Internasional

Ikhwanul Muslimin Tuduh Militer Serang Pro-Moursi

Monday, 29 Juli 2013 | View : 1040

KAIRO-SBN.

Para pendukung Presiden terguling Mohamed Moursi kembali menutup jalanan di Nasr City, sebelah timur kota Kairo, pada hari Minggu (28/7/2013). Kelompok pro-Moursi bersumpah akan melanjutkan aksi demonstrasi menuntut dikembalikannya Mohamed Moursi ke tampuk kekuasaan. Sebanyak 80 orang dilaporkan tewas dalam bentrokan yang terjadi sejak Jumat (26/7/2013) di dekat bundaran Rabiah Al-Adawiyah, di ibukota Kairo. Sebelumnya, lebih dari 100 orang dilaporkan tewas setelah tentara menembaki demonstran di ibu kota Mesir, Kairo, dan Alexandria, Sabtu (27/7/2013). Sementara itu, pada Sabtu (27/7/2013), Kementerian Kesehatan Mesir melaporkan 72 orang tewas di Kairo. Wartawan BBC di Kairo melaporkan bentrokan maut berlangsung di sekitar masjid Rabaa al-Adawiya. Massa yang tewas kebanyakan dari kelompok Ikhwanul Muslimin yang merupakan pendukung presiden terguling, Mohamed Moursi. “Tentara menembaki demonstran yang tumpah ruah di jalan raya utama Kairo,” kata  Juru Bicara Ikhwanul Muslimin, Gehad El-Haddad. Namun, kantor berita MENA, mengutip pasukan tentara yang tidak mau disebutkan namanya, mengatakan mereka hanya melemparkan gas air mata untuk membubarkan demonstran. “Mereka tidak menembak yang menyebabkan luka. Mereka menembak untuk membunuh,” bantah Gehad El-Haddad seperti yang dilansir The Telegraph. Harian The Telegraph menyatakan jumlah korban mungkin lebih banyak dari yang diperkirakan. Puluhan mayat bergeletakan di sejumlah bangsal rumah sakit.

Kekerasan yang dimulai pada Sabtu (27/7/2013) merupakan insiden paling berdarah sejak penggulingan Mohamed Moursi pada 3 Juli silam oleh kudeta militer setelah demonstrasi besar-besaran menentang kekuasaan Mohamed Moursi. Perkembangan politik di Mesir dalam beberapa pekan terakhir ini cenderung memburuk dan mengarah pada konflik antar anggota masyarakat baik pendukung Mohamed Moursi maupun penentang Moursi dan militer. Korban jiwa terus berjatuhan akibat bentrokan yang terjadi khususnya di ibukota Kairo.

Para pendukung Ikhwanul Muslimin melakukan protes untuk menuntut pembebasan Moursi yang kini masih ditahan di lokasi yang dirahasiakan. Keberadaan Mohamed Moursi yang tak tentu rimbanya sejak kudeta militer meletup pada 3 Juli 2013 silam, telah membuat kelompok Ikhwanul Muslimin (IM) marah besar. Kelompok Islam itu bersumpah akan terus melakukan aksi unjuk rasa sampai Mohamed Moursi dibebaskan. Bukan hanya itu, Ikhwanul Muslimin juga menegaskan tidak akan pernah mau mengakui pemerintah Mesir interim yang dikendalikan oleh militer. Bahkan, Persaudaraan Muslim, kelompok pro Mohamed Moursi, berjanji akan meneruskan protes hingga Mohamed Moursi terpilih kembali. Persaudaraan Muslim menolak untuk mengakui pemerintahan Adly Mansour dan memilih jalur protes yang berkelanjutan yang mereka percaya dapat membalikkan kudeta yang telah menggulingkan Mohamed Moursi. Ketegangan komunal dan serangan terhadap umat Kristen dan gereja meningkat tajam sejak di bawah pemerintahan Presiden Mohamed Moursi, presiden pertama Mesir yang dipilih secara bebas. Banyak orang Kristen Koptik yang jumlahnya mencakup sekitar 10% dari populasi Mesir yang jumlahnya 84 juta jiwa orang Mesir, meninggalkan Mesir karena makin berkembangnya intoleransi di bawah pemerintahan kepresidenan Mohamed Moursi yang didukung Ikhwanul Muslimin dan Persaudaraan Muslim tersebut. Pemerintahan Mohamed Moursi selama setahun terakhir dinilai cenderung mengutamakan kelompoknya. Masyarakat Mesir yang tak puas juga menuding Mohamed Moursi tak mampu menjalankan pemerintahan secara benar.

