Hukum

Pengacara Pembunuh Sisca Yofie Sebut Hakim MA Emosional Dan Terbawa Pemberitaan

Thursday, 13 Nopember 2014 | View : 4148

JAKARTA-SBN.

Wawan alias Awing (39), pelaku pembunuhan sadis terhadap manajer cantik asal Bandung, Branch Manager PT. Verena Multi Finance Tbk., Franceisca Yofie alias Sisca Yofie (34) di Jalan Cipedes Tengah RT07/RW01, Kelurahan Cipedes, Kecamatan Sukajadi, Kota Bandung, Jawa Barat pada penghujung bulan suci Ramadhan 2013 yakni Senin (5/8/2013) silam dijatuhi vonis mati dalam putusan kasasi di Mahkamah Agung. Majelis Kasasi Mahkamah Agung (MA) menjatuhkan vonis hukuman mati kepada Wawan karena terbukti membunuh Sisca Yofie dengan sadis. Vonis ini mengubah hukuman penjara seumur hidup yang telah diputuskan Pengadilan Negeri (PN) Bandung sebelumnya.

Pembunuh Sisca Yofie, Wawan dijatuhi hukuman vonis mati oleh tiga Hakim Agung, Ketua Majelis Kasasi, Dr. H. Artidjo Alkostar, S.H., LL.M. dengan anggota Prof. Dr. Topane Gayus Lumbuun, S.H., M.H., dan H. Margono S.H., M.Hum., M.M.

Vonis mati pun dibenarkan oleh pengacara Wawan alias Awing, Dadang Sukma Wijaya. “Memang informasi yang kita terima, putusan di tingkat kasasi justru semakin berat. Wawan dijatuhi hukuman mati," ungkap advokat Dadang Sukma Wijaya kepada wartawan, Rabu (12/11/2014).

Penasihat Hukum terdakwa Wawan alias Awing (39), pembunuh Kepala Cabang Bandung, PT. Verena Multi Finance Tbk., Bandung, Jawa Barat, korban yang bernama Sisca Yofie, Dadang Sukma Wijaya menyebut jika ketiga Hakim itu sangat emosional saat menjatuhkan hukuman kepada kliennya. "Tentu kita sangat kecewa. Kami dan keluarga menganggap putusan MA ini sebagai musibah. Kita juga melihat Hakim sangat emosional dalam menjatuhkan vonis ini," ketus advokat Dadang Sukma Wijaya kepada awak media, Rabu (12/11/2014).

Menurut pengacara Dadang Sukma Wijaya, Hakim terbawa dalam arus pemberitaan yang masif seputar pembunuhan Sisca Yofie. Hakim dinilai tidak melihat fakta yang sesungguhnya.

“Majelis Hakim emosional, terbawa arus pemberitaan yang masif. Kasus ini sebenarnya penjambretan, bukan pembunuhan berencana. Wawan itu menjambret karena korban mempertahankan, akhirnya eksesnya pembunuhan, jadi bukan pembunuhan berencana. Hakim MA sepertinya tidak melihat itu," sesal pengacara Dadang Sukma Wijaya.

“Wawan bukan pembunuh bayaran. Dia menjambret, kemudian korbannya meninggal," tukas pengacara Dadang Sukma Wijaya, Rabu (12/11/2014).

Menurutnya, tidak ada niatan dari Wawan alias Awing dan pelaku lainnya, Ade Ismayadi alias Epul (24) untuk menghabisi nyawa Kepala Cabang Bandung, PT. Verena Multi Finance Tbk., Bandung, Jawa Barat, korban yang bernama Franceisca Yofie alias Sisca (34) di Jalan Cipedes Tengah RT07/RW01, Kelurahan Cipedes, Kecamatan Sukajadi, Kota Bandung, Jawa Barat pada penghujung bulan suci Ramadhan 2013 yakni Senin (5/8/2013) silam.

“Rasa keadilan tidak hanya untuk korban, tetapi juga untuk tersangka. Hukuman mati tidak pantas bagi Wawan. Masih ada hukuman lain yang lebih pantas," papar advokat Dadang Sukma Wijaya.

Advokat  Dadang Sukma Wijaya mengaku sudah mendapat informasi tentang vonis mati Wawan, meski demikian dirinya belum mendapat salinan putusannya.

Penasihat hukum Wawan alias Awing (39), Dadang Sukma Wijaya mengaku belum mendapat salinan putusan atau petikan vonis MA secara jelas.

Menurut pengacara Dadang Sukma Wijaya, pihaknya saat ini masih menunggu salinan putusan dari Mahkamah Agung (MA) untuk kemudian baru memikirkan apakah akan melakukan upaya hukum luar biasa, Peninjauan Kembali (PK) atau tidak. "Kita tunggu salinan putusannya dulu, baru setelah itu kita lihat untuk PK atau tidak," jelasnya.

