Hukum

Sastrawan Sitok Srengenge Akhirnya Jadi Tersangka

JAKARTA-SBN.

Subdit Keamanan Negara (Kamneg) Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya akhirnya menetapkan sastrawan Sitok Srengenge sebagai tersangka.

Penyair Sitok Srengenge ditetapkan sebagai tersangka atas laporan dari mahasiswi UI berinisial RW (22 tahun) atas kasus perbuatan tidak menyenangkan, persetubuhan wanita diluar nikah dan dalam keadaan tidak berdaya yang dilaporkan pada Jumat (29/11/2013) silam.

RW dan pengacara Iwan Pangka melaporkan Sitok Srengenge ke Polda Metro Jaya pada 29 November 2013. RW melaporkan Sitok Srengenge ke polisi karena sastrawan itu membuat dia hamil dan tidak mau bertanggung jawab.

Berdasarkan Laporan Polisi Nomor: LP/4245/XI/2013/PMJ/Ditreskrimum, korban melaporkan Sitok Srengenge dengan Pasal 355 KUHP tentang perbuatan tidak menyenangkan.

Kepolisian Daerah Metropolitan Jakarta Raya akan mulai memeriksa sastrawan Sitok Srengenge sebagai tersangka kasus perbuatan tidak menyenangkan terhadap seorang mahasiswi Universitas Indonesia berinisial RW awal pekan depan. "Awal pekan depan akan diperiksa dengan status tersangka, sebab sudah kita kirimkan surat panggilan," ungkap Kepala Bidang Humas Kepolisian Daerah Metropolitan Jakarta Raya (Polda Metro Jaya), Komisaris Besar Polisi (Kombes Pol) Drs. Rikwanto, S.H., M.Hum. di Jakarta, Selasa (7/10/2014).

Setelah menetapkan Sitok Srengenge sebagai tersangka kasus perbuatan tidak menyenangkan, ia menjelaskan, polisi langsung mengirimkan surat panggilan untuk menjalani pemeriksaan kepada tersangka.

Kasus ini terkuak setelah RW (22), mahasiswi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia (UI), melaporkan sastrawan Sitok Srengenge ke Polda Metro Jaya akhir November tahun 2013 lalu.

Kasus Sitok Srengenge berawal ketika laporan pada November 2013 lalu. Sitok Srengenge dilaporkan oleh RW mahasiswinya dengan tuduhan Pasal 355 KUHP tentang perbuatan tidak menyenangkan.

Sitok Srengenge dilaporkan atas dugaan perbuatan tidak menyenangkan ke Polda Metro Jaya pada Jumat (29/11/2013) silam.

Kasus ini menarik perhatian publik dan kalangan akademisi UI. Pasalnya, korban dan tersangka sempat dianggap melakukan perbuatan intim atas dasar suka sama suka.

Kejadian berawal ketika RW bertemu dengan Sitok Srengenge pada acara Festival Kreatif di FIB UI.

Saat itu, korban menjadi panitia acara, sedangkan terlapor menjadi salah satu juri di kegiatan kampus itu.

Pada Maret 2013, Sitok Srengenge menghubungi RW untuk bertemu di Kompleks Salihara, Pejaten, Jakarta Selatan. Namun, terlapor meminta korban untuk datang ke rumah indekosnya terlebih dahulu. "Setelah itu, terlapor memaksa pelapor masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu. Di dalam kamar, menurut pengakuan pelapor, terlapor meraba, mencium kemudian menyetubuhi pelapor yang mengakibatkan hamil tujuh bulan," tutur Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol. Drs. Rikwanto, S.H., M.Hum. kala itu.

Mantan Kapolres Klaten ini, Kombes Pol. Rikwanto mengatakan setelah korban hamil, terlapor tidak mau bertanggung jawab. Saat ditemui, terlapor selalu membentak-bentak dan berjanji akan bertanggung jawab. "Akhirnya RW melapor ke Polda Metro Jaya dengan nomor laporan LP/4245/XI/2013/PMJ/Ditreskrimum," jelas Kombes Pol Rikwanto.

Mantan Wakapolwil Banyumas ini, Kombes Pol. Rikwanto menyebutkan sebelum menetapkan Sitok Srengenge sebagai tersangka, polisi memanggil beberapa ahli, termasuk ahli kriminologi, ahli hukum pidana, psikologi, psikiater, ahli antropologi serta ahli perspektif perempuan.

Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Komisaris Besar Polisi (Kombes Pol) Heru Pranoto mengungkapkan polisi meminta keterangan dari para ahli supaya bisa membuat putusan secara objektif.