Korban jiwa dalam demonstrasi menuntut dibebaskannya mantan Presiden Mesir, Mohamed Moursi, terus berjatuhan. Bentrokan yang terjadi antara para simpatisan Moursi dan pendukung oposisi, total telah menewaskan 15 orang demonstran. Bentrokan antara para pendukung Moursi dan oposisi serta aparat keamanan meletup sejak Senin (22/7/2013) di ibu kota Kairo dan sejumlah titik wilayah di Mesir. Demonstrasi itu terjadi persis setelah keluarga Moursi mengumumkan akan menuntut militer Mesir ke meja hijau atas tuduhan penculikan dan dalang di balik tindakan kudeta. Para pendukung Moursi melakukan penjagaan selama sebulan di Kairo utara sebelum kerusuhan meletus. Setelah penggulingan Moursi 3 Juli silam, para pendukung Moursi kerap terlibat bentrok dengan pasukan keamanan, yang puncaknya terjadi Sabtu (27/7/2013). Korban luka maupun meninggal kebanyakan berada di kota kedua Mesir, Alexandria, di pantai Mediterania.

Parahnya dalam konflik di Mesir ini yang menurut hitungan AFP telah menelan korban jiwa sekitar 170 orang itu, yang menjadi korban bukan hanya dari pihak pengunjuk rasa saja, namun sejumlah aparat kepolisian pun dilaporkan mengalami luka-luka serius. Pada Selasa (23/7/2013) pagi, sembilan orang tewas ketika pendukung oposisi menyerang para simpatisan Moursi yang berunjuk rasa di dekat Universitas Kairo. Kementerian Kesehatan memperingatkan, jumlah korban tewas ini meningkat dibanding pada Senin kemarin (22/7/2013) yaitu korban tewas tercatat empat orang. Koresponden AFP di Mesir mewartakan di daerah Al-Nahda 16 mobil dibakar sekaligus dalam aksi unjuk rasa menuntut Morsi dikembalikan yang terjadi di daerah itu. Tak hanya di Al-Nahda, pada Rabu (24/7/2013) pagi di Kota Mansura dilaporkan ada sebuah pos polisi dibom yang mengakibatkan satu tewas dan 28 lainnya luka-luka.

Selain di ibu kota Kairo dan daerah Al-Nahda, pada Selasa (23/7/2013), demonstrasi yang berakhir ricuh juga terjadi di Kota Qalyub. Pada saat yang sama terjadi serangan misterius di distrik Sinai, yang menewaskan seorang petugas kepolisian, satu orang warga sipil, dan empat tentara. Sebelumnya, militer mengirim dan mengerahkan bala bantuan ke Semenanjung Sinai yang bergejolak, di mana diduga para militan menewaskan seorang polisi pada Kamis (18/7/2013). Beberapa polisi dan tentara telah menjadi korban dan tewas dalam penembakan dan serangan roket sejak penggulingan Mohamed Moursi tersebut.

Kekerasan yang terus terjadi di Mesir mengundang keprihatinan banyak pihak. Pemerintah Mesir interim masih enggan membebaskan Mohamed Moursi dengan beralasan Mohamed Moursi ‘diamankan’ di suatu tempat demi kebaikannya sendiri. Kekakuan Pemerintah Mesir untuk tidak membebaskan Mohamed Moursi terbilang berani. Selain desakan dari dalam negeri, juga dunia internasional, mulai dari Amerika Serikat (AS), Jerman, Qatar, hingga badan Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB), dan Uni Eropa (UE) kompak meminta mantan presiden yang didukung kelompok Ikhwanul Muslimin (IM) itu segera dibebaskan.

