudian, Abia Gobay berumur 17 tahun. Ia juga siswa SMA Negeri 1 Paniai Timur. Seperti tiga rekan lainnya, ia berada di Kelas III. Abia Gobay ditemukan tewas ditembak di Kampung Kogekotu, sebelah lapangan terbang, sekitar 400 meter dari Kantor Polsek Enarotali.

Ini dikatakan Ketua Yayasan Yemewak Harold Gobay saat dihubungi wartawan, Selasa (9/12/2014) pagi, via telepon dari Jayapura.

Mayat Abia Gobay telah dibawa pergi ke rumah oleh keluarga.

Hingga Selasa (9/12/2014) pagi, mayat para korban masih dijejer di lapangan terbuka sepak bola "Karel Gobay" di pusat Kota Enarotali.

Keluarga korban bersama masyarakat mengadakan upacara duka bersama. Di sana, warga telah memasang dan mendirikan tenda di lapangan.

"Mereka akan berada di sini sampai Kapolda dan Pangdam datang tanggung jawab atas perbuatan anak buah mereka," tukas Harold Gobai.

Dikatakan, nama-nama pelajar yang menjadi korban penembakan telah menyebar di antara masyarakat. "Anak-anak ini sering juga menginap di tempat penampungan di yayasan," pungkasnya.

Mabes Polri masih menyelidiki apakah penembakan itu sesuai dengan Standard Operating Procedure (SOP) atau tidak.

Markas besar korps baju cokelat itu mengklaim, insiden tersebut ditunggangi Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) alias Organisasi Papua Merdeka (OPM).

Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) yang menjabat sejak 25 Oktober 2013 menggantikan Jenderal Pol. Drs. Timur Pradopo, Jenderal Polisi Drs. Sutarman belum banyak bicara soal insiden di Paniai Timur, Papua yang dikabarkan menyebabkan lima orang warga tewas tertembak peluru aparat dan melukai 22 orang lain.

"Soal bagaimana peristiwa itu dan serta tindaklanjutnya datanya masih kami kumpulkan," kata Jenderal Pol. Sutarman singkat saat ditanya awak media, Selasa (9/12/2014).

Kepala Bidang (Kabid) Hubungan Masyarakat (Humas) Polda Papua Kombes Pol. Sulistyo Pudjo Hartono, S.Ik. hanya membantah saat ditanya jika insiden itu sebenarnya menyebabkan 21 warga tertembak dimana 7 orang diantaranya tewas.

"Informasinya jangan memprovokasi masyarakat karena masyarakat sudah diprovokasi seseorang sehingga ada korban. Siarkan fakta yang menyejukkan tapi jangan menambahnya," ketusnya.

Tapi, Kombes Pol. Sulistyo Pudjo Hartono juga tidak berkomentar saat ditanya jadi berapa banyak korban yang jatuh dalam insiden tersebut dan bagaimana penanganan paska insiden.

Kabid Humas Polda Papua, Kombes Pol. Sulistyo Pudjo Hartono, S.Ik. mengakui ada korban tewas dan luka dalam kejadian itu. Namun, jumlahnya belum bisa dipastikan. Pihaknya masih melakukan penyelidikan.

Kabid Humas Polda Papua, Kombes Pol. Sulistyo Pudjo Hartono mengimbau kepada masyarakat untuk tidak mudah terprovokasi dan memercayai isu-isu yang menyesatkan, terutama soal jumlah korban tewas.

"Jumlah korban tewas masih diverifikasi. Tetapi, yang jelas, nyawa orang tidak mungkin ditipu. Dalam arti, tidak mungkin polisi kurangi korban jiwa, tidak mungkin," tandas Kombes Pol Sulistyo Pudjo Hartono.

Hal senada diungkapkan Wakil Kepala Polda Papua Brigjen Pol. Drs. Paulus Waterpauw. Paulus meminta semua pihak untuk tidak memolitisasi peristiwa di Enarotali, terutama terkait dengan jumlah korban jiwa. Pihaknya hingga kini masih melakukan penyelidikan terkait penyebab kerusuhan hingga jumlah korban luka dan tewas.

Kepala Bidang Humas Polda Papua Kombes Pol Sulistyo Pudjo Hartono, S.Ik. menyatakan, kerusuhan warga terjadi di Enarotali, ibu kota Kabupaten Paniai, Provinsi Papua, Minggu (7/12/2014) sekitar pukul 20.00 WIT. Dalam peristiwa itu, dikabarkan ada korban tewas, tetapi Sulistyo belum bisa memastikan jumlahnya, masih simpang siur.

