Internasional

Mohamed Moursi Dituding Terkait Hamas

Saturday, 27 Juli 2013 | View : 848

KAIRO-SBN.

Pengadilan Mesir telah memerintahkan penahanan terhadap mantan Presiden Mesir yang lengser, Mohamed Moursi selama 15 hari. Mohamed Moursi akan ditanyai tentang dugaan kolaborasi dengan kelompok militan Palestina, Hamas. Laporan ini dirilis beberapa jam setelah jutaan rakyat Mesir terutama dari kelompok pendukung Moursi, Persaudaraan Muslim berencana untuk demonstrasi di ibukota Kairo.

Keputusan pengadilan pada hari Jumat (26/7/2013) tersebut adalah langkah terbaru setelah Mohamed Moursi digulingkan dan kemudian ditangkap atas tuduhan yang sama dalam kudeta militer cepat pada 3 Juli 2013 silam.

Menurut laporan kantor berita resmi Mesir, MENA, Jumat (26/7/2013), Mohamed Moursi akan ditanyai apakah Mohamed Moursi bekerja sama dengan Hamas dalam serangan terhadap kantor polisi dan kaburnya para tahanan politik dan kelompok Islam selama pemberontakan terhadap Hosni Mubarak pada awal tahun 2011 di mana gerakan 25 Januari 2011 yang menumbangkan mantan penguasa Mesir Hosni Mubarak. Laporan kantor berita pemerintah tersebut mengatakan penyelidikan hakim Hassan Samir telah menemukan bukti-bukti tersebut saat menginterogasi Mohamed Moursi, namun tidak mengatakan kapan dan di mana Mohamed Moursi diinterogasi. Dugaan kejahatan tersebut sedang diselidiki oleh pengadilan Kairo yang ditugaskan untuk menentukan bagaimana para narapidana kabur dari penjara di akhir tahun 2011, setelah ada tuduhan kelompok Islam itu meminta bantuan dari para penguasa Hamas di Gaza.

Juru Bicara Persaudaraan Muslim, Gehad El-Haddad mengecam penahanan Mohamed Moursi tersebut, mengatakan tuduhan itu mengada-ada. Gehad El-Haddad menuding upaya ini menandai kembalinya ‘rezim lama’.

Pada 23 Juni, persidangan mengatakan para militan Hamas telah memfasilitasi pelarian para tahanan selama pemberontakan 18 hari yang memaksa Hosni Mubarak untuk meletakkan jabatan. Pada saat itu, Mohamed Moursi yang merupakan seorang pemimpin senior Persaudaraan Muslim mengatakan pada sebuah stasiun televisi Mesir, dirinya telah membantu para tahanan melarikan diri.

Perintah pengadilan pada Jumat (26/7/2013) ini muncul di tengah menguatnya ketegangan di Mesir yang mempertemukan pendukung Moursi dan penentang Moursi yang didukung Militer berhadap-hadapan. Ketegangan meningkat ketika kabarnya militer memberi batas waktu pada para pendukung Moursi sampai akhir Jumat (26/7/2013) untuk mengakhiri protes yang dimulai sejak penggulingan Moursi.

Persaudaraan Muslim, kelompok pro Mohamed Moursi dan kelompok-kelompok sekutu Islam Mesir telah berjanji untuk melanjutkan dan meneruskan protes hingga Mohamed Moursi ditempatkan kembali ke posisinya, yang dikhawatirkan mempertajam konflik di negeri firaun tersebut. Pendukung Moursi tetap pada tuntutan agar Mohamed Moursi dikembalikan ke tampuk kekuasaan di mana Mohamed Moursi terpilih setahun silam. Kelompok Islam itu bersumpah akan terus melakukan aksi unjuk rasa sampai Mohamed Moursi dibebaskan. Bahkan, bukan hanya itu, Ikhwanul Muslimin juga menegaskan tidak akan pernah mau mengakui pemerintah Mesir interim yang dikendalikan oleh militer. Persaudaraan Muslim menolak untuk mengakui pemerintahan Adly Mansour dan memilih jalur protes yang berkelanjutan yang mereka percaya dapat membalikkan kudeta yang telah menggulingkan Mohamed Moursi. Kendati sebagian besar bersifat damai, aksi unjuk rasa Persaudaraan Muslim telah menyebabkan bentrokan yang membunuh puluhan orang sejak penggulingan Mohamed Moursi.

Ketegangan komunal dan serangan terhadap umat Kristen dan gereja meningkat tajam sejak di bawah pemerintahan Presiden Mohamed Moursi, presiden pertama Mesir yang dipilih secara bebas. Banyak orang Kristen Koptik yang jumlahnya mencakup sekitar 10% dari populasi Mesir yang jumlahnya 84 juta jiwa orang Mesir, meninggalkan Mesir karena makin berkembangnya intoleransi di bawah pemerintahan kepresidenan Mohamed Moursi yang didukung Ikhwanul Muslimin dan Persaudaraan Muslim tersebut. Pemerintahan Mohamed Moursi selama setahun terakhir dinilai cenderung mengutamakan kelompoknya. Masyarakat Mesir yang tak puas juga menuding Mohamed Moursi tak mampu menjalankan pemerintahan secara benar. (afp/rtr)

See Also

Pengadilan Rusia Perintahkan Perempuan Yang Kabur Dari Karantina Balik Ke RS
Virus Korona Tewaskan Direktur Rumah Sakit Di Wuhan
Penembakan Di Century Plaza Bangkok
Jeff Bezos Donasi USD 10 Miliar Untuk Penelitian Iklim
Korban Tewas Akibat Virus Korona Total Jadi 1.868
1.789 Korban Tewas Akibat Virus Korona
Warga Kanada Di Kapal Pesiar Diamond Princess Segera Dievakuasi
Arab Saudi Larang Warganya Ke China
Dokter Pengungkap Virus Korona Meninggal Dunia
Korban Jiwa Virus Korona Bertambah Jadi 634
Jepang Karantina Seluruh Penumpang Kapal Pesiar Diamond Princess Terkait Virus Corona
Ratusan Warga Negara Malaysia Dan Keluarganya Dipulangkan Dari Wuhan
Penembakan Di Asrama Kampus Texas A & M University
7 Fakta Rumah Sakit Kilat Pasien Korban Virus Corona Wuhan
Singapura Umumkan 6 Kasus Baru Virus Korona
Rumah Sakit Kilat Virus Corona Wuhan Mulai Beroperasi
Penembakan Dalam Bus Greyhound Di California
Korban Meninggal Virus Korona Bertambah Jadi 362
TNI Siap Bantu Kebakaran Hutan Di Australia
Rudal Kenai Objek Di Langit Iran Saat Pesawat Ukraina Jatuh
Iran Sebut Pesawat Ukraina Terbakar Sebelum Jatuh
Pejabat AS Sebut Pesawat Ukraina Kemungkinan Kena Rudal Iran
Bencana Kebakaran Lahan Di Australia
Kapal Induk Kedua China Resmi Diluncurkan
PBB Sebut 7 Ribu Demonstran Iran Ditahan Akibat Protes Kenaikan BBM
jQuery Slider
Arsip :20202019201820172016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 8.012.046 Since: 05.03.13 | 0.2101 sec