“Setelah penggulingan Moursi pada 3 Juli silam, saya telah meminta peninjauan atas dampak hukum proses tersebut terhadap bantuan AS kepada Mesir karena secara undang-undang AS dilarang memberikan bantuan kepada negara yang pemimpinnya dikudeta, kecuali dalam kondisi krisis kemanusiaan. Bantuan militer tahunan AS terhadap Mesir yang tercatat berjumlah US$ 1,3 miliar, belum termasuk paket bantuan ekonomi, menutupi sekitar 80% anggaran belanja perlengkapan militer Mesir setiap tahunnya,” kata Presiden Amerika Serikat, Barack Obama.

“Proses transisi yang dialami Mesir ini sangat penting karena memungkinkan sebuah transfer kekuasaan kepada pemerintah sipil yang dipimpin secara demokratis. Seluruh tahanan politik harus dibebaskan, termasuk mantan Presiden Mohamed Moursi,” kata para menteri luar negeri anggota Uni Eropa (UE). Menteri Luar Negeri Inggris, William Hague mengutuk penggunaan kekerasan terhadap pengunjuk rasa dalam bentrokan mematikan di Kairo dan menuduh pasukan keamanan Mesir menggunakan peluru tajam. William Hague juga meminta Pemerintah Mesir membebaskan atau menuntut semua pemimpin politik yang ditahan sejak tentara menggulingkan Moursi pada 3 Juli silam. “Saya sangat prihatin dengan peristiwa baru-baru ini di Mesir, dan mengutuk penggunaan kekerasan terhadap demonstran yang telah menyebabkan jatuhnya korban jiwa,” tutur William Hague dalam pernyataan yang dikeluarkan oleh Departemen Luar Negeri Inggris, Sabtu (27/7/2013). “Saya menyerukan Pemerintah Mesir untuk menghormati hak berunjuk rasa secara damai, untuk menghentikan penggunaan kekerasan terhadap demonstran, dan meminta pihak yang bertanggung jawab ditahan,” tegas William Hague. (telegraph/mena/afp/bbc) 

See Also

Pengadilan Rusia Perintahkan Perempuan Yang Kabur Dari Karantina Balik Ke RS
Virus Korona Tewaskan Direktur Rumah Sakit Di Wuhan
Penembakan Di Century Plaza Bangkok
Jeff Bezos Donasi USD 10 Miliar Untuk Penelitian Iklim
Korban Tewas Akibat Virus Korona Total Jadi 1.868
1.789 Korban Tewas Akibat Virus Korona
Warga Kanada Di Kapal Pesiar Diamond Princess Segera Dievakuasi
Arab Saudi Larang Warganya Ke China
Dokter Pengungkap Virus Korona Meninggal Dunia
Korban Jiwa Virus Korona Bertambah Jadi 634
Jepang Karantina Seluruh Penumpang Kapal Pesiar Diamond Princess Terkait Virus Corona
Ratusan Warga Negara Malaysia Dan Keluarganya Dipulangkan Dari Wuhan
Penembakan Di Asrama Kampus Texas A & M University
7 Fakta Rumah Sakit Kilat Pasien Korban Virus Corona Wuhan
Singapura Umumkan 6 Kasus Baru Virus Korona
Rumah Sakit Kilat Virus Corona Wuhan Mulai Beroperasi
Penembakan Dalam Bus Greyhound Di California
Korban Meninggal Virus Korona Bertambah Jadi 362
TNI Siap Bantu Kebakaran Hutan Di Australia
Rudal Kenai Objek Di Langit Iran Saat Pesawat Ukraina Jatuh
Iran Sebut Pesawat Ukraina Terbakar Sebelum Jatuh
Pejabat AS Sebut Pesawat Ukraina Kemungkinan Kena Rudal Iran
Bencana Kebakaran Lahan Di Australia
Kapal Induk Kedua China Resmi Diluncurkan
PBB Sebut 7 Ribu Demonstran Iran Ditahan Akibat Protes Kenaikan BBM
jQuery Slider
Arsip :20202019201820172016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 8.270.067 Since: 05.03.13 | 0.1833 sec