"Kami belum bisa pastikan berapa jumlah korban tewas. Kabar yang mencuat memang beragam, ada yang bilang 13, 6, dan 4. Tapi, itu belum terverifikasi. Kami masih melakukan pendataan," terang Kombes Pol. Sulistyo Pudjo Hartono kepada wartawan melalui sambungan telepon, Senin (8/12/2014) malam.

Kombes Pol. Sulistyo Pudjo Hartono, S.Ik. mengaku pihaknya belum bisa melakukan verifikasi jumlah korban tewas karena massa masih marah dan situasi belum kondusif. Selain itu, pihaknya juga belum bisa memastikan penyebab pasti kerusuhan itu.

Dia menjelaskan, peristiwa itu bermula pada Minggu (7/12/2014) pukul 20.00 WIT, seorang pengendara motor tanpa helm dan lampu melewati daerah Bukit Merah. Kebetulan di sana ada sekelompok pemuda sedang nongkrong. Beberapa dari pemuda itu kemudian menegur pengendara motor itu.

"Si pengendara motor itu tak terima diteriaki. Dia pun mengatakan akan datang lagi bawa temannya," papar Kombes Pol. Sulistyo Pudjo Hartono, S.Ik.

Tak lama kemudian, imbuh Kombes Pol. Sulistyo Pudjo Hartono, si pengendara motor itu membawa temannya sekitar 8 orang ke lokasi. Akhirnya, di sana terjadi baku pukul.

"Saat terjadi baku pukul, tiba-tiba terdengar suara tembakan. Namun, belum diketahui sumber tembakan itu berasal dari mana. Namun, kita tahu di Papua itu banyak kelompok bersenjata," jelasnya.

Tak lama berselang, pada Senin (8/12/2014) sekitar pukul 02.30 WIT, kantor KPUD Paniai terbakar. Kombes Pol. Sulistyo Pudjo Hartono pun belum bisa memastikan apakah sengaja dibakar atau bukan. Selain itu, pihaknya juga belum memastikan kebakaran itu berkaitan dengan baku pukul antarpemuda di Bukit Merah atau bukan.

"Yang jelas kami langsung padamkan. Kantor KPUD Paniai rusak berat," ungkapnya.

Keesokan harinya, lanjut Kombes Pol. Sulistyo Pudjo Hartono, S.Ik. massa melakukan aksi blokade jalan dengan memalangkan kayu ke tengah jalan di Distrik Madi Gunung Merah. Namun, lagi-lagi, Kombes Pol. Sulistyo Pudjo Hartono, S.Ik. belum memastikan aksi itu berkaitan dengan rentetan kejadian sebelumnya atau bukan. Menurut dia, massa yang melakukan aksi blokade jalan sekitar 600 orang.

"Aksi itu membuat warga lainnya tak bisa lewat. Mereka pun mengeluhkan. Akhirnya, kami bernegosiasi dengan massa yang memalang jalan," tambah dia.

Saat polisi dengan bernegosiasi, terdengar suara tembakan dari arah gunung di daerah itu. Situasi pun menjadi tak kondusif. Aparat yang bernegosiasi kemudian mundur untuk menghindari provokasi.

Sekitar setengah jam kemudian, tiba-tiba sekitar 600 orang massa menyerbu kantor Polsek Paniai Timur sambil membawa panah, tombak, batu, dan senjata lainnya. Mereka merusak kantor polisi tersebut.

Pada saat bersamaan, sebagian massa lainnya juga menyerbu kantor Koramil setempat yang berjarak 150 meter dari markas Polsek Paniai Timur. Akibat kejadian itu, empat mobil rusak. Mobil tersebut antara lain tiga milik masyarakat dan satu mobil dinas Koramil.

Menurut Kombes Pol. Sulistyo Pudjo Hartono, S.Ik., aparat hanya bisa bertahan dalam menghadapi massa. Aparat berusaha untuk tidak terpancing melakukan tindakan kekerasan untuk menghalau massa.

"Kami berusaha bertahan, tidak terprovokasi untuk membalas dengan menembaki massa," tandas dia.

Seperti diberitakan, Ketua Dewan Adat Pania, Jhon Gobay saat dihubungi wartawan, Senin (8/12/2014) malam, mengatakan ada lima warga yang tertembak mati.

Mereka adalah Sadai Yeimo yang merupakan seorang pegawai negeri sipil, Habakuk Degei, Neles Gobai, Bertus Gobai, dan Apinus Gobai. Sedangkan korban yang menderita luka-luka berjumlah 22 orang.