Kombes Pol. Heru Pranoto menjelaskan, dalam menetapkan status tersangka terhadap Sitok Srengenge, pihaknya meminta keterangan dari berbagai ahli. Menurut Kombes Pol. Heru Pranoto, hal ini diperlukan guna penyidikan lebih lanjut atas kasus yang hampir satu tahun ini bergulir. “Ahli yang kita ambil keterangannya adalah ahli kriminolog, ahli hukum pidana, ahli psikologi, ahli psikiater, kemudian ahli antropologi hukum. Kita minta pendapatnya tentang unsur-unsur yang disangkakan. Memang pada saat itu kita ada sedikit diskusi untuk membahas unsur ini, akhirnya dari beberapa ahli hukum perspektif perempuan," jelas Kombes Pol. Heru Pranoto.

Kombes Pol. Heru Pranoto menjelaskan, penetapan tersangka itu dilakukan setelah penyidik melakukan pemeriksaan terhadap belasan orang saksi. "Ada 11 saksi yang diperiksa, di antaranya ahli kriminologi, pidana 3 orang, psikolog, psikiater, dan antropologi hukum," urai dia.

Kombes Pol. Heru Pranoto melanjutkan setelah memeriksa 11 saksi diantaranya saksi korban (RW) dan saksi ahli, akhirnya melalui gelar perkara kemarin malam, Sitok Srengenge ditetapkan sebagai tersangka.

Kepolisian Daerah Metro Jaya akhirnya menetapkan penyair Sitok Srengenge sebagai tersangka atas kasus perkosaan terhadap korbannya berinisial RW. Korban RW merupakan mahasiswi Universitas Indonesia (UI).

Hal itu diungkapkan Diretur Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Kombes Pol Heru Pranoto. Kombes Pol Heru Pranoto mengungkapkan, Sitok Srengenge ditetapkan menjadi tersangka setelah penyidik mendapatkan 2 alat bukti dan setelah dilakukan gelar perkara. "Berdasarkan hasil pemeriksaan dan penyidikan akhirnya polisi menemukan bukti yang cukup dan sekurang-kurangnya 2 alat bukti sudah terpenuhi sehingga penyidik melalui mekanisme gelar perkara telah menetapkan saudara SS sebagai tersangka," ungkap Kombes Pol Heru Pranoto di Polda Metro Jaya, Senin (6/10/2014).

Diutarakan Kombes Pol. Heru Pranoto, dari hasil pemeriksaan dan penyidikan, polisi menemukan bukti yang cukup kuat yaitu dua alat bukti terpenuhi sehingga penyidik menetapkan Sitok Srengenge sebagai tersangka.

"Sitok dikenakan Pasal 335 KUHP, Pasal 286 KUHP dan Pasal 294 ayat (2) KUHP,” papar Kombes Pol. Heru Pranoto.

Di tengah kekhawatiran publik atas penghentian kasus Sitok Srengenge, polisi akhirnya menetapkan penyair itu sebagai tersangka. Pria yang menghamili RW, mahasiswi Universitas Indonesia (UI) itu, bahkan dijerat dengan tiga pasal sekaligus. "Tersangka diancam Pasal 335 KUHP tentang perbuatan tidak menyenangkan, Pasal 286 KUHP tentang kejahatan terhadap kesusilaan, Pasal 294 ayat (2) KUHP tentang pencabulan," beber Dirkrimum Polda Metro Jaya Kombes Pol Heru Pranoto di Mapolda Metro Jaya Jakarta, Senin (6/10/2014).

Kombes Pol. Heru Pranoto menambahkan, Sitok Srengenge terancam hukuman di atas 5 tahun penjara lantaran melanggar Pasal 335, Pasal 286, dan Pasal 294 ayat (2) KUHP tentang perbuatan tidak menyenangkan, persetubuhan wanita di luar nikah dan dalam keadaan tidak berdaya. "Ancaman hukumannya di atas lima tahun penjara," imbuhnya.

Kombes Pol. Heru Pranoto menyatakan Sitok Srengenge saat ini belum ditahan di Polda Metro Jaya. Rencananya hari ini akan dilayangkan surat pemanggilan Sitok Srengenge sebagai tersangka. "Segera, hari ini kita akan melakukan pemanggilan. Kita lihat dulu nanti apakah perlu untuk ditahan atau tidak," terang dia.

Penyidik Ditreskrimum Polda Metro Jaya melayangkan surat pemanggilan untuk memeriksa seniman Sitok Srengenge yang sudah ditetapkan sebagai tersangka atas laporan seorang mahasiswi Universitas Indonesia berinisial RW.

