Politik

Pakar Prediksi Koalisi Merah Putih Akan Pecah

JAKARTA-SBN.

Koalisi Merah Putih diprediksi tidak akan bertahan lama dan hanya menyisakan beberapa partai saja. Koalisi Merah Putih diperkirakan akan pecah, jika komposisi susunan kabinet pasangan Presiden dan Wakil Presiden terpilih Joko Widodo (Jokowi)-Jusuf Kalla (JK) dikeluarkan.

Pakar psikologi politik Universitas Indonesia (UI), Prof. DR. Hamdi Muluk, M.Si. memperkirakan Koalisi Merah Putih akan pecah menyusul dikeluarkannya komposisi susunan kabinet pasangan Presiden dan Wakil Presiden terpilih Joko Widodo (Jokowi)-Jusuf Kalla (JK). "Kemungkinan kubu sebelah (Koalisi Merah Putih) itu pecah. Kalau dilihat secara psikologis sejumlah parpol dalam koalisi itu akan merapat," kata pakar psikologi politik Universitas Indonesia, Hamdi Muluk di Sela Seminar dan kuliah umum Presiden terpilih Joko Widodo di Gedung Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Jakarta, Selasa (16/9/2014).

Dosen Fakultas Psikologi Universitas Indonesia yang memiliki minat tinggi pada bidang Psikologi Politik, Hamdi Muluk menyebutkan, beberapa Partai Politik dalam koalisi tersebut telah menunjukkan sinyal kuat masuk komposisi kabinet di kubu pasangan Jokowi-JK.

Pakar psikologi politik Universitas Indonesia, Hamdi Muluk, menilai, Partai Persatuan Pembangunan, Partai Amanat Nasional, dan Partai Demokrat merupakan tiga partai yang paling mudah dirayu. PPP, lanjut dia, adalah partai pertama yang paling berpeluang bergabung dalam koalisi pemerintah karena saat ini sedang mengalami konflik internal. “Kalau dilihat besar kemungkinan PPP, PAN, Demokrat atau Golkar bisa saja merapat, namun itu masih sebatas kemungkinan. Saat ini kan PPP mengalami kemelut di partainya," sebut dia.

Mengenai dengan partai politik (parpol) lain seperti Gerindra dan PKS juga akan merapat, kata Dosen Ilmu Politik UI ini, tentu saja elit parpol masih mempertimbangkan karena mereka adalah pondasi dari Koalisi Merah Putih. "Ini masalah psikologis, pasti sulit untuk bersatu. Saya kira itu realistis memang, begitulah politik kalau sudah mapan," tutur pria kelahiran Padangpanjang, provinsi Sumatera Barat ini.

Berdasarkan komposisi kabinet hanya diisi 16 dari parpol pendukung pada Kementerian, sambungnya, merupakan sinyal politik yang dilakukan hingga pelantikan nanti. Meski kendati demikian, pemilihan isi kabinet pasangan Presiden Wapres terpilih, Jokowi-JK tentu punya pertimbangan yang matang dari tim transisi, sebab selama ini di sejumlah Kementerian yang didominasi kader partai politik (parpol) banyak kebocoran anggaran hingga mereka terjerat korupsi.

Mengenai kader parpol yang didudukkan dalam komposisi Menteri, tambahnya, seharusnya parpol menyiapkan kader yang mengerti tentang kondisi Kementerian agar kebocoran anggaran tidak terjadi kembali. "Selama ini kan yang duduk sebagai Menteri di Kementerian tidak paham kondisinya, sehingga terjadi kebocoran dan penyalagunaan anggaran dimana-mana sampai pada level korupsi," imbuh ahli psikologi politik dan dosen tersebut.

Sebelumnya, Presiden terpilih Jokowi mengumunkan 16 Kementerian dalam pemerintahannya diisi figur Menteri dari parpol kemudian 18 Kementerian lain dari kalangan profesional murni.

Jatah 16 kursi Menteri yang sudah disiapkan pasangan Presiden wakil Presiden Joko Widodo (Jokowi)-Jusuf Kalla (JK) untuk kader partai politik diyakini akan membuat parpol yang tergabung dalam Koalisi Merah Putih tergoda.

Guru besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia dengan pidato pengukuhannya yang berjudul “Menghidupkan Kembali Publik: Perspektif Psikologi Politik” pada tahun 2010, Hamdi Muluk meyakini, pascakonflik, partai berlambang kabah itu akan segera mengalihkan dukungannya.

"PPP juga kan sejak dulu saat menentukan dukungan di pilpres juga sudah terpecah, karena hanya Suryadharma ke Prabowo," terang Hamdi Muluk di Gedung LIPI, Jakarta Pusat, Selasa (16/9/2014) sore.

Partai kedua yang berpeluang ikut bergabung, kata Hamdi Muluk, adalah PAN. Dia menilai, PAN juga sejak awal ragu dalam menentukan langkah koalisi saat pilpres lalu. Dia memprediksi, hal serupa akan kembali terulang.