Jenazah korban kini ditempatkan di Lapangan Karel Gobai, Enarotali, yang dijaga ratusan warga yang marah. Mereka meminta pertanggungjawaban aparat keamanan yang menembak.

Menurutnya peristiwa ini bermula saat seorang anak berusia sekitar 12 tahun diduga dianiaya aparat keamanan di perbukitan Togokotu, Kampung Ipakiye, Paniai Timur, Papua, pukul 24.00. WIT Minggu (7/12/2014) malam.

Saat itu sebuah mobil Toyota Fortuner warna hitam melintasi perbukitan Togokotu dengan lampu dimatikan. Persis di puncak perbukitan, beberapa anak yang tengah berada di pondok Natal menegur pengemudi mobil itu dan meminta menyalakan lampu kendaraan.

Tak terima ditegur, terjadilah pertengkaran mulut antara kedua pihak. Mobil lantas melaju ke Posko Timsus 753 di Uwibutu. Tak lama kemudian mobil kembali ke pondok Natal. Kali ini, pengemudi datang bersama teman-temannya.

Tiba di pondok Natal itulah mereka diduga melakukan penganiayaan terhadap seorang anak di sana.

Peristiwa inilah yang memicu rombongan masyarakat Kampung Ipakiye bergerak menuju Kota Enarotali yang berjarak sekitar 5 kilometer dari kampung tersebut pada Senin (8/12/2014) pagi.

Rombongan itu ingin meminta penjelasan aparat keamanan tentang penganiayaan warga mereka. Hingga kemudian mereka menemukan mobil yang dimaksud dan membakarnya.

Kemudian massa berkumpul di Lapangan Karel Gobai, Enarotali, Papua sambil bernyanyi dan menari. Namun, aparat keamanan menanggapi aksi tersebut dengan melakukan penembakan untuk membubarkan massa hingga akhirnya jatuh korban itu. (sp/kom)

See Also

Pengacara Yang Sukses Mengadakan MoU Dengan Negara Lain
Polda Metro Jaya Tahan Para Tersangka Kasus Penculikan WN Inggris
Presiden Joko Widodo Resmi Lantik Idham Azis Sebagai Kapolri Baru
Keterangan Ahli Di Sidang Praperadilan Terkait Eksekusi Penahanan Matheus Mangentang
Peras Mantan Petinggi Polri, Hukuman Sisca Dewi Diperberat
LBH Ansor Jateng Apresiasi Penangkapan Cepat Polres Kebumen Terhadap Pelaku Kekerasan Seksual
Kapolres Bitung Perintahkan Pelaku Kejahatan Ditembak Di Tempat
Reserse Polres Bitung Bekuk Residivis Sadis Pembegal Motor
Satuan Reskrim Polres Bitung Tangkap Dua Tersangka Curanmor
Mahasiswa Unesa Sorot Penggunaan Dana Pembelian Mebel Di Kampus
KPK Tetapkan Dirut PT. Rohde And Schwarz Indonesia Sebagai Tersangka
KPK Akan Segera Periksa Saksi Dan Tersangka Suap KONI
KPK Cekal Robert Tantular Ke Luar Negeri
Tim Resmob Dan Tarsius Bitung Lumpuhkan Pencuri Kambuhan
Mahkamah Agung Hukum Alfian Tanjung 2 Tahun Penjara
Polda Jatim Duga Ada Kesalahan Teknis Proyek Berujung Jalan Gubeng Ambles
KPAI Apresiasi Langkah Cepat Polri Proses Bahar Bin Smith
Polri Sebut Penahanan Tersangka Bahar Bin Smith Murni Kasus Hukum
Polri Koordinasi Dengan LPSK Amankan 2 Remaja Korban Bahar Bin Smith
Usai OTT KPK, Kemenpora Lanjutkan Program SEA Games-Olimpiade
KPK Sita Miliaran Rupiah Terkait OTT Pejabat Kemenpora Dan KONI
Polri Kantongi Bukti Penganiayaan Oleh Bahar Bin Smith
KPK OTT Pejabat Kemenpora Dan Pengurus KONI
Polres Metro Jakarta Selatan Buru Pembunuh Perempuan Muda Di Kebagusan City
Pembunuh Keji Sopir Taksi Online Divonis 10 Tahun Penjara
jQuery Slider

Comments

Arsip :2019201820172016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 7.649.975 Since: 05.03.13 | 0.1587 sec