Direktur Reserse dan Kriminal Umum Polda Metro Jaya Kombes Heru Pranoto di Mapolda Metro Jaya, Senin (6/10/2014) mengatakan, hari ini pihaknya melayangkan surat pemanggilan. "Panggilan untuk jangka waktu tiga hari kedepan, sehingga nantinya dapat kita periksa," ungkap Kombes Pol. Heru Pranoto.

Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Komisaris Besar Polisi (Kombes Pol) Heru Pranoto mengatakan, Sitok Srengenge bisa saja ditahan, namun untuk melakukan penahanan, dibutuhkan dua unzur objektif dan subjektif.

"Mungkin kalau unsur objektif terpenuhi bisa dilakukan penahanan, karena hukumannya diatas lima tahun dan tujuh tahun, namun unsur subjektif menurut pertimbangan penyidik, belum tentu memenuhi," urainya.

Unsur subjektif penahanan yakni agar tersangka tidak melarikan diri, tidak mengulang perbuatannya lagi, dan tidak menghilangkan alat bukti.

Kombes Pol. Heru Pranoto juga berharap agar kasus ini bisa mendapat kepastian hukum di pengadilan nantinya.

Untuk diketahui, penetapan tersangka terhadap Sitok Srengenge ini di luar dugaan sejumlah pihak, mengingat polisi sebelumnya sudah memberikan sinyal penghentian (SP-3) kasus yang mandek selama setahun ini. "Kami akan (keluarkan) SP3 (surat perintah penghentian penyidikan) karena harus ada kepastian hukum," tegas Kombes Pol. Heru Pranoto, Senin (8/9/2014) silam.

Kasus ini sempat terhenti hampir setahun karena Polda Metro Jaya memerlukan keterangan saksi untuk memberikan pandangan tentang kasus ini. “Hampir satu tahun kasus ini berproses. Sangat diperlukan keterangan saksi ahli dari pihak kompeten untuk berikan pandangan dan masukan. Terlebih di unsur kalimat tidak berdaya," ucap Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Kombes Pol Heru Pranoto, Senin (6/10/2014) di Mapolda Metro Jaya. (jos)

See Also

KPK Geledah Rumah Anggota DPRD Tulungagung
Kasus PT. Asuransi Jiwasraya (Persero), Kejagung Periksa 27 Saksi Pemilik Rekening Saham
KPK Geledah Gedung DPRD Tulungagung
KPK Periksa Direktur Utama PT. Antam (Persero) Tbk
KPK Akui Adanya Aturan Melarang Pimpinan Temui Pihak Terkait Perkara
Polda Jatim Segera Ungkap TPPU Kasus Investasi Bodong MeMiles
Polda Jatim Bidik TPPU Kasus Investasi Bodong MeMiles
Reynhard Sinaga Ditahan Di Sel Maximum Security
Universitas Manchester Cabut 2 Gelar Magister Reynhard Sinaga
Kolaborasi Bareskrim Dan BNN Amankan 250 Kg Ganja Di Jakarta
Kasus Investasi Bodong MeMiles Segera Dilimpahkan Ke Kejati Jatim
Kasus Investasi Bodong MeMiles, Polda Jatim Periksa Siti Badriah
KPK Sita Rumah Dan Mobil Mantan Bupati Cirebon
Jaksa Teliti Berkas Tersangka Kasus Novel Baswedan
KPK Periksa Komisioner KPU
Polri Selidiki Negara Rakyat Nusantara
Jaksa Agung Sebut Kasus Jiwasraya Merugikan Negara Rp 13,7 Triliun
Bea Cukai Berkoordinasi Dengan Polda Metro Jaya Tangani Kasus Penyelundupan
Pengacara Yang Sukses Mengadakan MoU Dengan Negara Lain
Polda Metro Jaya Tahan Para Tersangka Kasus Penculikan WN Inggris
Presiden Joko Widodo Resmi Lantik Idham Azis Sebagai Kapolri Baru
Keterangan Ahli Di Sidang Praperadilan Terkait Eksekusi Penahanan Matheus Mangentang
Peras Mantan Petinggi Polri, Hukuman Sisca Dewi Diperberat
LBH Ansor Jateng Apresiasi Penangkapan Cepat Polres Kebumen Terhadap Pelaku Kekerasan Seksual
Kapolres Bitung Perintahkan Pelaku Kejahatan Ditembak Di Tempat
jQuery Slider

Comments

Arsip :20202019201820172016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 7.905.264 Since: 05.03.13 | 0.1511 sec