Opini

Anak-anak Hamil: Antara Korban Dan Pelaku Tindak Amoral

SBN

Diskusi publik yang bertajuk “Anak Hamil dan Solusinya” di Aula Adi Sukadana lantai 2 Gedung A FISIP Universitas Airlangga Jalan Dharmawangsa Dalam, Surabaya, Jumat (14/11/2014) kemarin dengan  nara sumber dosen Kesehatan Reproduksi Remaja dan Statistik Fakultas Kesehatan Masyarakat, Dr. Windhu Purnomo, dr. (FKM UA) Ikhsan, M.Psi. (Kepala Dinas Pendidikan Kota Surabaya), Dra. Esthi Susanti Hudiono (Yayasan HOTLINE Surabaya), Baktiono anggota DPRD Jawa Timur (PDIP), bersama dua orang moderator Dr. Pinky Saptandari serta Dr. Tri Arianto (FISIP UA) memberitahu tentang situasi yang terjadi. Anak-anak hamil kita persepsikan sebagai apa.

Anggota DPRD Jawa Timur Kota Surabaya, Bapak Baktiono yang berasal dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) menggantikan anggota DPRD Jawa Timur yang juga mantan Wali Kota Surabaya Bambang Dwi Hartono (PDIP) dimana berhalangan hadir ke Jakarta menegaskan bahwa mereka adalah korban yang masa depannya harus diselamatkan. Namun kata beliau ada yang memandangnya sebagai tindak perilaku amoral. Barangkali persepsi inilah yang membuat pemecahan masalah anak-anak hamil jalan di tempat.

Kalau anak hamil adalah pelaku perilaku tindak amoral, saya kira persepsi ini yang paling banyak penganutnya, termasuk para pendidik dan pemangku jabatan publik yang terkait. Lalu pertanyaannya adalah bagaimana moral laki-laki yang menghamili. Mereka mendapatkan hak istimewa dengan tetap bisa bersekolah kalau mereka adalah teman dari anak yang hamil. Dari cerita anak yang kami dampingi, anak laki-laki itu bebas berpacaran dan menghamili anak perempuan lainnya.

Hukum perlindungan anak memandang bahwa mereka adalah korban yang masa depannya harus diselamatkan. Penyelamatan masa depan anak hamil dan anaknya anak memerlukan perubahan mindset kita semua terutama mindset pemegang amanat jabatan publik yang ada. Karena tradisi yang ada adalah mencari pertanggungjawaban laki-laki yang menghamili. Yang pada kenyataan laki-laki itu banyak yang tidak mampu bertanggung jawab, sehingga drama hubungan mereka berakhir pada kerugian anak perempuan yang hamil.

Jumat (14/11/2014) kemarin dipresentasikan oleh Kepala Dinas Pendidikan Kota Surabaya, dr. (FKM UA) Ikhsan, M.Psi. tentang program untuk anak hamil. Diutamakan oleh Dinas Pendidikan bahwa anak bisa melahirkan dengan selamat lalu hak mereka dipenuhi dalam program kejar paket. Anak-anak itu memerlukan perlindungan dari stigma dan pendampingan dengan secara praktis ada program penanganan pada anaknya anak.

LAKI-LAKI YANG MENGHAMILI JUGA HARUS DIMUNCULKAN UNTUK BERTANGGUNGJAWAB. JUGA APA YANG DILAKUKAN AGAR TIDAK TERJADI ANAK-ANAK YANG LAIN HAMIL?

Pencegahan merupakan isu maha penting dan akan lebih murah.

Pak Windhu Purnomo dosen Kesehatan Reproduksi Remaja dan Statistik Fakultas Kesehatan Masyarakat menyajikan tingginya angka kehamilan di usia 15-19 tahun berdasarkan beberapa riset. Angka ini diragukan oleh Dinas Pendidikan dan Dinas Sosial. Lebih memprihatinkan lagi adalah anak-anak yang kami dampingi hamil ketika mereka berusia 14 tahun di bawah angka yang disebutkan oleh Pak Windhu Purnomo.

ANAK HAMIL ADALAH MASALAH BESAR NEGERI INI.

Selain melihat mereka sebagai korban karena belum ada rekayasa sosial yang menyentuh hati mereka untuk melindungi mereka dari kehamilan dan masalah ikutan lainnya. Penting sekali memilih pendekatan yang bersifat memberdayakan mereka menghadapi lingkungan dan stimulus yang begitu banyak mereka hadapi. Solusi yang disampaikan Pak Windhu adalah sebagai berikut:

A. anak mengenali organ tubuhnya sendiri.

B. memberi pendidikan kesehatan reproduksi sejak dini melalui keluarga, sekolah, peer, dan media.

C. perlindungan termasuk melalui hukum.

Saya menambahkan:

A. termasuk mengenal psikis, mendidik anak agar bisa membangun hubungan yang saling menghormati dan setara dan melakukan praktek agama/spiritual yang konsekwen,

B. tidak hanya pendidikan kesehatan reproduksi tetapi juga seksualitas yang komprehensif dan berkelanjutan yang dilakukan oleh keluarga, sekolah, masyarakat dan media.

C. produk hukum yang ada harus dikoreksi agar sensitif gender dengan mengangkat dan mempersoalkan laki-laki yang berhubungan seks dengan anak perempuan. (esh)

See Also

Berdiri Di Dua Kaki
Politik Akal Sehat Atau Politik Merangkul?
Hati-hati Dengan Ide Keliru Yang Jahat Sekali
Partner Dari Ahok
Kapan Kegaduhan Akan Berakhir?
Peringati Hari HAM Sedunia, Rohingya Masih Menjadi Manusia Paling Teraniaya
Susi Pudjiastuti Dan Definisi Profesional
Mentor Keponakan Dan Spesialis Anak
Bahagia Menggunakan Ketrampilan Yang Ada Tanpa Tekanan
Kebanyakan Perempuan Pola Dari Hati Ke Otakkah?
Diperlakukan Terhormat Oleh Pemerintah Kota Surabaya
Autis Dan UN Habitat
Di Bali Saya Menemukan Ide Tentang Guru Spiritualitas
Empat Orang Yang Diikat Proyek Televisi Kiprah Remaja Di Masa Lalu
Sisi Lain Dari Keindahan Bali
Murid Cinta
Intuisi Yang Bertumbuh
Perut Dan Kemampuan Kognitif Kaitannya Dengan Usia
Soft Launching Misi Hidup Saya
Bahagia Itu Bisa Penuhi Janji Dan Ide Terealisir
Sjahrir Dan Kisah Cintanya
Cinta Oksitosin Dan Cinta Komitmen
Nasehat Bagi Yang Memutuskan Mempertahankan Pernikahan
Berjudi Mempertaruhkan Kebahagiaan Hidup
Mati Untuk Mendapatkan Yang Lebih Baik
jQuery Slider
Arsip :201920172016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 8.366.630 Since: 05.03.13 | 0.1993 sec