Politik

Dipecat PAN Karena Dukung Pasangan Jokowi-JK, Wanda Hamidah Tak Menyesal

Tuesday, 16 September 2014 | View : 716

JAKARTA-SBN.

Politisi cantik yang adalah mantan anggota DPRD DKI Jakarta, Wanda Hamidah, S.H., M.Kn. telah resmi keluar dari keanggotaan Partai Amanat Nasional (PAN).

Lulusan Fakultas Hukum Universitas Trisakti pada tahun 2000 ini mendapatkan surat pemberhentian yang dikeluarkan oleh Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PAN.

Surat tersebut dikeluarkan pada tanggal 30 Agustus 2014, dan ditandatangani langsung oleh Ketua Umum PAN Hatta Rajasa beserta Sekretaris Jenderal (Sekjen) nya, Taufik Kurniawan.

Menurut mantan Ketua Fraksi Amanat Bangsa periode 2009-2010 tersebut, Wanda Hamidah, surat tersebut dikeluarkan pada tanggal 30 Agustus 2014 dan ditandatangani langsung oleh Ketua Umum PAN Hatta Rajasa beserta Sekretaris Jenderalnya, Taufik Kurniawan.

"Saya sudah menerima surat pemberhentian tetap sebagai anggota PAN. Suratnya dikeluarkan tanggal 30 Agustus, dan diterima Jumat kemarin tanggal 12 September," beber Wanda Hamidah, di Jakarta, Selasa (16/9/2014).

Diduga alumnus S1 Fakultas Hukum Universitas Trisakti Jakarta pada tahun 2000, Wanda Hamidah dipecat dari partainya karena memberikan dukungan kepada capres (calon presiden) lain saat pilpres (pemilihan umum presiden) 2014. Wanita berusia 26 tahun ini yang juga mantan seorang news anchor dan pembawa acara di sebuah program di salah satu stasiun TV swasta, Wanda Hamidah memilih mendukung pasangan nomor urut 2 yaitu Joko Widodo (Jokowi) dan Jusuf Kalla (JK).

Padahal di sisi lain, partainya yaitu PAN mendukung pasangan nomor urut 1 Prabowo Subianto dan Hatta Rajasa. PAN telah menetapkan sikap mendukung pasangan Prabowo Subianto dan Hatta Rajasa. Hatta Rajasa juga merupakan Ketua Umum dari PAN.

Mantan Wakil Sekjen Komnas Perlindungan Anak periode 2006-2010, Wanda Hamidah juga jelaskan bahwa pemecatan tersebut tak lain karena ia memberikan dukungan pada Joko Widodo (Jokowi)-Jusuf Kalla (JK) dalam Pilpres 2014.

Kosekuensi pemecatan itu ia terima dengan lapang dada. "Alasan pemecatan ini adalah karena pada pemilihan presiden (pilpres) kemarin saya mendukung pasangan Jokowi dan JK. Pemecatan ini tentu konsekuensi yang harus saya terima," seru mantan model dan Cover Girl ‘90an.

"Sehubungan dari itu, konsekuensi logisnya saya menerima pemecatan ini," ketus alumnus S2 Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Indonesia Depok pada tahun 2006 ini, Wanda Hamidah.

Anggota DPRD DKI Jakarta periode 2009-2014 dan duduk di Komisi E yang membidangi kesejahteraan rakyat ini, Wanda Hamidah menjelaskan, penyebab dipecatnya ia dari PAN dilatarbelakangi sikapnya pada pemilihan presiden yang lalu.

Meski keputusannya mendukung Ir. H. Joko Widodo yang akrab disapa ‘Jokowi’ pada perhelatan pemilu presiden (pilpres) pada tanggal 9 Juli 2014 lalu menuai pemecatan dari keanggotaan Partai Amanat Nasional (PAN), Wanda Hamidah mengaku tak menyesal.

Namun, sebagai orang yang turut mendirikan PAN dan hadir dalam deklarasi pada 1998, dia merasa sedih, apalagi sudah 16 tahun berada di partai itu. "Tetapi, saya tidak menyesal dengan pemberhentian saya dari PAN," tukas mantan anggota Komisi E DPRD DKI Jakarta periode 2009-2014 itu, Wanda Hamidah, di Jakarta, Selasa (16/9/2014).

Menurut mantan Bendahara Partai Amanat Nasional (PAN) periode 2006-2010 itu, Wanda Hamidah, keputusannya untuk mendukung Ir. H. Joko Widodo telah sesuai dengan cita-cita reformasi yang diperjuangkan oleh PAN.

Politisi ayu yang pada tahun 2006 ini memulai langkahnya di dunia politik dengan bergabung di Partai Amanat Nasional (PAN) yang saat itu dipimpin oleh Sutrisno Bachir menilai Gubernur DKI Jakarta Ir.H. Joko Widodo yang akrab disapa ‘Jokowi’ merupakan figur yang bebas dari pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) dan otoritarianisme. "Kekecewaan terbesar saya justru adanya kekhawatiran pada tingginya hasrat dari segelintir elite politik yang ingin memasung suara rakyat, suara saya, dan suara Anda semua," cetus peraih penghargaan dari Menhukam pada April 2008 sebagai Artis Peduli Hukum dan HAM. (jos)

See Also

Ketua MUI Tak Sependapat Indonesia Bubar 2030
Mukernas II PPP Hasilkan Sejumlah Ketetapan
PAN Walk Out Dari Paripurna RUU Pemilu
Pengamat LIPI Sebut Fenomena Ahok Bikin Parpol Panik
Gubernur DKI Jakarta Tunggu Menteri Sebelum Konsep Baru Raperda Reklamasi
Fadli Zon Akan Sidak Lokasi RS Sumber Waras
Mekanisme Pemilihan CaGub Dan CaWaGub DKI Jakarta Dari PDIP
Presiden Joko Widodo Melantik Agus Widjojo Sebagai Gubernur Lemhannas
Ahok Kecam Cuitan Yusron Ihza Mahendra Yang Rasis
Bicara Kalimat Rasis, Kemlu Minta Yusron Ihza Mahendra Fokus Jalankan Tugas
Ahok Hadiri Pelantikan Pengurus Partai NasDem DKI Jakarta
Muhammadiyah Ingatkan Sistem Politik Tidak Boleh Memiskinkan Rakyat
Tujuh Rekomendasi Mukernas PKB
Agung Laksono Tegaskan Munaslub Partai Golkar Harus Oleh Tim Transisi
Setya Novanto Mundur
Mayoritas Anggota MKD DPR RI Putuskan Setya Novanto Langgar Kode Etik
Ibu Yang Dimarahi Ahok Soal KJP Mengadu Ke DPRD DKI Jakarta
MenkoPolhukam Bersaksi
Sejumlah Calon Petahana Menangkan Pilkada
Maroef Sjamsoeddin Ibaratkan Setya Novanto Seperti Henry Kissinger
Prabowo Subianto Juru Kampanye Maya Rumantir/Glenny Kairupan
Tiga Paslon Bupati Dan Wakil Bupati Blora Sampaikan Program Dan Visi Misi
Haedar Nashir Terpilih Menjadi Ketua Umum PP Muhammadiyah
Rapat Paripurna DPR RI Setujui Program Dana Aspirasi
Pimpinan DPR RI Minta MKD Usut Tuntas Dugaan Gelar Doktor Palsu
jQuery Slider
Arsip :201820172016201520142013
  •    •    •    •  
Copyright © 2013-2014 Siar Batavia News. All rights reserved. Visit: 6.781.725 Since: 05.03.13 | 0.1822 sec