"Waktu itu karena hanya dapat posisi wapres dari Hatta Rajasa saja mereka ke Prabowo. Sekarang kan sudah tidak bisa dapat wapres," ujar Ketua Laboratorium Psikologi Politik UI.

Terakhir, lanjut Hamdi Muluk, Partai Demokrat yang selama ini setengah hati berada di Koalisi Merah Putih.

Koordinator Program Master dan Doktoral di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Hamdi Muluk menjelaskan, sikap Partai Demokrat (PD) yang sejak awal menyatakan akan menjadi penyeimbang menandakan keinginan mereka untuk bermain dua kaki.

Adapun sisanya, Partai Gerindra, Partai Golongan Karya (Golkar), dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS), menurut prediksi Hamdi Muluk, tak akan tergoda kursi Menteri karena memiliki ideologi yang bertolak belakang dengan pasangan Presiden Wakil Presiden terpilih Jokowi-JK.

"Sudah susah kalau itu, sudah beda jauh ideologinya, bahkan cenderung sudah saling tidak suka," tandas Ketua Laboratorium Psikologi Politik UI, Hamdi Muluk.

Hal senada itu diungkapkan oleh Ketua DPP Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) Desmond J. Mahesa di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Kamis (18/9/2014). "Saya katakan, koalisi Merah Putih itu sangat rapuh. Tapi kenapa terlihat solid, itu karena partai-partai yang tergabung di koalisi Merah Putih dulu yang ditolak kubu PDIP bergabung dalam pilpres," tukas Desmond J. Mahesa.

Pria yang juga tercatat sebagai anggota Komisi III DPR RI itu menuturkan, partainya tidak akan terkejut jika pada saatnya parpol yang ada dalam koalisi Merah Putih bergabung ke kubu pasangan Jokowi-JK. Partainya pun tidak akan mempermasalahkan hal tersebut. "Ya biarkan saja, kan saya sudah bilang koalisi Merah Putih ini sebenarnya rapuh," pungkasnya.

Masih kata Desmond J. Mahesa, dirinya pun memprediksi akhirnya nanti koalisi Merah Putih hanya berisi dua partai politik. Ia menyebut Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang tetap berada dalam koalisi yang mengusung pasangan Prabowo-Hatta dalam Pilpres 2014. "Hanya kami (Gerindra) dan PKS nanti yang tetap bertahan. Kalau Gerindra tahu sendiri kenapa kan. Kalau PKS lebih karena ideologi yang tak sejalan dengan PDIP," tutupnya. (jos)

See Also

Ketika Ahli IT Dan Master Di Bidang Hukum Menolak Korupsi
Kami Peduli Kejahatan Pornografi
Ketua MUI Tak Sependapat Indonesia Bubar 2030
Mukernas II PPP Hasilkan Sejumlah Ketetapan
PAN Walk Out Dari Paripurna RUU Pemilu
Pengamat LIPI Sebut Fenomena Ahok Bikin Parpol Panik
Gubernur DKI Jakarta Tunggu Menteri Sebelum Konsep Baru Raperda Reklamasi
Fadli Zon Akan Sidak Lokasi RS Sumber Waras
Mekanisme Pemilihan CaGub Dan CaWaGub DKI Jakarta Dari PDIP
Presiden Joko Widodo Melantik Agus Widjojo Sebagai Gubernur Lemhannas
Ahok Kecam Cuitan Yusron Ihza Mahendra Yang Rasis
Bicara Kalimat Rasis, Kemlu Minta Yusron Ihza Mahendra Fokus Jalankan Tugas
Ahok Hadiri Pelantikan Pengurus Partai NasDem DKI Jakarta
Muhammadiyah Ingatkan Sistem Politik Tidak Boleh Memiskinkan Rakyat
Tujuh Rekomendasi Mukernas PKB
Agung Laksono Tegaskan Munaslub Partai Golkar Harus Oleh Tim Transisi
Setya Novanto Mundur
Mayoritas Anggota MKD DPR RI Putuskan Setya Novanto Langgar Kode Etik
Ibu Yang Dimarahi Ahok Soal KJP Mengadu Ke DPRD DKI Jakarta
MenkoPolhukam Bersaksi
Sejumlah Calon Petahana Menangkan Pilkada
Maroef Sjamsoeddin Ibaratkan Setya Novanto Seperti Henry Kissinger
Prabowo Subianto Juru Kampanye Maya Rumantir/Glenny Kairupan
Tiga Paslon Bupati Dan Wakil Bupati Blora Sampaikan Program Dan Visi Misi
Haedar Nashir Terpilih Menjadi Ketua Umum PP Muhammadiyah
jQuery Slider
Arsip :2019201820172016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 7.659.868 Since: 05.03.13 | 0.1712 sec