Namun begitu mendapat berita di media, advokat Dadang Sukma Wijaya mengaku pihaknya langsung menyiapkan gugatan. “Proses di MA memang tertutup. Tapi sudah tahu dari media jadi kita siapkan gugatan," cetus pengacara Dadang Sukma Wijaya.

Advokat Dadang Sukma Wijaya belum mau memaparkan materi gugatan yang sedang disiapkan timnya. Apakah bukti baru atau saksi baru. Namun menurutnya, materi yang disiapkan bakal menunjukan bahwa kliennya tidak pantas dihukum mati.

Menurut pengacara Dadang Sukma Wijaya, vonis MA atas Wawan belum bersifat final dan kliennya masih bisa mengajukan Peninjauan Kembali (PK).

Pengacara Dadang Sukma Wijaya pun masih menunggu salinan putusan untuk kemudian mengajukan Peninjauan Kembali (PK). "PK kan hak, nanti kita putuskan setelah kita terima salinan putusannya," tandasnya. “Prosesnya nanti PK. Semoga nanti hakim yang menanganinya memperhatikan rasa keadilan. Setelah PK ada grasi. Kita tempuh semua cara,” tukas penasihat hukum kedua terdakwa pembunuhan sadis terhadap Sisca Yofie tersebut.

Sebelumnya di Pengadilan Negeri (PN) Bandung, Wawan alias Awing dan Ade dijatuhi vonis hukuman penjara seumur hidup oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri Bandung atas pembunuhan Sisca Yofie.

Menurut Hakim, terdakwa Wawan alias Awing terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana pencurian dengan kekerasan dan menjadikan korban Sisca Yofie meninggal dunia. Wawan alias Awing dinilai terbukti melakukan tindakan sebagaimana tuntutan ke satu, yaitu melanggar Pasal 365 ayat (2) dan (4) KUHPidana. Tidak ada hal-hal yang meringankan Wawan dalam vonis tersebut.

Vonis kepada keduanya dijatuhkan pada Senin (24/3/2014). Vonis tersebut jauh lebih ringan dibandingkan dengan tuntutan hukuman mati yang diminta oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU).

Putusan ini lalu dikuatkan oleh Pengadilan Tinggi (PT) Bandung.

Melalui pengacaranya, Wawan alias Awing lalu mengajukan kasasi di MA. Di tingkat kasasi, berkas keduanya dipisah. Wawan alias Awing lalu dijatuhi hukuman mati oleh MA. “Harapan kita mengajukan kasasi agar hukumannya diperingan, bukan justru diperberat. Kita sangat kecewa karena hakim tidak melihat fakta,” pungkas advokat Dadang Sukma Wijaya. (jos)

See Also

Gatot Brajamusti Divonis 8 Tahun Terkait Kepemilikan Sabu
PK Ditolak, Pembunuh Sisca Yofie Tetap Dihukum Mati
Ridho Rhoma Dibekuk Polisi Terkait Kasus Narkoba
Agar Tidak Melanggar, Kodim 0716/Demak Dapat Penyuluhan Hukum
KPK Tetapkan Mantan Dirut PT. Garuda Indonesia Sebagai Tersangka Suap
Polisi Selidiki Dugaan Korupsi Pengelolaan Trans Semarang
BNN Sebut 11 Negara Suplai Narkoba Ke Indonesia
Polda Jambi Resmi Gelar Perkara Kasus Insiden Hiasan Natal
Insiden Hiasan Natal Tak Pancing Emosi Umat Muslim Jambi
Bupati Katingan Digerebek
Beberapa Tokoh Mendesak Hakim Agar La Nyalla Mattalitti Divonis Bebas
PN Jakarta Pusat Vonis Bebas La Nyalla Mahmud Mattalitti
Penggunaan Dana PAUD Milyaran Rupiah Di Bondowoso Menjadi Sorotan
Pengambilan Sumpah 64 Advokat Peradin Oleh PT Banten
Surat Wasiat Perempuan Yang Berniat Ledakan Bom Di Istana
Polda Riau Ungkap Judi Togel Beromzet Rp180 Juta Per Bulan
Polisi Bekuk Ketua Umum PARFI
KPK Periksa 12 Pejabat Pemkab Buton
Bareskrim Polri Tangkap 85 Tersangka Kasus Karhutla Riau
BNN Bekuk Seorang Anak Terlibat Peredaran Ganja Dari Amerika Serikat
OC Kaligis Dipindahkan Ke LP Sukamiskin
Gubernur Sultra Tersangka KPK
Pelimpahan Berkas Korupsi La Nyalla Mahmud Mattalitti Ke Pengadilan Tipikor Ditunda
Cegah Pelanggaran Kodim 0716/Demak Gelar Suluh Hukum Dari Korem 073/Makutarama
Keluarga Hilang Kontak Dengan Mahasiswa FK Unair Terduga ISIS
jQuery Slider

Comments

Arsip :20172016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 5.821.258 Since: 05.03.13 | 0.247 sec